Breathing: Seorang Putri Yang Datang Terlambat

Sumber gambar: https://pxhere.com/id/photo/856267


PART 2


        Aku melihat ada cahaya. Orang-orang berlarian membawa ember berisi air. Keadaan kacau balau. Dari jauh mulai terdengar suara sirine pemadam kebakaran. Suara itu sangat dekat, semakin dekat. Seorang wanita bergaun putih panjang berusaha meronta dan melepaskan diri dari seseorang yang mencegahnya mendekat ke api.

“Lepaskan aku! Putriku ada di dalam! Dia butuh pertolonganku!”

“Anda bisa membahayakan nyawa anda sendiri, Nyonya!”

Wanita itu dibawa pergi hingga hilang dari pandanganku. Udara kurasa semakin panas. Entah kenapa aku baru sadar, api itu berada di sekitarku, mengelilingiku. Aku kalut, ketakutan.

“Shifa!”

Kutolehkan kepalaku kearah suara itu, “Ibu?”

“Kita harus keluar dari sini, ikuti Ibu!”

Aku mengikuti langkah Ibu mencari celah-celah untuk bisa keluar dari tempat ini. Kanan, kiri, semuanya api. Tiba-tiba sesuatu jatuh dan...

“Ibu...” teriakku kaget. Kini Ibu dihadapanku tak berdaya, berlumuran darah.

“Maafkan Ibu, Shifa, maafkan Ibu!”

“Maaf apa?”

Tak ada jawaban. Setelah itu Ibu benar-benar tak bergerak lagi dalam pelukanku. Kulitnya putih memucat, sangat kontras dengan darah segar yang keluar dari kepalanya, yang menodai pakaiannya.

“Ibu...Ibuuu...”

Kueratkan pelukanku. Ada air yang terjatuh, tapi aku yakin itu bukan air mataku. Kulihat langit mendadak mendung. Angin bertiup begitu kencang. Hujan mulai turun, semakin lama semakin lebat. Tidak ada lagi api disekitarku. Seseorang memegang pundak kananku dari belakang. Spontan aku menoleh kearahnya. Perlahan kulepaskan Ibu dari pelukanku. Pelan-pelan kubaringkan Ibu di tanah.

Dia... wanita yang bergaun putih tadi. Aku tahu wanita itu sedang menangis walaupun aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Dia meraba pipiku, juga membelai rambutku, dan memelukku. Entah kenapa aku seperti tak ingin melepas pelukan itu. Aku rindu pelukan ini. Sudah lama aku tak merasakan pelukan sehangat ini. Padahal aku baru saja memeluk Ibuku sendiri. Ah ya, Ibu, bagaimana dengan Ibu?

 “Maaf, Bu! Lepaskan saya! Saya tidak keberatan, tapi...” ujarku sopan pada wanita itu.

Kuarahkan pandanganku pada Ibu, tapi... dia tidak ada disana. Setelah itu aku meihat ke tempat dimana wanita bergaun putih tadi berada, dia juga tidak ada disana.

Ibu...

Kurasakan dunia berputar-putar. Aku hanya seorang diri di tempat itu, dibawah rintik air hujan, didalam kegelapan malam, diantara kesunyian dan ketidakpastian...

~&~

“Shifa, kamu kenapa?”

Seseorang menepuk-nepuk pipiku perlahan, “Ada apa?”

Butuh beberapa saat untukku menyadari semuanya. Wanita dihadapanku adalah Ibuku, dia ada disini.

“Shifa takut, Bu! Shifa takut Ibu pergi! Lalu wanita itu...”

“Wanita apa? Siapa?”

“Ada kebakaran, Bu! Aku terjebak di dalam bangunan yang terbakar itu, Ibu datang menyelamatkanku tapi... Ibu pergi, dan semua orang juga pergi! Wanita itu juga pergi! Shifa takut, Bu! Shifa takut semua orang pergi meninggalkan Shifa!”

Ibu terdiam sejenak, tampak memikirkan sesuatu.

“Seperti apa wanita itu?”

“Aku tak ingat bagaimana wajahnya, tapi dia cantik, seperti Ibu! Rambutnya panjang terurai, bajunya warna putih, dan aku merasa ada yang aneh saat dia memelukku!”

“Dia memelukmu?”

“Ya!”

Kulihat Ibu menggigit ujung bibirnya. Apa yang sedang Ibu pikirkan?

“Ada apa, Bu?”

“Nggak ada apa-apa. Kamu harus tidur lagi, Shifa! Ini belum waktunya beraktifitas!”

Aku tahu Ibu menyembunyikan sesuatu. Raut wajahnya tak bisa berbohong. Aku bisa merasakannya.

“Aku nggak bisa tidur lagi, Bu! Aku takut!”

“Itu cuma mimpi, Shifa! Kamu nggak usah berpikir kalau Ibu akan ninggalin kamu sendirian! Ibu nggak akan pergi, nggak akan ada yang bisa memisahkan kita. Termasuk wanita itu. Dia nggak akan bisa merebut kamu dari Ibu. Karena kamu putri Ibu. Apapun yang terjadi, kamu tetap putri Ibu, titik!”

Untuk beberapa saat keadaan sunyi, tak ada suara apapun.

“Berapa usiamu?” tanya Ibu akhirnya.

“Tiga belas tahun! Terakhir kali kita merayakan ulang tahunku adalah saat usiaku sembilan tahun. Setelah itu bahkan Ibu tak pernah ingat kapan ulang tahunku.”

“Ternyata kamu sudah besar. Ibu minta maaf, Shifa! Seharusnya kamu berhak tahu semuanya.”

“Tahu apa? Memangnya apa yang Ibu sembunyikan dariku?”

“Kamu mau ikut Ibu? Kita jalan-jalan!” Ibu mengalihkan perhatianku.

“Kemana? Jam segini?”

 Kulirik jam dinding, baru pukul satu pagi. Tanpa menunggu jawabanku Ibu segera berdiri, meraih jaket dan melemparkannya padaku.

“Ibu nggak pakai jaket? Diluar dingin, Bu!”

“Kamu lupa? Ini ‘kan masih jam kerja Ibu. Ibu sudah biasa! Bahkan... ah, sudahlah. Ayo!”

Aku tersenyum getir, miris. Seolah-olah aku lupa siapa aku, siapa Ibuku, tentang bagaimana kehidupan kami. Bangun, Shifa! Lihatlah kenyataan!

Kuikuti langkah Ibu keluar rumah. Kehidupan di kampungku masih bernafas. Lampu masih menyala warna-warni. Merah, kuning, hijau, biru silih berganti. Masih banyak ‘­kupu-kupu’ hilir mudik di gang bersama para pemujanya. Masih banyak suara tawa terbahak-bahak, juga suara denting gelas yang beradu. Asap rokok dan bau alkohol berbaur menjadi satu. Tak menyisakan sedikitpun udara sehat untuk dihirup.

Ibu mengajakku mendekati bibir pantai, dimana angin berhembus kencang, mengusir bau-bauan yang mencekik paru-paru. Di salah satu titik di tepi pantai terdapat lampu 5 watt yang dipasang pada bambu, entah apa gunanya. Tak ada seorangpun nelayan di kampungku. Para lelaki dewasa menggantungkan hidupnya dari hasil berjudi, togel, atau merelakan permaisurinya menjadi milik orang lain dalam semalam. Hal paling baik yang mereka lakukan adalah berdagang, membuka warung kecil-kecilan di sepanjang pesisir pantai. Itupun mereka pasti menjual minuman keras. Tak banyak wisatawan yang datang ke Pantai Salur selain untuk tujuan ‘khusus’. Hal itu menunjukkan betapa rusaknya moralitas di kampungku.

Ibu mengajakku duduk di bawah lampu itu. Selama beberapa saat hanya suara angin dan deburan ombak yang terdengar. Tempat ini memang tak terlalu jauh dari kampungku, tapi setidaknya leih tenang dari segala aktifitas disana. Kutatap lamat-lamat raut wajah Ibu. Di usiaku yang menginjak tiga belas tahun ini, usia Ibu belum genap tiga puluh lima tahun. Masih begitu muda, memang. Wajah itu tampak seperti wajah orang yang sedang berpikir keras.

“Ibu akan bercerita padamu, tentang sebuah kisah yang Ibu sendiri tak tahu bagaimana akhirnya. Tentang sebuah pencarian dan keyakinan!”

~&~

Dahulu kala, nun jauh di pulau seberang, hiduplah seorang putri yang amat elok parasnya, amat baik budinya. Namanya Fadeea. Dia anak tunggal di sebuah keluarga yang cukup terpandang. Di negeri itu ada juga seorang pangeran yang sangat gagah. Mereka berdua bertemu dalam acara jamuan makan malam, mereka jatuh cinta dan keesokan harinya mereka menikah. Upacara pernikahan akan dilaksanakan di sebuah pulau. Saat dalam perjalanan menuju pulau itu, Fadeea tiba-tiba menghilang. Dikabarkan dia telah mati tenggelam karena terjatuh dari kapal. Bukannya terjatuh, sebenarnya ia didorong oleh seseorang yang tidak suka akan pernikahannya dengan pangeran.

Beruntung, ada seorang nelayan muda yang menemukan Fadeea terombang-ambing di lautan dengan sebilah papan. Ia pun membawa Fadeea turut serta dalam perahunya.

Nelayan itu merupakan seorang pemuda tampan yang suka bekerja keras. Tanpa pamrih ia merawat Fadeea, memperlakukannya dengan sangat baik. Setiap hari Fadeea hanya diam. Dia terus-terusan melamun. Dia hanya memikirkan bagaimana ia bisa kembali pada Sang Pangeran dan segera melangsungkan pernikahannya. Setiap hari pula si nelayan berusaha menghiburnya, membuatnya tertawa, tapi itu semua sia-sia belaka. Semakin hari Fadeea semakin murung. Ia selalu menatap ke arah lautan, berharap pangerannya datang menjemput. Hingga setiap matahari tenggelam, si nelayan merasa gagal karena tak mampu membuat Fadeea tersenyum. Kini ia harus pergi melaut, meninggalkan Fadeea seorang diri meratapi nasibnya. Setiap hari selalu begitu. Hingga memasuki bulan ketiga, tak ada tanda-tanda adanya pasukan kerajaan yang akan membawanya pulang. Sama sekali tak ada tanda apapun.

Namun hati tetap saja hati. Batu yang keras jika diberi tetesan air terus menerus juga akan terkikis, begitu pula dengan rasa sedih. Sedikit demi sedikit Fadeea berhasil merobohkan dinding keterpurukannya. Ia merasa inilah takdirnya, ia harus menjalaninya, bukan mengingkarinya. Ia mulai berubah layaknya wanita pantai biasa. Memasak, menjemur ikan, juga yang lainnya. Hingga tibalah masa itu, hari ketika genap enam bulan ia mengenal si nelayan.

 Fadeea dan si nelayan berjalan beriringan menuju bibir pantai. Langit sudah berwarna oranye kemerah-merahan. Bulan sabit telah terdiam anggun diatas sana, tinggal menunggu bintang-bintang yang akan segera bermunculan disekelilingnya. Dua insan itu saling menatap, dalam, penuh arti.

“Sebenarnya ada yang ingin kukatakan padamu, Fadeea! Tapi aku ragu! Aku takut kau marah padaku!” ucap si nelayan.

“Katakanlah! Aku janji tak akan marah! Jangan sampai keragu-raguan menghambat niatmu!”

“Fadeea! Maukah kau... menjadi istriku? Maukah kau hidup bersamaku selamanya?”

Fadeea membisu, tak mampu berkata apapun. Sesungguhnya itulah kata-kata yang selalu ia rindukan. Tetapi mengapa kini ia terbelenggu oleh karaguannya sendiri? Enam bulan silam, seseorang menanyakan hal yang sama padanya, dan kini pertanyaan itu terulang kembali oleh pemuda yang berbeda. Benar-benar jauh berbeda.

“Aku tahu ini pasti sulit bagimu! Tak usah terburu-buru! Aku masih akan kembali kesini esok pagi!”

Setelah berkata demikian, si nelayan langsung pergi, mendatangi lautan yang menjanjikan berjuta mimpi.

Langit semakin kelam. Diatas sana, sepotong bulan menepati janjinya. Dirinya terdiam anggun dengan milyaran bintang yang menemaninya. Diantara sekian banyak bintang dengan harapan yang sama, tersembunyi satu bintang yang paling cemerlang. Bintang yang kilaunya memancarkan arti cinta yang suci. Cinta sejati.

Jikalau Fadeea menjadi sang rembulan, dan jika ia hanya bisa memilih salah satu, pastilah ia akan memilih bintang yang paling cemerlang itu. Namun bagaimana ia bisa mengetahui dimana bintang itu jika kecemerlangannya tersamarkan oleh kilau bintang-bintang yang lain?

Sang Putri duduk seorang diri di tepi pantai, bermandikan cahaya rembulan selembut pasir putih.

 Matanya yang sebening embun tak berkedip saat memandang bayangan rembulan di air yang sering kali hilang ditelan ombak. Ia berusaha menyimpulkan sesuatu. Tentang rembulan dengan bintangnya, tentang keputusan dan pilihannya. Kini ia hanya bisa menanti datangnya pagi yang membawa kabar gembira, semoga.

Rembulan tersenyum. Ia yakin Fadeea pasti bisa memilih dengan bijak. Namun Fadeea keliru jika ia mengira dirinya tak mampu menemukan bintang yang paling cemerlang itu. Bintang itu selalu ada didekatnya. Ia tak mungkin salah mengenali kilauan itu. Sebuah ketulusan dari cinta sejati.

Detik demi detik bergulir menjemput fajar. Sang Putri telah siap dengan keputusannya. Dari jauh terlihat seseorang yang telah ditunggunya semalaman. Seseorang yang ia harapkan menjadi cinta sejatinya.

“Aku sudah punya keputusan! Kuharap kamu bisa berbahagia saat mendengarnya!” ujar Fadeea dengan mata berbinar.

“Aku juga berharap demikian, tetapi sepertinya itu takkan terjadi!”

“Kenapa? Kamu tidak ingin mendengar keputusanku?”

“Tidak! Maksudku, belum! Kamu harus tahu bahwa ada seseorang yang ingin menemuimu! Aku tak yakin keputusanmu takkan berubah setelah kau menemui orang itu!” Nyala mata pemuda itu tak setegar kemarin sore. Semakin lama semakin redup.

“Aku yakin akan keputusanku! Memangnya siapa yang mampu merubah keyakinanku?”

Dia, yang sebentar lagi akan datang menjemputmu!”

Benar saja, tak lama kemudian dia datang. Dia yang dia maksud adalah dia yang akan memudarkan sebuah keyakinan. Dia yang datang dari jauh, semakin dekat, semakin jelas. Dia... seorang pangeran yang ingin menjemput calon permaisurinya. Dia berlari, semakin dekat.

Saat mereka benar-benar dekat...

Dinding keyakinan itu mulai retak. Sang Putri tak mampu berkeputusan. Diantara dua hati, dua pilihan, kemanakah harus kulangkahkan kaki?

“Bertanyalah pada  hatimu, Fadeea! Sesungguhnya kata hati adalah sebaik-baiknya nasihat!” ujar si nelayan.

“Pulanglah, Fadeea! Apa kamu tidak merindukan ayah ibumu? Mereka setiap hari mengharapkan kedatanganmu!”, begitu kata Sang Pangeran.

Ayah dan Ibu, kata itu sudah cukup untuk meruntuhkan dinding keyakinan Fadeea. Aku merindukan mereka. Ketika malam-malamku disini terasa hampa, ketika aku butuh tempat untuk bersandar, aku tahu aku membutuhkan mereka. Kehangatan cinta mereka, kasih tulus mereka, aku sadar aku butuh semua itu. Ayah... Ibu...

“Aku akan pulang...!”

Untuk terakhir kalinya Fadeea menatap si nelayan, mengucapkan kata perpisahan, “Maafkan aku, aku berjanji takkan melupakanmu! Terimakasih untuk segalanya! Aku pergi!”

Fadeea memang takkan mampu melupakan si nelayan. Ia akan selalu terbayang-bayang olehnya.

Fadeea kembali ke negerinya, kembali bertemu dengan ayah ibunya, dan kembali menata ulang rencana pernikahannya. Tepat tiga hari setelah kepulangannya itu, pesta pernikahannya akan digelar. Tak perlu lagi bermewah-mewah di pulau indah dengan kapal pesiar, cukup pesta rakyat seminggu penuh, itu sudah lebih dari cukup.

Malam itu rembulan masih berkenan menampakkan paras eloknya. Dari balik jendela kamar Sang Putri menatapnya tanpa berkedip. Cakrawala yang menjadi singgasananya masih terasa begitu jauh sekalipun kamarnya hampir sama tinggi dengan mercusuar di tepi pantai. Besok aku akan menikah, benar-benar akan menikah. Takkan ada lagi yang akan menghalangi keputusanku, kecuali...

“Keyakinanmu, Fadeea! Dimana kau sembunyikan keyakinanmu? Bukankah dulu kamu sudah mengambil keputusan? Kenapa sebegitu mudahnya kamu membolak-balikkan keputusanmu hatimu?”

Fadeea bergumam tak mengerti. Nyatakah semua ini? Bagaimana mungkin rembulan bisa berbicara? Memangnya kenapa? Apa yang salah dengan keputusanku?

“Tahukah kamu kalau perasaanmu ini hanyalah rasa penasaran belaka? Kamu tinggalkan apa yang ada didekatmu, mendekati yang lain, berharap mendapat cahaya yang lebih terang. Namun, kamu terlalu gegabah dalam mengambil keputusan. Dan saat kamu menyadari apa yang kamu dekati ternyata lebih redup darinya, kamu akan menyesal karena telah meninggalkan dia yang selalu berada di sampingmu, yang selalu bersedia menjagamu. Cinta sejati hanya datang sekali seumur hidup, Fadeea! Dan saat hal itu datang, tak ada lagi alasan untuk menolak, takkan ada lagi tempat bagi keraguan. Hanya ada keyakinan kuat, yang akan mengalahkan segala kekhawatiran!”

“Apa maksudmu? Apa menurutmu kepulanganku salah? Apakah merindukan keluargaku juga salah?”

Sunyi. Malam benar-benar tenang seperti seharusnya.  Sebenarnya untuk apa  aku pulang? Bukankah aku pulang hanya untuk ayah dan ibu? Itu berarti... cintaku memang tidak berada di tempat ini!

“Apa yang harus kulakukan? Apakah aku belum terlambat untuk mengubah keadaan?”

Lagi-lagi tak ada jawaban. Toh memang rembulan tak pernah bisa bicara selayaknya manusia, bukan?

Sang Putri tenggelam dalam keresahannya, dalam kebimbangan yang dibuatnya sendiri. Hingga pagi menjelang, ia samasekali belum bisa memejamkan matanya barang sekejap. Ini hari bahagianya, tetapi hatinya benar-benar ada di tempat lain. Gaun putih panjang telah sempurna melekat di tubuhnya. Sang Putri melangkah anggun dengan kaki berhias sepatu kaca, seperti Cinderella. Ribuan pasang mata memandang takjub. Sang Putri siap menjemput takdirnya. Dia tidak datang untuk mengucap ikrar suci pernikahan, bukan pula untuk menyenangkan hati setiap orang, melainkan untuk menegaskan keputusan besar dalam hidupnya.

“Aku tidak bisa meneruskan pernikahan ini, Pangeran! Aku sadar bahwa takdirku bukan disini! Maafkan aku, aku harus pergi!”

Fadeea mengangkat gaunnya dan berlari keluar dari istana, menyibak kerumunan manusia yang berseru, “Ada apa? Apa yang terjadi?”

Fadeea terus berlari ke arah pantai. Dia merelakan barang-barang berharga miliknya satu persatu hilang demi tumpangan perahu kecil yang mengantarnya dari pulau ke pulau. Perhiasan yang melekat di tubuhnya perlahan berkurang hingga akhirnya hanya menyisakan seuntai kalung pemberian sang ibunda. Berbulan-bulan ia mengarungi lautan dengan sebuah harapan, bertemu dengan cinta sejatinya. Kini semua pengorbanannya seakan terbayar lunas saat kaki-kakinya kembali menjejak pasir pantai di pulau tempat ia pernah menghabiskan enam bulan masa hidupnya. Ia berlari menemui si nelayan, berulangkali terjatuh, berdiri, dan berlari lagi. Ia menjatuhkan harga dirinya dengan mengemis cinta seorang nelayan miskin yang derajatnya sangat jauh di bawahnya. Namun apa yang ia peroleh atas segala usahanya?

“Kenapa kamu baru datang sekarang Tuan Putri? Kenapa kamu baru menyadarinya sekarang? Semua sudah berubah, tak mungkin bisa seperti dulu lagi. Kamu sudah terlambat! Tak ada gunanya lagi kamu mengharapkan cintaku. Aku sudah menambatkan hatiku di tempat lain, di hati seorang wanita yang selalu ada disampingku. Aku hanya rakyat kecil yang tak pantas memiliki hati Tuan Putrinya. Kamu hanya harus yakin bahwa kita tidak ditakdirkan untuk bersama. Kembalilah, yakini hal itu, lalu semua akan baik-baik saja!”

“Apakah tak ada lagi yang tersisa untukku? Apakah kedatanganku sudah amat terlambat?”

Ya, Sang Putri memang datang terlambat. Kini ia hanya bisa merasakan pahitnya penyesalan. Ia kembali berjalan ke arah tepi pantai. Untuk terakhirkalinya ia memandang perkampungan nelayan dimana ia kehilangan separuh hatinya.

“Aku tak akan datang kesini lagi. Tak ada lagi yang bisa kuharapkan dari tempat ini. Tak akan.... tak akan lagi...”

Fadeea terus berjalan mendekati bibir pantai. Ombak mulai menjilat-jilati kaki telanjangnya. Ia terus berjalan ke tengah lautan.

“Biarlah...! Biarlah cintaku tenggelam bersama raga yang lelah ini, ikut pergi bersama hilangnya sang mentari. Biarlah rasa kecewa dan sakit hatiku sirna bersama lenyapnya tubuh ini. Aku takkan bisa hidup tanpa separuh hatiku yang lain. Wahai penguasa lautan, penguasa cinta, izinkanlah diriku dan cinta ini melebur dalam kuasa-Mu! Izinkanlah aku kembali pada cinta-Mu!”

Tubuh itu hilang ditelan ombak, persis ketika kegelapan laut malam menelan terangnya siang. Diatas sana, sang bintang yang terpilih masih setia di sisi rembulan. Tetap diam, membisu. Bukankah aku sudah pernah mengatakan bahwa rembulan dan bintang-bintang itu tak pernah ditakdirkan untuk dapat berbicara layaknya manusia? Lalu siapa yang selama ini berbicara pada Fadeea tentang bintang-bintang pilihan itu?

~&~

“Adalah hati dan pikiran Fadeea sendiri yang telah menciptakan perbincangan-perbincangan itu, hati dan pikiran yang dikuasai kebimbangan, hati dan pikiran yang terlambat menyadari bahwa terkadang apa yang kita miliki adalah yang terbaik. Semua itu hanya angan-angan semata, bayang-bayang semu yang tercipta dari keresahan Sang Putri,” begitulah Ibu mengakhiri ceritanya dengan mulus.

Kami masih menatap lurus ke arah datangnya ombak saat Ibu melontarkan satu pertanyaan untukku, “Apa yang bisa kita ambil dari kisah tadi, Shifa?”

“Keragu-raguan itu tidak baik, iya, ‘kan?”

“Hanya itu?”

Aku diam sejenak, berpikir. Apa lagi?

“Kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu, kita tidak boleh mengambil keputusan dengan tergesa-gesa, dan... entahlah?” Aku tak tahu harus menjawab apa lagi.

“Kesetiaan. Kamu tidak berpikir untuk mengatakan hal itu?”

“Setia apanya? Bukankah Putri itu malah berkhianat karena keraguannya?” Aku benar-benar tak bisa menerima pendapat Ibu yang satu itu.

“Kamu tidak mengerti karena kamu belum memahaminya, Shifa! Suatu saat nanti, saat kebenaran besar itu tersingkap ke permukaan, kamu akan mengerti bahwa inilah poin terpenting dari kisah ini!”

Dimana letak kesetiaan dalam kisah ini? Kesetiaan sang bintang pada rembulan? Bukankah mereka bukan tokoh utama? Bukankah keraguan Sang Putri yang mendominasi? Mengapa Ibu bisa mengatakan bahwa kesetiaanlah yang menjadi bagian terpenting dari kisah ini?

Ibu menggandeng tanganku dan mengajakku berjalan kembali ke perkampungan, kembali pada kehidupan nyata kami.

“Apa kamu percaya cerita tadi?”

Aku tidak menjawab. Aku masih bingung memikirkan nilai kesetiaan yang Ibu maksud.

“Kisah di dunia nyata bahkan lebih rumit dari kisah ini. Kelak kamu akan membuktikannya. Kamu akan mengetahui jawaban atas pertanyaan-pertanyaanmu saat ini!”

Suatu hari nanti, ketika kebenaran agung benar-benar tersingkap ke permukaan. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages