PROLOG
Seperti kebenyakan wanita lain, aku juga suka
kupu-kupu. Apalagi yang membuat kami –para kaum Hawa- sampai tergila-gila pada
makhluk itu kalau bukan karena sayapnya yang begitu cantik? Tapi tahukah kamu
kalau empat sayap yang dimiliki kupu-kupu sebenarnya berwarna transparan?
Berbagai warna dan corak cantik pada sayap itu hanya sebagai pelapis belaka.
Sayap itu sangat rapuh, demikian halnya dengan warna pelapisnya yang mudah
rusak saat disentuh.
Makhluk kecil itu hinggap di jendela kaca besar
di hadapanku. Warna sayapnya sangat indah. Keesokan harinya ada lagi yang
hinggap disitu, di tempat yang sama.
“Bu, kenapa kupu-kupu itu jelek? Kenapa tidak
seperti yang kemarin? Kenapa warnanya bisa berbeda? Kenapa dia tidak secantik
temannya?”
Wanita di hadapanku diam sejenak lalu menjawab,
“Karena dia bangun di malam hari. Makanya kamu jangan suka tidur malam-malam,
ya! Kamu nggak mau jadi jelek seperti itu, ‘kan?”
“Ibu juga bangun tiap malam, tapi kenapa Ibu
tetap cantik?”
“Karena Ibu adalah kupu-kupu. Dan kupu-kupu itu
cantik. Yang ini bukan kupu-kupu, nak! Namanya ngengat.”
“Jadi kalau kupu-kupu nggak papa kalau bangun
malam-malam? Aku juga mau jadi kupu-kupu, Bu! Aku mau secantik mereka!”
“Kamu memang kupu-kupu, nak! Setiap wanita akan
terlahir seperti kupu-kupu. Awalnya dia bukan apa-apa. Kupu-kupu tidak
tiba-tiba lahir secantik itu. Dia harus menjalani masa-masa sulit saat menjadi
ulat. Tapi hidup akan membawanya berpetualang hingga menjadi kupu-kupu yang
cantik. Kelak kalau kamu sudah menjadi kupu-kupu, kamu harus bisa menentukan
kemana kamu akan terbang dan mengepakkan sayap-sayapmu. Jangan sampai terbang
ke arah yang salah. Hidup kupu-kupu sangat singkat. Kamu harus bisa membuat
keputusan sebijak mungkin.”
Empat tahun usiaku saat itu. Aku belum mengerti
apa yang Ibu katakan, tapi suatu saat nanti aku akan mengerti. Ini kisahku dan
kisah Ibu. Kisah tentang kupu-kupu. []


Tidak ada komentar:
Posting Komentar