Suatu Hari Disini, Sekilas Tugas Sekolah Menulis YBRB

Suatu Hari Disini

Butiran air hujan perlahan mengalir di bingkai jendela. Tampak di luar sana anak-anak kecil berlarian dengan canda dan tawa. Disini, aku hanya bisa memandang, tanpa mampu keluar dari bangunan kokoh serba putih ini.

Perbedaan. Mungkin itulah yang membuatku terhalang dengan dunia luar. Aku seorang dokter. Entah apa alasan mereka tak mengizinkanku keluar. Tapi kurasa ini sungguh tak adil. Aku juga manusia, sama seperti mereka.

Sekelebat bayangan masa lalu kembali hadir. Sepuluh tahun usiaku saat itu. Saat seorang wanita memelukku dan berjanji akan membawaku pergi dari tempat jahannam yang memaksa kami berdiam diri menahan cemoohan orang. Ketika aku selalu pulang dalam keadaan menangis karena ejekan teman, saat itu juga dia mengingatkanku tentang janji-janjinya. Janji  suci seorang ibu yang mendambakan kehidupan lebih baik di masa depan.

Kami tinggal di lingkungan padat penduduk di pesisir pantai selatan. Kampungku sangat terkenal bukan hanya karena pantainya, melainkan juga karena disini merupakan tempat berkumpulnya kupu-kupu yang merelakan diri untuk terbang begitu rendah. Orang hanya memandang kami dengan sebelah mata, menganggap kami begitu jijik dan rendah.

Biji yang terjatuh ke tanah perlahan berkecambah dan terus tumbuh menjadi tanaman baru, seperti diriku yang mulai merasakan bagaimana rasanya menjadi remaja.  Aku mulai menutupi identitasku, terutama tentang ibu. Aku tak mau teman-temanku tahu kalau ibuku adalah seorang pelacur yang sepertinya tak punya harga diri. Aku ingin memiliki banyak teman, tak seperti masa kecilku yang selalu terkucilkan.

Mungkin kalian pikir aku anak durhaka, tapi ini bukan sepenuhnya salahku. Ibu telah membohongiku. Ia tak pernah benar-benar membawaku pergi dari tempat itu. Kalaupun aku banyak menuntut, bukankah itu termasuk hakku? Kalau aku meminta ibu untuk membiayai kuliahku, apa aku salah? Kalau aku bisa menjadi dokter yang sukses, bukankah ibu juga akan bahagia?

***

Anak-anak itu memandangku aneh, seperti melihat sesosok makhluk luar angkasa yang tersesat di bumi tanpa tujuan yang jelas. Salah seorang dari mereka mulai menertawakanku, melempariku dengan kerikil. Hal yang sama juga dilakukan oleh teman-temannya. Ibu-ibu di pinggir jalan juga mulai berbisik. Menggunjingku.

Mereka mengatakan bahwa aku lah yang menyebabkan ibu sakit-sakitan. Aku terlalu menuntut. Mereka juga mengatakan bahwa aku…gila.

Mereka salah. Aku bukan orang gila yang menyebut dirinya dokter. Tapi aku memang benar-benar seorang dokter.

Sebuah mobil ambulance berhenti tepat didepanku. Beberapa orang berseragam putih memaksaku masuk ke dalam mobil itu. Tentu saja aku menolak, aku ingin bertemu ibu.

“Ibu kamu sudah meninggal, Shifa!”, ujar seseorang setelah usahanya menenangkanku gagal. Aku hanya mampu terdiam setelah sekian lama meronta. Aku mulai ingat segalanya.

Gundukan tanah merah di depanku memberi tahuku banyak hal. Tentang perjuangan seorang ibu hingga akhir hayatnya. Tentang seorang anak yang tak mampu menerima apa adanya. Tentang diriku yang baru sanggup memahami arti cinta ibu setelah virus AIDS memutus hidupnya.

Mereka berkata bahwa aku gagal menjadi dokter kerena aku telah melukai hati  wanita yang rela mengorbankan segalanya bagiku. Aku memang terlambat memahami arti kasihnya. Namun aku mampu membuktikan bahwa aku bisa menebus kesalahanku. Meski kini mereka menganggap aku gila, tak mengapa. Suatu hari nanti, disini, aku akan membuktikan siapa yang gila. Aku, atau mereka… []





*) YBRB: Yayasan Bina Remaja Bantul
Tugas pertama sekolah menulis YBRB tahun 2014 akhir. Tugas pertama dan satu-satunya karena pertemuan selanjutnya aku sudah malas berangkat hehe :)
Waktu itu seharusnya tugas diupload di FB, tapi hanya kukirim via email. Tahun 2014, aku kelas 2 SMA, bahkan jaman segitu aku nggak minat punya FB. Semua berubah setelah pelatihan OSP sekitar februari atau maret 2015, tepatnya lupa. Pertama kali aku membuat medsos untuk diriku sendiri (sebelumnya pernah buatin sepupuku, dan sering tak pake juga wkwk) - karena seseorang. Seseorang yang bahkan hanya kutemui seminggu + beberapa hari saja. Tapi cerita hidup dan kisahnya yang begitu hebat dimataku membuat bayang-bayang tersendiri dalam hati, yang tak kusadari sebelum akhirnya bertemu, lalu berpisah sementara, lalu bertemu lagi secara intensif, dan akhirnya berpisah lagi sampai sekrang. Ternyata bayangannya tak sebegitu mudahnya hilang. Saat itu, kupikir itu cinta pertamaku - jika cinta monyet ala anak SD tak dihitung :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages