![]() |
| Sumber gambar: https://pxhere.com/id/photo/856267 |
Aku melihat ada cahaya. Orang-orang berlarian
membawa ember berisi air. Keadaan kacau balau. Dari jauh mulai terdengar suara
sirine pemadam kebakaran. Suara itu sangat dekat, semakin dekat. Seorang wanita
bergaun putih panjang berusaha meronta dan melepaskan diri dari seseorang yang
mencegahnya mendekat ke api.
“Lepaskan aku! Putriku ada di dalam! Dia butuh
pertolonganku!”
“Anda bisa membahayakan nyawa anda sendiri,
Nyonya!”
Wanita itu dibawa pergi hingga hilang dari
pandanganku. Udara kurasa semakin panas. Entah kenapa aku baru sadar, api itu
berada di sekitarku, mengelilingiku. Aku kalut, ketakutan.
“Shifa!”
Kutolehkan kepalaku kearah suara itu, “Ibu?”
“Kita harus keluar dari sini, ikuti Ibu!”
Aku mengikuti langkah Ibu mencari celah-celah
untuk bisa keluar dari tempat ini. Kanan, kiri, semuanya api. Tiba-tiba sesuatu
jatuh dan...
“Ibu...” teriakku kaget. Kini Ibu dihadapanku
tak berdaya, berlumuran darah.
“Maafkan Ibu, Shifa, maafkan Ibu!”
“Maaf apa?”
Tak ada jawaban. Setelah itu Ibu benar-benar
tak bergerak lagi dalam pelukanku. Kulitnya putih memucat, sangat kontras
dengan darah segar yang keluar dari kepalanya, yang menodai pakaiannya.
“Ibu...Ibuuu...”
Kueratkan pelukanku. Ada air yang terjatuh, tapi
aku yakin itu bukan air mataku. Kulihat langit mendadak mendung. Angin bertiup
begitu kencang. Hujan mulai turun, semakin lama semakin lebat. Tidak ada lagi
api disekitarku. Seseorang memegang pundak kananku dari belakang. Spontan aku
menoleh kearahnya. Perlahan kulepaskan Ibu dari pelukanku. Pelan-pelan kubaringkan
Ibu di tanah.
Dia... wanita yang bergaun putih tadi. Aku tahu
wanita itu sedang menangis walaupun aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Dia meraba pipiku, juga membelai rambutku, dan memelukku. Entah kenapa aku
seperti tak ingin melepas pelukan itu. Aku rindu pelukan ini. Sudah lama aku
tak merasakan pelukan sehangat ini. Padahal aku baru saja memeluk Ibuku
sendiri. Ah ya, Ibu, bagaimana dengan Ibu?
“Maaf,
Bu! Lepaskan saya! Saya tidak keberatan, tapi...” ujarku sopan pada wanita itu.
Kuarahkan pandanganku pada Ibu, tapi... dia
tidak ada disana. Setelah itu aku meihat ke tempat dimana wanita bergaun putih
tadi berada, dia juga tidak ada disana.
Ibu...
Kurasakan dunia berputar-putar. Aku hanya
seorang diri di tempat itu, dibawah rintik air hujan, didalam kegelapan malam,
diantara kesunyian dan ketidakpastian...
~&~
“Shifa, kamu kenapa?”
Seseorang menepuk-nepuk pipiku perlahan, “Ada
apa?”
Butuh beberapa saat untukku menyadari semuanya.
Wanita dihadapanku adalah Ibuku, dia ada disini.
“Shifa takut, Bu! Shifa takut Ibu pergi! Lalu
wanita itu...”
“Wanita apa? Siapa?”
“Ada kebakaran, Bu! Aku terjebak di dalam
bangunan yang terbakar itu, Ibu datang menyelamatkanku tapi... Ibu pergi, dan
semua orang juga pergi! Wanita itu juga pergi! Shifa takut, Bu! Shifa takut
semua orang pergi meninggalkan Shifa!”
Ibu terdiam sejenak, tampak memikirkan sesuatu.
“Seperti apa wanita itu?”
“Aku tak ingat bagaimana wajahnya, tapi dia
cantik, seperti Ibu! Rambutnya panjang terurai, bajunya warna putih, dan aku
merasa ada yang aneh saat dia memelukku!”
“Dia memelukmu?”
“Ya!”
Kulihat Ibu menggigit ujung bibirnya. Apa
yang sedang Ibu pikirkan?
“Ada apa, Bu?”
“Nggak ada apa-apa. Kamu harus tidur lagi,
Shifa! Ini belum waktunya beraktifitas!”
Aku tahu Ibu menyembunyikan sesuatu. Raut
wajahnya tak bisa berbohong. Aku bisa merasakannya.
“Aku nggak bisa tidur lagi, Bu! Aku takut!”
“Itu cuma mimpi, Shifa! Kamu nggak usah berpikir
kalau Ibu akan ninggalin kamu sendirian! Ibu nggak akan pergi, nggak akan ada
yang bisa memisahkan kita. Termasuk wanita itu. Dia nggak akan bisa merebut
kamu dari Ibu. Karena kamu putri Ibu. Apapun yang terjadi, kamu tetap putri
Ibu, titik!”
Untuk beberapa saat keadaan sunyi, tak ada
suara apapun.
“Berapa usiamu?” tanya Ibu akhirnya.
“Tiga belas tahun! Terakhir kali kita merayakan
ulang tahunku adalah saat usiaku sembilan tahun. Setelah itu bahkan Ibu tak pernah
ingat kapan ulang tahunku.”
“Ternyata kamu sudah besar. Ibu minta maaf,
Shifa! Seharusnya kamu berhak tahu semuanya.”
“Tahu apa? Memangnya apa yang Ibu sembunyikan
dariku?”
“Kamu mau ikut Ibu? Kita jalan-jalan!” Ibu
mengalihkan perhatianku.
“Kemana? Jam segini?”
Kulirik
jam dinding, baru pukul satu pagi. Tanpa menunggu jawabanku Ibu segera berdiri,
meraih jaket dan melemparkannya padaku.
“Ibu nggak pakai jaket? Diluar dingin, Bu!”
“Kamu lupa? Ini ‘kan masih jam kerja Ibu. Ibu
sudah biasa! Bahkan... ah, sudahlah. Ayo!”
Aku tersenyum getir, miris. Seolah-olah aku
lupa siapa aku, siapa Ibuku, tentang bagaimana kehidupan kami. Bangun,
Shifa! Lihatlah kenyataan!
Kuikuti langkah Ibu keluar rumah. Kehidupan di
kampungku masih bernafas. Lampu masih menyala warna-warni. Merah, kuning,
hijau, biru silih berganti. Masih banyak ‘kupu-kupu’ hilir mudik di
gang bersama para pemujanya. Masih banyak suara tawa terbahak-bahak, juga suara
denting gelas yang beradu. Asap rokok dan bau alkohol berbaur menjadi satu. Tak
menyisakan sedikitpun udara sehat untuk dihirup.
Ibu mengajakku mendekati bibir pantai, dimana
angin berhembus kencang, mengusir bau-bauan yang mencekik paru-paru. Di salah
satu titik di tepi pantai terdapat lampu 5 watt yang dipasang pada
bambu, entah apa gunanya. Tak ada seorangpun nelayan di kampungku. Para lelaki
dewasa menggantungkan hidupnya dari hasil berjudi, togel, atau merelakan
permaisurinya menjadi milik orang lain dalam semalam. Hal paling baik yang
mereka lakukan adalah berdagang, membuka warung kecil-kecilan di sepanjang
pesisir pantai. Itupun mereka pasti menjual minuman keras. Tak banyak wisatawan
yang datang ke Pantai Salur selain untuk tujuan ‘khusus’. Hal itu menunjukkan
betapa rusaknya moralitas di kampungku.
Ibu mengajakku duduk di bawah lampu itu. Selama
beberapa saat hanya suara angin dan deburan ombak yang terdengar. Tempat ini
memang tak terlalu jauh dari kampungku, tapi setidaknya leih tenang dari segala
aktifitas disana. Kutatap lamat-lamat raut wajah Ibu. Di usiaku yang menginjak
tiga belas tahun ini, usia Ibu belum genap tiga puluh lima tahun. Masih begitu
muda, memang. Wajah itu tampak seperti wajah orang yang sedang berpikir keras.
“Ibu akan bercerita padamu, tentang sebuah
kisah yang Ibu sendiri tak tahu bagaimana akhirnya. Tentang sebuah pencarian
dan keyakinan!”
~&~
Dahulu kala, nun
jauh di pulau seberang, hiduplah seorang putri yang amat elok parasnya, amat
baik budinya. Namanya Fadeea. Dia anak tunggal di sebuah keluarga yang cukup
terpandang. Di negeri itu ada juga seorang pangeran yang sangat gagah. Mereka
berdua bertemu dalam acara jamuan makan malam, mereka jatuh cinta dan keesokan
harinya mereka menikah. Upacara pernikahan akan dilaksanakan di sebuah pulau.
Saat dalam perjalanan menuju pulau itu, Fadeea tiba-tiba menghilang. Dikabarkan
dia telah mati tenggelam karena terjatuh dari kapal. Bukannya terjatuh,
sebenarnya ia didorong oleh seseorang yang tidak suka akan pernikahannya dengan
pangeran.
Beruntung, ada
seorang nelayan muda yang menemukan Fadeea terombang-ambing di lautan dengan
sebilah papan. Ia pun membawa Fadeea turut serta dalam perahunya.
Nelayan itu
merupakan seorang pemuda tampan yang suka bekerja keras. Tanpa pamrih ia
merawat Fadeea, memperlakukannya dengan sangat baik. Setiap hari Fadeea hanya
diam. Dia terus-terusan melamun. Dia hanya memikirkan bagaimana ia bisa kembali
pada Sang Pangeran dan segera melangsungkan pernikahannya. Setiap hari pula si
nelayan berusaha menghiburnya, membuatnya tertawa, tapi itu semua sia-sia
belaka. Semakin hari Fadeea semakin murung. Ia selalu menatap ke arah lautan,
berharap pangerannya datang menjemput. Hingga setiap matahari tenggelam, si
nelayan merasa gagal karena tak mampu membuat Fadeea tersenyum. Kini ia harus
pergi melaut, meninggalkan Fadeea seorang diri meratapi nasibnya. Setiap hari selalu
begitu. Hingga memasuki bulan ketiga, tak ada tanda-tanda adanya pasukan
kerajaan yang akan membawanya pulang. Sama sekali tak ada tanda apapun.
Namun hati tetap
saja hati. Batu yang keras jika diberi tetesan air terus menerus juga akan
terkikis, begitu pula dengan rasa sedih. Sedikit demi sedikit Fadeea berhasil
merobohkan dinding keterpurukannya. Ia merasa inilah takdirnya, ia harus menjalaninya,
bukan mengingkarinya. Ia mulai berubah layaknya wanita pantai biasa. Memasak,
menjemur ikan, juga yang lainnya. Hingga tibalah masa itu, hari ketika genap
enam bulan ia mengenal si nelayan.
Fadeea dan si nelayan berjalan beriringan menuju
bibir pantai. Langit sudah berwarna oranye kemerah-merahan. Bulan sabit telah
terdiam anggun diatas sana, tinggal menunggu bintang-bintang yang akan segera
bermunculan disekelilingnya. Dua insan itu saling menatap, dalam, penuh arti.
“Sebenarnya ada yang
ingin kukatakan padamu, Fadeea! Tapi aku ragu! Aku takut kau marah padaku!”
ucap si nelayan.
“Katakanlah! Aku
janji tak akan marah! Jangan sampai keragu-raguan menghambat niatmu!”
“Fadeea! Maukah
kau... menjadi istriku? Maukah kau hidup bersamaku selamanya?”
Fadeea membisu, tak
mampu berkata apapun. Sesungguhnya itulah kata-kata yang selalu ia rindukan. Tetapi
mengapa kini ia terbelenggu oleh karaguannya sendiri? Enam bulan silam,
seseorang menanyakan hal yang sama padanya, dan kini pertanyaan itu terulang
kembali oleh pemuda yang berbeda. Benar-benar jauh berbeda.
“Aku tahu ini pasti
sulit bagimu! Tak usah terburu-buru! Aku masih akan kembali kesini esok pagi!”
Setelah berkata
demikian, si nelayan langsung pergi, mendatangi lautan yang menjanjikan berjuta
mimpi.
Langit semakin
kelam. Diatas sana, sepotong bulan menepati janjinya. Dirinya terdiam anggun
dengan milyaran bintang yang menemaninya. Diantara sekian banyak bintang dengan
harapan yang sama, tersembunyi satu bintang yang paling cemerlang. Bintang yang
kilaunya memancarkan arti cinta yang suci. Cinta sejati.
Jikalau Fadeea
menjadi sang rembulan, dan jika ia hanya bisa memilih salah satu, pastilah ia
akan memilih bintang yang paling cemerlang itu. Namun bagaimana ia bisa mengetahui
dimana bintang itu jika kecemerlangannya tersamarkan oleh kilau bintang-bintang
yang lain?
Sang Putri duduk
seorang diri di tepi pantai, bermandikan cahaya rembulan selembut pasir putih.
Matanya yang sebening embun tak berkedip saat memandang bayangan rembulan di
air yang sering kali hilang ditelan ombak. Ia berusaha menyimpulkan sesuatu.
Tentang rembulan dengan bintangnya, tentang keputusan dan pilihannya. Kini ia
hanya bisa menanti datangnya pagi yang membawa kabar gembira, semoga.
Rembulan tersenyum. Ia
yakin Fadeea pasti bisa memilih dengan bijak. Namun Fadeea keliru jika ia
mengira dirinya tak mampu menemukan bintang yang paling cemerlang itu. Bintang
itu selalu ada didekatnya. Ia tak mungkin salah mengenali kilauan itu. Sebuah
ketulusan dari cinta sejati.
Detik demi detik
bergulir menjemput fajar. Sang Putri telah siap dengan keputusannya. Dari jauh
terlihat seseorang yang telah ditunggunya semalaman. Seseorang yang ia harapkan
menjadi cinta sejatinya.
“Aku sudah punya
keputusan! Kuharap kamu bisa berbahagia saat mendengarnya!” ujar Fadeea dengan
mata berbinar.
“Aku juga berharap
demikian, tetapi sepertinya itu takkan terjadi!”
“Kenapa? Kamu tidak
ingin mendengar keputusanku?”
“Tidak! Maksudku, belum!
Kamu harus tahu bahwa ada seseorang yang ingin menemuimu! Aku tak yakin
keputusanmu takkan berubah setelah kau menemui orang itu!” Nyala mata pemuda
itu tak setegar kemarin sore. Semakin lama semakin redup.
“Aku yakin akan
keputusanku! Memangnya siapa yang mampu merubah keyakinanku?”
“Dia, yang sebentar lagi
akan datang menjemputmu!”
Benar saja, tak lama
kemudian dia datang. Dia yang dia maksud
adalah dia yang akan memudarkan
sebuah keyakinan. Dia yang datang dari
jauh, semakin dekat, semakin jelas. Dia... seorang pangeran
yang ingin menjemput calon permaisurinya. Dia berlari, semakin
dekat.
Saat mereka
benar-benar dekat...
Dinding keyakinan
itu mulai retak. Sang Putri tak mampu berkeputusan. Diantara dua hati, dua pilihan, kemanakah harus
kulangkahkan kaki?
“Bertanyalah
pada hatimu, Fadeea! Sesungguhnya kata
hati adalah sebaik-baiknya nasihat!” ujar si nelayan.
“Pulanglah, Fadeea!
Apa kamu tidak merindukan ayah ibumu? Mereka setiap hari mengharapkan
kedatanganmu!”, begitu kata Sang Pangeran.
Ayah dan Ibu, kata
itu sudah cukup untuk meruntuhkan dinding keyakinan Fadeea. Aku merindukan mereka. Ketika malam-malamku
disini terasa hampa, ketika aku butuh tempat untuk bersandar, aku tahu aku
membutuhkan mereka. Kehangatan cinta mereka, kasih tulus mereka, aku sadar aku
butuh semua itu. Ayah... Ibu...
“Aku akan
pulang...!”
Untuk terakhir
kalinya Fadeea menatap si nelayan, mengucapkan kata perpisahan, “Maafkan aku,
aku berjanji takkan melupakanmu! Terimakasih untuk segalanya! Aku pergi!”
Fadeea memang takkan
mampu melupakan si nelayan. Ia akan selalu terbayang-bayang olehnya.
Fadeea kembali ke
negerinya, kembali bertemu dengan ayah ibunya, dan kembali menata ulang rencana
pernikahannya. Tepat tiga hari setelah kepulangannya itu, pesta pernikahannya akan
digelar. Tak perlu lagi bermewah-mewah di pulau indah dengan kapal pesiar,
cukup pesta rakyat seminggu penuh, itu sudah lebih dari cukup.
Malam itu rembulan
masih berkenan menampakkan paras eloknya. Dari balik jendela kamar Sang Putri
menatapnya tanpa berkedip. Cakrawala yang menjadi singgasananya masih terasa
begitu jauh sekalipun kamarnya hampir sama tinggi dengan mercusuar di tepi
pantai. Besok aku akan menikah, benar-benar akan
menikah. Takkan ada lagi yang akan menghalangi keputusanku, kecuali...
“Keyakinanmu,
Fadeea! Dimana kau sembunyikan keyakinanmu? Bukankah dulu kamu sudah mengambil
keputusan? Kenapa sebegitu mudahnya kamu membolak-balikkan keputusanmu hatimu?”
Fadeea bergumam tak
mengerti. Nyatakah semua ini? Bagaimana mungkin rembulan bisa berbicara? Memangnya kenapa? Apa yang salah dengan
keputusanku?
“Tahukah kamu kalau
perasaanmu ini hanyalah rasa penasaran belaka? Kamu tinggalkan apa yang ada
didekatmu, mendekati yang lain, berharap mendapat cahaya yang lebih terang.
Namun, kamu terlalu gegabah dalam mengambil keputusan. Dan saat kamu menyadari
apa yang kamu dekati ternyata lebih redup darinya, kamu akan menyesal karena
telah meninggalkan dia yang selalu berada di sampingmu, yang selalu bersedia menjagamu.
Cinta sejati hanya datang sekali seumur hidup, Fadeea! Dan saat hal itu datang,
tak ada lagi alasan untuk menolak, takkan ada lagi tempat bagi keraguan. Hanya
ada keyakinan kuat, yang akan mengalahkan segala kekhawatiran!”
“Apa maksudmu? Apa
menurutmu kepulanganku salah? Apakah merindukan keluargaku juga salah?”
Sunyi. Malam
benar-benar tenang seperti seharusnya. Sebenarnya untuk apa aku pulang? Bukankah aku pulang hanya untuk
ayah dan ibu? Itu berarti... cintaku memang tidak berada di tempat ini!
“Apa yang harus
kulakukan? Apakah aku belum terlambat untuk mengubah keadaan?”
Lagi-lagi tak ada
jawaban. Toh memang rembulan tak pernah bisa bicara selayaknya manusia, bukan?
Sang Putri tenggelam
dalam keresahannya, dalam kebimbangan yang dibuatnya sendiri. Hingga pagi
menjelang, ia samasekali belum bisa memejamkan matanya barang sekejap. Ini hari
bahagianya, tetapi hatinya benar-benar ada di tempat lain. Gaun putih panjang
telah sempurna melekat di tubuhnya. Sang Putri melangkah anggun dengan kaki
berhias sepatu kaca, seperti Cinderella. Ribuan pasang mata memandang takjub.
Sang Putri siap menjemput takdirnya. Dia tidak datang untuk mengucap ikrar suci
pernikahan, bukan pula untuk menyenangkan hati setiap orang, melainkan untuk
menegaskan keputusan besar dalam hidupnya.
“Aku tidak bisa
meneruskan pernikahan ini, Pangeran! Aku sadar bahwa takdirku bukan disini!
Maafkan aku, aku harus pergi!”
Fadeea mengangkat gaunnya
dan berlari keluar dari istana, menyibak kerumunan manusia yang berseru, “Ada
apa? Apa yang terjadi?”
Fadeea terus berlari
ke arah pantai. Dia merelakan barang-barang berharga miliknya satu persatu
hilang demi tumpangan perahu kecil yang mengantarnya dari pulau ke pulau.
Perhiasan yang melekat di tubuhnya perlahan berkurang hingga akhirnya hanya
menyisakan seuntai kalung pemberian sang ibunda. Berbulan-bulan ia mengarungi
lautan dengan sebuah harapan, bertemu dengan cinta sejatinya. Kini semua
pengorbanannya seakan terbayar lunas saat kaki-kakinya kembali menjejak pasir
pantai di pulau tempat ia pernah menghabiskan enam bulan masa hidupnya. Ia
berlari menemui si nelayan, berulangkali terjatuh, berdiri, dan berlari lagi.
Ia menjatuhkan harga dirinya dengan mengemis cinta seorang nelayan miskin yang
derajatnya sangat jauh di bawahnya. Namun apa yang ia peroleh atas segala
usahanya?
“Kenapa kamu baru
datang sekarang Tuan Putri? Kenapa kamu baru menyadarinya sekarang? Semua sudah
berubah, tak mungkin bisa seperti dulu lagi. Kamu sudah terlambat! Tak ada
gunanya lagi kamu mengharapkan cintaku. Aku sudah menambatkan hatiku di tempat
lain, di hati seorang wanita yang selalu ada disampingku. Aku hanya rakyat
kecil yang tak pantas memiliki hati Tuan Putrinya. Kamu hanya harus yakin bahwa
kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Kembalilah, yakini hal itu, lalu semua
akan baik-baik saja!”
“Apakah tak ada lagi
yang tersisa untukku? Apakah kedatanganku sudah amat terlambat?”
Ya, Sang Putri
memang datang terlambat. Kini ia hanya bisa merasakan pahitnya penyesalan. Ia
kembali berjalan ke arah tepi pantai. Untuk terakhirkalinya ia memandang
perkampungan nelayan dimana ia kehilangan separuh hatinya.
“Aku tak akan datang
kesini lagi. Tak ada lagi yang bisa kuharapkan dari tempat ini. Tak akan....
tak akan lagi...”
Fadeea terus
berjalan mendekati bibir pantai. Ombak mulai menjilat-jilati kaki telanjangnya.
Ia terus berjalan ke tengah lautan.
“Biarlah...! Biarlah
cintaku tenggelam bersama raga yang lelah ini, ikut pergi bersama hilangnya
sang mentari. Biarlah rasa kecewa dan sakit hatiku sirna bersama lenyapnya tubuh
ini. Aku takkan bisa hidup tanpa separuh hatiku yang lain. Wahai penguasa
lautan, penguasa cinta, izinkanlah diriku dan cinta ini melebur dalam kuasa-Mu!
Izinkanlah aku kembali pada cinta-Mu!”
Tubuh itu hilang
ditelan ombak, persis ketika kegelapan laut malam menelan terangnya siang.
Diatas sana, sang bintang yang terpilih masih setia di sisi rembulan. Tetap
diam, membisu. Bukankah aku sudah pernah mengatakan bahwa rembulan dan
bintang-bintang itu tak pernah ditakdirkan untuk dapat berbicara layaknya
manusia? Lalu siapa yang selama ini berbicara pada Fadeea tentang
bintang-bintang pilihan itu?
~&~
“Adalah hati dan
pikiran Fadeea sendiri yang telah menciptakan perbincangan-perbincangan itu,
hati dan pikiran yang dikuasai kebimbangan, hati dan pikiran yang terlambat
menyadari bahwa terkadang apa yang kita miliki adalah yang terbaik. Semua itu
hanya angan-angan semata, bayang-bayang semu yang tercipta dari keresahan Sang
Putri,” begitulah Ibu mengakhiri ceritanya dengan mulus.
Kami masih menatap
lurus ke arah datangnya ombak saat Ibu melontarkan satu pertanyaan untukku,
“Apa yang bisa kita ambil dari kisah tadi, Shifa?”
“Keragu-raguan itu
tidak baik, iya, ‘kan?”
“Hanya itu?”
Aku diam sejenak,
berpikir. Apa lagi?
“Kita tidak boleh
menyia-nyiakan waktu, kita tidak boleh mengambil keputusan dengan tergesa-gesa,
dan... entahlah?” Aku tak tahu harus menjawab apa lagi.
“Kesetiaan. Kamu
tidak berpikir untuk mengatakan hal itu?”
“Setia apanya?
Bukankah Putri itu malah berkhianat karena keraguannya?” Aku benar-benar tak
bisa menerima pendapat Ibu yang satu itu.
“Kamu tidak mengerti
karena kamu belum memahaminya, Shifa! Suatu saat nanti, saat kebenaran besar
itu tersingkap ke permukaan, kamu akan mengerti bahwa inilah poin terpenting
dari kisah ini!”
Dimana letak
kesetiaan dalam kisah ini? Kesetiaan sang bintang pada rembulan? Bukankah
mereka bukan tokoh utama? Bukankah keraguan Sang Putri yang mendominasi?
Mengapa Ibu bisa mengatakan bahwa kesetiaanlah yang menjadi bagian terpenting
dari kisah ini?
Ibu menggandeng
tanganku dan mengajakku berjalan kembali ke perkampungan, kembali pada
kehidupan nyata kami.
“Apa kamu percaya
cerita tadi?”
Aku tidak menjawab.
Aku masih bingung memikirkan nilai kesetiaan yang Ibu maksud.
“Kisah di dunia
nyata bahkan lebih rumit dari kisah ini. Kelak kamu akan membuktikannya. Kamu
akan mengetahui jawaban atas pertanyaan-pertanyaanmu saat ini!”
Suatu hari nanti,
ketika kebenaran agung benar-benar tersingkap ke permukaan. []
Aku melihat ada cahaya. Orang-orang berlarian membawa ember berisi air. Keadaan kacau balau. Dari jauh mulai terdengar suara sirine pemadam kebakaran. Suara itu sangat dekat, semakin dekat. Seorang wanita bergaun putih panjang berusaha meronta dan melepaskan diri dari seseorang yang mencegahnya mendekat ke api.
“Lepaskan aku! Putriku ada di dalam! Dia butuh
pertolonganku!”
“Anda bisa membahayakan nyawa anda sendiri,
Nyonya!”
Wanita itu dibawa pergi hingga hilang dari
pandanganku. Udara kurasa semakin panas. Entah kenapa aku baru sadar, api itu
berada di sekitarku, mengelilingiku. Aku kalut, ketakutan.
“Shifa!”
Kutolehkan kepalaku kearah suara itu, “Ibu?”
“Kita harus keluar dari sini, ikuti Ibu!”
Aku mengikuti langkah Ibu mencari celah-celah
untuk bisa keluar dari tempat ini. Kanan, kiri, semuanya api. Tiba-tiba sesuatu
jatuh dan...
“Ibu...” teriakku kaget. Kini Ibu dihadapanku
tak berdaya, berlumuran darah.
“Maafkan Ibu, Shifa, maafkan Ibu!”
“Maaf apa?”
Tak ada jawaban. Setelah itu Ibu benar-benar
tak bergerak lagi dalam pelukanku. Kulitnya putih memucat, sangat kontras
dengan darah segar yang keluar dari kepalanya, yang menodai pakaiannya.
“Ibu...Ibuuu...”
Kueratkan pelukanku. Ada air yang terjatuh, tapi
aku yakin itu bukan air mataku. Kulihat langit mendadak mendung. Angin bertiup
begitu kencang. Hujan mulai turun, semakin lama semakin lebat. Tidak ada lagi
api disekitarku. Seseorang memegang pundak kananku dari belakang. Spontan aku
menoleh kearahnya. Perlahan kulepaskan Ibu dari pelukanku. Pelan-pelan kubaringkan
Ibu di tanah.
Dia... wanita yang bergaun putih tadi. Aku tahu
wanita itu sedang menangis walaupun aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Dia meraba pipiku, juga membelai rambutku, dan memelukku. Entah kenapa aku
seperti tak ingin melepas pelukan itu. Aku rindu pelukan ini. Sudah lama aku
tak merasakan pelukan sehangat ini. Padahal aku baru saja memeluk Ibuku
sendiri. Ah ya, Ibu, bagaimana dengan Ibu?
“Maaf,
Bu! Lepaskan saya! Saya tidak keberatan, tapi...” ujarku sopan pada wanita itu.
Kuarahkan pandanganku pada Ibu, tapi... dia
tidak ada disana. Setelah itu aku meihat ke tempat dimana wanita bergaun putih
tadi berada, dia juga tidak ada disana.
Ibu...
Kurasakan dunia berputar-putar. Aku hanya
seorang diri di tempat itu, dibawah rintik air hujan, didalam kegelapan malam,
diantara kesunyian dan ketidakpastian...
~&~
“Shifa, kamu kenapa?”
Seseorang menepuk-nepuk pipiku perlahan, “Ada
apa?”
Butuh beberapa saat untukku menyadari semuanya.
Wanita dihadapanku adalah Ibuku, dia ada disini.
“Shifa takut, Bu! Shifa takut Ibu pergi! Lalu
wanita itu...”
“Wanita apa? Siapa?”
“Ada kebakaran, Bu! Aku terjebak di dalam
bangunan yang terbakar itu, Ibu datang menyelamatkanku tapi... Ibu pergi, dan
semua orang juga pergi! Wanita itu juga pergi! Shifa takut, Bu! Shifa takut
semua orang pergi meninggalkan Shifa!”
Ibu terdiam sejenak, tampak memikirkan sesuatu.
“Seperti apa wanita itu?”
“Aku tak ingat bagaimana wajahnya, tapi dia
cantik, seperti Ibu! Rambutnya panjang terurai, bajunya warna putih, dan aku
merasa ada yang aneh saat dia memelukku!”
“Dia memelukmu?”
“Ya!”
Kulihat Ibu menggigit ujung bibirnya. Apa
yang sedang Ibu pikirkan?
“Ada apa, Bu?”
“Nggak ada apa-apa. Kamu harus tidur lagi,
Shifa! Ini belum waktunya beraktifitas!”
Aku tahu Ibu menyembunyikan sesuatu. Raut
wajahnya tak bisa berbohong. Aku bisa merasakannya.
“Aku nggak bisa tidur lagi, Bu! Aku takut!”
“Itu cuma mimpi, Shifa! Kamu nggak usah berpikir
kalau Ibu akan ninggalin kamu sendirian! Ibu nggak akan pergi, nggak akan ada
yang bisa memisahkan kita. Termasuk wanita itu. Dia nggak akan bisa merebut
kamu dari Ibu. Karena kamu putri Ibu. Apapun yang terjadi, kamu tetap putri
Ibu, titik!”
Untuk beberapa saat keadaan sunyi, tak ada
suara apapun.
“Berapa usiamu?” tanya Ibu akhirnya.
“Tiga belas tahun! Terakhir kali kita merayakan
ulang tahunku adalah saat usiaku sembilan tahun. Setelah itu bahkan Ibu tak pernah
ingat kapan ulang tahunku.”
“Ternyata kamu sudah besar. Ibu minta maaf,
Shifa! Seharusnya kamu berhak tahu semuanya.”
“Tahu apa? Memangnya apa yang Ibu sembunyikan
dariku?”
“Kamu mau ikut Ibu? Kita jalan-jalan!” Ibu
mengalihkan perhatianku.
“Kemana? Jam segini?”
Kulirik
jam dinding, baru pukul satu pagi. Tanpa menunggu jawabanku Ibu segera berdiri,
meraih jaket dan melemparkannya padaku.
“Ibu nggak pakai jaket? Diluar dingin, Bu!”
“Kamu lupa? Ini ‘kan masih jam kerja Ibu. Ibu
sudah biasa! Bahkan... ah, sudahlah. Ayo!”
Aku tersenyum getir, miris. Seolah-olah aku
lupa siapa aku, siapa Ibuku, tentang bagaimana kehidupan kami. Bangun,
Shifa! Lihatlah kenyataan!
Kuikuti langkah Ibu keluar rumah. Kehidupan di
kampungku masih bernafas. Lampu masih menyala warna-warni. Merah, kuning,
hijau, biru silih berganti. Masih banyak ‘kupu-kupu’ hilir mudik di
gang bersama para pemujanya. Masih banyak suara tawa terbahak-bahak, juga suara
denting gelas yang beradu. Asap rokok dan bau alkohol berbaur menjadi satu. Tak
menyisakan sedikitpun udara sehat untuk dihirup.
Ibu mengajakku mendekati bibir pantai, dimana
angin berhembus kencang, mengusir bau-bauan yang mencekik paru-paru. Di salah
satu titik di tepi pantai terdapat lampu 5 watt yang dipasang pada
bambu, entah apa gunanya. Tak ada seorangpun nelayan di kampungku. Para lelaki
dewasa menggantungkan hidupnya dari hasil berjudi, togel, atau merelakan
permaisurinya menjadi milik orang lain dalam semalam. Hal paling baik yang
mereka lakukan adalah berdagang, membuka warung kecil-kecilan di sepanjang
pesisir pantai. Itupun mereka pasti menjual minuman keras. Tak banyak wisatawan
yang datang ke Pantai Salur selain untuk tujuan ‘khusus’. Hal itu menunjukkan
betapa rusaknya moralitas di kampungku.
Ibu mengajakku duduk di bawah lampu itu. Selama
beberapa saat hanya suara angin dan deburan ombak yang terdengar. Tempat ini
memang tak terlalu jauh dari kampungku, tapi setidaknya leih tenang dari segala
aktifitas disana. Kutatap lamat-lamat raut wajah Ibu. Di usiaku yang menginjak
tiga belas tahun ini, usia Ibu belum genap tiga puluh lima tahun. Masih begitu
muda, memang. Wajah itu tampak seperti wajah orang yang sedang berpikir keras.
“Ibu akan bercerita padamu, tentang sebuah
kisah yang Ibu sendiri tak tahu bagaimana akhirnya. Tentang sebuah pencarian
dan keyakinan!”
~&~
Dahulu kala, nun
jauh di pulau seberang, hiduplah seorang putri yang amat elok parasnya, amat
baik budinya. Namanya Fadeea. Dia anak tunggal di sebuah keluarga yang cukup
terpandang. Di negeri itu ada juga seorang pangeran yang sangat gagah. Mereka
berdua bertemu dalam acara jamuan makan malam, mereka jatuh cinta dan keesokan
harinya mereka menikah. Upacara pernikahan akan dilaksanakan di sebuah pulau.
Saat dalam perjalanan menuju pulau itu, Fadeea tiba-tiba menghilang. Dikabarkan
dia telah mati tenggelam karena terjatuh dari kapal. Bukannya terjatuh,
sebenarnya ia didorong oleh seseorang yang tidak suka akan pernikahannya dengan
pangeran.
Beruntung, ada
seorang nelayan muda yang menemukan Fadeea terombang-ambing di lautan dengan
sebilah papan. Ia pun membawa Fadeea turut serta dalam perahunya.
Nelayan itu
merupakan seorang pemuda tampan yang suka bekerja keras. Tanpa pamrih ia
merawat Fadeea, memperlakukannya dengan sangat baik. Setiap hari Fadeea hanya
diam. Dia terus-terusan melamun. Dia hanya memikirkan bagaimana ia bisa kembali
pada Sang Pangeran dan segera melangsungkan pernikahannya. Setiap hari pula si
nelayan berusaha menghiburnya, membuatnya tertawa, tapi itu semua sia-sia
belaka. Semakin hari Fadeea semakin murung. Ia selalu menatap ke arah lautan,
berharap pangerannya datang menjemput. Hingga setiap matahari tenggelam, si
nelayan merasa gagal karena tak mampu membuat Fadeea tersenyum. Kini ia harus
pergi melaut, meninggalkan Fadeea seorang diri meratapi nasibnya. Setiap hari selalu
begitu. Hingga memasuki bulan ketiga, tak ada tanda-tanda adanya pasukan
kerajaan yang akan membawanya pulang. Sama sekali tak ada tanda apapun.
Namun hati tetap
saja hati. Batu yang keras jika diberi tetesan air terus menerus juga akan
terkikis, begitu pula dengan rasa sedih. Sedikit demi sedikit Fadeea berhasil
merobohkan dinding keterpurukannya. Ia merasa inilah takdirnya, ia harus menjalaninya,
bukan mengingkarinya. Ia mulai berubah layaknya wanita pantai biasa. Memasak,
menjemur ikan, juga yang lainnya. Hingga tibalah masa itu, hari ketika genap
enam bulan ia mengenal si nelayan.
Fadeea dan si nelayan berjalan beriringan menuju
bibir pantai. Langit sudah berwarna oranye kemerah-merahan. Bulan sabit telah
terdiam anggun diatas sana, tinggal menunggu bintang-bintang yang akan segera
bermunculan disekelilingnya. Dua insan itu saling menatap, dalam, penuh arti.
“Sebenarnya ada yang
ingin kukatakan padamu, Fadeea! Tapi aku ragu! Aku takut kau marah padaku!”
ucap si nelayan.
“Katakanlah! Aku
janji tak akan marah! Jangan sampai keragu-raguan menghambat niatmu!”
“Fadeea! Maukah
kau... menjadi istriku? Maukah kau hidup bersamaku selamanya?”
Fadeea membisu, tak
mampu berkata apapun. Sesungguhnya itulah kata-kata yang selalu ia rindukan. Tetapi
mengapa kini ia terbelenggu oleh karaguannya sendiri? Enam bulan silam,
seseorang menanyakan hal yang sama padanya, dan kini pertanyaan itu terulang
kembali oleh pemuda yang berbeda. Benar-benar jauh berbeda.
“Aku tahu ini pasti
sulit bagimu! Tak usah terburu-buru! Aku masih akan kembali kesini esok pagi!”
Setelah berkata
demikian, si nelayan langsung pergi, mendatangi lautan yang menjanjikan berjuta
mimpi.
Langit semakin
kelam. Diatas sana, sepotong bulan menepati janjinya. Dirinya terdiam anggun
dengan milyaran bintang yang menemaninya. Diantara sekian banyak bintang dengan
harapan yang sama, tersembunyi satu bintang yang paling cemerlang. Bintang yang
kilaunya memancarkan arti cinta yang suci. Cinta sejati.
Jikalau Fadeea
menjadi sang rembulan, dan jika ia hanya bisa memilih salah satu, pastilah ia
akan memilih bintang yang paling cemerlang itu. Namun bagaimana ia bisa mengetahui
dimana bintang itu jika kecemerlangannya tersamarkan oleh kilau bintang-bintang
yang lain?
Sang Putri duduk
seorang diri di tepi pantai, bermandikan cahaya rembulan selembut pasir putih.
Matanya yang sebening embun tak berkedip saat memandang bayangan rembulan di
air yang sering kali hilang ditelan ombak. Ia berusaha menyimpulkan sesuatu.
Tentang rembulan dengan bintangnya, tentang keputusan dan pilihannya. Kini ia
hanya bisa menanti datangnya pagi yang membawa kabar gembira, semoga.
Rembulan tersenyum. Ia
yakin Fadeea pasti bisa memilih dengan bijak. Namun Fadeea keliru jika ia
mengira dirinya tak mampu menemukan bintang yang paling cemerlang itu. Bintang
itu selalu ada didekatnya. Ia tak mungkin salah mengenali kilauan itu. Sebuah
ketulusan dari cinta sejati.
Detik demi detik
bergulir menjemput fajar. Sang Putri telah siap dengan keputusannya. Dari jauh
terlihat seseorang yang telah ditunggunya semalaman. Seseorang yang ia harapkan
menjadi cinta sejatinya.
“Aku sudah punya
keputusan! Kuharap kamu bisa berbahagia saat mendengarnya!” ujar Fadeea dengan
mata berbinar.
“Aku juga berharap
demikian, tetapi sepertinya itu takkan terjadi!”
“Kenapa? Kamu tidak
ingin mendengar keputusanku?”
“Tidak! Maksudku, belum!
Kamu harus tahu bahwa ada seseorang yang ingin menemuimu! Aku tak yakin
keputusanmu takkan berubah setelah kau menemui orang itu!” Nyala mata pemuda
itu tak setegar kemarin sore. Semakin lama semakin redup.
“Aku yakin akan
keputusanku! Memangnya siapa yang mampu merubah keyakinanku?”
“Dia, yang sebentar lagi
akan datang menjemputmu!”
Benar saja, tak lama
kemudian dia datang. Dia yang dia maksud
adalah dia yang akan memudarkan
sebuah keyakinan. Dia yang datang dari
jauh, semakin dekat, semakin jelas. Dia... seorang pangeran
yang ingin menjemput calon permaisurinya. Dia berlari, semakin
dekat.
Saat mereka
benar-benar dekat...
Dinding keyakinan
itu mulai retak. Sang Putri tak mampu berkeputusan. Diantara dua hati, dua pilihan, kemanakah harus
kulangkahkan kaki?
“Bertanyalah
pada hatimu, Fadeea! Sesungguhnya kata
hati adalah sebaik-baiknya nasihat!” ujar si nelayan.
“Pulanglah, Fadeea!
Apa kamu tidak merindukan ayah ibumu? Mereka setiap hari mengharapkan
kedatanganmu!”, begitu kata Sang Pangeran.
Ayah dan Ibu, kata
itu sudah cukup untuk meruntuhkan dinding keyakinan Fadeea. Aku merindukan mereka. Ketika malam-malamku
disini terasa hampa, ketika aku butuh tempat untuk bersandar, aku tahu aku
membutuhkan mereka. Kehangatan cinta mereka, kasih tulus mereka, aku sadar aku
butuh semua itu. Ayah... Ibu...
“Aku akan
pulang...!”
Untuk terakhir
kalinya Fadeea menatap si nelayan, mengucapkan kata perpisahan, “Maafkan aku,
aku berjanji takkan melupakanmu! Terimakasih untuk segalanya! Aku pergi!”
Fadeea memang takkan
mampu melupakan si nelayan. Ia akan selalu terbayang-bayang olehnya.
Fadeea kembali ke
negerinya, kembali bertemu dengan ayah ibunya, dan kembali menata ulang rencana
pernikahannya. Tepat tiga hari setelah kepulangannya itu, pesta pernikahannya akan
digelar. Tak perlu lagi bermewah-mewah di pulau indah dengan kapal pesiar,
cukup pesta rakyat seminggu penuh, itu sudah lebih dari cukup.
Malam itu rembulan
masih berkenan menampakkan paras eloknya. Dari balik jendela kamar Sang Putri
menatapnya tanpa berkedip. Cakrawala yang menjadi singgasananya masih terasa
begitu jauh sekalipun kamarnya hampir sama tinggi dengan mercusuar di tepi
pantai. Besok aku akan menikah, benar-benar akan
menikah. Takkan ada lagi yang akan menghalangi keputusanku, kecuali...
“Keyakinanmu,
Fadeea! Dimana kau sembunyikan keyakinanmu? Bukankah dulu kamu sudah mengambil
keputusan? Kenapa sebegitu mudahnya kamu membolak-balikkan keputusanmu hatimu?”
Fadeea bergumam tak
mengerti. Nyatakah semua ini? Bagaimana mungkin rembulan bisa berbicara? Memangnya kenapa? Apa yang salah dengan
keputusanku?
“Tahukah kamu kalau
perasaanmu ini hanyalah rasa penasaran belaka? Kamu tinggalkan apa yang ada
didekatmu, mendekati yang lain, berharap mendapat cahaya yang lebih terang.
Namun, kamu terlalu gegabah dalam mengambil keputusan. Dan saat kamu menyadari
apa yang kamu dekati ternyata lebih redup darinya, kamu akan menyesal karena
telah meninggalkan dia yang selalu berada di sampingmu, yang selalu bersedia menjagamu.
Cinta sejati hanya datang sekali seumur hidup, Fadeea! Dan saat hal itu datang,
tak ada lagi alasan untuk menolak, takkan ada lagi tempat bagi keraguan. Hanya
ada keyakinan kuat, yang akan mengalahkan segala kekhawatiran!”
“Apa maksudmu? Apa
menurutmu kepulanganku salah? Apakah merindukan keluargaku juga salah?”
Sunyi. Malam
benar-benar tenang seperti seharusnya. Sebenarnya untuk apa aku pulang? Bukankah aku pulang hanya untuk
ayah dan ibu? Itu berarti... cintaku memang tidak berada di tempat ini!
“Apa yang harus
kulakukan? Apakah aku belum terlambat untuk mengubah keadaan?”
Lagi-lagi tak ada
jawaban. Toh memang rembulan tak pernah bisa bicara selayaknya manusia, bukan?
Sang Putri tenggelam
dalam keresahannya, dalam kebimbangan yang dibuatnya sendiri. Hingga pagi
menjelang, ia samasekali belum bisa memejamkan matanya barang sekejap. Ini hari
bahagianya, tetapi hatinya benar-benar ada di tempat lain. Gaun putih panjang
telah sempurna melekat di tubuhnya. Sang Putri melangkah anggun dengan kaki
berhias sepatu kaca, seperti Cinderella. Ribuan pasang mata memandang takjub.
Sang Putri siap menjemput takdirnya. Dia tidak datang untuk mengucap ikrar suci
pernikahan, bukan pula untuk menyenangkan hati setiap orang, melainkan untuk
menegaskan keputusan besar dalam hidupnya.
“Aku tidak bisa
meneruskan pernikahan ini, Pangeran! Aku sadar bahwa takdirku bukan disini!
Maafkan aku, aku harus pergi!”
Fadeea mengangkat gaunnya
dan berlari keluar dari istana, menyibak kerumunan manusia yang berseru, “Ada
apa? Apa yang terjadi?”
Fadeea terus berlari
ke arah pantai. Dia merelakan barang-barang berharga miliknya satu persatu
hilang demi tumpangan perahu kecil yang mengantarnya dari pulau ke pulau.
Perhiasan yang melekat di tubuhnya perlahan berkurang hingga akhirnya hanya
menyisakan seuntai kalung pemberian sang ibunda. Berbulan-bulan ia mengarungi
lautan dengan sebuah harapan, bertemu dengan cinta sejatinya. Kini semua
pengorbanannya seakan terbayar lunas saat kaki-kakinya kembali menjejak pasir
pantai di pulau tempat ia pernah menghabiskan enam bulan masa hidupnya. Ia
berlari menemui si nelayan, berulangkali terjatuh, berdiri, dan berlari lagi.
Ia menjatuhkan harga dirinya dengan mengemis cinta seorang nelayan miskin yang
derajatnya sangat jauh di bawahnya. Namun apa yang ia peroleh atas segala
usahanya?
“Kenapa kamu baru
datang sekarang Tuan Putri? Kenapa kamu baru menyadarinya sekarang? Semua sudah
berubah, tak mungkin bisa seperti dulu lagi. Kamu sudah terlambat! Tak ada
gunanya lagi kamu mengharapkan cintaku. Aku sudah menambatkan hatiku di tempat
lain, di hati seorang wanita yang selalu ada disampingku. Aku hanya rakyat
kecil yang tak pantas memiliki hati Tuan Putrinya. Kamu hanya harus yakin bahwa
kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Kembalilah, yakini hal itu, lalu semua
akan baik-baik saja!”
“Apakah tak ada lagi
yang tersisa untukku? Apakah kedatanganku sudah amat terlambat?”
Ya, Sang Putri
memang datang terlambat. Kini ia hanya bisa merasakan pahitnya penyesalan. Ia
kembali berjalan ke arah tepi pantai. Untuk terakhirkalinya ia memandang
perkampungan nelayan dimana ia kehilangan separuh hatinya.
“Aku tak akan datang
kesini lagi. Tak ada lagi yang bisa kuharapkan dari tempat ini. Tak akan....
tak akan lagi...”
Fadeea terus
berjalan mendekati bibir pantai. Ombak mulai menjilat-jilati kaki telanjangnya.
Ia terus berjalan ke tengah lautan.
“Biarlah...! Biarlah
cintaku tenggelam bersama raga yang lelah ini, ikut pergi bersama hilangnya
sang mentari. Biarlah rasa kecewa dan sakit hatiku sirna bersama lenyapnya tubuh
ini. Aku takkan bisa hidup tanpa separuh hatiku yang lain. Wahai penguasa
lautan, penguasa cinta, izinkanlah diriku dan cinta ini melebur dalam kuasa-Mu!
Izinkanlah aku kembali pada cinta-Mu!”
Tubuh itu hilang
ditelan ombak, persis ketika kegelapan laut malam menelan terangnya siang.
Diatas sana, sang bintang yang terpilih masih setia di sisi rembulan. Tetap
diam, membisu. Bukankah aku sudah pernah mengatakan bahwa rembulan dan
bintang-bintang itu tak pernah ditakdirkan untuk dapat berbicara layaknya
manusia? Lalu siapa yang selama ini berbicara pada Fadeea tentang
bintang-bintang pilihan itu?
~&~
“Adalah hati dan
pikiran Fadeea sendiri yang telah menciptakan perbincangan-perbincangan itu,
hati dan pikiran yang dikuasai kebimbangan, hati dan pikiran yang terlambat
menyadari bahwa terkadang apa yang kita miliki adalah yang terbaik. Semua itu
hanya angan-angan semata, bayang-bayang semu yang tercipta dari keresahan Sang
Putri,” begitulah Ibu mengakhiri ceritanya dengan mulus.
Kami masih menatap
lurus ke arah datangnya ombak saat Ibu melontarkan satu pertanyaan untukku,
“Apa yang bisa kita ambil dari kisah tadi, Shifa?”
“Keragu-raguan itu
tidak baik, iya, ‘kan?”
“Hanya itu?”
Aku diam sejenak,
berpikir. Apa lagi?
“Kita tidak boleh
menyia-nyiakan waktu, kita tidak boleh mengambil keputusan dengan tergesa-gesa,
dan... entahlah?” Aku tak tahu harus menjawab apa lagi.
“Kesetiaan. Kamu
tidak berpikir untuk mengatakan hal itu?”
“Setia apanya?
Bukankah Putri itu malah berkhianat karena keraguannya?” Aku benar-benar tak
bisa menerima pendapat Ibu yang satu itu.
“Kamu tidak mengerti
karena kamu belum memahaminya, Shifa! Suatu saat nanti, saat kebenaran besar
itu tersingkap ke permukaan, kamu akan mengerti bahwa inilah poin terpenting
dari kisah ini!”
Dimana letak
kesetiaan dalam kisah ini? Kesetiaan sang bintang pada rembulan? Bukankah
mereka bukan tokoh utama? Bukankah keraguan Sang Putri yang mendominasi?
Mengapa Ibu bisa mengatakan bahwa kesetiaanlah yang menjadi bagian terpenting
dari kisah ini?
Ibu menggandeng
tanganku dan mengajakku berjalan kembali ke perkampungan, kembali pada
kehidupan nyata kami.
“Apa kamu percaya
cerita tadi?”
Aku tidak menjawab.
Aku masih bingung memikirkan nilai kesetiaan yang Ibu maksud.
“Kisah di dunia
nyata bahkan lebih rumit dari kisah ini. Kelak kamu akan membuktikannya. Kamu
akan mengetahui jawaban atas pertanyaan-pertanyaanmu saat ini!”
Suatu hari nanti,
ketika kebenaran agung benar-benar tersingkap ke permukaan. []


Tidak ada komentar:
Posting Komentar