Breathing: It's The Epilog!

Sumber gambar: https://www.wallpaperflare.com/woman-with-blue-hijab-wallpaper-137502

EPILOG


Sekali lagi aku membaca surat dari Ibu yang sudah begitu kusam. Akhirnya aku tahu kenapa Ibu mengatakan bahwa kesetiaan adalah poin terpenting dari kisah itu. Setia pada sesuatu yang kuyakini kebenarannya, yakni kesetiaanku pada-Mu, wahai Tuhanku. Selama ini aku bernafas dengan cinta-Mu, tapi jiwaku berada sangat jauh dari-Mu. Bahkan aku sempat tak percaya kalau Engkau benar-benar ada. Setiap detik terasa begitu panjang namun hampa tanpa adanya Engkau dihatiku. Dengan nafas dari-Mu aku menjaga agar cinta ini tetap hidup. Dan aku akan tetap percaya kalau suatu hari nanti kehidupan akan membawaku mendekat pada-Mu.

Aku merindukanmu, wahai Dzat yang Maha Kuat. Dan aku berdo’a agar Engkau memberiku kekuatan untuk bisa berdiri lagi esok hari. Karena aku mencintai-Mu, tak perduli apakah jalanku benar ataukah salah. Engkau pasti tahu bahwa selama aku masih bisa bernafas maka Engkau akan selalu ada dihatiku, di sisiku.

Ibu memang sudah salah paham sehingga hampir memisahkanku selamanya dari hidup Bunda. Tapi dengan hidup dengannya aku mendapatkan banyak pelajaran. Berulang kali Ibu mengatakan kalau dunia dipenuhi dengan banyak perbedaan. Masing-masing perbedaan sering kali hanya terpisah dengan sekat yang begitu tipis, setipis waktu diantara dua nafas. Namun akan selalu ada cinta di setiap jarak diantara dua nafas itu. Seperti cinta seorang Ibu, yang mengajarkanku berani untuk berkeputusan, berani untuk menentukan pilihan, juga berani untuk mempertanggungjawabkan pilihanku. Sehelai jilbab di kepalaku ini adalah buktinya. Bukti bahwa aku telah jatuh cinta pada Tuhanku, Tuhan yang telah menakdirkanku untuk memiliki jalan ini. Aku sempat ingin berbelok arah, tapi Dia mengirimkan malaikat bernama Irvana untuk terus menuntunku meniti jalan-Nya. Ia menyadarkanku kalau iman itu bukan sekadar warisan, tapi pilihan.

Senja kembali hadir dalam kehidupanku. Entah ini senja keberapa yang sudah kulalui, tapi senja kali ini, ketika bola jingga raksasa hampir lenyap di ufuk barat, Aku, Shifa Salfadhia, telah menentukan pilihanku. Dan aku memilih untuk tetap setia. Tetap di jalan ini, menuju dan meraih cinta-Nya. Aku sudah mengukir takdirku sendiri, dan aku akan terus mengukirnya hingga ujung usia, hingga pisau kehidupan yang kugunakan ini menjadi tumpul termakan waktu. Selama cinta-Nya masih ada diantara nafas-nafas yang kuhembuskan, aku pasti bisa melakukannya. Aku akan tetap berdiri, berjalan, bertahan, dan segera bangkit setiap kali terjatuh. Karena aku hidup dengan nafas pemberian-Nya. Karena aku hidup dengan cinta-Nya. Karena aku... jatuh cinta pada-Nya, pada Sang Penguasa rasa cinta, pemilik hati yang sebenarnya. Dan hari ini aku mulai percaya: cinta sejati itu nyata... []

~The End~




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages