![]() |
Tess tess tess...
Bulir-bulir air hujan menetes perlahan. Aku
baru saja selesai meletakkan baskom terakhir disudut kamar agar air yang
berhasil menerobos celah-celah genteng tidak meluber kemana-mana. Dapat kulihat
Ibu yang masih sibuk dengan alat-alat make
up-nya. Harus kuakui kalau ibuku memang cantik, walau tanpa polesan make up sekalipun. Hanya saja...ya,
hanya saja anugerah itu Ibu gunakan untuk hal yang jauh dari kata baik.
Setidaknya menurut kebanyakan orang sih, begitu. Tapi bagi Ibu, anugerah itulah
yang menyebabkan kami masih bisa bertahan hidup hingga saat ini. Orang-orang
tak tahu apa yang sebenarnya kami rasakan, mereka hanya bisa mencibir dan
mencela, memandang kami dengan sebelah mata, menganggap kami sebagai sampah
yang tak patut dihargai sedikitpun. Begitulah yang selalu Ibu katakan padaku,
hingga anggapan itu tertanam kuat dalam otakku.
Tiga belas tahun usiaku saat itu, saat aku
sudah tak sanggup menahan pertanyaan yang sekian lama ingin kuungkapkan.
Sebenarnya pertanyaan itu amat sangat sederhana, namun entah kenapa aku tak
kunjung mampu mengutarakannya.
“Emm, Bu! Ibu mau pergi?” tanyaku basa-basi.
“Ya iyalah, Shifa! Kamu nggak lihat Ibu lagi
ngapain?”
“Tapi hujan masih deras, Bu! Bagaimana kalau
Ibu jadi sakit?”
“Ibu juga tahu! Tapi kalau Ibu nggak kerja kita
mau makan apa? Lagian juga Ibu nggak jauh-jauh dari rumah, kamu jangan
khawatir!”
Aku hanya mampu menunduk. Kakiku gemetar.
Seolah-olah seisi dunia menertawakan ketidakberanianku ini. Kamu pengecut, Shifa! Kamu hanya perlu
bicara, berani! Ayolah!
“Bu, sebenarnya siapa ayahku?”
Ibu tersentak kaget. Seketika Ibu menghentikan
gerakannya mematut-matut diri didepan cermin dan langsung berbalik menghadap
kearahku. Mata indahnya menatapku tajam. Tiga belas tahun usiaku saat itu, saat
aku pertama kalinya berhasil memberanikan diri untuk menanyakan hal itu, saat
pertama kali aku melihat wajah Ibu merah padam seperti itu. Kalau saja waktu
itu Ibu tidak sedang memakai blush on,
pasti akan terlihat muka Ibu yang warnanya bagaikan kepiting rebus.
Aku menelan ludah. Apakah Ibu akan marah? Bisa
jadi. Ada sedikit sesal saat aku menanyakan hal itu. Tapi apa boleh buat? Sudah
teranjur, bukan? Diluar hujan sedang turun dengan lebatnya. Suara halilintar
yang menyambar-nyambar mungkin akan terkalahkan oleh suara Ibu yang memarahiku
habis-habisan. Satu detik, dua detik, tiga detik. Akhirnya sepuluh detik yang
penuh tanda tanya terlewat begitu saja tanpa ada satupun diantara kami yang
berbicara.
“Apa kamu bilang?” tanya Ibu akhirnya, lirih.
“Siapa ayahku, Bu? Dimana dia sekarang? Kenapa
Ibu tak pernah mengatakan apapun tentang Ayah?”
“Kamu masih kecil, Shifa! Kamu belum bisa
mengerti!”
“Tapi, Bu! Temanku bilang...”
“Jangan perdulikan omongan orang, Shifa!
Sudahlah, Ibu tak punya waktu untuk mendengar ceritamu sekarang! Ibu harus
pergi!” Ibu mengecup keningku dan segera meraih tasnya.
“Aku malu, Bu! Mereka bilang aku anak haram, mereka
bilang aku ini anak setan!”
Terlambat. Ibu sudah berlalu. Aku masih bisa
melihat punggung Ibu sesaat sebelum hilang dibalik pintu.
Tiga belas tahun usiaku saat itu, saat pertama
kalinya aku melihat Ibu yang lain dari biasanya. Aku masih tak percaya Ibu sama
sekali tidak marah. Padahal biasanya tak terhitung berapa kali Ibu memarahiku
setiap harinya hanya karena hal-hal yang sepele. Apa karena Ibu sedang
terburu-buru? Kalau benar demikian, kenapa esok harinya Ibu tak juga memarahiku?
Juga esok harinya lagi dan esok-esok harinya lagi? Ibu tak pernah mengungkitnya
seakan-akan aku tak pernah menanyakan hal itu. Apakah itu hal yang paling tabu
bagi Ibu? Hal yang tak pantas dibahas atau sekadar hanya untuk dikenang? Aku sudah tiga belas tahun, Bu! Aku berhak
tahu...
~&~
Awan hitam tebal menggantung di cakrawala,
masih berusaha untuk menumpahkan milyaran partikel-partikel air yang
dikandungnya. Pepohonan mulai meliuk-liuk diterpa angin yang semakin lama
semakin kencang. Sang angin dengan angkuh menerbangkan apapun yang dapat
diterbangkannya, tak perduli benda-benda yang dibawanya itu nantinya akan
menimpa apa dan siapa. Daun demi daun yang jatuh dan terbawa angin pergi
menjauh dan semakin jauh, tanpa mampu berbuat apapun. Tak ada yang memperhatikan,
tak ada yang perduli. Juga semburat jingga di ujung barat dan buih-buih ombak
yang sesekali menyapu pesisir pantai selatan, semua sama saja, sibuk dengan
tugasnya masing-masing.
Dengan langkah kecil aku tertatih menuruni
pegunungan terjal dengan kaki telanjang. Sudah berulangkali aku jatuh terduduk
hingga setelan putih-biruku begitu kotor. Jatuh lagi, bangun lagi, berlari
lagi. Kedua tanganku menenteng sepatu usang yang sebenarnya sudah tak layak
pakai lagi. Rambut yang kuikat seperti ekor kuda tergoyang-goyang kesana
kemari. Beberapa meter di depan sudah tampak jalan setapak yang lebih halus.
Beberapa puluh meter didepannya lagi akan segera tampak pasir putih yang
membentang jauh ke barat, sayangnya aku tak tahu persis sampai mana ujungnya,
mungkin di ujung dunia? Entahlah, aku tak mengerti. Yang jelas aku tak mau
pulang sekarang. Duduk diatas lembutnya pasir Pantai Salur dan meluruskan kaki,
menerawang jauh ke depan, ke arah lautan luas yang juga entah dimana ujungnya.
Diatas sana burung-burung terbang berbondong-bondong kembali ke sarang. Kalau
tidak salah namanya camar. Terkadang aku membayangkan bagaimana jika aku bisa
terbang seperti mereka? Aku bisa pergi kemanapun yang kumau, bahkan hingga ke
ujung dunia jika itu mungkin. Barangkali dengan begitu aku bisa menemukan
keberadaan Ayah, membalas hari-hari menyakitkan karena dia telah mencampakkanku
dan Ibu begitu saja.
Burung-burung itu terbang ke arah pegunungan
yang tadi kulewati. Pegunungan itu terletak di sebelah timur kampungku. Semakin
ke selatan pegunungan itu semakin rendah. Dibalik pegunungan itulah aku
bersekolah. Sebenarnya ada jalan yang lebih baik –yang sudah beraspal- untuk
sampai kesana, tetapi letaknya agak keutara sana, sedangkan kampungku letaknya
paling selatan. Jadi aku lebih sering berjalan kaki untuk sampai ke sekolah.
Tanpa terasa langit sudah semakin gelap, sudah
saatnya pulang. Seharusnya aku sudah pulang sejak tadi siang. Berhubung aku
harus menjalankan hukuman membersihkan kamar mandi, jadilah aku pulang dua jam
lebih lambat. Ini semua karena Dion, temanku yang paling jahil. Berani-beraninya
dia menarik rambutku dari belakang. Tanpa pikir panjang kulayangkan kepalan
tanganku tepat di pipi kanannya. Kalau tidak begitu, bisa saja dia mengulangi
perbuatan itu pada yang lain. Sayangnya guruku lebih membelanya. Bisa jadi
karena orangtuanya adalah donatur utama sekolahku. Kalau memang banar demikian,
betapa keadilan sudah semakin susah ditegakkan. Atau mungkin karena sekolahku
jauh dari perhatian pemerintah, jadi pihak sekolah tak segan melakukan segala
cara demi keberlangsungan sekolah?
Hal lain
yang patut dipertanyakan adalah kenapa hanya aku siswa yang berasal dari
kampungku? Padahal teman-teman sepermainanku tak hanya seorang dua orang.
Kebanyakan dari mereka hanya lulus sekolah dasar dan lebih memilih bekerja
daripada melanjutkan sekolah. Sepertinya hanya ibuku satu-satunya warga kampung
yang bersikeras menyekolahkan anaknya hingga SMP entah bagaimanapun caranya.
Sinar jingga sebentar lagi akan hilang
sepenuhnya. Kampungku mulai terang benderang oleh lampu warna-warni yang
berkedip-kedip di sepanjang gang dan jalan tikus yang harus kulewati untuk
sampai ke rumah kecil ibuku, tempat kami berteduh sekaligus tempat Ibu ‘menjajakan dagangannya’. Setiap rumah di kampungku rata-rata
sama, berkaca besar tembus pandang di bagian depan. Dari kaca-kaca itu bisa
dilihat bagian dalam rumah yang berisikan sofa empuk dan meja kecil yang juga
dilapisi kaca. Di atas meja-meja itu selalu tersedia berbagai merk minuman yang
.... begitulah, aku saja jijik menyebut namanya. Orang-orang awam pun segera
tahu tempat apa ini. Pandangan dan pendapat mereka bermacam-macam, tapi
kebanyakan hanyalah anggapan buruk. Aku bisa memaklumi karena memang itu semua
benar adanya. Aku tak memungkiri bahwa aku memang tinggal di kawasan lokalisasi
PSK, kawasan remang-remang. Dibalik keindahan Pantai Salur di siang hari,
tersimpan kehidupan pahit di malam harinya. Bahkan banyak orang lebih tertarik
menikmati ‘keindahan’ kehidupan
malam pantai ini dibandingkan keindahan pantai yang semakin lama semakin
terkikis karena abrasi dan ulah tangan-tangan tak bertanggungjawab yang
menyebabkan Pantai Salur berwajah sampah. Oleh karena itu pesisir Pantai Salur
lebih terkenal dengan adanya ‘kampung
kupu-kupu’ daripada pantainya sendiri. Semua laki-laki hidung belang di
kota ini –tak jarang juga dari kota lain- pasti sudah mengetahui kalau tempat
ini bisa memberikan mereka surga dalam semalam.
Saat petang seperti ini puluhan ‘kupu-kupu’ mulai terbang
berkeliaran. Terbang rendah kesana-kemari menyusuri gang-gang sempit di depan
rumah. Ada pula yang memilih duduk-duduk saja di beranda sambil melirik dan
menggoda ‘kumbang-kumbang’ yang
lewat. Salah satu dari sekian banyak ‘kupu-kupu itu’ adalah... ibuku.
Di
depan rumah aku bisa melihat ibuku yang sedang bercakap-cakap dengan seorang
laki-laki yang kurasa usianya sekitar empat puluh lima tahunan. Jujur, aku tak
bisa mengetahui apa yang dirasakan Ibu saat ini. Ibuku pandai menyembunyikan
perasaan.
Tamu
Ibu yang satu itu adalah yang paling sering datang dibandingkan tamu-tamu Ibu
yang lainnya, tak perduli siang maupun malam. Sebenarnya aku tak suka Ibu dekat
dengan pria itu, sama seperti ketidaksukaanku terhadap tamu-tamu Ibu yang
lainnya. Aku tak tahu siapa nama laki-laki itu dan apa hubungannya dengan Ibu.
Yang jelas aku tak mau tahu tentang itu semua. Hanya saja aku tak suka dengan
cara lelaki itu menatapku. Aku takut. Dan sepertinya Ibu menyadari bahwa lelaki
itu bisa saja membahayakan anak gadisnya. Jadi Ibu selalu mengalihkan
perhatiannya setiap kali aku lewat di depan mereka.
Aku
masuk ke rumah begitu saja, tanpa mengucapkan sepatahkatapun pada Ibu, apalagi
pada pria itu. Aku langsung menuju ke kamarku. Hanya ada dua ruang tidur di
rumah ini, satu di belakang sebagai kamarku, satu lagi di depan sebagai ruang
tidur sekaligus ‘ruang kerja’
bagi Ibu.
Aku
benci pada tamu-tamu Ibu, apalagi pada lelaki itu. Pernah suatu ketika
teman-temanku yang rumahnya di balik pegunungan datang ke rumahku. Mereka
datang saat pria itu menemui Ibu.
“Shifa,
itu ayahmu?” begitu tanya salah satu temanku yang bernama Levita.
“Bukan,
dia hanya tamu ibuku.”
Pada
awalnya mereka tak memperdulikan hal itu. Tetapi saat mereka kemari lagi dan
melihat tamu Ibu yang lain, Levita bertanya lagi, “Yang itu ayahmu?”
“Bukan,
dia... tamu ibuku.”
“Apa
setiap hari ibumu selalu menerima tamu laki-laki?” tanyanya lagi.
Kini
aku hanya mampu terdiam. Lalu temanku yang lain, Sesa, membisikkan sesuatu ke
telinga Levita, bisik-bisik yang masih dapat kudengar.
“Lev,
kata ibuku anak-anak Pantai Salur itu kebanyakan nggak punya ayah, mungkin
Shifa juga begitu. Kamu tahu maksudku, ‘kan?”
“Iya juga, ya! Kenapa aku baru sadar?”
“Ya iyalah, secara ini ‘kan pemukiman pelacur.
Mungkin ibunya juga nggak tahu Shifa itu anak siapa!”
Mereka bicara seolah-olah aku tak ada disana,
seperti aku hanya bayang-bayang yang tak bisa merasakan sakit hati. Mereka
terang-terangan mengatakan hal itu didepanku. Ini keterlaluan!
“Jaga mulut kalian! Jangan bicara sembarangan!
Kalian pikir aku nggak punya ayah? Kalian salah! Aku punya ayah! Walaupun sekarang
aku nggak tahu dia ada dimana, tapi aku pasti akan menemukannya!” bentakku tak
tahan.
“Kalaupun kamu punya ayah, tentunya dia nggak
bakalan ngakuin kamu sebagai anaknya! Kamu pikir om-om itu datang pada ibumu
karena menginginkan seorang anak?”
Plakkk...
Kutampar pipi Levita dengan keras. Aku masih
bisa melihat dia meringis kesakitan dan memegangi pipinya yang memerah. Aku
sudah tak mampu mengendalikan diri lagi. Dia berusaha mendorong tubuhku.
Akhirnya kami saling serang hingga ikatan rambutku terlepas. Sementara itu,
Irvana, saudara kembar Levita, berusaha keras melerai kami. Saat aku berhasil
memiting tangan Levita dan aku juga hampir menghempaskannya ke tanah, aku
mengurungkan niatku. Itu semua demi Irvana. Aku tak tega melihat gadis
berperawakan kecil itu kesusahan. Kurasa, saat masih di dalam kandungan Irvana
terlalu banyak mengalah pada saudara kembarnya yang menyebalkan itu. Kalau
bukan karena Irvana, aku tak sudi melepaskan Levita begitu saja.
“Aku akan membalasmu, Shifa!” ancam Levita
sambil menarik tangan Irva dan Sesa menjauhiku. Kulihat mata Irvana yang merasa
bersalah, seolah memohon maaf atas sikap kakaknya padaku. Sejak saat itu, Levita
dan Sesa selalu memusuhiku dalam segala hal, tapi tidak dengan Irvana.
~&~
Aku tersadar dari lamunanku saat kudengar derit
pintu kamar yang terbuka. Aku sudah menduga Ibu akan marah melihatku pulang
terlampau sore, kotor-kotoran pula.
“Kenapa baru pulang, Shifa?” tanya Ibu sambil
melipat kedua tangannya di depan.
“Aku tadi dihukum. Disuruh bersihin kamar
mandi!” jawabku tenang. Sudah biasa Ibu memarahiku dalam banyak hal. Apalagi
ditambah efek dari pertanyaanku tadi malam.
“Kenapa sampai dihukum lagi? Bukannya kemarin
lusa kamu juga sudah dihukum? Memangnya kurang?”
Aku memang baru kemarin lusa dihukum, gara-gara
asyik mengobrol pada saat petugas upacara tengah membaca do’a. Itupun karena
anak-anak laki-laki yang beada di belakangku memulai lebih dulu. Aku masih ingat
bagaimana Bu Zikri, guru BK-ku, menceramahi kami, “Kalian sebenarnya punya
agama atau tidak? Kalau berdo’a saja main-main bagaimana mungkin Tuhan akan
mengabulkan permohonan kalian? Kalian itu bla bla bla...”
Ahh... Omong kosong. Dari dulu Tuhan memang
tidak pernah mengabulkan permintaanku.
Mau do’aku khusyuk atau tidak sama saja. Dia selalu saja memberiku
penderitaan. Apa Dia benar-benar Maha Mendengar? Atau bahkan Dia sebenarnya
tidak ada?
Aku tidak percaya kalau Tuhan itu ada...
Dari kecil aku tak pernah mengenal Tuhan dengan
sungguh-sungguh. Ibu tak pernah mengajariku bagaimana cara berdo’a apalagi
sholat. Aku mengenal ritual-ritual itu di bangku sekolah. Semua tetanggaku sama
saja, sama seperti Ibu. “Kita hidup karena kita bekerja, bukan karena Tuhan,” begitu kata mereka.
Di sekolah aku termasuk jajaran siswa yang
paling sering melanggar aturan. Hampir tiga kali dalam seminggu aku pasti
dihukum berdiri di luar pintu kelas. Aku sering tidur di kelas, tak
memperhatikan penjelasan guru. Meskipun begitu, gelar juara kelas tak pernah
lepas dari tanganku. Mungkin dalam tubuhku ini mengalir darah Einstein yang tak
seorangpun tahu, jadi dengan mudah aku bisa paham suatu hal hanya dengan sekali
baca atau sekali dengar.
“Shifa!”
“Eh, ya! Emm, itu... Aku tadi berantem sama
Dion! Tapi itu Dion duluan yang mulai, Bu! Salah siapa dia narik rambutku
seenaknya! Ya udah, aku pukul aja! Kalau nggak dibales bisa-bisa dia ngulangin
ke yang lain!” ujarku membela diri. Sudah kusiapkan mentalku untuk menerima
bentakan dari Ibu, bahkan kalaupun ditambah dengan pukulan menggunakan pemukul
kasur pun, aku sudah siap. Kulihat tangan Ibu mulai terangkat, tapi bukan untuk
memukulku, melainkan membelai lembut rambutku.
“Walaupun temanmu itu yang mulai duluan, ‘kan
nggak seharusnya kamu main pukul aja dong, sayang! Lagian ‘kan cuma ditarik rambutnya
doang, kamu juga nggak luka. Kamu itu perempuan, Ibu khawatir kalau kamu suka
berantem sama anak laki-laki!”
Aku diam. Bukan karena aku membenarkan
perkataan Ibu, melainkan karena Ibu bersikap lain, seperti tadi malam, aneh.
Aku masih tak menyangka kalau Ibu benar-benar tak memarahiku. Pakai acara
sayang-sayangan pula. Apa ini ada hubungannya dengan pertanyaanku tadi malam?
Kenapa hari ini Ibu begitu lain? Biasanya saat aku berbuat salah Ibu pasti akan
marah-marah dan memukuli pantatku menggunakan pemukul kasur dari rotan,
meskipun itu sebenarnya sudah tidak pantas lagi karena usiaku yang sudah
menginjak tiga belas tahun.
Seperti kejadian tempo hari, saat aku hampir
membuat Levita babak belur. Ibunya yang tidak terima datang melabrak Ibu,
mencacimaki Ibu, merendahkan Ibu. Aku yang saat itu bersembunyi di balik tirai
jendela bisa melihat dengan jelas betapa Ibu yang terlihat tak berdaya, hanya
mampu meminta maaf dan maaf, tak kuasa melawan. Setelah wanita itu pergi, Ibu
bergegas mendekatiku, menyeretku ke kamar, lalu memukuliku dengan pemukul
kasur. Perih yang kurasakan sampai membuatku tak bisa tidur semalaman, aku
kesakitan. Tetapi ini belum sebanding dengan hinaan yang diterima Ibu. Belum
sebanding dengan pengorbanan seorang ibu yang rela melindungi kehormatan
anaknya, kehormatanku.
”Sampai kapan kamu mau mempermalukan Ibu?
Sampai kapan, hah?”
Rotan itu mendarat manis di pantatku. Aku tak
akan menangis. Sampai kapanpun aku tak akan menangis hanya karena benda mati
itu.
“Nggak puas kamu setiap hari melihat Ibu dihina
orang? Apa kamu nggak puas kalau hanya cukup dua-tiga orang saja yang mencela
Ibu? Mau berapa orang lagi yang harus merendahkan Ibu agar kamu puas?”
Ibu kembali memukulkan rotan itu pada pantatku.
Sungguh, aku tak akan menangis. Bukan
maksudku membuat cercaan orang silih berganti datang pada Ibu. Bukan maksudku
menyakiti hatimu, Bu!
“Kamu nggak ingat kalau kamu itu lahir sebagai
seorang perempuan? Apa jadinya kalau anak gadis Ibu suka berkelahi? Mau jadi
apa kamu, Shifa?”
Lagi-lagi rotan itu menghantam pantatku. Cukup!
Ini sudah cukup untuk membuat gigiku gemeletuk. Aku takkan berteriak. Aku
takkan menangis.
“Sudah cukup, Shifa! Jangan buat masalah lagi!
Kita ini hidup tak hanya berdua, kita hidup dengan orang lain. Kita juga harus
bisa menjaga perasaan orang lain! Kita semua hidup dengan segala perbedaan,
Shifa! Dan semua perbedaan itu tak akan bisa hilang begitu saja! Kamu hanya
harus terbiasa, dan juga melihatnya tak hanya dari satu sisi. Masih ada sisi
lain, nak! Jangan lupakan hal itu!”
Nada suara Ibu berubah lembut, tentu saja tanpa
pukulan rotan lagi. Ibu mengulangi perkataannya sesaat sebelum keluar dari
kamar, “Kita semua hidup dengan segala perbedaan, ingat itu, Shifa!”
Kubenamkan wajahku dibalik bantal. Saat itu dua
butir mutiara bening jatuh dari kedua mataku, satu kanan dan satu kiri. Cukup!
Takkan ada yang akan terjatuh lagi. Takkan ada air mata lagi. Aku berjanji.
Itu janjiku tempo hari. Tapi kenyataannya aku
belum bisa menepatinya. Sebenarnya Ibu tak perlu khawatir kalau aku sering
berkelahi dengan anak laki-laki, toh aku hanya membela diri, ‘kan? Aku sangat
ingin mengatakan bahwa aku pemberani, bahkan aku yakin aku berani membalas
perlakuan Ayah padaku dan Ibu. Aku yakin aku berani menyeret laki-laki bedebah
itu untuk berlutut di hadapan Ibu. Aku
berani, Bu! Aku berani!
Tapi entah kenapa tak ada suara sekecil apapun
yang mampu keluar dari mulutku. Malahan bulir-bulir air hangat mulai
menggenangi pelupuk mataku. Aku tak percaya aku mengingkari janjiku! Tapi itu
nyata! Butiran air itu turun perlahan, membasahi pipi, dan... tangan itu
mengusapnya lembut. Permata itu belum sempat terjatuh.
“Takkan ada yang akan terjatuh lagi, Shifa!
Berjanjilah ini terakhir kalinya kamu menitikkan air mata! Ibu nggak mau lihat
putri Ibu jelek gara-gara mewek terus! Masa ibunya cantik anaknya jelek, sih?”
Sungguh, hari itu Ibu lain dari biasanya. Aku
membenamkan wajahku pada pelukan Ibu. Aku
janji, Bu! Aku janji! Tanpa kuketahui, saat itu Ibu juga sedang khusyuk
dengan janji-janjinya. Janji-janjiku, janji-janji Ibu, berpilin dan mengerucut
di satu titik, jauh di atas sana. []


Tidak ada komentar:
Posting Komentar