![]() |
| Sumber gambar: https://pxhere.com/id/photo/752550 |
PART 8
“Apa?” tanya Rama
spontan tanpa bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Suasana di meja makan
seketika menjadi tak nyaman.
“Vannes masih hidup, Ram! Dia ada disini!” tegas Bunda sekali lagi. Aku hanya mampu terdiam.
“Bunda apa-apaan, sih? Bunda kecapekan? Bunda harusnya lebih banyak istirahat daripada mikir yang enggak-enggak!”
“Bunda mengatakan yang sebenarnya, Rama! Vannes sudah kembali pada kita! Kamu lihat dia? Dia itu Vannes! Vannes ada disini!” ujar Bunda sembari menunjukku.
“Dhia?”
“Iya! Dhia adalah Vannes, putri Bunda yang sudah hilang selama tujuh belas tahun!”
“Bunda, dia itu Fadhia, bukan Vannes! Bunda harus belajar menerima kenyataan kalau Vannes memang sudah tiada! Bunda nggak bisa menghabiskan seluruh hidup Bunda dalam bayang-bayang Vannes!”
“Vannes masih hidup, Ram! Van, lebih baik kamu bilang sama kakakmu yang sebenarnya!”
Sekarang Rama menatapku tajam. Ia menganggap Bunda hanya terlalu merindukan Vannes seperti biasanya.
“Bunda benar, Ram! Aku ini adikmu!”
“Kamu memang sudah kuanggap sebagai adikku, Dhi!”
“Tapi aku benar-benar adikmu yang sesungguhnya! Aku adalah Vannes!”
“Kalian berdua kenapa, sih? Dhi, apa ini cara kamu menyenangkan Bunda? Kamu tahu ‘kan kalau Bunda itu sakit?”
“Bunda nggak sakit, Ram! Mungkin awalnya memang sulit untuk percaya. Apalagi aku yang sudah terpisah dengan ibu kandungku selama hampir tujuh belas tahun! Dua hari terakhir aku mengetahui kenyataan ini. Apa kamu pikir aku bisa menerimanya dengan mudah? Ini hal tersulit dalam hidupku, Ram! Apa kamu pernah membayangkan kalau orang yang selalu kamu panggil Ibu selama tujuh belas tahun lamanya ternyata bukan ibu kandung kamu?”
Rama terdiam. Entah apa yang sekarang dia rasakan dan dia pikirkan, tapi ia berhenti menyuap makanan ke mulutnya.
“Mulai besok hingga seterusnya Vannes akan tinggal di rumah ini!” ujar Bunda seketika.
“Tapi kita belum membicarakan hal ini, Bun!” sergahku tak terima.
“Apa kamu sudah siap untuk kembali kesana? Tempatmu disini, Van! Sudah seharusnya kamu tinggal disini bersama Bunda dan Rama!”
Tiba-tiba Rama meletakkan sendoknya begitu saja dan beranjak dari meja makan tanpa permisi.
“Rama!” seru Bunda setengah berteriak.
“Sudahlah, Bun! Beri Rama waktu untuk memahami semua ini! Aku juga mau ke kamar, ya!”
“Ya sudah, nanti Bunda nyusul!”
Di ujung anak tangga yang paling bawah aku masih bisa mendengar pintu kamar yang dibanting keras. Baru satu minggu setelah Rama mengatakan kalau dia akan belajar berbagi Bunda dengan Vannes jika dia benar-benar akan kembali. Tapi apa yang terjadi malam ini? Jumat lalu ia memberiku setangkai bunga berwarna kuning. Dia berkata kalau bunga itu sebagai tanda simbolis persahabatan dan persaudaraan kami. Bunga yang berwarna kuning memang sering diidentikkan dengan tanda persahabatan, tapi selain itu juga sebagai tanda kecemburuan. Apakah Rama belum sepenuhnya siap kalau Vannes benar-benar kembali? Apa dia seperti itu karena takut kalau aku akan merebut kasih sayang Bunda darinya?
Aku berdiri di balkon kamar dengan gelisah. Apakah keputusanku meninggalkan Ibu adalah keputusan yang tepat? Bagaimana kalau terjadi sesuatu degan Ibu sedangkan aku tidak ada disana? Tidak! Aku tidak boleh memikirkan wanita itu lagi. Aku tidak boleh mengkhawatirkannya lagi. Dia bukan lagi Ibuku. Dia tak lebih dari seorang wanita paling jahat yang pernah kukenal, wanita yang merenggut tujuh belas tahun masa-masa indahku. Disinilah tempatku. Inilah kehidupanku yang sebenarnya.
“Vannes!”
Seseorang ada di belakangku. Aku tahu itu Bunda.
“Kamu merindukannya?”
“Siapa?”
“Ibumu!”
“Dia bukan Ibuku. Ibuku ada disini. Aku tak perlu mencemaskannya.”
“Seberapa besar kamu mencintainya?”
“Aku tidak mencintainya!”
“Kamu bohong!”
“Tidak! Aku memang sudah tidak memiliki rasa cinta padanya lagi. Setelah apa yang telah dia lakukan pada kita di masa lalu, ada harga yang harus dia bayar, Bun! Aku tidak lagi punya alasan kenapa aku harus mencintainya. Luka yang telah dia torehkan hanya menyisakan dendam dan kebencian!”
“Apa dia mengajarimu menjadi seorang pendendam?”
“Tidak, tapi keadaan yang membuatku begini! Sejak kecil aku menganggap kalau hidup kami menderita karena Ayah. Aku tumbuh dengan semangat ingin menemukannya dan membalas dendam padanya. Tapi Ibu tidak pernah mau mengatakan sesuatu tentang Ayah. Maka dari itu aku berusaha sendiri mencari informasi tentangnya, tapi aku tak pernah mendapatkannya. Aku putus asa. Sekarang keadaan malah jadi seperti ini. Kebencianku pada wanita itu jauh lebih besar daripada kebencianku pada Ayah.”
“Dia melakukan itu semua pasti ada alasannya, Van!”
Suasana menjadi hening untuk sejenak hingga tiba-tiba aku mengingat sesuatu.
“Bun, sebenarnya apa hubungan Bunda dengan wanita itu? Lalu bagaimana dengan Ayah? Dimana dia sekarang?”
“Kamu sungguh ingin tahu?”
Aku mengangguk yakin. Bunda menarik napas dalam dan mulai mengingat masa lalu. Inilah perbedaan Bunda dengan wanita itu: Bunda tak pernah menutupi segalanya dariku, sedangkan wanita itu... selalu ada kebohongan dalam setiap hembusan nafasnya.
~&~
Sebuah catatan hitam belasan tahun silam...
Namaku Marsya dan namanya Sarah. Aku mengenalnya sejak masih kuliah semester pertama. Sebenarnya dia gadis yang baik. Kami kuliah di tanpat yang sama, tapi beda jurusan. Dulu kami teman satu kos. Dia gadis periang, tapi agak tertutup. Meskipun kami satu kamar, dia tidak pernah menceritakan apapun padaku. Sampai-sampai aku berpikir kalau dia satu-satunya orang yang tak pernah punya masalah, tapi ternyata aku salah. Di akhir semester enam dia mengundurkan diri. Dia pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun padaku. Aku tidak tahu dia pergi kemana. Yang aku tahu hanyalah beberapa bulan terakhir keceriaannya menguap begitu saja.
Tidak lama setelah kepergiannya, aku bertemu dengan seorang pemuda. Dia tampan dan tutur katanya begitu manis. Dia mendekatiku. Percaya atau tidak, baru kali itu aku merasakan indahnya jatuh cinta. Waktu itu aku masih sangat polos hingga begitu mudahnya aku jatuh dalam rayuannya. Dia menjanjikan masa depan indah yang akan kami lalui berdua. Setelah aku benar-benar menyerahkan jiwa dan ragaku padanya, barulah aku tahu kalau semua janji itu palsu. Dia meninggalkanku seorang diri menghadapi akibat dari dosa-dosa kami.
Aku adalah anak tunggal. Mamaku sudah meninggal sejak usiaku tiga tahun. Aku hanya punya Papa dan Bibi Rania. Papa mengajariku berbisnis sejak kecil. Meskipun uang sakuku lebih dari cukup, sewaktu masih SD aku selalu membawa kue kering buatan Bibi Rania yang kujual di sekolah setiap istirahat. Dari Bibi Rania aku belajar memasak dan menjahit, yang akhirnya itu menjadi hobiku.
Ketika Papa mendengar kalau anak gadisnya hamil tanpa ada suami, dia begitu terpukul. Penyakit jantung yang dideritanya kambuh. Berbulan-bulan ia terbaring di rumah sakit. Perusahaan yang dipimpinnya ia percayakan pada adiknya. Sedangkan aku harus berjuang menyelesaikan kuliahku sekaligus berjuang mempertahankan kehidupanku dan calon bayiku di antara cibiran banyak orang. Sekitar dua bulan sebelum aku melahirkan aku telah meraih gelar sarjanaku. Di saat yang sama aku kehilangan Papa untuk selamanya. Adik yang telah Papa percaya ternyata mengkhianati kami. Dengan mudahnya ia berhasil mengambil semua harta Papa dan mengusirku dari rumahku sendiri. Bibi Rania membawaku ke kampung halamannya, di kota ini. Mulai saat itu aku berjuang dari nol. Berbekal modal dari hasil penjualan perhiasan yang masih melekat ditubuhku saat itu aku memulai bisnis aneka kue dan roti bersama Bibi Rania, menjualnya di tempat-tempat wisata hingga ke terminal, sampai akhirnya saat ini aku sudah berhasil mendirikan toko roti sendiri dan juga memiliki beberapa cabang di kota ini dan kota sebelah.
Kembali ke masa lalu. Malam itu, tujuh belas tahun yang lalu, untuk pertama kalinya aku tahu betapa berat perjuangan seorang ibu. Bibi Rania membawaku ke sebuah puskesmas kecil tak jauh dari tempat tinggal kami. Sebelum masuk ke ruang bersalin, aku sempat melihat seseorang dari masa lalu. Saat itu aku berpikir kalau itu hanyalah halusinasiku, tapi ternyata dia memang benar-benar ada disana. Aku melihat Sarah.
Malam itu, tujuh belas tahun yang lalu, aku kehilangan putriku yang baru saja kulahirkan. Entah dari mana asalnya tiba-tiba kobaran api mulai melalap bangunan serba putih itu. Aku sempat mencoba berlari menuju ke ruang bayi, mencoba menyelamatkan putriku, tapi orang-orang mencegahku. Kebakaran itu berlangsung cukup lama hingga mengakibatkan banyak korban terluka bahkan kehilangan nyawa. Pemadam kebakaran akhirnya berhasil memadamkan api setelah hujan deras turun dan membantu menyelamatkan keadaan. Jenazah bayi-bayi mungil yang menghitam berjajar bersama jenazah lainnya, tapi aku tak berhasil menemukan putriku di antara mereka, juga dimanapun. Dia menghilang begitu saja.
~&~
“Jadi wanita itu mengambilku dari Bunda saat kebakaran itu terjadi?” tanyaku tak percaya. Aku pernah memimpikan hal ini sebelumnya. Dan ternyata mimpi itu benar-benar nyata.
“Kenapa dia melakukannya, Bun? Kenapa ia tega mengambil anak dari sahabatnya sendiri? Apa salah Bunda padanya?”
“Bunda juga tidak tahu, Van! Bunda juga kaget saat tadi pagi Bunda melihatnya sedang bersitegang denganmu setelah belasan tahun tidak bertemu. Setelah kamu naik ke kamarmu, dia mengatakan hal yang sebenarnya pada Bunda. Tak banyak, tapi itu cukup membuat seluruh tubuh Bunda melemas. Kaki Bunda serasa tidak lagi berpijak di bumi. Antara percaya dan tidak.”
~&~
Bunda Marsya...
“Sarah? Apa ini benar-benar kamu?”. Aku tak yakin kalau wanita yang kini berada di hadapanku adalah sahabat baikku dulu. Kenapa tiba-tiba Sarah bisa ada di tempat ini dan beradu mulut dengan Fadhia?
“Iya! Ini aku, Marsya!”
“Kenapa kamu jadi seperti ini? Apa yang terjadi? Kemana saja kamu selama ini? Kenapa kamu tiba-tiba pergi meninggalkanku tanpa meninggalkan pesan apapun? Aku masih sahabatmu, ‘kan?”
“Selamanya aku akan tetap menjadi sahabatmu, itupun kalau kamu masih sudi menganggapku sebagai sahabat!”
“Apa maksudmu?”
“Tujuh belas tahun yang lalu aku ada di tempat itu. Aku ada disana saat kebakaran itu terjadi. Putrimu masih hidup, Marsya! Dia tidak meninggal karena kejadian itu!”
“Bagaimana kamu tahu? Aku sudah mencarinya kemanapun, tapi dia tidak ada disana, Sarah!”
“Dia memang tidak ada disana. Dia ada padaku. Aku sempat mengambilnya sebelum kebakaran itu terjadi!”
“Kamu jangan mengada-ada, Sarah!”
“Aku tidak mengada-ada! Tujuh belas tahun yang lalu aku memang mengambilnya darimu! Dan dia masih hidup hingga detik ini!”
“Kalau benar begitu, kenapa dulu kamu melakukannya, Sarah? Memangnya kesalahan apa yang telah aku perbuat padamu?”
“Aku minta maaf, Marsya! Aku tahu aku salah, tapi kamu harus tahu kalau aku tidak bermaksud memisahkan kalian.”
“Lalu kenapa kamu tidak mengembalikannya padaku? Kenapa kamu malah membawanya pergi?”
“Sekali lagi maafkan aku! Aku tidak bisa melakukannya. Aku terlampau mencintainya. Aku tidak sanggup kehilangan dia. Selama tujuh belas tahun dia hidup bersamaku. Tapi hari ini, detik ini, aku akan mengembalikannya padamu. Dia seutuhnya milikmu.”
“Dimana dia sekarang?”
“Dia ada di atas, di kamarnya. Gadis itu adalah putrimu yang kuambil tujuh belas tahun yang lalu.
Dia adalah Vannesia Ovy, putri yang selama ini kamu tunggu.”
“Jadi Fadhia adalah putriku?” tanyaku masih tak percaya.
“Namanya Shifa. Shifa Salfadhia. Itu nama yang kuberikan padanya. Katakan padanya aku sangat mencintainya dan tolong berikan ini padanya!”. Dia mengulurkan secarik kertas padaku.
“Ini apa?”
“Aku yakin dia tidak mau lagi mendengar apapun dari mulutku. Kalau aku menulisnya, mungkin suatu saat nanti dia akan membacanya. Saat ini dia sangat membenciku, entah sampai kapan. Sampaikan maafku padanya! Aku pergi!”
“Sarah, kamu mau kemana? Kita baru saja bertemu dan kamu akan pergi begitu saja?”
“Aku akan kembali pada kehidupanku. Aku tidak akan mengganggu kalian lagi. Tolong jaga dia demi sahabatmu yang hina ini. Selama kamu bisa menjaganya, kamu tidak akan pernah kehilanganku, separuh jiwaku ada padanya. Untuk yang terakhir kalinya aku minta maaf padamu. Karena aku kamu kehilangan langkah-langkah pertama putrimu. Sekarang datanglah padanya, peluklah dia! Jangan biarkan dia pergi darimu lagi! Dan sampaikan beberapa pesanku padanya! Selamat tinggal!”
~&~
“Dia meminta Bunda memberikan ini untukmu. Setelah itu dia pergi tanpa menoleh sedikitpun. Dia tidak mengatakan apapun lagi, apalagi mengatakan alasannya kenapa dulu dia melakukan hal itu.”
Bunda memberiku selembar kertas kusam, kertas yang sudah basah karena air mata. Apa wanita itu berpikir dia bisa membodohiku lagi? Apa dia pikir aku sudi membaca bualannya? Itu tidak akan terjadi! Aku langsung menjatuhkan kertas itu ke bawah setelah aku menerimanya dari Bunda. Selembar kertas itu jatuh melayang-layang hingga akhirnya sampai ke permukaan tanah di bawah sana.
“Kenapa kamu membuangnya?” tanya Bunda tak menyangka.
“Dia hanya akan mengatakan kebohongan lagi pada kita. Dia tidak akan membiarkan aku kembali pada Bunda!”
“Tidak, Van! Dia sahabat Bunda dari dulu. Bunda tahu bagaimana sifatnya. Bunda yakin dia tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Bunda yakin dia juga akan bahagia melihat kita bisa bersama!”
“Apa Bunda tetap yakin padanya setelah dia memisahkan kita selama tujuh belas tahun lamanya? Apa Bunda masih percaya kalau wanita keji seperti itu masih layak dijadikan sahabat?”
“Cukup, Van! Kamu tidak boleh berkata seperti itu! Bagaimanapun juga ibumu adalah orang yang selama ini menjaga dan membesarkanmu! Kamu tidak pantas merendahkannya seperti itu!”
“Dia bukan ibuku! Dia tidak lebih dari wanita paling menjijikkan yang pernah kukenal!”
Plakkk...
Wanita itu menampar pipiku dengan keras. Dia, ibu kandungku sendiri, menamparku demi membela wanita yang sudah menyakitinya selama ini?
“Aku sudah berjanji pada ibumu kalau aku akan selalu menjagamu. Aku berjanji padanya kalau aku tidak akan pernah menyakitimu. Tapi sepertinya aku tidak akan bisa menepati janjiku jika anakku sendiri seperti ini. Sadarlah, Van! Dia itu ibumu! Siapa yang mengurusmu sejak kecil? Siapa yang sudah mengorbankan apapun demi dirimu selama ini? Dia hanya berharap kamu memaafkannya. Dia bahkan rela kalau kamu pergi darinya untuk selamanya jika itu memang maumu.”
“Tapi dia sudah melakukan kesalahan yang begitu besar, Bun!”
“Apa kamu tidak pernah berbuat salah padanya? Apa kamu tidak pernah menyakiti hatinya? Dia melakukan hal itu pasti ada alasannya. Ibu sangat mengenalnya. Dia tidak akan melakukan suatu hal besar tanpa ada alasan yang kuat. Kebakaran itu berasal dari salah satu ruangan di dekat ruang bayi. Banyak bayi-bayi mungil tak berdosa meninggal karena kebakaran itu. Apa kamu tidak berpikir apa jadinya kamu kalau dia tidak mengambilmu? Apa yang akan terjadi padamu seandainya dia tidak membawamu pergi dari sana? Entah apapun niat awalnya, tapi Tuhan telah merubah hatinya. Dialah orang yang sudah menyelamatkanmu. Apapun yang sudah terjadi adalah kehendak Tuhan. Dan kamu harusnya bersyukur karena Dia telah mengirimkan malaikat yang senantiasa melindungimu! Malaikat itu ibumu, nak! Dia itu ibumu!”
Aku hanya mampu menunduk, menangis. Bayangan demi bayangan masa lalu kembali hadir di pikiranku. Ibu yang selalu rela dihina orang demi aku. Ibu yang merelakan semua tabungannya demi menyekolahkanku. Ibu yang selalu berusaha membuatku merasa bahagia di tengah kenyataan hidup yang berkata sebaliknya. Dia tidak akan melakukan itu semua jika dia tidak mencintaiku. Dia melakukan itu semua karena... dia adalah ibuku.
“Bunda yakin kamu tahu apa yang harus kamu lakukan.”
Ya, Bunda benar. Aku harus melakukan sesuatu. Segera aku masuk ke kamarku, lalu keluar, berlari turun ke bawah, dan segera menuju halaman belakang. Aku berharap kertas itu masih ada disana. Aku sudah melihatnya ketika angin tiba-tiba datang dan menerbangkannya. Kertas itu jatuh ke kolam.
“Oh tidak! Semoga masih bisa dibaca!” kataku dalam hati sambil mengangkat kertas itu dari kolam dengan sangat perlahan. Pesan itu ditulis dengan tinta. Memang sudah agak pudar, tapi sepertinya masih bisa dibaca. Aku menengadah ke atas. Bunda masih ada di balkon kamarku, berdiri dengan wajah cemas. Kuanggukkan kepalaku sebagai isyarat kalau semua akan baik-baik saja.
Sesampainya di kamar aku segera meletakkan kertas itu di meja dengan hati-hati.
“Bunda tinggal, ya! Habis ini langsung tidur!”
Bunda mengecup keningku dan segera keluar dari kamar. Perlahan aku mencoba membaca tulisan itu kata demi kata.
“Bagaimana kabarmu disana, Shifa? Semoga kamu bahagia dengan keluarga barumu! Maafkan Ibu, nak! Mungkin akan sulit bagimu untuk menerimaku sebagai ibumu lagi setelah apa yang sudah ibu lakukan padamu. Mulai dari sekarang Ibu akan membebaskanmu dari kebohongan yang sudah Ibu ciptakan selama ini. Ibu akan pergi meninggalkan kalian. Kamu baik-baik ya disana! Bundamu adalah orang yang sangat baik. Dia akan menjagamu lebih baik dari Ibu. Ibu hanya ingin mengatakan bahwa apapun yang terjadi cinta Ibu padamu tidak akan pernah berkurang. Ibu sangat mencintaimu. Selamat ulang tahun, nak! Ibu minta maaf kalau Ibu tidak bisa memberikan apapun di ulang tahunmu yang ke tujuh belas ini, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Apa kamu masih ingat kisah Sang Putri? Kisah itu belum selesai. Kamu masih belum menemukan poin terpentingnya, tapi kamu pasti akan menemukannya. Kamu harus menyelesaikan kisahmu sendiri, wujudkanlah takdirmu sendiri, kamu pasti bisa! Satu hal yang harus kamu tahu: akan selalu ada do’a dan cinta untukmu di antara nafas-nafas yang Ibu hembuskan. Jadi, selama Ibu masih bisa bernafas, do’a dan cinta Ibu akan selalu terkirim untukmu. Adalah suatu kebahagiaan tak terhingga bagi Ibu jika kamu masih memiliki sisa cinta untuk Ibu, meskipun itu hanya sebesar debu...”
Air mataku membuat kertas itu semakin basah. Aku tidak menyangka kalau Ibu masih ingat kalau hari ini hari ulang tahunku. Aku saja sampai lupa. Lalu bagaimana dengan Bunda?
Kudekati tempat tidur bayi berwarna merah muda di sudut kamar. Dengan cermat aku menghitung kado-kado yang ada disana. Jumlahnya tujuh belas. Benar-benar tujuh belas. Aku tak mungkin salah hitung.
Ya Tuhan, ternyata Engkau sudah bermurah hati memberikanku dua orang ibu yang saling melengkapi satu sama lain, menyempurnakan satu sama lain. Maafkan aku yang sempat tidak mempercayai-Mu. Aku janji mulai detik ini aku akan mendekatkan diri pada-Mu. Tapi bagaimana caraku melakukannya jika aku memiliki dua orang panutan dengan keyakinan yang berbeda? Aku percaya Engkau itu satu dan hanya satu-satunya, tapi jalan mana yang harus kulalui untuk sampai pada-Mu?
~&~
“Bunda, aku minta maaf! Aku harus pergi malam ini juga. Aku ingin pulang. Aku ingin menemui Ibu. Aku harus meminta maaf padanya selagi aku bisa. Bunda jangan khawatir! Aku akan baik-baik saja dan aku pasti akan kembali!”
Aku meletakkan kertas berisi pesan untuk Bunda di meja, bersebelahan dengan surat dari Ibu yang belum juga kering. Dengan mengendap-endap aku berjalan keluar dari rumah. Aku sudah berjalan sekitar lima belas meter dari rumah saat aku merasa seseorang membuntutiku. Langkahnya terdengar jelas dan aku yakin dia semakin mendekat ke arahku. Kuputuskan untuk berlari. Aku harus siap dengan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi.
“Kamu mau pergi kemana, Dhi?”
Aku mengenal suara itu. Aku menghentikan langkahku dan membalikkan badan. Ternyata benar. Rama ada disana.
“Kenapa kamu lari? Kamu kira aku penjahat?”
“Bukan begitu maksudku, Rama! Aku cuma kaget kenapa tiba-tiba kamu ada disitu!”
“Adik perempuanku keluar malam sendirian sedangkan di ujung jalan sana banyak pemuda kurang ajar yang suka menggoda gadis-gadis yang lewat. Sebagai kakakmu mana mungkin aku diam saja?”
“Jadi kamu sudah menerimaku sebagai adikmu? Kamu sudah tidak lagi marah padaku?”
“Bukankah seminggu yang lalu aku sudah bilang kalau kita akan menjadi saudara? Aku juga sudah berjanji padamu kalau aku akan menjadi kakak yang baik, kakak yang selalu melindungi adiknya. Sekarang pulang! Bunda bisa cemas kalau tahu anak-anaknya tidak ada di rumah!”
“Aku nggak mau! Aku nggak bisa, Ram! Aku harus menemui Ibuku malam ini juga!”
“Apa nggak bisa besok saja? Mana mungkin ada bus jam segini?”
“Aku akan cari tumpangan, seperti yang dulu kamu lakukan! Aku nggak sanggup nunggu sampai besok, Rama!”
“Sepenting itu kah ibumu di matamu?”
“Apa maksudmu berkata seperti itu? Jadi kamu pikir ibuku nggak penting?”
“Bukannya gitu, Dhi! Tapi ini ‘kan udah malem banget!”
“Kalau kamu nggak setuju ya udah, mendingan kamu pulang! Aku juga nggak butuh persetujuanmu. Aku akan tetap menemui ibuku malam ini juga!”
“Oke, aku akan pulang, tapi kamu jangan kemana-mana! Tetap disitu!”
“Hey, bagaimana mungkin aku akan tetap disini sendirian? Bagaimana kalau adikmu ini diculik orang-orang jahat?”
Percuma. Dia tidak mendengarkan ucapanku. Sebenarnya dia ada benarnya juga. Bagaimana kalau di jalan ada orang yang berniat buruk padaku? Bagaimana kalau terjadi sesuatu padaku? Tidak! Aku tidak akan mundur. Aku akan tetap menemui Ibu.
Akhirnya kuputuskan untuk tetap berjalan. Tidak lama setelah itu sebuah sepeda motor datang dari arah belakang dan berhenti mendadak tepat di hadapanku. Aku hampir saja akan berteriak kalau dia tidak segera membuka penutup helmnya.
“Kamu pasti ngira aku penjahat yang akan nyulik kamu, ‘kan?”. Dia tersenyum penuh kemenangan sambil mengulurkan sebuah helm padaku.
“Kenapa kamu selalu ngagetin aku, sih? Kamu mau bikin aku jantungan?” tanyaku tak terima sembari memukul pundaknya.
“Ya udah, aku minta maaf! Buruan naik! Kamu nggak mau bikin ibu kamu menunggu terlalu lama, ‘kan?”
“Kamu serius? Kamu mau nganterin aku sampai sana? Bagaimana dengan Bunda? Kamu udah bilang sama Bunda?”
“Belum!”
“Kenapa belum? Kamu harus pamit dulu sama Bunda!”
“Bunda udah tidur, Dhi! Lagian kamu juga belum bilang sama Bunda kalau kamu mau kabur, ‘kan?”
“Yang namanya kabur ya emang nggak bilang-bilang lah, kakak! Tapi aku udah nulis surat buat Bunda, kok!”
“Ya udah kalau gitu! Masalah selesai!”
“Ya nggak bisa gitu, dong! Aku ‘kan nggak bilang kalau kamu mau ikutan pergi!”
“Ya udah, nanti kita kasih tahu Bunda kalau kita udah sampai sana! Sekarang kamu mau naik apa enggak, nih?”
“Iya, iya!”
~&~
Rama benar. Seberani apapun diriku ternyata aku masih bergidik saat melihat segerombolan remaja laki-laki bicara tak jelas sambil memegang botol-botol minuman keras di ujung jalan ini, juga di beberapa tempat yang kami lewati. Sebenarnya aku sudah terlalu sering melihat pemandangan seperti itu di kampungku, tapi aku juga tidak memungkiri kalau Ibu tak pernah satu kali pun membiarkanku keluar rumah di malam hari sendirian. Itu terlalu bahaya mengingat lingkungan kami yang seperti itu. Tapi ternyata disini sama saja.
Sepanjang perjalanan aku tidak mengatakan sepatah kata pun pada Rama hingga sepeda motornya mulai memasuki perkampungan pesisir Pantai Salur, melewati gang-gang kecil hingga akhirnya sampai tepat di depan rumahku. Tetangga-tetanggaku sempat menatapku aneh. Tapi sungguh, bukan itu yang kupermasalahkan, melainkan hal lain. Kenapa rumahku gelap?
Aku mencoba membuka pintu depan yang ternyata tidak dikunci. Aku meraba-raba dinding mencari sakelar lampu. Setelah ruangan menjadi terang aku bisa melihat keadaan ruang tamu yang tak berubah sedikitpun.
“Ibu! Ibu dimana? Shifa pulang, Bu!”
Tak ada jawaban sedikitpun. Saat aku melihat ke dalam kamar Ibu, Ibu tidak ada disana. Aku mencari Ibu di kamarku, kamar mandi, dapur, ibu juga tidak ada disana. Aku kembali ke kamar Ibu. Saat kubuka almari bajunya ternyata kosong. Ibu tidak ada di rumah ini. Kulihat sekelilingku. Sama sekali tak ada surat atau pesan semacamnya.
Sementara itu diluar sana Rama sedang bejuang menghindari gadis-gadis muda seusiaku yang datang menggodanya. Saat aku keluar barulah mereka berangsur pergi.
Tanpa mengatakan apapun pada Rama aku segera berlari ke arah rumah Tante Renata. Rama mengikutiku di belakang. Beberapa kali kami tidak sengaja menabrak orang. Aku hanya bisa berkata maaf tanpa berhenti lari. Kuharap Tante Renata tahu keberadaan Ibu saat ini.
Beberapa orang berjaga di depan rumah mucikari itu. Mereka mencegahku masuk.
“Aku harus bertemu Tante Renata! Biarkan aku masuk! Tante Renata! Tante ada di dalam? Aku harus bicara sama Tante!” teriakku setelah benar-benar tak bisa lolos dari para penjaga itu. Tak lama kemudian wanita itu keluar sambil bertepuk tangan perlahan tapi tegas.
“Lihatlah siapa yang datang? Anak gadis Sarah? Ya ampun... Ibumu bilang dia tidak akan membuat anaknya menjadi seperti dirinya. Dia bilang kalau anaknya perempuan yang suci, gadis baik-baik. Tapi ternyata dia salah! Setelah dia pergi lihatlah apa yang dilakukan putrinya? Dia akhirnya berani membawa laki-laki pulang ke rumah? Ya Tuhan...”
“Wanita sepertimu tidak pantas menyebut nama Tuhan!” balasku akan penghinaannya.
“Oh ya? Memangnya kamu pantas?”
“Sudahlah, Tante! Aku kesini bukan untuk berdebat sama Tante! Aku cuma mau tanya dimana ibuku?”
“Mana aku tahu? Apa juga untungnya aku menyembunyikan dia?”
“Tante tolong jujur sama aku! Tante tahu sesuatu tentang Ibu, ‘kan? Kemana dia pergi, Tante?”
“Udah dibilangin nggak tahu ya nggak tahu! Maksa banget, sih! Orang dia waktu pamit juga nggak bilang apa-apa!”
“Nggak mungkin Tante Renata akan melepaskan Ibu begitu saja! Bertahun-tahun kami berusaha pergi tapi nggak pernah bisa. Nggak mungkin tiba-tiba Ibu pergi dan Tante nggak tahu dia kemana! Tante punya banyak anak buah yang bisa dengan mudahnya menemukan Ibu dan membawanya kesini!”
“Hey anak bodoh, dengar ya! Kalau saja ibumu itu masih berharga, aku pasti nggak akan semudah itu membiarkan dia pergi. Cuma benda yang nggak berharga yang pantas dibuang!”
“Jadi Tante anggap ibuku apa? Sampah?”
“Kalau kenyataannya memang begitu ya gimana lagi? Aku nggak mungkin menyimpan sampah di rumahku, ‘kan?”
“Apa maksud Tante?”
“Aduuuh. Kenapa kebodohanmu itu nggak hilang-hilang, sih? Apa gunanya ibu kamu menyekolahkanmu tinggi-tinggi kalau hal begituan saja kamu nggak tahu? Seandainya ibumu itu sehat pasti dia masih ada disini, Shifa! Semua orang tahu ibumu cantik. Dia bisa menghasilkan banyak uang untukku. Tapi dia bilang kemungkinan besar kamu nggak akan pernah kembali kesini lagi. Lalu bagaimana kalau sudah sampai saatnya dia harus sekarat dan mati? Apa iya aku yang harus mengurusnya?”
“Tante bilang apa? Ibuku sakit? Ibu sakit apa, Tante? Sejak kapan?” tanyaku tak percaya.
“Stop! Nggak usah nanya lagi! Aku udah capek meladeni anak bodoh sepertimu. Aku yakin di sekolah kamu pernah diajar Biologi, ‘kan? Menurutmu penyakit mematikan apa yang paling mungkin diderita oleh seorang pelacur seperti ibumu? Kalau kamu nggak bodoh kamu pasti tahu jawabannya!”
“Nggak mungkin, Tante! Tante pasti bohong!”
Tante Renata membalikkan badan dan pergi meninggalkanku, menyisakan anak buahnya yang mencegahku mengejarnya.
“Tante nggak bisa pergi gitu aja! Tante belum memberitahuku dimana Ibuku berada!”
Sekarang Rama yang menarikku mundur. Dia memegang kedua bahuku, mencoba membawaku pergi dari tempat itu.
“Aku nggak mau pergi, Ram! Aku harus menemukan Ibu!”
“Kamu pasti akan menemukan ibumu! Kita bisa tanya sama orang yang lain, mungkin mereka ada yang tahu!”
“Tapi cuma dia satu-satunya yang mungkin tahu keberadaan Ibu! Kalau dia tidak tahu maka semua orang di kampung ini juga nggak ada yang tahu!”
“Kalau begitu kita akan mencarinya di tempat lain, bahkan sampai ke ujung dunia pun aku akan menemanimu mencarinya. Sampai ketemu!”
Aku sudah tidak mampu berkata-kata lagi. Aku hanya menurut saat Rama menuntunku kembali ke motornya. Kami pergi dari tempat itu. Sesaat sebelum kami mencapai jalan raya, tiba-tiba aku teringat sesuatu.
“Kembali, Ram! Kita harus kembali!”
“Kemana? Kamu masih ingin menemui wanita itu lagi?”
“Tidak! Tapi ada suatu tempat yang dulu sering kudatangi bersama Ibu. Walaupun sebenarnya aku nggak sepenuhnya yakin kalau Ibu ada disana.”
“Tunjukkan aku jalannya, kita pergi ke tempat itu sekarang juga!”
Dengan tangkas Rama memutar balik arah motornya. Kami segera menuju salah satu titik di tepi Pantai Salur tak jauh dari perkampungan ‘kupu-kupu’. Tak banyak yang berubah sejak terakhir kali aku datang ke tempat ini. Tiang bambu dengan lampu lima watt masih berdiri disana. Tiang itu sudah agak miring, mungkin karena setiap hari selalu terkena terpaan angin laut. Suasana disana masih sama tenang, jauh dari gemerlap kehidupan kampung ‘kupu-kupu’. Pasir masih sama lembut. Ombak masih sama kuat menghantam pesisir. Karang masih sama tegar meski setiap saat harus menerima deburan ombak. Hanya satu bedanya, tidak ada lagi Ibuku yang menemaniku duduk di bawah lampu itu. Tidak ada lagi Ibu yang menceritakan kepadaku kisah Sang Putri, kisah yang sudah kudengar berkali-kali dari mulut Ibu, kisah yang sangat sulit dicari poin terpentingnya bahkan hingga detik ini. Hanya ada suara alam yang berbicara di tempat itu.
Aku putus asa. Aku membiarkan diriku jatuh terduduk di bawah pendar lampu lima watt. Rama mendekat ke arahku, ikut duduk di sampingku, diatas lembutnya pasir Pantai Salur. Aku sudah banyak berharap, aku sudah berlari-lari untuk sampai ke tempat ini, tapi aku tidak mendapatkan apa yang kucari.
“Tiga belas tahun usiaku saat itu, saat pertama kalinya Ibu mengajakku ke tempat ini pada malam hari. Waktu itu aku mimpi buruk, dan di tempat ini Ibu menceritakan dongeng yang sangat indah, tapi sayangnya dongeng itu berakhir dengan kesedihan.”
Rama hanya diam mendengarkanku. Matanya menatap lurus ke arah lautan. Aku kembali angkat bicara, “Akhirnya kamu tahu siapa aku sebenarnya, siapa ibuku, dan bagaimana kehidupan kami. Aku minta maaf atas kejadian gadis-gadis tadi. Aku yakin kamu merasa sangat canggung dan juga nggak nyaman!”
“Nggak papa kok, Dhi! Cuma agak.. ya gitu, deh! Mereka itu teman-temanmu?”
“Dulu iya, tapi seiring berjalannya waktu membuat perbedaan di antara kami semakin besar. Aku tidak bisa lagi bersama mereka.”
“Apa yang salah dengan perbedaan, Dhi? Bukankah hidup itu penuh dengan perbedaan?”
“Apa kamu tahu kenapa tadi aku bilang kalau seandainya Tante Renata tidak tahu kemana ibuku pergi, maka tidak ada seorangpun penduduk kampung itu yang tahu? Itu karena mereka nggak ada yang mau tahu, Ram! Mereka memang agak berbeda saat memperlakukan ibuku hanya karena prinsip Ibu yang tidak sejalan dengan anggapan mereka.”
“Prinsip apa?”
“Apa saja! Salah satunya tentang cara Ibuku memperlakukan anak perempuannya. Asal kamu tahu, hampir semua gadis seusiaku di kampung ini sudah tidak benar-benar gadis lagi! Begitu lulus SD mereka langsung mengikuti jejak orang tuanya, melestarikan keberadaan kampung ‘kupu-kupu’. Itu sebabnya aku hanya dekat dengan Irvana sejak SMP. Irvana tinggal di balik pegunungan itu. Saat itu gedung SMP paling dekat hanya berada disana. Karena teman-temanku tidak ada yang melanjutkan sekolah, jadi setiap hari aku berjalan seorang diri naik turun pegunungan itu. Satu hal yang harus kamu tahu, aku tidak sama seperti mereka. Boleh jadi ibuku memang seperti itu, tapi dia tidak pernah memaksaku menjadi sepertinya. Dia bahkan melarangku menirunya. Dia berusaha mati-matian menyekolahkanku agar hidupku tidak sepertinya.”
“Aku percaya padamu, Dhi! Lagian siapa juga yang mau sama kamu?”
Aku diam. Pura-pura tersinggung.
“Aku cuma bercanda, Dhi! Kamu jangan marah begitu, dong! Kalaupun nggak ada yang mau sama kamu, tapi sebenarnya kamu itu lumayan cantik, lho! Perpaduan antara kecantikan Bunda dan kecantikan ibumu. Ya, walaupun aku belum pernah bertemu dengannya, tapi aku yakin dia sama cantiknya sepertimu!”
Aku memalingkan wajahku darinya. Aku tidak mau dia melihat aku tersenyum-senyum sendiri. Kenapa aku belum juga sadar? Dia itu kakakmu sendiri, Shifa! Kamu tidak boleh terus-terusan jatuh cinta padanya!
“Ngomong-ngomong aku belum pernah mendengar kisah itu, apa kamu mau menceritakannya untukku?”
“Berani bayar berapa? Ceritanya panjang, butuh banyak tenaga untuk menceritakannya!”
“Bagaimana kalau aku membayarnya dengan cinta? Sebagai seorang kakak aku akan memastikan kalau kamu tidak akan kekurangan cinta dariku! Ditambah cinta dari Bunda sebagai bonus, bagaimana?”
“Aku yakin kamu tahu aku tidak akan bisa menolak permintaanmu! Adikmu ini makhluk Tuhan yang haus akan cinta, kak!”
Aku mulai menceritakan semua kisah itu. Mulai dari mimpi burukku, kisah cinta Sang Putri, poin terpenting yang belum mampu kujawab, hingga Ibu yang tiba-tiba berlutut meminta maaf padaku. Aku juga menceritakan hubungan Ibu dengan Bunda, juga asal mula aku bisa hidup bersama Ibu selama tujuh belas tahun. Aku mengatakan semua itu padanya hingga berjam-jam berlalu tanpa terasa.
“Dhi, apa kamu tidak mencermati sesuatu dari kisah itu?”
“Mencermati apa? Itu hanya dongeng biasa, ‘kan? Hanya saja Ibu berpesan padaku untuk terus mencari poin terpenting dari kisah itu sampai dapat!”
“Hanya itu?”
“Tidak! Dia juga memintaku menyelesaikan kisahku sendiri, mengukir takdirku sendiri. Tapi aku tidak paham apa yang dia katakan!”
“Semua yang kamu ceritakan barusan saling berhubungan, Dhi! Aku bisa melihat benang merahnya!”
“Apa maksudmu?”
“Kamu mimpi tentang kebakaran. Itu benar-benar terjadi saat kamu masih bayi, ‘kan? Di mimpi itu kamu kehilangan dua orang ibumu, dulu kamu berpisah dengan Bunda, dan sekarang kamu tidak tahu keberadaan ibumu. Itu juga terjadi, ‘kan? Lalu ibumu yang tiba-tiba meminta maaf padamu, mengatakan kalau suatu saat nanti kalian pasti akan berpisah. Itu juga benar, ‘kan? Lalu...”
Aku memintanya berhenti bicara dengan isyarat tangan. Aku sudah tahu jalan pikirannya.
“Lalu tentang nama Sang Putri. Namanya Fadeea, hampir sama seperti namaku, Shifa Salfadhia. Itu berarti... sebenarnya Ibu ingin mengatakan semua kebenaran sejak dulu, hanya saja aku terlambat menyadarinya. Ibu membuat sendiri kisah itu untukku setelah mendengar mimipi burukku. Ibu menciptakan kisah itu saat dia takut aku akan pergi meninggalkannya. Itulah kenapa tidak ada orang lain yang tahu tentang kisah itu. Dan jika itu semua benar, maka akulah putri yang datang terlambat itu. Dan itu nyata. Aku terlambat menyadari betapa besar cinta Ibu untukku. Aku terlambat datang untuk mengucap kata maaf dan mengatakan kalau aku juga sangat mencintainya. Aku terlambat, Ram! Sekarang bahkan aku tak tahu dimana ibuku berada. Aku tidak tahu harus mencarinya kemana. Tidak ada sedikitpun petunjuk tentang keberadaannya. Aku takut kalau aku... aku...”
Rama merengkuhku ke dalam pelukannya. Dia tahu aku butuh tempat bersandar. Dia tahu aku ketakutan. Dia tahu apa yang aku rasakan. Karena dialah benang kusut itu dapat terurai. Karena dialah aku bisa memecahkan teka-teki yang selama ini Ibu sembunyikan dalam sebuah dongeng tentang seorang Putri yang datang terlambat.
“Aku takut, Rama! Aku takut kalau semua bagian dari dongeng itu akan menjadi nyata. Aku takut kalau aku benar-benar akan terlambat!”
Potongan-potongan masa lalu kembali hadir begitu saja. Aku sudah menyakitinya. Aku telah melukai surgaku. Aku benci hal ini kembali terjadi padaku. Aku tidak suka kalau aku mengusap air mataku sendiri. Tapi inilah aku saat ini. Aku tak bisa berhenti menangis di bahunya.
“Jangan takut, Dhi! Aku sudah berjanji akan selalu melindungimu! Dan aku akan menepati janjiku! Aku akan melindungimu dari apapun, termasuk dari rasa takut! Kamu pegang ucapanku! Seorang Rama tidak akan ingkar janji, apalagi pada adiknya sendiri!”
Dia membelai rambut panjangku yang kubiarkan tergerai begitu saja. Inilah efek seorang kakak, seorang Rama. Dia mampu membuatku merasa tenang hingga akhirnya aku jatuh tertidur dalam pelukannya.
~&~
Sinar mentari pagi yang terbit dari balik pegunungan perlahan membuat mataku mengerjap-erjap dan akhirnya terbuka. Butuh waktu cukup lama hingga akhirnya aku sadar kalau semalaman aku tertidur di tepi Pantai Salur. Tapi dimana Rama. Aku menengadahkan kepalaku ke atas, aku melihat wajahnya disana.
“Selamat pagi!”
Aku segera bangkit dan duduk. “Sejak kapan aku tertidur di pangkuanmu? Apa semalaman kamu nggak tidur?”
“Untuk pertanyaan pertama aku akan menjawab sejak tadi malam, setelah kamu merasa lelah, sedih, dan ketakutan. Yang lebih tepat sebenarnya kamu tertidur dalam pelukanku, setelah cukup lama akhirnya aku menempatkan kepalamu di pangkuanku. Bukankah lebih enak tidur berbaring daripada duduk? Untuk pertanyaan yang kedua aku akan menjawab ya, aku nggak sempat tidur gara-gara aku harus memastikan motorku aman dari pencuri, dan juga memastikan adikku aman dari orang jahat. Kamu tahu sendiri ‘kan kalau tempat ini dekat dengan tempat dimana orang-orang berniat buruk berkumpul bersama?”
“Apa aku bisa mempercayaimu? Bagaimana mungkin aku tahu kalau kamu tidak berniat buruk padaku?”
“Terserah apa kata kamu, Dhi! Aku begini karena terikat janjiku sebagai seorang kakak yang baik, seorang Rama tidak akan pernah ingkar janji. Sekarang pulang! Aku sudah menemanimu semalaman. Sekarang waktunya kita pulang. Kasihan Bunda kalau bangun tidur tahu-tahu anak-anaknya tidak ada di rumah.”
“Memangnya kamu belum menghubungi Bunda dari semalam?”
“Belum, aku lupa!”
“Bagaimana bisa lupa? Sekarang mana HP kamu, biar aku yang ngasih tahu Bunda!”
“Aku ‘kan udah bilang kalau aku lupa! Aku lupa bawa HP, sayang! Kamu mau pinjam HP ku, ‘kan? Ambil aja di kamarku sana!”
Aku diam. Bukan karena aku memikirkan bagaimana aku bisa mengambil hand phone itu saat ini juga, melainkan karena dia memanggilku sayang. Kakakku memanggilku sayang. Memangnya apa yang istimewa? Mulai sekarang aku harus terbiasa dengan panggilan seperti itu. Kenapa kamu tidak juga sadar, Shifa?
“Kita pulang sekarang, Dhi?”
“Eh, iya. Tapi kita kembali ke rumahku dulu, ya! Aku ingin mengambil barang-barangku. Tadi malam aku lihat kamarku sudah rapi, Ram! Semua bajuku sudah masuk tas, buku-bukuku juga. Mungkin sebelum Ibu pergi dia sudah merasa kalau aku akan kembali kesini untuk yang terakhir kalinya. Dia sudah menyiapkan semuanya. Dia berkata jujur, Ram! Di surat itu dia mengatakan kalau dia akan membiarkanku tinggal dengan Bunda dan dia akan pergi dari kehidupan kami untuk selamanya. Bagaimana jika aku tidak bisa bertemu dengannya lagi, Ram? Bagaimana kalau kisah itu menjadi kenyataan? Bagaimana jika kisahku juga berakhir dengan kesedihan?”
“Ibumu bilang kalau kamu harus menyelesaikan kisahmu sendiri,Dhi! Dia memintamu untuk mewujudkan takdirmu sendiri, ‘kan? Itu artinya kisahmu masih bisa dirubah. Dan ibumu memintamu untuk merubahnya, Dhi! Dia tidak ingin kisahmu berakhir tragis seperti kisah Sang Putri!”
“Iya, Ram! Kamu benar! Aku akan mengukir takdirku sendiri! Karena hidupku, akulah yang menentukannya!”
Rama...
Awalnya aku merasa iba padanya. Aku tahu dia kelelahan, dia bingung, dan dia frustasi dengan semua permainan takdir yang susul menyusul datang padanya. Tadi malam dia jatuh tertidur begitu saja di dalam pelukanku. Aku mulai membelai rambutnya selayaknya seorang kakak yang membantu adiknya agar bisa tidur dengan pulas. Perlahan aku memindahkan tubuhnya, kubaringkan dia di pasir, dan kubiarkan kepalanya berada di pangkuanku. Sinar sang rembulan yang sedang purnama membuatku bisa dengan jelas menatap wajahnya. Sesuatu perlahan-lahan menyusup dalam hati dan pikiranku. Aku... seperti kembali ke sekian tahun silam, saat seragam putih biruku baru beberapa kali kupakai. Saat itu aku menolong salah seorang temanku yang jatuh pingsan. Dia terbaring lemah tak berdaya. Waktu itu aku juga membiarkan kepalanya berada di pangkuanku. Itulah saat dimana aku bisa merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta untuk pertama kalinya. Dan temanku itu adalah... Shinta.
Malam ini aku bisa merasakan hal itu lagi. Aku tidak tahu apakah perasaanku ini benar ataukah salah, pantas ataukah tidak. Tapi aku yakin kalau aku telah... jatuh cinta padanya, pada Fadhia. Dhia, yang sudah memendam cintanya padaku selama lebih dari satu setengah tahun. Dhia, yang mau tak mau kini menjadi adikku, yang lambat laun pasti akan melupakan perasaan itu. Dhia, gadis yang kini tertidur pulas di pangkuanku.
Dhia, Dhia, Dhia, telah mencuri hatiku... []


Tidak ada komentar:
Posting Komentar