![]() |
| Sumber gambar: https://pxhere.com/id/photo/690360 |
PART 4
Biji yang terjatuh
ke tanah perlahan berkecambah, tumbuh daun dan kuncup-kuncup bunga. Bunga yang
merekah lalu menghasilkan biji yang kemudian jatuh ke tanah lagi. Seperti
tumbuhan, manusiapun begitu adanya. Terus tumbuh, berkembang, seiring
bergulirnya mentari dari timur ke barat, seiring waktu yang berjalan
tertatih-tatih, detik demi detik, tahun demi tahun. Sudah lima belas tahun
kulalui dengan sejuta kisah, mungkin lebih. Ada tawa dan air mata, juga harapan
dan cita-cita.
Adakah cinta? Ya,
tentu saja! Selalu ada cinta di setiap nafas yang kita hembuskan, itu kata
Irvana. Irvana yang tumbuh menjadi gadis manis yang pintar dan agamis. Aku? Aku
juga pintar, lebih terkesan tampil apa adanya, juga tak terlalu paham dengan
agama. Bahkan terkadang aku masih meragukan adanya Tuhan saat masalah demi
masalah datang menghampiriku. Ya, inilah aku. Aku yang mulai menginjak indahnya
dunia SMA. Aku yang masih terobsesi dengan pencarian seorang ayah yang bahkan
tak pernah kuketahui sedikitpun tentangnya. Aku yang kini mulai bisa merasakan
debar-debar tak karuan bila dekat dengan dia, dia, atau dia. Sebuah rasa yang
mungkin bisa disebut... cinta.
Ketika sang surya
merangkak semakin tinggi, jalanan yang semakin padat, hati yang semakin
gelisah. Tak mau terlambat, tak mau mendapat hukuman, dan tak ada yang mau
mengalah. Bus kota yang kutumpangi melaju dengan muatan berlebih. Dengan tubuh
yang ringan, berdiri di pintu bus terasa begitu menegangkan. Hampir saja
pijakan ini goyah, tangan ini tak mampu lagi mencengkeram pegangan yang ada.
Tetapi tangan itu, tubuh itu, dengan sigap menahan tubuhku. Entah apa yang
terjadi kalau tidak ada dirinya saat itu.
Semua terjadi begitu
cepat, tak terduga. Apa yang dia lakukan tidak sekadar menyelamatkan nyawaku,
namun juga berhasil membuatku merasakan sesuatu yang lain. Debar-debar yang tak
bisa diterjemahkan, debar-debar yang kurasakan ketika tubuh kami begitu dekat.
Desah nafasnya, tatapan matanya, melahirkan getaran rasa tak terartikan.
Getaran yang mengalir dalam seluruh lapisan gejolak yang membingungkan,
mematikan logika, hingga alam serasa berhenti dari rutinitasnya, menyaksikan
dengan terpana. Setidaknya itu yang kurasakan. Sebuah rasa yang berbeda.
Wajahnya terlihat
teduh, begitu tenang. Belum pernah kulihat pemuda sepertinya. Ketika ujung
rambutnya tergoyang dihembus angin, saat itu aku baru tahu bagaimana rasanya
jatuh cinta. Pelan tapi pasti, hati ini mulai terpaut padanya. Namun apakah ia
juga merasakan hal yang sama sepertiku? Entahlah, tapi kuharap begitu.
“Siapa kamu? Darimana kamu berasal? Pasti dari
surga!”
Seandainya saja
waktu memang bisa dihentikan, aku mungkin bisa membiarkan hati yang rapuh ini
terjebak dalam angan-angan tak berujung. Love at the first sight. Tak kusangka cerita
lama itu benar-benar ada. Dan itu terjadi padaku.
~&~
“Ya Allah, maafkan aku yang tak bisa menjaga
pandanganku, juga hatiku. Aku yang terlampau mengagumi makhluk ciptaan-Mu tanpa
mengingat diri-Mu. Aku yang sejenak melupakan-Mu karena hanya dia yang kuingat.
Namun salahkah jika aku memendam rasa padanya? Salahkah jika aku mencintainya?”
Catatan kecil itu
melayang begitu saja dari buku Biologi yang kupinjam dari Irvana. Aku hafal
betul bagaimana ciri tulisan tangannya. Jadi ini penyebab kemurungannya dua
hari ini?
“Jatuh cinta itu
wajar, Irva! Nggak seharusnya kamu menyalahkan diri sendiri!”
Dia menatapku kaget.
Entah karena aku yang tiba-tiba muncul atau karena apa yang baru saja
kukatakan. Kulihat butiran air mulai membasahi mata beningnya, lagi.
“Maaf. Aku nggak
sengaja nemuin ini dibukumu. Ini punyamu, ‘kan?”
Irvana mengalihkan
pandangannya dariku, menatap lurus ke depan. Diam.
“Ada apa, Irvana?
Kalau ada masalah cerita dong! Bukannya selama ini kita selalu membagi
segalanya berdua?”
“Yang ini beda!”
“Kenapa? Apa kamu
mulai terpengaruh omongan Levi dan Sesa kalau aku ini pecinta perempuan yang
nggak pernah tahu bagaimana rasanya jatuh cinta pada laki-laki? Aku masih
normal, Shifa! Aku juga bisa, pernah, dan sedang mencintai seorang pemuda. Aku
bisa merasakan apa yang kamu rasakan!”
Kulihat dia menarik
nafas panjang, berusaha sebisa mungkin agar suaranya tidak bergetar.
“Kenapa harus dia,
Shifa? Kenapa bukan orang lain yang lebih buruk saja? Aku jadi merasa berdosa
karena telah memiliki perasaan ini!”
Nada bicaranya mengisyaratkan keputusasaan.
Dia menangkupkan kedua tangan ke wajahnya, seakan tak ingin ada orang yang
mengetahui kalau dia sedang menitikkan air mata. Padahal hanya ada kami berdua
di tempat itu.
Irvana melanjutkan
ceritanya, “Dia seperti seorang pangeran bagiku. Tapi bukan sembarang pangeran,
dia adalah pangeran dari surga. Tuturkatanya, tingkahlakunya, bahkan parasnya
pun begitu sempurna. Dia sangat dekat dengan Tuhannya, jadi ia tak mungkin
memberi perhatian lebih padaku, dan aku tahu itu. Tapi ternyata aku tak siap
kalau hal itu terjadi padaku.”
“Dia itu... manusia,
‘kan?” tanyaku ragu. Kata-katanya mengingatkanku pada film-film yang
menceritakan tentang seorang gadis yang jatuh cinta pada vampir atau alien yang
digambarkan ketampanannya melebihi ketampanan manusia pada umumnya. Dalam kasus
ini apa? Pangeran dari surga? Apakah Irvana bertemu dengan malaikat dan jatuh
cinta padanya?
“Dia hanya manusia
biasa. Bukan pangeran dari negeri dongeng, alien, vampir, atau bahkan malaikat!
Dia itu... Khrisna!”
“Khrisna siapa?
Maksudmu Khrisna teman sekelas kita waktu MOS dulu yang sekarang jadi anggota
rohis?”
Air mata itu tak
mampu lagi bertahan di tempatnya, terpeleset jatuh dan mengalir membelah pipi
seorang Irvana.
~&~
“Hey kamu,
berhenti!”
Pemuda itu menoleh
ke arahku yang terengah-engah mengejarnya. Terlihat wajahnya yang sedikit
kebingungan, memastikan ia tak salah dengar.
“Iya, kamu! Ayo ikut
aku!” Segera kugandeng tangannya tanpa permisi.
“Apa-apaan ini?”
Aku tak menjawab.
Aku tak mau dia tahu kalau aku sedang berdebar-debar karena menggenggam
tangannya. Tiba-tiba dia berhenti.
“Kita mau kemana?
Kenapa kamu menyeretku semaumu?”
“Ini tentang nyawa
sahabatku. Dia ada di taman belakang. Dia membutuhkanmu!”
“Kalau begitu kita
harus cepat!” ujarnya sambil berlari meninggalkanku jauh di belakang.
Mentari terus
merangkak menuju peraduannya. Tak banyak orang yang masih ada di sekolah.
Dialah orang pertama yang kutemui setelah Irvana tak sadarkan diri di
pelukanku. Irvana butuh seseorang yang bisa membawanya ke UKS atau ke puskesmas
terdekat yang jaraknya kurang lebih seratus lima puluh meter dari sekolah.
Irvana membutuhkan pemuda itu, tapi aku lebih membutuhkannya.
“Tadi di UKS nggak
ada orang. Kita harus bawa dia ke puskesmas!”
Aku tak menyahut.
Aku terpana melihat caranya merengkuh dan menggendong Irvana. Aku juga ingin
seperti itu. Pantaskah jika aku merasa cemburu?
“Jika nanti Pak
Satpam nggak ada di depan, apa kamu akan terus menggendongnya sampai
puskesmas?”
“Apa mungkin aku
akan menyuruhnya berjalan sendiri?” sahutnya tanpa menoleh ke arahku.
“Bukan begitu
maksudku! Kita ‘kan bisa mencari Pak Satpam sebentar. Mungkin beliau sedang
berkeliling menyalakan lampu!”
“Itu terlalu lama.
Kita ‘kan nggak tahu seberapa lama temanmu ini bisa bertahan!”
Dia benar. Aku
merasa telah menjadi teman yang terlalu egois saat mengatakan hal itu. Ah,
teman macam apa aku ini?
~&~
Ucapan adalah do’a, Irvana sering
mengatakan hal itu padaku, hanya saja aku tak pernah mempercayainya. Bagiku
keyakinanlah yang membuat segalanya menjadi nyata. Akan tetapi mau tidak mau
kali ini aku memang harus percaya. Kami tak menemukan Pak Satpam di posnya. Dan
seperti yang telah kami rencanakan, dia akan menggendong Irvana sampai
puskesmas.
“Apa kamu yakin kita
bisa sampai ke puskesmas?” tanyaku ragu. Kulihat bulir-bulir keringat membasahi
lehernya. Mungkin jika aku berada di sampingnya aku juga akan melihat keringat
yang mengucur deras dari pelipisnya.
“Apa maksudmu?”
“Ya, aku cuma takut
kalau kamu nggak kuat terus ikutan pingsan, ‘kan aku juga yang tambah repot!”
“Kamu nggak usah
khawatir! Aku ini laki-laki kuat bukan makhluk lemah kaya kamu! Jangan-jangan
malah kamu yang pingsan, gara-gara nggak kuat ngangkat kaki sendiri? Mendingan
kamu diem aja, hemat tenaga! ‘Kan repot kalau kamu pingsan, yang ada malah
kutinggalin kalian berdua disini!”
“Hhhh..., ya udah,
lah! Susah ngomong sama kamu!”
Mungkin sebaiknya aku
diam untuk sementara waktu, setidaknya sampai ada dokter yang menangani Irvana.
Aku minta maaf, Irva! Kalau saja aku tidak menjejali pikiranmu dengan
kemungkinan-kemungkinan yang tak sejalan dengan prinsipmu, mungkin kamu tidak
akan jadi seperti ini.
~&~
“Apa kamu yakin
kalau kamu benar-benar mencintainya?”
Dia mengangguk lalu
berkata, “Mungkin orang bisa mengatakan kalau cinta itu tak harus memiliki,
tapi kenapa sulit sekali mewujudkannya dalam tindakan nyata? Kenapa aku tak
bisa membunuh perasaan ini?”
“Orang jatuh cinta
itu harusnya diliputi kebahagiaan, tapi kenapa kamu malah menangis? Saat orang
orang berharap bisa bertemu dengan orang yang dicintainya, kenapa kamu malah
menghindar? Kamu aneh, Irva!”
“Iya aku tahu, aku
memang aneh. Aku memang berbeda dengan kebanyakan orang. Aku sangat tersiksa
setiap kali melihatnya. Aku menginginkannya, tapi aku tak tahu harus berbuat
apa. Dan memang tak ada yang bisa kulakukan, Shifa! Tak ada!”
Aku dibuat membisu
olehnya. Kurasa dia tidak aneh, hanya sedikit berbeda.
“Kamu tahu ‘kan
kalau dari dulu aku ingin masuk Rohis? Tapi itu takkan terwujud kalau aku masih
menyimpan perasaan ini. Mana mungkin aku menodai niatku dengan sebuah perasaan
bernama cinta? Mana mungkin aku mencederai cintaku pada Tuhanku dengan
mencintai hamba-Nya?”
“Kamu bersikap
seolah-olah cinta adalah sebuah dosa. Pemikiran kamu itulah yang sebenarnya
mencederai makna cinta yang suci. Tuhan menciptakan hati agar kita bisa
merasakan, agar kita tahu indahnya rasa cinta. Itu kenapa cinta disebut sebagai
anugerah. Oke lah kalau kamu bilang dalam Islam itu nggak ada yang namanya
pacaran. Tapi bukan berarti Islam melarang pemeluknya untuk jatuh cinta. Kamu
hanya perlu belajar untuk terbiasa. Setelah itu semuanya akan baik-baik saja!”
Irvana menatapku
tajam. Aku tahu dia sedang berusaha mengumpulkan sisa-sisa kepercayaan diantara
ketidakberdayaannya.
“Aku mencintainya,
Shifa! Aku mencintainya...!”, dan dia pun menjatuhkan dirinya dalam pelukanku.
~&~
“Eh, kamu mau
kemana? Apa kamu mau pulang?”
Dia menghentikan
langkahnya, agak terpaksa. Aku bisa membaca raut kekesalan di wajahnya saat dia
membalikkan badan dan menghadap ke arahku.
“Ada apa lagi?
Bukannya dokter sudah bilang kalau temanmu itu akan baik-baik saja? Tinggal
tunggu dia siuman, ‘kan?”
“Bagaimana kalau ada
apa-apa dengannya? Apa kamu mau tanggungjawab kalau terjadi sesuatu dengannya
dan tidak ada yang menolongku saat hal itu terjadi?”
“Daripada kamu
mengira-ngira nggak jelas, kenapa kamu nggak menghubungi keluarganya buat
ngasih tahu keadaan sahabatmu itu? Lagian ‘kan aku nolongin kalian, kenapa juga
aku yang harus tanggungjawab? Justru kamu yang harus tanggungjawab karena telah
melibatkanku dalam masalahmu!”
Usahaku menahannya
lebih lama lagi sia-sia belaka. Tapi sebenarnya ada untungnya juga karena aku
hampir saja lupa mengabari keluarga Irvana. Tapi, siapa yang harus kuhubungi?
Levita? Itu tidak mungkin. Dia tidak pernah peduli dengan saudaranya. Apa aku
harus menghubungi ibunya? Lalu bagaimana kalau dia mencacimakiku lagi? Tapi
bagaimanapun juga ibunya berhak tahu keadaan Irvana! Shifa, kuatkan hatimu! Kemungkinan terburuk
bisa saja terjadi!
Akhirnya kutemukan
nama itu setelah beberapa saat mengotak-atik ponsel Irvana. Setelah itu... call. Tak lama kemudian
terdengar suara seorang wanita di seberang sana dengan tempo bicaranya yang
begitu cepat.
“Ini bukan Irvana,
Tante! Ini Shifa!”
Setelah itu sudah
bisa ditebak apa yang akan terjadi. Wanita itu mencacimakiku habis-habisan. Aku
sudah sangat berhati-hati saat mengatakan bagaimana keadaan Irvana sekarang.
Namun apa yang kudapat? Dia semakin menghina dan mempersalahkanku. Memang benar
aku ikut andil dalam masalah ini, tapi dia terlalu sering menyalahkanku hanya
karena kedekatanku dengan Irvana. Tak apa, aku sudah kebal dibuatnya. Dimatanya
aku selalu salah.
Pemuda tadi sudah
tidak ada di tempatnya, mungkin memang dia sudah pulang. Hey, kenapa juga aku
memperdulikannya? Lagipula aku takkan membutuhkan pertolongannya lagi, semoga.
Lebih baik kugunakan waktuku untuk menunggui Irva, setidaknya sampai ibunya
datang.
“Shifa, kenapa aku
ada disini? Maksudku, bagaimana kamu bisa membawaku ke tempat ini?” tanya Irva
begitu aku masuk ke dalam ruangan serba putih itu.
“Kamu sudah sadar?
Bagaimana keadaanmu?”
“Kamu belum menjawab
pertanyaanku!”
“Hhhh..., apa aku
harus mengatakannya? Tadi ada orang yang membantu kita, tepatnya aku yang
memintanya untuk membantuku membawamu kesini!”
“Siapa? Aku harus
berterimakasih padanya! Aku juga harus berterimakasih padamu!”
“Sudahlah, dia juga
sudah pergi. Mungkin lain kali aku bisa menyampaikan rasa terimakasihmu itu!”
“Kamu kenal dia?”
“Ya, tapi sebenarnya
tidak! Kebetulan tadi pagi aku hampir jatuh dan dia yang menyelamatkanku!”
ujarku mengenang kejadian tadi pagi. Tanpa kusadari ada senyum di sudut
bibirku, dan Irva mengetahuinya.
“Apa dia... tampan?”
“Tentu saja!
Bagaimana kamu tahu?”
“Aha, ketahuan!
Pasti dialah orang yang berhasil membuat sahabatku jatuh cinta, setelah temanku
itu hampir saja di cap sebagai lesbian oleh kakakku dan temannya yang
menyebalkan!”
“Apa kamu bilang?”
“Ngaku saja lah,
Shifa! Bukannya aku sudah mengatakan segalanya padamu? Kamu juga harus jujur
padaku! Bukannya tadi sore kamu bilang kalau kamu sedang jatuh cinta?
Ngomong-ngomong, siapa namanya?” tanyanya dengan nada menggoda.
“Aku nggak tahu!”
“Bohong!”
“Sumpah! Aku memang
nggak tahu namanya!”
“Bagaimana mungkin?
Memang sejak kapan kamu jatuh cinta?”
“Tadi pagi, puas?”
“Ya Tuhan..., cinta
pada pandangan pertama? Bagaimana mungkin itu terjadi pada makhluk sepertimu?
Bukannya kamu nggak percaya hal-hal yang begituan?”
“Ya udah, lah!
Ngapain sih ngomongin dia? Nggak penting banget! Oh iya, aku minta maaf buat
yang tadi. Nggak seharusnya aku membuatmu tertekan!”
Irva meraih
tanganku, menggenggamnya erat.
“Aku akan belajar,
Shifa! Seperti yang kamu katakan padaku. Aku akan belajar untuk terbiasa dengan
semua ini!”
~&~
“Bu, biar Shifa
pulang bareng kita saja ya!” ujarnya memohon.
“Nggak bisa! Ibu
nggak sudi semobil sama dia!”
“Tapi, Bu! Ini ‘kan
sudah hampir jam tujuh, nggak ada lagi bus ke selatan! Nanti Shifa gimana?”
“Itu bukan urusan
kita. Sekarang pulang! Ini akibatnya kalau kamu sudah keseringan bohongin Ibu.
Sudah berapa kali Ibu bilang jangan dekat-dekat dengan anak nggak jelas itu, kamu
jadi ikutan sial ‘kan?”
“Pulanglah Irva, aku
akan baik-baik saja!” ujarku setengah berteriak karena ibunya sudah menyeret
tangan Irvana menjauhiku.
Kami masih saling
bertatapan hingga dia hilang di balik pintu. Aku merasa ada rasa bersalah di
wajahnya, di mata beningnya. Sebenarnya aku juga tak yakin kalau aku akan
baik-baik saja. Sekarang, apa yang harus kulakukan? Aku tak mungkin menginap
disini, ‘kan? Akhirnya kuputuskan untuk ke depan. Siapa tahu masih ada bus yang
masih beroperasi? Meskipun itu terdengar
mustahil.
“Mau sampai kapan
kamu berdiri disitu? Percuma, nggak akan ada bus yang lewat!” Tiba-tiba saja
seseorang telah berdiri di sampingku.
“Kamu? Bukannya tadi
kamu udah pulang?” tanyaku kaget.
Jadi dari tadi dia
masih berada di tampat ini? Jangan-jangan dia tahu apa yang tadi kubicarakan
dengan Irvana? Oh, tidak!
Dia tidak menjawab
pertanyaanku. Ia malah berjalan ke tengah jalan raya dan melambai-lambaikan
tangannya di atas. Apa yang sedang dilakukannya? Bunuh diri? Beberapa detik
setelah itu, sebuah mobil bak terbuka pengangkut kardus-kardus berbagai ukuran
berhenti di hadapannya. Dia mendekati sopir mobil itu dan mengatakan sesuatu.
“Kita bisa menumpang
mobil ini!” ujarnya sedikit berteriak.
“Kita? Kau
mengajakku?” tanpa menunggu jawabannya aku segera berlari menuju mobil itu. Aku
sempat kesulitan naik karena rok yang kupakai membuatku tak leluasa bergerak,
namun tak kusangka dia mengulurkan tangannya padaku.
“Nggak perlu, aku
bisa naik sendiri!” kataku sok-sokan. Pada kenyataannya aku tetap menerima
uluran tangannya setelah berpura-pura tak bisa naik.
Aku tak akan mungkin
melupakan malam itu begitu saja. Saat aku duduk diatas mobil bak terbuka dan
dia ada di sampingku, benar-benar tepat di sampingku. Kami duduk berdua
diantara tumpukan kardus-kardus yang tak kuketahui apa isinya. Seandainya saja
dia tahu kalau jantungku sedang berdebar kencang dibuatnya. Lima belas menit perjalanan berlalu begitu
saja tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kami. Di sebuah tikungan,
mobil itu berhenti.
“Hey, ini ‘kan masih
jauh dari rumahku? Kenapa berhenti disini?”
“Apa kamu mau ikut
Pak Sopir pulang ke rumahnya? Itu bukan taksi, jadi nggak usah protes! Masih
untung dikasih tumpangan sampai sini!” ujarnya sambil berjalan mendahuluiku,
tentu saja setelah berterimakasih pada sopir mobil yang kami tumpangi tadi.
“Sekarang apa? Kita
harus gimana? Mau nunggu tumpangan lagi?”
“Kita? Kamu aja
kali! Rumahku ‘kan nggak jauh dari sini!”
“Jadi kamu akan
membiarkanku mencari tumpangan sendiri? Oke, fine! Aku nggak butuh
bantuan kamu lagi!”
Aku berhenti
mengikutinya lantas berjalan ke tengah jalan raya. Mencoba melakukan seperti
yang dilakukannya tadi. Alih-alih mendapat tumpangan, yang ada malah sebuah
motor yang melaju kencang hampir saja menyerempetku. Dan lagi-lagi dia
menyelamatkanku, membuatku merasa sangat berhutang banyak padanya.
“Dasar bodoh! Mana
mungkin aku akan membiarkanmu pulang sendiri? Bagaimana kalau terjadi sesuatu
padamu? Bagaimana kalau ada orang yang berniat buruk padamu? Aku masih disini
saja kamu hampir celaka!”
“Jangan perlakukanku
seperti anak kecil! Aku bisa jaga diri! Dan satu lagi, jangan sebut aku bodoh!
Sekarang lepasin tanganku! Aku mau cari tumpangan, aku mau pulang!”
“Nggak bisa! Udah
jam segini! Nggak aman! Kamu ‘kan cewek, apa kamu nggak takut kalau ada orang
macem-macem sama kamu?”
“Aku justru lebih
takut kalau dekat-dekat sama kamu! Aku ‘kan nggak tahu siapa kamu, bagaimana
kalau malah kamu yang berniat buruk sama aku?”
“Aku bukan orang
seperti itu! Terserah kamu mau percaya sama aku atau tidak, yang jelas sudah
berkali-kali aku menyelamatkanmu hari ini! Apa kamu nggak sadar? Bukannya
bilang terimakasih malah mikir yang enggak-enggak!”
“Oke, aku sekarang
akan bilang terimakasih banyak atas bantuanmu hari ini,
kamu memang sangat baik hati! Sekarang kamu
melarang aku pulang sendirian, terus apa mau kamu?”
“Ikut aku pulang!
Kamu bisa nginep di rumahku! Lagian ‘kan besok hari minggu!”
“Bagaimana mungkin? Hellooow... seorang pemuda
membawa teman gadisnya menginap di rumah, apa kata orang nanti?”
“Apa menurutmu aku
tinggal sendiri di rumah? Kalaupun iya, nggak mungkin aku akan macam-macam sama
kamu, apa untungnya coba?”
“Heh?”
~&
“Dia temanku, Bun!
Nanti kuceritakan semuanya!” ujar pemuda itu sambil berlalu ke dalam rumah.
Wanita itu
tersenyum. Mungkin usianya tak jauh berbeda dengan Ibu. Dia juga cantik, sama
seperti Ibu. Dia mengantarku ke lantai dua, ada tiga ruangan berjajar disana.
Dia membukakan pintu ruangan yang paling utara untukku.
“Kamu bisa tidur
disini. Nanti kalau ada perlu apa-apa panggil Tante saja di kamar sebelah.
Nanti habis mandi langsung ke bawah, ya! Kita makan malam sama-sama. Oh iya,
itu di lemari ada baju yang mungkin pas buat kamu. Kamu pakai saja!” ujarnya
ramah lalu segera keluar dari ruangan itu.
Aku bisa menebak
pasti pemilik kamar ini adalah seorang perempuan. Itu terlihat dari warna pink
yang mendominasi kamar ini. Ada kotak mainan, deretan boneka berbagai bentuk,
hiasan gantung, dan gambar-gambar di dinding yang mengisyaratkan bahwa ini
adalah kamar anak-anak. Bahkan di sudut kamar terdapat tempat tidur bayi.
Kudekati almari pakaian di sudut lainnya. Di bagian paling bawah terdapat
pakaian bayi, diatasnya pakaian anak-anak, dan yang paling atas ada pakaian
seukuran remaja. Mungkin itulah yang wanita itu bilang mungkin pas untukku. Dan
setelah kucoba ternyata memang sangat pas. Modelnya cantik, kekinian, hanya
saja warnanya pink, sama seperti warna semua pakaian di almari itu.
Meskipun warnanya
membosankan, tapi detail setiap sudut ruangan itu sangat mengagumkan. Kalau
kemegahan rumah itu diceritakan satu per satu, mungkin tak akan ada habisnya.
Satu hal yang paling membuatku terkejut, selalu ada simbol salib hampir di
seluruh ruangan di rumah itu. Ternyata keluarga ini adalah keluarga nasrani
yang taat. Sempat ada sedikit kekecewaan kenapa dia berbeda denganku. Tapi
kenapa juga aku harus mempermasalahkan hal itu? Aku tak pernah sholat ataupun
puasa, meski kata Islam selalu ada di setiap
kartu tanda pengenalku. Aku tak tahu kenapa aku terlalu mengharapkannya,
padahal baru sehari kami bertemu.
Mereka berdua
menatapku saat aku menuruni tangga. Sebelum turun tadi aku sempat bercermin.
Aku merasa aneh saat melihat diriku terbalut pakaian serba pink, mungkin karena
selama ini aku selalu menghindari warna itu. Tapi saat itu aku merasa...
cantik. Pemuda itu menatapku tak percaya. Beberapa saat kemudian, ia menatap
mata bundanya, seakan minta penjeasan. Wanita itu hanya menjawab dengan senyum
manis yang tersungging di bibirnya, ditambah dengan satu kedipan mata penuh
arti. Apa maksudnya?
~&~
Malam ini mendung
tebal sempurna menghalangi bintang dan rembulan dari pandanganku. Di tempat
lain mungkin Ibu sedang mencemaskanku karena putri sematawayangnya belum juga
pulang hingga selarut ini. Sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa aku disini
baik-baik saja, tapi bagaimana caranya? Ponsel Ibu satu-satunya
sudah dijual dua bulan lalu karena Tante Renata sudah mulai menagih
hutang-hutang Ibu. Hutang yang terus beranak pianak hingga Ibu tak kunjung bisa
melunasinya.
Bagaimana keadaan
Ibu disana? Anak yang kaucemaskan ini malah berdiri di balkon sebuah rumah
mewah sementara engkau disana sedang bekerja keras dengan caramu sendiri.
Apakah itu pantas?
“Dhia, kenapa kamu
belum tidur?”
Kutolehkan kepalaku
ke belakang. Wanita itu berjalan menghampiriku.
“Dhia? Tante...
manggil saya?”
“Iya! Rama bilang
nama kamu Fadhia. Memangnya salah, ya?”
“Ngg... Nggak juga,
sih!”, hanya saja aku merasa aneh karena namaku hampir sama dengan tokoh dalam
dongeng yang pernah diceritakan Ibu.
Aku baru tahu kalau
nama laki-laki itu adalah Rama. Tapi kenapa dia bisa mengatakan kalau namaku
Fadhia? Bukannya dari tadi pagi tak ada satupun dari kami yang memperkenalkan
diri?
“Dhi, kamu belum
menjawab pertanyaan Tante! Kenapa jam segini kamu belum tidur?”
“Aku nggak tahu,
Tante! Mungkin karena aku masih asing dengan tempat ini. Tapi sebenarnya...”
“Kamu pasti kangen
sama orang rumah, ‘kan?”
“Iya, Tante! Pasti
ibuku sekarang sedang sangat mencemaskan putrinya!”
Untuk beberapa saat
hanya terdengar deru angin yang menelisik sela-sela dedaunan. Tanpa kusadari
ternyata wanita di sampingku itu sedang menatapku lekat-lekat. Saat mata kami
bertemu pandang, kulihat kristal bening telah membasahi pelupuk matanya.
“Dhi, entah kenapa
saat melihatmu dari dekat, Tante jadi teringat seseorang. Maukah kamu memanggil
Tante dengan sebutan... Bunda?”
Kusapu air mata yang
mengalir di pipinya dengan jemariku. Dan anggukan kecilku menyusul setelah
itu. Aku tak tahu kenapa ini bisa
terjadi. Yang pasti, aku merasakan getaran aneh saat berada dalam rengkuhannya.
Getaran yang sangat kuat, yang bahkan lebih kuat daripada getaran saat aku
berada begitu dekat dengan putranya. Rasa ini... lebih dari sekadar jatuh
cinta.
~&~
Rama...
Kuceritakan
segalanya tentang gadis itu kepada Bunda, saat kami berada di meja makan,
menunggu gadis itu turun. Mulai dari kejadian di bus tadi pagi, saat dia
memaksaku agar aku menolong sahabatnya, sampai akhirnya aku membawanya ke rumah
ini. Tak lupa kuceritakan tentang bagaimana Ibu sahabatnya itu mencacimakinya
setelah gadis itu dengan tulus berusaha menolong putrinya.
“Bagaimana mungkin
wanita itu masih bisa menyangkalnya walaupun gadis itu sudah berulang kali
meminta maaf? Apa dia tidak berpikir apa yang akan terjadi pada anaknya jika
tidak ada gadis itu?”
Sepertinya Bunda
sangat tertarik dengan cerita tentang gadis itu.
“Mungkin ada sesuatu
di antara mereka yang tidak kita ketahui!”
Dan tidak perlu kita
ketahui pastinya. Gadis itu hanyalah seseorang yang terpaksa menumpang
semalaman disini. Hanya itu, tak lebih!
“Entah apa yang
sebenarnya terjadi dalam kehidupan hadis itu! Tapi, kenapa Bunda merasa bahwa
Bunda harus melindunginya? Dia seperti seseorang yang sangat berarti dalam
hidup Bunda! Dia seperti...”
“Siapa?”
“Sudahlah, lupakan
saja! Mungkin Bunda hanya terlalu berharap! Oh iya, kamu dari tadi cerita tapi
nggak ngasih tahu namanya, gimana sih?”
“Emm, dia itu...
Dhia! Ya, namanya Fadhia!”
“Fadhia?”
Sebenarnya di
puskesmas tadi aku sempat melihat saat dia mengisi data-data temannya itu. Dia
membubuhkan tanda tangan dan nama terangnya di pojok kanan bawah kertas
formulir itu. Namun aku hanya bisa melihat bagian belakangnya saja: blablabla-fadhia.
Suara langkah
seseorang yang tengah menuruni tangga membuat pandangan kami terarah padanya.
Dia memang terlihat lebih manis daripada tadi. Tapi sungguh, bukan itu yang
membuatku agak terkejut. Bukan dia, tapi bajunya. Aku tahu persis itu adalah
baju yang Bunda jahit sendiri beberapa waktu yang lalu. Apa-apaan ini? Bunda
bahkan tak pernah mengizinkan siapapun –termasuk aku- memasuki kamar yang kini
ditempati gadis itu. Tapi sekarang apa? Apakah Bunda merasa bahwa orang yang
selama ini ditunggunya telah datang? Kutatap wanita yang selalu bersamaku
selama belasan tahun itu. Dia tersenyum, juga mengedipkan matanya penuh arti.
Kuanggap itu sebagai sebuah jawaban. []


Tidak ada komentar:
Posting Komentar