Breathing: Harga Sepotong Masa Lalu

Sumber gambar: https://pxhere.com/id/photo/557347


PART 7


Tap Tap Tap

Sepertinya ada seseorang yang sedang membuntutiku, tepi aku enggan menoleh ke belakang. Hawa dingin tiba-tiba merasuki pori-pori kulitku. Orang itu masih mengekor di belakangku. Kalau aku berhenti, dia ikut berhenti. Kalau aku berjalan, dia pun mengikutiku. Kupercepat langkahku dan dia sepertinya juga melakukan hal yang sama.

“Apa yang kamu lakukan? Kau membuntutiku?” tanyaku tiba-tiba. Badanku berputar seratus delapan puluh derajad mennghadap ke arahnya. Kurasa itu cukup membuatnya terkejut.

“Aku tidak membuntutimu. Kebetulan saja arah kita searah. Aku mau ke perpustakaan!”

“Hey, aku juga mau kesana! Jadi sebaiknya kamu pergi! aku nggak mau dekat-dekat sama kamu! Aku nggak mau ketularan gila!”

“Kenapa aku yang harus pergi? Kenapa nggak kamu aja?”

“Aku ‘kan yang duluan, jadi kamu yang harus pergi!”

“Duluan apanya? Kita ‘kan belum sampai?”

“Kalau begitu kita balapan, yang kalah harus pergi!” putusku sepihak sambil berlari mencuri start.

Perpustakaan ada di seberang sana, terpisah oleh lapangan upacara dan lapangan voli dari tempatku berdiri. Demi menghemat waktu, kuputuskan untuk berlari melewati bagian tengah lapangan upacara yang sebenarnya tidak boleh diinjak-injak, kecuali saat upacara bendera tengah berlangsung.

Hal ini mengingatkanku akan kejadian saat hari pertama masa orientasi sekitar satu setengah tahun yang lalu. Waktu itu kakak-kakak senior bagian tata tertib sudah berteriak-teriak menyuruh adik-adiknya berlari. Saat temanku yang lain mengambil jalan memutar, aku malah memotong jalur dengan melewati tengah lapangan, dari ujung ke ujung lain. Aku memang tidak terlambat, tapi tetap saja dihukum karena kelakuanku itu.

Salah satu dari seniorku menanyakan apa alasanku menginjak-injak rumput lapangan, dengan tegas aku menjawab, “Maaf, ‘kak! Saya hanya menerapkan ilmu matematika tentang dalil Phytagoras yang saya dapat waktu SMP, ‘kak! Sisi miring suatu segitiga siku-siku selalu lebih pendek daripada jumlah kedua sisinya! Jadi saya lebih memilih melewati tengah lapangan daripada berjalan memutar!”. Sontak jawaban sok pintarku itu membuat teman-temanku merah padam karena menahan tawa.

“Semuanya diam!” teriaknya garang. Ia kembali menatapku lalu berkata, “Kalau sedari sekarang kamu sudah belajar melanggar aturan, bagaimana nanti kalau kamu sudah memimpin bangsa ini? Apa kamu akan tetap menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang kamu mau? Sekalipun itu harus dengan melanggar aturan? Lalu bagaimana bisa negeri ini menjadi lebih baik kalau pemimpinnya sendiri bermental tempe sepertimu?”

“Saya nggak ada niatan buat jadi presiden kok, ‘kak!”

“Apa menurutmu pemimpin itu harus seorang presiden? Justru dipundak kalianlah, generasi muda bangsa Indonesia yang akan mengantarkan Indonesia kembali pada masa kejayaannya! Presiden pun nggak akan mampu melakukannya tanpa kalian! Kalianlah ujung tombak masa depan bangsa kita, ingat itu!”

Sekelebat bayangan masa lalu itu membuat konsentrasiku buyar. Salah satu kakiku terperosok ke dalam parit kecil –yang digunakan sebagai jalan lewatnya air saat hujan- yang memisahkan lapangan upacara dengan lapangan voli. Tangan kananku kugunakan sebagai tumpuan untuk menopang tubuhku agar tidak terjerembab ke tanah, tapi...

“Aww...”, kurasakan nyeri pada tanganku itu, lebih sakit daripada lututku.

Seseorang mendekat dan megulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Aku memastikan kalau sepasang kaki yang ada di hadapanku itu benar-benar masih menapak di tanah, bukan melayang. Kusambut uluran tangan itu dengan tangan kiriku.

“Kenapa tanganmu? Terkilir?” Tangannya berusaha menyentuh tangan kananku, namun segera kutepis.

“Ngapain kamu nolongin aku?” tanyaku yang kini berjalan di sisinya.

“Aku rasa nggak adil kalau aku menang dengan kondisi lawanku yang kesakitan. Lagian aku sadar kalau kita sama-sama sedang membutuhkan perpustakaan. Kalau kamu nggak mau melihatku, ya anggap saja aku nggak ada!”

“Bukannya kamu memang udah nggak ada? Bukannya kamu kemarin bilang kalau kamu mau nyusul Shinta? Aku jadi ragu, orang yang ada di sampingku ini manusia atau hantunya Rama yang sedang gentayangan setelah bunuh diri?”

“Satu-satunya alasanku untuk tetap bertahan adalah karena Bunda masih membutuhkanku!” ujarnya sambil mempercepat langkahnya mendahuluiku. Aku segera berlari menyusulnya daripada nanti ada orang yang melihatku menginjak-injak rumput lapangan dan mengadukanku pada guru BK. Kalau sudah begitu bisa runyam urusannya.

Sesampainya di perpustakaan dia langsung mencari buku-buku yang dibutuhkannya. Sepertinya dia memang tidak menganggapku ada. Jemariku segera meneliti setiap jengkal buku yang berjajar rapi di depanku.

“Hai, Shifa!” sapa seseorang yang kini berdiri di sampingku.

“Eh, Khrisna?”

“Apa kabar?”

“Cukup baik! Tapi... emm, sekarang ketua rohis kalau ketemu orang bilangnya hai, apa kabar, ya? Bukannya Assalamu’alaikum?”

“Eh, Assalamu’alaikum, Shifa!”

“Wa’alaikumsalam! Ngomong-ngomong Bu Ketua dimana?”

“Maksudmu... Irvana? Aku nggak tahu. Bukankah dia sahabatmu?”

“Iya, sih! Sepertinya aku belum melihat dia dari tadi pagi. Biasanya kalau Irvana menghilang berarti dia lagi sibuk banget. Memangnya Rohis mau ada event, ya?”

“Iya. Akan ada tabligh akbar bulan depan. Kamu jangan lupa datang, ya! Sekalian ajak yang lain!”

Aku hanya tersenyum. Tabligh akbar? Apa tidak salah dia mengajakku ke acara seperti itu? Irvana saja tak pernah bisa membujukku, apalagi dia? Setiap ada pengajian rutin di sekolah pun aku harus kucing-kucingan terlebih dahulu dengan guru agama sebelum akhirnya terpaksa masuk ke aula. Aku memang salah satu murid yang selalu membangkang setiap kali disuruh mendengarkan ceramah, sekalipun sahabatku sendiri yang menjadi panitia intinya.

Irvana memang benar-benar menepati janjinya padaku. Hingga kini saat kami telah menginjak kelas sebelas, Irva menjadi ketua Rohis putri dan Khrisna menjadi ketua Rohis putra, dia masih memendam isi hatinya. Akan tetapi dia selalu bersikap seolah tak ada apa-apa. Ia belajar untuk terbiasa dekat dengan Khrisna, dan dia mampu. Walaupun aku tahu bahwa di lubuk hati terdalamnya dia masih menyimpan rasa itu.

“Shifa, aku mau bilang sesuatu ke kamu! Sebenarnya....”

“Eh, apa? Maaf ya aku tadi malah ngelamun! Kamu mau bilang apa?”

“Emm, aku cuma mau bilang... duluan, ya! Atau kamu mau keluar bareng aku?”

“Enggak, aku masih mau disini!”

“Oh, ya sudah! Bye!”

“Assalamu’alaikum!” ujarku mengingatkan.

“Eh iya, wa’alaikumsalam!”

Kenapa Khrisna aneh sekali hari ini? Tidak seperti biasanya. Sementara itu Rama terlihat sibuk dengan bukunya di sudut sana. Sepertinya ia benar-benar tidak memperdulikanku.

~&~

“Habis makan siang nanti Ibu mau mengatakan sesuatu sama kamu, penting!”

“Sekarang saja, Bu!” ujarku sambil melepas sepatu. Ibu membelai pelan rambutku.

“Shifa, kamu mau nggak punya ayah?” tanya Ibu langsung pada intinya.

“Apa? Maksudnya, Ibu mau menikah? Sama siapa?”. Aku tak bisa menutupi ekspresi kagetku.

“Kamu tahu Om Indra? Yang sering kesini siang-siang itu?”

“Om Indra? Kenapa Om Indra, Bu! Apa Ibu nggak tahu bagaimana sifatnya? Bukannya Shifa nggak mau Ibu menemukan kebahagiaan Ibu, tapi kenapa harus dengannya? Apa tidak ada orang lain yang lebih baik darinya?”

Aku benci Om Indra. Seharusnya Ibu tahu kalau lelaki itu sering melirik-lirik ke arahku bahkan saat Ibu ada di hadapannya. Tapi kenapa Ibu malah mau menikah dengannya?

“Ibu tahu kalau Om Indra bukanlah laki-laki yang baik! Tapi kamu tahu ‘kan kalau Ibu kamu ini juga bukan wanita baik-baik? Ibu sadar akan derajat Ibu yang hanya seorang pelacur kampung. Dan tidak akan ada lelaki baik-baik yang mau datang pada seorang pelacur, Shifa! Jadi biarkan Ibumu yang buruk ini bersanding dengan orang yang juga sama-sama buruk! Kalau Ibu menikah dengannya, setidaknya kita bisa pergi dari tempat ini!”

“Apa tujuan Ibu menikah hanya karena dia bisa membantu kita keluar dari neraka ini? Itu sama saja dengan keluar dari mulut buaya masuk ke mulut singa! Sia-sia, Bu!”

“Bukankah kamu ingin punya ayah? Ini salah satu jawaban atas keinginanmu itu!”

“Aku tidak menginginkan orang seperti itu menjadi ayahku. Tapi kalau Ibu benar-benar mencintainya, aku tidak akan melarang. Terserah Ibu. Dia bisa saja menjadi suami Ibu, tapi dia tidak akan bisa menjadi ayahku. Lebih baik aku tidak punya ayah untuk selamanya, toh selama ini aku bisa hidup tanpa ayah!”

Aku hendak berdiri dan masuk ke kamar saat Ibu menahanku, “Tunggu dulu Shifa!”

“Aww...”, Ibu memegang tepat di tanganku yang terkilir.

“Kenapa?”

“Nggak papa! Tadi cuma jatuh di sekolah!”

“Ibu urut, ya!”. Saat Ibu akan beranjak ke kamarnya untuk mengambil minyak urut, tiba-tiba terdengar suara pintu yang diketuk.

“Aku aja yang ngambil minyaknya, Bu!”

Aku segera menuju ke kamar Ibu sementara Ibu membukakan pintu untuk tamunya. Aku tidak menemukan minyak itu di atas meja, juga di lacinya. Apa mungkin terjatuh? Segera kuperiksa kolong meja rias Ibu, juga tidak ada disana. Tapi aku melihat sesuatu yang lain di kolong tempat tidur Ibu. Insting keingintahuanku tiba-tiba menyeruak. Perlahan kutarik benda itu keluar dari sana. Bukankah itu kotak yang dulu disembunyikan Ibu?

Aku segera membuka penutupnya. Isinya bukan emas atau permata, hanya selembar kain seperti... selimut bayi. Ya, itu memang hanya selembar selimut bayi berwarna merah muda. Tapi aku menemukan sesuatu di ujung selimut itu. Sesuatu yang membuatnya terlihat berbeda. Sesuatu yang membuat kakiku melemas dan membuat pikiranku bercabang kemana-mana. Gambaran demi gambaran masa lalu terlihat jelas di otakku, seperti kaset yang diputar berulang-ulang. Baju itu...

Aku segera keluar dari kamar Ibu dan segera menuju ke kamarku sendiri. Dengan tangan bergatar kukeluarkan baju pemberian Bunda Marsya yang kusembunyikan di tumpukan baju yang paling bawah dan kucocokkan dengan selimut bayi tadi. Warnanya sama-sama merah muda, tapi bukan itu poin terpentingnya. Nama yang ada di kerah baju itu benar-benar sama dengan nama yang terjahit rapi di ujung selimut. Bagaimana ini bisa terjadi? Apakah...

“Shifa!”. Ibu terengah-engah. Kurasa ia sudah menyadari kalau ada ‘harta’ yang yang hilang dari kamarnya.

“Apa maksud semua ini, Bu? Siapa itu Vannesia Ovy?” tanyaku sembari memperlihatkan dua buah kain merah muda yang membuat akal sehatku tak lagi dapat berfungsi dengan baik.

~&~

“Jadi ini alasan Ibu melarangku dekat dengan keluarga Bunda Marsya? Karena aku adalah putrinya?”

“Ibu minta maaf, Shifa! Ibu tidak bermaksud meisahkan kalian. Ibu tahu kalau tindakan Ibu menyembunyikan semua ini adalah salah, tapi hal itu Ibu lakukan karena Ibu tidak mau kehilangan kamu!” ujar Ibu sambil berlutut di hadapanku. Dia memegangi kakiku, seakan menahanku agar tidak pergi.

Ibu menangis selayaknya orang yang menangis. Ibu tak lagi bisa menyembunyikan air matanya dariku. Aku menyadari hal itu saat sesuatu menetes membasahi punggung kakiku. Setelah apa yang baru saja terjadi, aku masih tak menyangka kalau orang yang selama ini kupanggil Ibu adalah seorang pembohong besar. Pembohong yang telah membodohiku hampir tujuh belas tahun lamanya.

Aku melepas paksa tangan Ibu dari kakiku. Tindakanku itu membuat Ibu hampir terjerembab ke lantai. Aku sudah tak memperdulikan lagi apakah Ibu merasa kesakitan atau tidak, terluka atau tidak. Yang jelas aku lebih sakit dan lebih terluka karena kebohongannya. Segera kusambar tas sekolahku yang isinya belum sempat kukeluarkan, tak lupa kubawa serta dua benda yang menjadi ‘barang bukti’ kebohongan Ibu. Aku akan pergi dari Ibu.

“Shifa!” teriak Ibu parau.

Seseorang berlari tergopoh-gopoh dari ruang tamu menuju kamarku. Mungkin ia ingin tahu keributan apa yang terjadi di dalam. Aku hanya meliriknya sebelah mata tanpa menghentikan langkahku. Ternyata Ibu benar. Orang yang buruk hanya pantas bersanding dengan orang yang juga buruk. Dan Ibu pantas bersanding dengannya.

Aku berlari tanpa alas kaki mengejar bus terakhir sore ini. Masih kudengar sayup-sayup suara Ibu yang berteriak memanggilku. Bus yang kutumpangi melaju dengan cepat. Kulihat Ibu yang masih berlari mengejarku. Tubuh dan suaranya semakin kecil dan terus mengecil hingga hilang ditelan jarak.

Aku mungkin memang telah menjadi anak durhaka. Aku rela seandainya Ibu mengutukku menjadi batu daripada aku harus terus hidup dalam kebohongan yang diciptakannya. Aku sudah tidak lagi memperdulikan apa kata Irvana tentang dosa yang akan kuterima apabila menyakiti hati orang tua, toh dia bukan ibuku. Irva juga sering mengatakan kalau surga ada di bawah telapak kaki ibu, tapi apakah wanita seperti Ibu masih menyimpan surga di bawah telapak kakinya?

~&~

Wanita itu tampak terkejut saat membukakan pintu untukku. Dia memandangiku dari ujung kaki telanjangku hingga ujung rambutku yang berantakan. Aku yang masih mengenakan seragam sekolah tampak kumal dan menyedihkan. Setelah sekian lama takdir mempermainkanku, akhirnya kini aku tahu bahwa ibu kandungku adalah wanita yang kini berdiri di hadapanku, bukan wanita yang selama ini ada disisiku. Miris memang. Aku juga tak menyangka kalau kehidupanku akan se-klise sinetron di layar kaca yang selama ini kuanggap tidak masuk akal.

“Bunda...” ujarku lirih dalam kehangatan pelukannya.                                     

“Ada apa, Dhi?”

Aku hanya mampu terisak. Kupeluk wanita itu dengan begitu erat, seakan tak ingin terpisah dengannya lagi.

“Kita masuk, yuk!”

Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, aku menuruti saja apa yang Bunda katakan. Aku masih terisak saat Bunda memintaku duduk di sofa ruang tamu.

“Bunda akan sangat senang kalau malam ini kamu mau menemani Bunda disini!”

Kurasa Bunda memang tahu kalau aku sedang membutuhkan tempat untuk menenangkan diri. Jujur saja, aku tak tahu lagi harus pergi kemana selain ke tempat ini. Untuk kembali ke rumah, aku belum siap. Atau mungkin tak akan pernah siap. Setelah hari ini, aku tak bisa lagi membayangkan bagaimana caraku bisa melanjutkan hidup. Bahkan hanya sekadar untuk bernafas tanpa beban, aku tak yakin kalau aku bisa melakukannya.

~&~

Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih, tapi aku belum juga bisa memejamkan mata. Malam ini aku kembali menempati kamar Vannes, maksudku kamar yang seharusnya menjadi kamarku. Hingga detik ini Bunda maupun Rama belum tahu kalau Vannes adalah aku dan aku adalah Vannes.

Sinar bulan purnama menyusup ke kamar melalui tirai jendela yang belum sempurna tertutup. Mendadak aku teringat dongeng masa kecil tentang Sang Putri yang sering berbicara pada rembulan. Mungkin jika aku mencurahkan isi hatiku pada langit malam diluar sana aku bisa menjadi lebih tenang.

Tiga buah kamar di lantai dua ini –kamar Rama, kamar Bunda, dan kamar ini- terletak bersebelahan dan menghadap ke arah yang sama dengan balkon terpisah. Kamar Bunda ada di tengah, memisahkan kamar ini dengan kamar Rama. Aku berdiri melamun di balkon seorang diri hingga beberapa saat kemudian Rama juga keluar dan berdiri di balkon kamarnya.

“Hey cengeng! Ngapain kamu disitu?”

Suara itu mengusik lamunanku dan memaksaku menghadap ke arah wajahnya.

“Siapa yang kamu maksud cengeng? Aku?”

“Ya iya, lah! Siapa lagi? Kalau bukan cengeng ngapain kamu datang ke sini sore-sore sambil nangis?”

“Halah, lagakmu kaya nggak pernah nangis aja! Kemarin sore yang nangis-nangis sampai mau bunuh diri di kuburan itu siapa?”

“Itu beda. Kamu nggak tahu ‘kan rasanya ditinggal mati sama seseorang yang sudah kamu anggap belahan jiwa? Kamu nggak tahu ‘kan bagaimana rasanya kehilangan separuh hati?”

“Tapi apa kamu tahu bagaimana rasanya berpisah dengan ibu kamu selama hampir tujuh belas tahun? Kamu nggak tahu ‘kan? Kamu nggak akan pernah bisa merasakan hal itu karena kamu punya Bunda yang setiap hari selalu ada buat kamu. Jadi kamu nggak usah ngurusin aku karena kamu nggak tahu apa-apa tentang aku!”

Dia terdiam. Tapi itu tak bertahan lama karena ia segara berkata, “Aku tahu bagaimana rasanya! Aku tahu!”. Setelah itu dia segera masuk ke kamarnya, menyisakan air mata yang kembali mengalir di pipiku.

Sesaat kemudian Bunda keluar dari kamarnya. Mungkin ia terbangun karena mendengar keributan yang terjadi antara aku dan Rama.

“Kamu nggak kenapa-napa, Dhi?” tanyanya khawatir saat melihat mataku yang sembab. Karena letak balkon kamar kami yang bersebelahan ditambah cahaya bulan purnama yang terang benderang, mudah saja bagi Bunda untuk melihat air mata yang belum sempat kuhapus. Aku hanya mampu tersenyum dengan senyuman yang agak dipaksakan. Kalau aku berbicara, Bunda pasti akan mengetahui kalau aku baru saja menangis.

“Masalah memang tidak bisa selesai begitu saja walaupun sudah dibagi dengan orang lain, tapi setidaknya itu akan membuat kita lebih tegar dalam menghadapinya. Bunda yakin kamu butuh teman curhat. Bunda kesana, ya?”

Bunda kemudian masuk ke kamarnya tanpa menunggu jawabanku. Dia mengambil sesuatu dan keluar lewat pintu depan, lalu masuk ke kamarku yang kebetulan tidak terkunci dan menyusulku ke balkon kamarku. Bunda mengulurkan sebatang coklat padaku.

“Habis ini jangan lupa gosok gigi!”

Kubuka bungkus coklat itu perlahan, tapi aku belum berniat untuk memakannya.

“Kamu ada masalah sama Rama?”

“Nggak kok, Bun! Mungkin akunya aja yang lagi pengin marah sama keadaan, jadinya gampang emosi, deh!”

“Bunda tahu kalau kalian berdua punya masalah masing-masing. Akhir-akhir ini Rama juga mudah marah. Bunda minta maaf ya kalau ada sikap Rama yang menyinggung hati kamu! Bunda harap kamu mengerti!”

“Rama memang dari dulu sikapnya begitu sama aku, Bun!”

“Menurutmu bagaimana Rama selama ini?”

“Ya... biasa. Walaupun dia menyebalkan tapi aku tahu kalau sebenarnya Rama adalah orang yang baik!”

“Apakah... kamu mencintainya?”

“Bunda apa-apaan, sih? Kenapa Bunda bertanya seperti itu?”

“Bunda juga pernah muda, Dhi! Bunda tahu apa yang kamu rasakan setiap kali mata kamu menatap Rama. Ada cinta disana.” Aku terdiam. “Jadi, benar?”

“Bunda tahu Shinta?” tanyaku balik.

“Iya. Rama sempat mengajaknya kemari tepat sehari sebelum kecelakaan itu terjadi. Dia cantik dan juga ramah. Bunda masih tidak menyangka kalau itu adalah pertemuan kami yang pertama sekaligus yang terakhir.”

Shinta meninggal karena kecelakaan jumat lalu, hari di saat abu vulkanik menyamarkan nuansa merah jambu khas valentine. Hari ini masih hari kamis. Itu berarti belum genap seminggu sejak Shinta pergi untuk selama-lamanya. Abu masih belum sepenuhnya hilang, sama seperti perasaan Rama pada Shinta yang tidak mungkin hilang hanya dalam hitungan hari.

“Bunda yakin kalau Shinta sudah tenang di alam sana, tapi entah kenapa sepertinya Rama masih belum merelakan dia pergi. Shinta tidak akan mungkin bisa kembali lagi. Rama harus bisa melanjutkan hidupnya tanpa dia. Mungkin memang sulit, tapi lambat laun Rama harus bisa mencari pengganti Shinta. Iya ‘kan, Dhi?”

“Apa maksud Bunda mengatakan ini padaku?”

“Satu setengah tahun yang lalu Rama membawa seorang gadis ke rumah ini. Gadis itu mengingatkan Bunda pada seseorang yang sangat penting dalam hidup Bunda. Saat pertama kali Bunda melihatnya, Bunda berharap kalau suatu saat nanti dia bisa menjadi anak Bunda, dia bersanding dengan Rama, dan mereka akan menjadi anak-anak kebanggaan Bunda. Kamu tahu ‘kan siapa dia?”

“Aku tahu. Dia itu Dhia. Gadis itu adalah aku ‘kan, Bun? Tapi apa yang Bunda harapkan adalah sesuatu yang tidak mungkin. Itu mustahil!”

“Kenapa mustahil? Rama tidak akan mungkin menutup hatinya untuk selamanya, ‘kan?”

Seandainya Bunda tahu yang sebenarnya. Aku memang akan bersanding dengan Rama, tapi bukan bersanding seperti yang Bunda bayangkan, melainkan bersanding sebagai saudara.

“Dhi, Rama-Shinta itu hanya dongeng! Dalam kehidupan nyata seorang Rama tidak harus bersama dengan Shinta!”

Butiran kristal bening kembali menggenangi pelupuk mata, menenggelamkan banyak pertanyaan yang tak kunjung terjawab. Apakah Tuhan benar-benar ada? Kenapa Dia seolah-olah selalu menempatkanku dalam kesulitan? Kenapa Dia menggoreskan takdirku dengan begitu rumit?

“Air mata ini... apa karena Rama?” tanya Bunda sambil mengusap pipiku yang mulai basah.

“Bukan!”

“Kalau yang tadi sore?”

“Juga bukan!”

Bagaimana caraku menjelaskan pada Bunda kalau ini bukan sekadar persoalan cinta biasa? Bagaimana perasaan Bunda jika mengetahui anak gadisnya jatuh cinta pada saudaranya sendiri?

“Apakah Bunda pernah mencintai seseorang?” tanyaku akhirnya.

“Tentu saja! Dulu, Bunda pernah mencintai seorang pemuda. Bunda sangat mencintainya hingga apapun Bunda berikan padanya. Namun setelah itu semua dia pergi meninggalkan Bunda. Bunda memang sudah salah menilainya, tapi kalau kamu bertanya apakah Bunda menyesal karena telah mengenalnya, jawabannya adalah tidak. Itu karena Bunda mendapatkan sesuatu yang bahkan jauh lebih berharga dari hidup Bunda: seorang anak!”

Aku hanya tertegun mendengar cerita Bunda. Bunda berkisah dengan begitu tenang, seakan tak ada yang harus ia tutupi dariku.

“Sayangnya takdir terlalu cepat merenggutnya dari sisi Bunda. Bahkan Bunda belum sempat mengatakan kalau Bunda sangat mencintainya. Apalagi mengucapkan selamat tinggal...”

Keadaan mulai terbalik. Seharusnya Bunda yang menjadi tempatku berkeluh kesah, tapi ini malah sebaliknya.

“Dia sudah pergi, Dhi! Dia sudah tiada! Sejak saat itu Bunda merasa hidup Bunda ikut pergi bersama kematiannya. Bunda mungkin sudah masuk rumah sakit jiwa kalau saja Rama terlambat hadir dalam hidup Bunda! Setiap kali Bunda ingat padanya Bunda sering berteriak histeris seperti tempo hari. Tapi setiap kali hal itu terjadi Bunda akan segera sadar jika Rama sudah datang dan menenangkan Bunda. Karena hal itu Bunda sering menghabiskan waktu dengan mengurus toko roti yang Bunda dirikan. Atau terkadang Bunda juga mengikuti acara sosial yang diadakan gereja. Bunda bisa merasa tenang setelah itu!”

Semua yang baru saja dikatakan Bunda mengingatkanku pada suatu kejadian saat usiaku tiga belas tahun. Saat itu Ibu membelikanku es krim coklat dan mengajakku melihat bazaar yang diadakan oleh orang-orang berpakaian aneh, sepertinya mereka adalah para biarawati yang sedang menggelar bakti sosial. Saat itu Ibu memaksaku untuk segera pulang. Apa jangan-jangan para biarawati itu berasal dari gereja yang sama dengan Bunda? Apakah Ibu saat itu melihat Bunda ada disana sehingga dia ingin kami segera pulang?

“Apa Bunda yakin kalau dia benar-benar sudah meninggal?” tanyaku perlahan.

“Entahlah, Dhi! Bunda tak pernah bisa menemukan jasadnya. Dia masih begitu lemah. Dia hanyalah seorang bayi yang baru saja lahir, yang tak mampu menyelamatkan dirinya sendiri saat kobaran api membawa pergi tubuh kecilnya. Mungkin kamu sudah tahu siapa dia. Setiap hari Bunda berharap kalau dia akan kembali, meskipun hanya sebentar. Bunda hanya ingin mengatakan kalau Bunda sangat mencintainya lebih dari apapun. Kalau memang dia harus pergi lagi, Bunda rela. Asalkan dengan perpisahan yang baik, dengan ucapan selamat tinggal, bukan dengan cara mengerikan seperti itu!”

Suasana mendadak hening, hanya ada satu dua helaan nafas tertahan diantara kami.

“Bunda tidak perlu mengucapkan selamat tinggal padanya karena dia tidak akan pernah meninggalkan Bunda! Dia ada disini. Selama dia ada di hati Bunda, dia akan tetap hidup!”

“Kamu benar, Dhi! Vannes pasti ada disini. Dia tahu kalau Bunda sangat mencintainya. Dan... dia akan selalu berada di samping Bunda. Vannes... dia ada disini!” ujar Bunda sambil menggapai-gapai udara kosong di sekelilingnya. Matanya tertutup dan berair.

Vannes memang ada disini. Aku benar-benar ada disini, disamping Bunda. Seandainya aku mempunyai cukup keberanian untuk mengatakan segalanya...

~&~

Lima belas jam yang lalu aku masih berada di rumah kecil di perkampungan remang-remang pesisir Pantai Salur, rumah yang sederhana, rumah yang telah menjadi saksi kehidupanku selama hampir tujuh belas tahun lamanya. Lima belas jam yang lalu aku masih punya seorang yang harus kupanggil ibu, seorang yang harus kuhormati karena telah mengorbankan segalanya demi diriku, seorang yang merelakan harga dirinya jatuh demi menjaga kelangsungan hidupku. Tapi kini aku merasa ragu apakah dia masih pantas kupanggil ibu setelah apa yang telah ia lakukan padaku selama ini. Kalau benar ia tak mau kehilanganku, bagaimana mungkin tujuh belas tahun yang lalu ia tega memisahkan seorang anak dari ibunya?

Mentari perlahan merangkak naik. Seharusnya saat ini aku berada di sekolah, tapi aku lebih memilih berdiam diri di kamar Vannes. Sebenarnya Bunda sudah membujukku agar mau berangkat sekolah bersama Rama, hanya saja aku menolak dengan alasan seragam dan sepatuku yang tertinggal di rumah.

Rumah sebesar ini terasa begitu sepi. Bunda pergi memeriksa salah satu toko roti miliknya, memastikan kalau karyawan-karyawannya bekerja dengan baik. Kuamati lamat-lamat sesosok wajah dalam cermin di hadapanku. Mata sembab, rambut kusut tak terawat. Aku lelah dengan semua kenyataan ini. Aku muak. Sebenarnya apa yang terjadi di masa lalu? Kenapa Ibu mengambilku dari Bunda?

Tok Tok Tok

“Mbak Dhia ada di dalam?”. Itu suara Bibi Rania. Aku merapikan rambutku dan segera membukakan pintu.

“Ada tamu, Mbak!”

“Bibi nggak bilang kalau Bunda baru pergi!”

“Dia tidak mencari nyonya, dia mencari Shifa katanya! Saya sudah bilang disini nggak ada yang namanya Shifa, tapi dia ngotot kalau orang yang bernama Shifa itu ada disini.”

Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut dari Bibi Rania, aku segera menuruni tangga. Seketika aku berhenti ketika aku melihat siapa yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Aku baru saja berniat membalik badan ketika dia menyebut namaku.

“Shifa!”. Dia bangkit dari tempat duduknya dan berlari ke arahku. Dia memegang tanganku, mencegahku pergi.

“Lepaskan tanganku!” ujarku pelan, mencoba sedikit menghormatinya. Dia menggeleng. Akhirnya kukibaskan tanganku agar terlepas dari pegangannya dan segera aku menaiki anak tangga lagi.

“Jangan pergi, Shifa!”

Kuhentikan langkahku. Kudekati wanita yang sedang mengiba padaku itu.

“Kamu bilang jangan pergi? Sekarang kamu tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang anak? Apa kamu tidak membayangkan bagaimana perasaan seorang ibu ketika kamu mengambil putrinya tujuh belas tahun yang lalu? Sekarang kenapa kamu datang kesini? Kamu ingin mengambil putrinya lagi untuk kedua kalinya? Mungkin dulu aku hanya bayi kecil yang tak mampu berbuat apapun, tapi sekarang aku sudah bisa mengatakan tidak. Kamu sudah tidak bisa lagi memisahkanku dari ibuku. Jadi sebaiknya kamu pergi dari tempat ini!”

“Maafkan Ibu, Shifa!”

“Kamu bukan lagi ibuku! Dan kamu tahu ‘kan kalau namaku adalah Vannes? Bukan Shifa!”

“Kenapa kamu berkata seperti itu? Sebegitu bencikah kamu pada Ibu?”

“Setelah apa yang kamu lakukan padaku selama ini, kamu masih menganggap kalau kamu adalah ibuku?” Nada bicaraku semakin meninggi.

“Mungkin Ibu memang tidak pantas lagi meminta maaf padamu, apalagi berharap kalau kamu masih mau memanggilku Ibu. Tapi Ibu akan terus meminta maaf padamu sampai kamu memaafkan Ibu. Ibu benar-benar minta maaf, Shifa!”

“Namaku Vannes, bukan Shifa!” bentakku.

“Oke! Kalau begitu Ibu minta maaf padamu, Vannes! Ibu nggak bermaksud memisahkan kalian!”

“Tolong jangan berkata Ibu lagi! Kamu tahu ‘kan kalau kamu bukan ibuku? Tolong katakan kalau kamu bukanlah ibuku! Kumohon!” ujarku mengiba. Aku sudah tidak tahan lagi dengan perdebatan ini.

“Tidak, Shifa! Ibu tidak bisa! Bukankah kamu tahu kalau Ibu sudah pernah mengatakan bahwa apapun yang terjadi kamu tetaplah putri Ibu, entah kamu mengakuinya atau tidak!”

“Bagaimana kalau aku tidak mengakuinya? Bagaimana kalau aku menolak menjadi putrimu?”

“Kalaupun kamu menolak, selamanya Ibu akan tetap menganggap kamu sebagai putri Ibu!”

“Cukup! Aku sudah lelah! Dengan segala hormat aku memintamu pergi dari tempat ini dan jangan pernah kembali lagi! Biarkan aku hidup tenang bersama keluargaku! Jangan ganggu aku lagi! Kamu harus tahu kalau ada harga yang harus dibayar atas perbuatanmu di masa lalu, yaitu kehilangan putrimu!” ucapku sambil menekankan kata putrimu.

“Ibu tidak akan pergi sampai Ibu mendapatkan maaf dari putri Ibu!”

“Bagaimana mungkin aku bisa memaafkanmu? Apa kamu bisa mengembalikan waktu tujuh belas tahunku yang terbuang sia-sia?”

“Sia-sia?”

“Ya, sia-sia! Hidup bersamamu hanyalah sebuah hal yang sia-sia. Jadi lebih baik kamu pergi sekarang! Aku tidak mau melihatmu lagi! Pergi!”

“Ada apa ini?” tanya seseorang yang tiba-tiba sudah berada di ambang pintu. Dia mendekat ke arah kami.

“Sarah? Apa itu benar-benar kamu?” tanya Bunda tak percaya.

“Ya, ini aku! Kamu tidak salah lihat, Marsya!”

“Ada apa sebenarnya? Dhi, apa yang terjadi disini?”

“Tanyakan saja pada wanita itu! Dia yang lebih tahu segalanya!”

Kutinggalkan mereka berdua dan segera berlari naik menuju kamar. Ya Tuhan, jika Engkau benar-benar ada maka tunjukkanlah kuasa-Mu. Mudahkanlah urusanku. Jika aku sudah tidak berhak lagi memohon padamu karena dosaku yang begitu besar, izinkanlah aku bersandar pada-Mu. Sungguh aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Aku tak berdaya di hadapan takdir-Mu...

~&~

Aku tak tahu apa yang harus kulakukan selain menangis di balik bantal. Sudah setengah jam lebih keadaan hanya seperti itu. Aku mengingat sesuatu. Segera kuambil tas sekolahku, kukeluarkan sehelai selimut bayi dan baju berwarna merah muda yang pernah kupakai satu setengah tahun yang lalu. Sekarang apa?

Sesaat kemudian kudengar suara pintu kamarku yang diketuk perlahan. “Dhi, Bunda boleh masuk?”

Aku tak menjawab. Suara itu begitu parau. Aku berjalan ke arah pintu. Untuk beberapa saat aku memegangi gagang pintu sebelum membukanya. Sosok dibalik pintu itu segera menatapku mataku tajam setelah pintunya terbuka. Satu detik, dua detik, tiga detik. Dia mulai meraba wajahku dan akhirnya merengkuhku dalam pelukannya. Butir-butir air mata berlelehan di  pipi kami.

“Bunda sekarang sudah tahu, Dhi! Semuanya!”

Bunda melepaskan pelukannya dan menciumi keningku. “Bunda nggak nyangka kalau...”

Bunda kembali memelukku. Dia tidak mampu berkata-kata lagi. Demikian pula denganku. Lidah kami kelu. Ada banyak perasaan yang bercampur baur menjadi satu. Sulit untuk dijelaskan. Setelah beberapa saat akhirnya Bunda angkat bicara, “Nanti malam kita beritahu Rama tentang berita gembira ini: adiknya telah kembali!” []





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages