Breathing: Malaikat Kecil Bunda Marsya

Sumber gambar: https://pxhere.com/id/photo/486897


PART 5


Segera kumasukkan semua barang-barangku ke dalam tas. Kupandangi lagi seluruh sudut kamar ini. Pandangan mataku terhenti pada sebingkai foto di atas meja, foto Bunda Marsya saat mengandung. Di bagian bawah foto itu tertulis: “Welcome to the World, My Dear!”

“Fadhia!”

“Iya!”, tanpa kusadari Bunda Marsya sudah berdiri di depan pintu.

“Kamu sudah siap?”

“Eh, iya! Aku pamit sekarang ya, Bun!”

“Kenapa buru-buru? Kita sarapan dulu, ya! Nanti biar Bunda anterin!”

“Nggak usah, Bun! Aku pulang sendiri saja!”

“Nggak apa-apa! Tapi nanti kita ke gereja dulu, setelah itu biar Bunda sama Rama nganterin kamu sampai rumah. Kamu ‘kan tamu kami, sebagai tuan rumah Bunda harus memastikan kalau tamu Bunda pulang dengan selamat.”

“Tapi, Bun! Sebenarnya aku ini... muslim!” kulihat raut muka Bunda agak berubah, tapi setelah itu senyum kembali menghiasi bibirnya.

“Seharusnya Bunda sudah bisa menduga! Maafin Bunda, ya! Kamu nanti nggak keberatan ‘kan nungguin Bunda dan Rama sebentar?”

“Nggak papa kok, Bun!”

Aku memang muslim, tapi tak pernah sholat, puasa, juga yang lainnya. Aku tak tahu tatacaranya. Ibu tak pernah mengajarkannya padaku.

~&~

Mobil berwarna silver itu perlahan mulai memasuki kawasan Pantai Salur seiring debur ombak yang juga sudah mulai terdengar. Mobil itu tak bisa masuk lebih dalam lagi karena gang yang ada begitu sempit.

“Berhenti disini saja, Bun!”

Beberapa saat kemudian mobil itu melambat dan akhirnya berhenti. Kami berdua segera turun, ya, hanya kami berdua. Rama tidak mau turun. Dia bahkan tidak mau berbicara padaku sejak tadi malam, entah apa sebabnya.

“Rumah kamu dimana?”

“Sudah dekat, kok! Tinggal lurus saja mengikuti gang ini! Rumahku ada di ujung!”

“Enak ya punya rumah dekat pantai! Bisa ke pantai tiap hari, deh!”

“Tapi kalau tiap hari lihat pantai kan juga bosan!”

Sepertinya Bunda Marsya tidak mendengar jawabanku. Matanya menatap ke tempat lain.

“Ada apa, Bun?”

“Ngg... Nggak ada apa-apa, sih! Tadi sepertinya Bunda lihat seseorang! Tapi ya sudah, lah! Mungkin Bunda hanya salah lihat!”

“Ooh. .., Bunda mau mampir dulu ke rumah? Nanti aku kenalin sama ibuku!”

“Lain kali saja, ya! Habis ini Bunda masih ada acara. Sebenarnya Bunda juga pengin jalan-jalan dulu di pantai, tapi ada pekerjaan lain yang harus Bunda lakukan. Jadi, kapan-kapan saja Bunda main kesini lagi!”

“Bunda... Emm, sebenarnya Salur bukan hanya terkenal karena pantainya, tapi juga...”

“Kawasan lokalisasi?”

Aku hanya bisa menunduk. Aku tak tahu harus merasa malu ataukah sedih, atau mungkin dua-duanya. Semua berbaur begitu saja. Dia menyentuh daguku dan membuatku menatap ke arahnya.

“Tidak apa-apa! Bunda memang agak terkejut saat mengetahui anak semanis kamu tinggal di lingkungan seperti ini, tapi itu bukanlah sesuatu yang patut disesali!”

“Aku bukan salah satu diantara mereka, Bun!”

“Bunda tahu!”

Wanita itu mengecup keningku dengan lembut. Beberapa saat kemudian aku sudah berdiri seorang diri menatap mobil itu hingga hilang di tikungan jalan. Segera kulangkahkan kakiku menyusuri gang-gang kecil menuju rumah. Kuharap keadaan Ibu baik-baik saja setelah kutinggal tanpa kabar semalaman.

Pintu depan tertutup rapat, tidak seperti biasanya. Mungkin Ibu akan marah saat melihatku baru pulang. Jadi, dengan hati-hati kubuka pintu itu. Saat aku membalikkan badan setelah menutup pintu kembali, Ibu sudah berada tepat di depanku.

“Dari mana kamu? Kenapa semalam nggak pulang? Masih ingat kalau punya rumah?”

Entah kekuatan apa yang bisa membuatku berlutut di hadapan Ibu. Tapi kini aku melakukannya.

“Maafin Shifa, Bu! Ceritanya panjang, tapi Ibu harus percaya kalau Shifa nggak berbuat  macam-macam di luar sana!”

Ibu merengkuh pundakku dan membantuku berdiri. Matanya menatapku tajam. Ada ‘luka’ disana, juga dihatinya.

“Siapa perempuan itu?”

~&~

“Jauhkan itu dariku! Ibu tidak mau melihatnya!” teriak Ibu histeris sambil menunduk dan menangkupkan kedua tangannya ke wajah.

“Apanya?” tanyaku kalut.

“Baju itu!”

“Tapi kenapa?”

“Pokoknya Ibu nggak mau lihat kamu pakai baju itu!”, suara Ibu meninggi.

Kulihat terusan pink yang melekat di tubuhku. Apanya yang salah? Kenapa Ibu tiba-tiba berteriak-teriak tanpa kendali setelah aku mengatakan semuanya?

Segera kutinggalkan Ibu untuk berganti pakaian. Setelah itu aku kembali menghampiri Ibu yang masih menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan. Kakinya bergetar. Keringat perlahan-lahan mengalir dari dahi dan pelipisnya. Ibu tampak seperti orang yang sangat gelisah dan ketakutan.

“Ada apa, Bu! Kenapa tiba-tiba Ibu jadi seperti ini?” Kuambil paksa kedua tangan itu lalu kugenggam erat.

Ibu mengangkat wajahnya. Apakah aku tidak salah lihat? Ada bekas air mata disana!

“Ibu nggak mau kamu dekat dengan mereka, menyimpan barang-barang pemberian mereka, ataupun mengingat mereka!”

“Akan kukembalikan baju itu besok! Tapi apa alasanku harus menjauhi mereka? Mereka orang yang baik, Bu! Apalagi Bunda Marsya. Dia bahkan...”

“Kamu memanggilnya Bunda?”

“Iya, dia yang memintanya! Aku tidak bisa menolak, Bu!”

“Cukup! Ibu nggak terima! Pokoknya Ibu nggak mau lagi mendengar sesuatu tentang wanita itu! Dan satu hal yang paling penting, jangan panggil dia dengan sebutan Bunda!”

“Tapi kenapa? Ibu nggak bisa seenaknya melarangku melakukan sesuatu tanpa alasan yang jelas! Aku ini sudah besar, Bu! Aku bisa menentukan mana yang baik dan mana yang buruk!”

“Karena Ibu nggak suka. Cukup jelas, ‘kan? Mereka orang asing, dan Ibu nggak mau kamu dekat-dekat dengan orang asing seperti mereka!”

“Yang namanya baru kenal ya memang asing, Bu! Tapi lama-lama juga akan terbiasa! Ibu harusnya mengenal mereka dengan baik! Ibu harus tahu betapa baiknya keluarga mereka!” ujarku kesal.

Aku segera berlalu meninggalkan Ibu. Apa Ibu tidak sadar kalau dirinya pernah berkata bahwa kami hidup di antara perbedaan dengan orang lain? Kenapa sekarang kata-kata itu seakan menguap begitu saja? Pasti ada alasan lain yang membuat Ibu melarangku dekat dengan keluarga Rama. Aku yakin ada sesuatu yang Ibu sembunyikan dariku, tapi apa?

~&~

“Bagaimana mungkin kamu berpikir kalau Ibu kamu sudah membohongimu?” tanya Irvana tak mengerti.

“Aku nggak tahu! Feeling-ku mengatakan seperti itu! Kenapa juga tiba-tiba Ibu memintaku menjaga jarak dengan keluarga Rama padahal Ibu samasekali belum pernah bertemu dengan mereka?”

“Justru itu! Biasanya naluri seorang Ibu selalu benar!”

“Itu bukan naluri, Irva! Ibu terlalu overprotective  terhadapku! Bagaimana aku bisa mengenal dunia jika ibuku sendiri melarangku dekat dengan hal-hal baru?”

“Ibumu tidak melarangmu dalam semua hal, Shifa! Hanya kali ini, ‘kan? Beliau pasti punya alasan khusus yang tidak bisa ia jelaskan padamu!”

“Alasan apa? Aku sudah lelah, Irva! Aku nggak tahu kenapa ibuku jadi kekanak-kanakan begini!”

Ketika pencarianku atas keberadaan Ayah tak kunjung menemukan titik terang, kenapa kini muncul kenyataan-kenyataan mengejutkan yang memaksaku berbelok arah?

Pikiranku bercabang kemana-mana, tapi hanya satu yang kutemukan: teka-teki yang menunggu untuk dipecahkan. Pikiranku benar-benar sudah buntu ketika kutangkap sosok itu sedang berjalan tak jauh dari tempatku.

Aku sudah melesat pergi saat Irvana berteriak, “Shifa, kamu mau kemana?”

Kupercepat lariku agar aku bisa mengejarnya.

“Aku mau bilang makasih buat yang kemarin!” ujarku saat berhasil menyejajarkan langkahku dengan langkah kakinya.

“Kemarin ‘kan udah bilang!” katanya tak perduli sambil terus berjalan mendahuluiku.

“Rama, aku hanya mau mengembalikan ini, tapi kenapa kamu sepertinya menghindariku?” tanyaku memelas.

Berhasil! Dia menghentikan langkahnya. “Apa?”

Kuulurkan bungkusan yang dari tadi kubawa kesana kemari. “Ini baju yang kupinjam kemarin, bilangin terimakasihku ke Bunda, ya!”

“Ambil aja! Bunda masih punya banyak baju seperti itu, dan itu semua hanya menumpuk di lemari!”

Hah? Bukannya baju itu milik adikmu? Atau... itu milik kakakmu?”

“Harusnya sih, begitu! Tapi...”

Tiba-tiba ponsel Rama berdering, sepertinya ada panggilan masuk. Kupaksakan bungkusan itu agar berada di tangan Rama dan aku segera berlalu meninggalkannya. Aku baru berjalan sekitar lima belas meter saat kudengar dia berteriak padaku, “Dhi, aku butuh bantuanmu!”

Hey, itu adalah pertama kalinya dia memanggilku dengan menyebut namaku, meskipun itu bukan nama panggilan yang biasa kudengar. Hemm... Satu permulaan yang bagus! Lihatlah, pipiku memerah!

~&~

“Maaf, tapi aku nggak bisa!” ucapku kecewa. Aku tahu dia juga kecewa.

“Tolong, Dhi! Sekali ini saja aku meminta bantuanmu, demi Bunda!”

Bagaimana ini? Mana mungkin aku mengatakan kalau ibuku melarangku mendekati keluarga mereka? Tapi bagaimana dengan Bunda?

“Baiklah, tapi cuma sampai jam empat, nggak bisa lebih!”

“Setuju!” Dia segera menarik tanganku menuju ke tempat dimana ia memarkirkan motornya.

“Kamu serius? Nggak papa kalau aku nggak pakai helm?”

“Kita nanti lewat jalan pedesaan biar nggak kena tilang!”

“Oke!”

Di sepanjang perjalanan, aku mulai berani membuka percakapan dengannya.

“Setelah melihat rumahmu yang sebesar itu, aku memang nggak yakin kalau kamu nggak punya motor. Tapi kenapa waktu itu kamu malah memilih naik bus?”

“Memang itu penting buat kamu?”

“Nggak juga, sih! Cuma heran aja! Oh, aku tahu! Kamu sebenarnya belum boleh naik motor sendiri karena kamu masih terlalu kecil, ‘kan?”

“Enak aja! Asal kamu tahu ya, aku ini kakak kelas kamu!”

“Kalau itu aku juga sudah tahu! Itu karena waktu SMP kamu ikut program akselerasi, ‘kan? Nggak nyangka ternyata kamu pintar juga, ya? Tapi tetap saja kita seumuran. Atau mungkin malah aku lebih tua dari kamu?”

“Bagaimana kamu bisa tahu?” tanyanya kaget.

“Bunda yang bilang!”

“Kenapa Bunda bisa sedekat dan seterbuka itu sama kamu? Atau mungkin Bunda memang berpikir kalau kamu adalah dia?”

“Dia? Siapa?”

~&~

“Aku tinggal bersama Bunda dan beberapa pegawai yang bertugas mengurus rumah dan kebun. Tadi, Bibi Rania –salah satu dari mereka, tapi sudah Bunda anggap sebagai ibunya sendiri- memberitahuku kalau Bunda tidak mau keluar dari kamar. Makanan yang diantarkannya ke kamar Bunda juga tidak disentuh sama sekali.”

Sebenarnya ada banyak hal yang ingin kutanyakan tetapi Rama sudah mengajakku menaiki tangga, mengantarkanku hingga ke depan pintu kamar Bunda.

“Sekarang aku harus gimana?”

“Bicara! Dari hati..., ke hati!” ujarnya sambil menunjuk ke dadanya dan kemudian menunjuk ke arah dadaku.

Aku merasakan getaran itu lagi. Ini bukan saat yang tepat untuk berdebar-debar, Shifa! Sadarlah! Bunda lebih penting saat ini. Akhirnya kumantapkan diri untuk langsung masuk ke kamar Bunda.

“Vannes...”

Wanita itu meringkuk di sudut kamar sembari memandangi foto dirinya saat tengah mengandung. Rambutnya acak-acakan. Wajahnya terlihat pucat dan menyedihkan.

“Itu siapa, Bun?” tanyaku sambil duduk disisinya.

“Fadhia?”

Dia meraba-raba wajahku, juga membelai rambutku, seakan memastikan bahwa aku benar-benar ada di hadapannya. Dia memelukku erat.

“Bunda merindukannya, Dhi!” Aku tahu ada air mata yang menetes di balik bahuku.

“Dia juga pasti merindukan Bunda! Jika Bunda yakin kalau dia akan kembali, dia pasti akan kembali, sama seperti prasangka Bunda! Tapi itu nanti, setelah segala urusannya selesai. Dia pasti sedang menunggu waktu terbaik untuk menemui Bunda!”

“Benarkah?”

“Tentu saja! Tapi, sebelum dia kembali Bunda juga harus mempersiapkan diri. Bunda nggak mau ‘kan kalau sewaktu-waktu dia datang penampilan Bunda berantakan begini?”

Bunda Marsya tidak menolak saat aku membimbingnya menuju meja rias. Ia seperti baru menyadari sesuatu saat ia melihat bayangannya sendiri di cermin.

“Bunda... seperti orang gila ya, Dhi?”

“Setelah ini tidak lagi!” ujarku sambil menyisir rambut panjang Bunda yang tergerai.

“Habis ini Bunda makan, ya! Lalu tidur biar matanya nggak merah lagi!”

Seperti tersihir, Bunda menuruti apapun yang kukatakan. Aku menyuapinya dan menemaninya hingga terlelap. Setelah memastikan kalau ia benar-benar sudah tidur, aku pun segera keluar dari kamar itu.

“Kok bisa?” tanya Rama tak percaya. Ternyata dari tadi ia berdiri di depan pintu.

“Apanya?”

“Bagaimana kamu bisa membuat Bunda setenang itu?”

“Mana kutahu? Bukannya tadi kamu bilang kalau aku hanya harus bicara dari hati ke hati?”

“Iya, tapi... bukan itu maksudku!”

“Lalu?”

“Bukan apa-apa. Sudahlah, lupakan saja!”

“Oh iya, tadi Bunda menyebut-nyebut nama Vannes, dia siapa?”

“Apa aku harus mengatakannya padamu?”

“Tentu! Aku ‘kan sudah membantumu!”

Rama terdiam untuk beberapa saat, seperti menimbang-nimbang sesuatu.

“Baiklah, aku akan mengatakannya! Tapi jangan disini!” ujarnya sambil menarik tanganku dan mengajakku ke halaman belakang. Halaman yang sangat luas, bersih, dan sejuk. Perlahan, cerita Rama mulai mengalir.

~&~

“Namanya Vannesia Ovy. Dia adalah anak perempuan Bunda yang bahkan tak kuketahui sama sekali bagaimana wajahnya. Kalau dia masih hidup, mungkin usianya kurang lebih sama seperti kita.”

“Jadi dia sudah meninggal?”

“Tidak. Maksudku, aku tidak tahu. Dia terpisah dengan Bunda hanya sesaat setelah ia dilahirkan, setelah suatu musibah melanda tempat itu. Ada beberapa orang yang tewas dalam kejadian itu, termasuk beberapa bayi yang belum lama lahir, tapi Bunda masih diberi kesempatan untuk tetap bertahan hidup. Hanya saja ada harga yang harus Bunda bayar atas kesempatan hidupnya. Bunda tidak bisa menemukan putrinya di antara para korban selamat ataupun diantara jenazah yang berhasil ditemukan. Dia tidak ada disana. Dia menghilang. Setelah bertahun-tahun berlalu, Bunda tetap tidak bisa melupakannya. Kamu masih ingat kamar yang kamu tempati ketika menginap di rumah ini, ‘kan? Apa kamu tahu kenapa suasana kamr itu dominan warna pink?”

“Memangnya kenapa?”

“Karena kamar itu sengaja diperuntukkan bagi Vannes. Bunda selalu berharap kalau anak itu akan kembali padanya. Bunda ‘kan nggak mungkin tahu apa warna kesukaan Vannes, jadi semuanya berwarna pink karena warna itu identik dengan perempuan. Semua pakaian yang ada di dalam almari di kamar itu, termasuk yang kamu pakai kemarin dijahit sendiri oleh Bunda. Bunda sudah mulai menjahit semuanya sejak Vannes masih berada dalam kandungannya. Setiap tahun, Bunda selalu menjahit pakaian yang semakin besar, yang kira-kira pas bila dipakai oleh Vannes saat itu. Apa kamu tahu tempat tidur bayi yang ada di sudut kamar?”

“Ya, aku tahu! Tapi aku tidak sempat melihatnya lebih dekat!”

“Di dalam sana ada banyak kado. Kalau kamu hitung jumlahnya pasti lima belas, sesuai dengan umur Vannes saat ini. Setiap Vannes ulang tahun, Bunda selalu meletakkan satu kado disana. Beberapa bulan lagi kado-kado itu pasti akan bertambah satu. Kamu adalah orang pertama yang menempati kamar itu. Bahkan, Bunda tak pernah sekalipun mengizinkanku memasukinya. Aku tahu setiap detail kamar itu karena aku diam-diam selalu mengintip saat Ibu masuk kesana. Oh iya, asal kamu tahu, Bunda sendiri yang selalu membersihkan dan merapikan kamar itu, bukan Bibi Rania yang sudah bekerja pada keluarga Bunda sejak Bunda masih kecil, bukan juga pembantu kami yang lain!”

“Wow! Sebegitu istimewakah kamar itu? Aku jadi merasa terhormat!”

“Mungkin kamu mengingatkan Bunda pada putrinya sejak pertama kali kalian bertemu. Bunda merasa bahwa ada Vannes dalam dirimu!”

“Apa ini yang membuatmu tidak mau bicara padaku sejak kemarin?”

“Apa?”

“Kamu takut kalau aku akan menggantikan posisi Vannes dalam hati Bunda. Kamu takut kalau Bunda akan lebih memperhatikanku daripada anaknya sendiri. Bukankah kemarin kamu merasa kesal karena Bunda memaksaku untuk memanggilnya dengan sebutan Bunda?”

Tak ada jawaban.

“Kalau kamu diam, berarti iya! Tapi kamu nggak perlu khawatir, aku nggak akan merebut Bunda dari kamu dan kamu nggak akan pernah kehilangan Bunda. Atau kalau kamu keberatan aku manggil Bunda kamu dengan sebutan Bunda, aku akan panggil dia dengan Tante Marsya, dengan catatan itu tak berlaku saat sedang ada beliau di dekat kita. Aku takut membuatnya kecewa dan salah paham!”

Aku baru saja akan beranjak pergi saat ia menahan tanganku lalu berkata, “Nggak perlu! Kamu bisa panggil Bunda seperti biasanya kapanpun itu! Dan satu lagi, ada sesuatu tentangku yang tidak kamu ketahui! Tapi aku tak akan mengatakannya sekarang!”

“Jadi kamu akan mengatakannya padaku suatu saat nanti?”

“Mungkin! Dan ini... untukmu! Bunda sudah membiarkanmu memakainya, itu berarti Bunda sudah memberikannya untukmu!” ujarnya sambil menyerahkan bungkusan yang tadi kuberikan padanya. Dengan ragu aku menerimanya.

“Sekarang baru jam empat kurang lima. Sesuai janjiku, nggak sampai jam empat, ‘kan? Mau kuantar pulang sekarang?”

“Nggak usah, aku bisa pulang sendiri! Kamu jagain Bunda saja!”

~&~

Aku mendapat bus yang tidak terlalu penuh sehingga aku bisa memilih kursi di sekat jendela. Kulirik bungkusan berisi baju di tanganku. Ibi tidak boleh tahu kalau aku diam-diam menyimpan benda ini. Kukeluarkan baju yang berada di dalam bungkusan itu dan kupandangi lekat-lekat tulisan yang terjahit rapi di kerahnya: Vannesia Ovy.

Vannes, malaikat kecil Bunda Marsya yang entah dimana keberadaannya. Yang tak ada seorangpun yang tahu apakah ia masih hidup atau malah sebaliknya. Seperti apa wajahnya? Entahlah... []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages