![]() |
| Sumber gambar: https://pxhere.com/id/photo/1176309 |
PART 10
Aku sekarang sudah
kelas dua belas. Besok aku akan menjalani wisuda kelulusanku. Aku baru saja
mengingkari salah satu janjiku dengan pergi ke Pantai Salur, berharap bisa
menemukan Ibu disana. Tapi harapan hanya tinggal harapan. Rumah yang dulu
kutinggali bahkan sekarang sudah ditempati orang lain. Aku menemui satu-satunya
orang yang bisa kutanyai, Tante Renata. Tahu sendiri bagaimana sikapnya padaku,
‘kan? Tapi tetap saja dialah satu-satunya orang yang bisa kutanyai di kampung
itu, meskipun ia mengatakannya sambil tak henti mencaciku dan kebanyakan
jawabannya hanyalah tidak tahu. Seperti kali ini,
dia tetap berkata kalau dia tidak tahu dimana ibuku berada. Sudah satu tahun
lebih aku meninggalkan tempat itu, dan Tante Renata mengatakan bahwa selama itu
dia sudah tidak lagi melihat ibuku lagi. Apa jangan-jangan Ibu sudah menikah
dengan Om Indra? Tapi kenapa Tante Renata tidak mengetahuinya?
Dengan sedikit memaksa kutitipkan undangan wisudaku untuk Ibu kepada Tante Renata. Entah kenapa hati kecilku mengatakan kalau besok Ibu akan menghadiri acara itu. Aku yakin Ibu akan melihat bagaimana Kepala Sekolahku memakaikan medali tanda kelulusan di leherku. Kebaya yang akan kupakai besok dirancang dan dijahit sendiri oleh Bunda. Aku sudah mengatakan padanya kalau aku benci warna pink, jadi ia membuatkanku kebaya cantik berwarna hijau tosca, warna kesukaanku. Aku sudah tidak sabar menunggu datangnya pagi. Aku benar-benar sangat berharap kali ini aku bisa bertemu dengan Ibu.
Acara pelepasan kembali siswa-siswi kelas dua belas tahun ini berlangsung lebih meriah daripada tahun lalu. Dari pagi hingga siang hari acara diisi dengan pentas seni, sore nanti akan diadakan penyerahan kembali siswa-siswi kelas dua belas, pembagian hasil ujian, dan pemberian medali tanda kelulusan oleh Kepala Sekolah, sedangkan nanti malam akan ada prom night sebagai acara terakhir yang akan kami lalui bersama sebelum berpisah.
Namaku dipanggil sebagai lulusan terbaik tahun ini. Kebaya rancangan Bunda yang panjang menjuntai membuatku merasa seperti seorang putri yang sedang berjalan di atas karpet merah menuju panggung persembahan. Rambut panjangku kubiarkan terurai dengan jepit rambut kupu-kupu berwarna hijau muda yang menghiasinya. Sesampainya di atas panggung aku masih mencari-cari seseorang. Bundaku ada disana, tapi aku masih belum menemukan keberadaan Ibu. Apa Ibu hari ini tidak datang, ya? Apa Ibu masih belum menemui Tante Renata dan mengambil surat undanganku darinya?
Saat aku akan dipakaikan medali tanda kelulusan oleh Kepala Sekolah aku mencegahnya, “Pak, maaf saya belum bisa menerima medali itu sekarang. Ibu saya harus melihat saya memekainya! Saya harus menemui Ibu saya saat ini juga!”
“Kalau begitu bawa ini, temuilah Ibumu! Biarkan beliau yang memakaikannya untukmu! Saya bangga memiliki lulusan terbaik sepertimu, tapi Ibumu pasti lebih bangga kalau tahu murid kebanggaan Kepala Sekolah ternyata adalah putrinya sendiri.” ucapnya sambil mengulurkan medali itu padaku. Aku menetapnya tak percaya.
“Terimakasih, Pak! Terimakasih banyak!”
Setelah aku menerima medali itu aku segera berbalik badan, mengangkat bawahan kebayaku, dan berlari keluar dengan diiringi tatapan heran orang-orang. Bunda yang melihatku turun dari panggung segera mengejarku.
Aku mulai panik saat bus tidak juga segera datang. Tiba-tiba Bunda datang dan bertanya padaku. “Kamu mau kemana, Van?”
“Aku harus menemui Ibu, Bun! Entah kenapa aku merasa kalau aku harus datang padanya sekarang! Aku merasa Ibu saat ini sedang membutuhkanku!”
“Itu namanya firasat, Van! Tapi semoga saja Ibumu baik-baik saja! Ini, ambillah! Bunda sudah memanggil taksi untukmu. Bunda akan memberi kalian ruang untuk bisa berdua saja. Kalau ada apa-apa langsung hubungi Bunda, ya! Bunda akan datang membantumu!” kata Bunda sambil menyelipkan beberapa lembar rupiah di genggaman tanganku.
“Makasih, Bun! Do’akan aku bisa menemukannya!”
Bunda mencium keningku dan melepasku pergi. Dia membiarkanku pergi menemui Ibu. Taksi yang kutumpangi melesat cepat di tengah jalanan. Jam masih menunjukkan pukul lima saat aku memasuki kawasan Pantai Salur. Aku kembali menemui Tante Renata, hanya dia harapan terakhirku.
“Sebenernya aku capek kamu tanyain terus. Tapi kali ini aku harus bilang kalau aku tahu sesuatu!”
“Benarkah, Tante? Tante tahu dimana Ibu sekarang?”
“Aku nggak tahu, Shifa! Setelah setahun lebih dia pergi akhirnya kemarin nggak tahu kenapa dia datang kesini, beberapa menit setelah kamu pergi. Jadi kukasih aja surat kamu kemarin ke dia!”
“Jadi Ibu sudah menerima undangan itu? Tapi kenapa dia tidak datang untuk melihat kelulusanku?”
“Ye mene ketehek! Aku cuma tahu itu, sekarang kamu pergi dari sini! Kecuali kalau kamu memang datang untukku, dengan senang hati aku akan menerimamu!”
“Itu tidak akan terjadi! Aku sudah berjanji pada Ibu kalau aku tidak akan pernah menyerahkan diri pada orang seperti Tante! Aku tidak akan mengikuti jejak ibuku!”
Segera aku beranjak pergi dari tempat itu. Setelah beberapa meter berjalan aku berhenti dan membalikkan badan, “Tante, terimakasih banyak ya!”
Aku tidak tahu lagi harus mencari Ibu kemana. Aku hanya bisa duduk di bawah tiang bambu, menanti langit menjadi jingga dan akhirnya benar-benar gelap. Lampu lima watt di atasku akhirnya menyala. Setelah kulihat ternyata lampu itu terhubung dengan sebuah rumah tak jauh dari sini. Itu rumah seorang wanita paruh baya yang juga masih tetanggaku. Rumahnya adalah ujung dari perkampungan ‘kupu-kupu’. Dulu juga seperti wanita lainnya di kampung itu. Meskipun demikian, sebenarnya aku harus banyak berterimakasih padanya karena listrik dari rumahnya telah berjasa menghidupkan lampu lima watt di atasku ini. Aku memiliki banyak kenangan tak terlupakan di tempat ini, beberapa kenangan indah dengan Ibu dan satu kanangan buruk dengan Rama. Sudahlah, lupakan hal itu, Shifa!
Sekitarku benar-benar sudah gelap. Tanpa sengaja aku melihat titik-titik cahaya kecil yang bergerak beriringan di pegunungan sebelah timur tempat ini. Disitu memang ada perkampungan. Dulu sewaktu aku masih SMP aku selalu melewati daerah itu untuk sampai ke sekolah. Entah kenapa naluriku berkata kalau aku harus kesana. Aku harus tahu itu cahaya apa.
Aku melepas high heels-ku dan meninggalkannya begitu saja. Aku berlari ke arah cahaya itu sembari mengangkat tinggi bawahan kebayaku. Saat aku sudah semakin dekat akhirnya aku tahu itu cahaya apa. Orang-orang itu membawa obor dan berjalan ke suatu arah. Mereka berteriak-teriak dengan muka garang. Diam-diam aku mengikuti mereka. Rombongan itu berhenti di depan sebuah rumah kecil dari papan yang sebenarnya tak pantas disebut rumah, lebih mirip gubug. Mereka berteriak-teriak meminta orang di dalam rumah itu agar keluar.
“Hey wanita jalang, keluar kamu! Kalau kamu tidak mau keluar, kami bakar rumah ini!” ujar salah seorang lelaki yang sepertinya pemimpin rombongan itu.
“Usir dia! Bakar saja rumahnya!” teriak yang lain diikuti teriakan setuju dari semua orang.
Tiba-tiba seorang laki-laki yang lebih tua datang menyibak kerumunan itu dan berusaha memadamkan amarah orang-orang itu, “Tenang saudara-saudara! Kita tidak bisa mengusir dia seenaknya! Dia juga berhak tinggal disini! Bukankah dia tidak membuat masalah dengan kita?”
“Tapi, Pak Kades! Dia itu pembawa penyakit, penyebar maksiat. Tadi ada warga kita yang melihatnya mendatangi mucikari di perkampungan Pantai Salur, dan wanita itu dulu ternyata bagian dari pelacur-pelacur itu. Kami sudah bilang ‘kan lebih baik kita tidak menerima pindahan dari sana? Sekarang Pak Kades lihat akibatnya? Dia membawa penyakitnya ke kampung kita!”
“Tapi AIDS yang dideritanya itu tidak akan menular pada kita kalau hanya sekedar bertetangga, berjabat tangan, bahkan berbagi air dengannya. Kita tidak perlu mengusirnya!”
“Tapi dia itu pembawa maksiat ke kampung kita, Pak! Dia itu pelacur!”
“Itu ‘kan dulu. Sekarang dia tinggal disini karena ia ingin keluar dari kehidupan masa lalunya yang gelap itu. Dia ingin bertaubat. Seharusnya kita membantunya, bukan malah mengucilkan dan mengusirnya!”
“Pokoknya wanita itu harus pergi, Pak! Jangan sampai nama kampung kita jadi kotor karenanya!”
Firasatku semakin buruk. Bagaimana kalau wanita itu adalah Ibu? Aku harus menyelamatkannya dari orang-orang itu. Akhirnya diam-diam aku menyelinap ke belakang rumah kecil itu. Dengan mudah aku bisa masuk lewat pintu belakang tidak terkunci. Kuteliti semua ruangan dan akhirnya aku menemukan seorang wanita terbaring lemah di ranjang. Aku tak percaya pada apa yang kulihat. Benarkah dia ibuku? Wajahnya pucat, tubuhnya kurus kering tak berdaging, rambutnya berantakan. Tapi dia benar-benar ibuku. Aku yakin itu.
“Shifa? apa itu kamu?”
“Iya, Bu! Ini Shifa, putri Ibu!”
“Ibu minta maaf nggak bisa datang melihatmu, nak!”
“Sudahlah, Bu! Nggak papa! Yang terpenting sekarang kita harus segera pergi dari sini, Bu! Mereka akan membakar rumah ini!”
“Ibu nggak bisa, Shifa! Ibu nggak kuat lagi!”
“Ibu pasti bisa! Ada aku, Bu!”
Sementara itu diluar masih terjadi perdebatan sengit. Aku sudah mulai memapah Ibu ke arah pintu saat kudengar sesuatu terjatuh mengenai atap. Tak butuh waktu lama untuk api mulai menyebar. Mereka sudah mulai melempar obornya ke rumah ini, mereka sudah mulai membakar tempat ini. Saat aku dan Ibu hampir sampai ke pintu belakang, tiba-tiba kayu yang terbakar jatuh dari atas dan menghalangi jalan kami.
“Ibu tenang, ya! Nggak papa! Kita pasti bisa keluar dari sini! Kita bisa... ehh... kita lewat jendela saja!”
Dengan susah payah –karena bawahan kebayaku menyulitkanku untuk melangkah- aku membantu Ibu keluar melalui jendela, lalu aku sendiri. Setelah berhasil keluar, aku kembali memapah Ibu menjauhi tempat itu. Aku berusaha mencari jalan yang kira-kira mereka tidak bisa melihat kami.
“Ibu sudah tidak kuat lagi, Shifa!”
Aku menahan tubuh Ibu agar tidak terjatuh. “Ibu pasti kuat! Kita pasti bisa menjauh dari mereka! Sekarang Ibu naik ke punggungku!”
“Tapi, Shif!”
“Naiklah, Bu! Waktu kita tidak banyak sebelum mereka tahu keberadaan kita saat ini!”
Akhirnya Ibu bersedia naik ke punggungku. Saat aku mulai berjalan aku tidak merasakan beban yang terlalu berat. Ibu sekarang sangat kurus. Kami menuruni pegunungan melewati kumpulan pohon-pohon rimbun, bukan melalui jalan setapak yang sudah cukup halus. Berulangkali aku terperosok, tersandung, dan jatuh terduduk, tapi aku tidak berhenti. Aku harus bisa menyelamatkan Ibu.
“Ibu harus bertahan, Bu! Ibu harus kuat! Nantai kalau kita sudah sampai bawah, kita langsung ke rumah sakit!”
“Ibu nggak perlu ke rumah sakit! Ibu baik-baik saja! Ibu cuma butuh kamu, Shifa!”
“Nggak! Pokoknya Ibu harus ke rumah sakit!”
Akhirnya tanah yang kupijak sudah mulai berpasir. Semakin lama pasir semakin banyak. Setelah benar-benar sampai di pantai aku menurunkan Ibu di dekat batu karang besar. Aku baru menyadari sesuatu. Ponselku pasti tertinggal di taksi. Aku tadi membawanya di tanganku karena aku tidak memiliki saku. Dan, bagaimana dengan medalinya? Aku tadi juga membawanya di tanganku. Jadi...?
“Bu, ponselku hilang! Aku tidak bisa menghubungi Bunda untuk menjemput kita. Tapi Ibu jangan khawatir, kita bisa minta bantuan orang lain. Tante Renata pasti akan membantu kita. Kita kesana sekarang, ya?”
“Nggak perlu, Shifa! Sudahlah, kamu nggak perlu melakukan apa-apa lagi untuk Ibu! Kamu sudah menyelamatkan Ibu, dan kamu juga sudah memaafkan Ibu, ‘kan? Itulah yang Ibu inginkan!”
“Shifa yang harusnya minta maaf sama Ibu! Shifa sudah membuat luka di hati Ibu. Sekarang aku sudah tahu semuanya, Bu! Ibu tidak pernah bermaksud memisahkanku dengan Bunda, ‘kan? Saat kebekaran itu terjadi Ibu ada disana bukan untuk mengambilku dari Bunda, tapi Ibu berniat untuk menyelamatkanku! Kalau saat itu Ibu tidak ada disana aku pasti sudah terbakar bersama bayi-bayi yang lain!”
“Dan kalau kamu tadi tidak ada disana mungkin Ibu sudah terbakar bersama dosa-dosa Ibu! Terimakasih, nak! Tapi Ibu tidak sebaik yang kamu pikirkan. Kamu memang sudah seharusnya membenci Ibu!”
“Ibu nggak boleh bicara seperti itu! Mana mungkin aku bisa membenci orang yang selalu mengasihiku sejak kecil? Mana mungkin aku bisa membenci ibuku sendiri?”
“Tapi Ibu mengatakan yang sebenarnya, Shifa! Bundamu pasti sudah menceritakan semuanya padamu, tapi dia sendiri juga tidak tahu bagaimana kisah yang sebenarnya. Selama ini mungkin dia menganggap Ibu sebagai penyelamat putrinya, tapi sebenarnya Ibu tidak sebaik itu. Saat itu niat Ibu berada disana awalnya bukan untuk menyelamatkan kamu, tapi Ibu memang ingin mengambilmu dari Bundamu. Ibu sempat ingin berniat jahat sama kamu!”
“Kenapa Ibu bohong lagi padaku? Ibu pikir aku tidak tahu kalau Ibu sedang berbohong? Ibu sangat menyayangiku, ‘kan? Kalau begitu bagaimana mungkin Ibu punya keinginan untuk berniat jahat padaku?”
“Kali ini Ibu nggak bohong, Shifa! Apa yang Bunda kamu katakan itu belum lengkap. Dia tidak tahu sebenarnya apa yang terjadi pada Ibu, apa yang Ibu rasakan. Tapi Ibu akan menceritakan kisah lengkapnya sekarang, saat ini juga!”
~&~
Sebuah kisah tersembunyi, rahasia sisi lain...
Orang-orang memanggilku Sarah, tapi namaku sebenarnya adalah Sharellia Shara. Aku terlahir di sebuah keluarga nasrani yang sangat taat, bahkan kakakku satu-satunya lebih memilih tak menikah dan mengabdikan diri menjadi seorang biarawati di gereja tak jauh dari rumahku. Aku adalah seorang mahasisiwi periang yang tak pernah sekalipun membagi permasalahannya dengan orang lain, termasuk dengan sahabat baikku sendiri, Marsya. Aku selalu menyembunyikan hal pribadiku dari semua orang, apalagi kalau sudah menyangkut urusan hati.
Di awal semester enam aku bertemu dengan seseorang. Dia adalah seorang pemuda yang menyenangkan, namanya Harish Malik Ishaq. Dari namanya saja sudah terlihat bagaimana latar belakang keluarganya, pasti seorang muslim yang cukup taat. Awalnya kami hanya bersahabat, tapi sepertinya ia terus mendekatiku. Aku tahu ini salah. Kami berbeda. Tapi entah kenapa aku juga tak bisa menjauh darinya. Aku jatuh cinta padanya.
Semakin lama dia semakin membuatku jatuh cinta, hingga akhirnya dia memberanikan diri mengajakku menikah. Dia berkata kalau dia sangat mencintaiku, tapi dia tidak bisa meninggalkan keyakinannya. Sebenarnya aku juga berat untuk melakukan hal itu, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku tak mau kehilangan dia.
Akhirnya di akhir semester enam aku memutuskan untuk meninggalkan kehidupanku saat itu, meninggalkan kuliah, sahabat, bahkan keluargaku. Mereka tidak bisa menerima semua ini, apalagi ayah dan ibuku. Harish membawaku ke sebuah masjid. Disanalah dia membuatku mengatakan dua kalimat suci itu, dua kalimat syahadat. Setelah itu ia benar-benar menikahiku. Tak ada satupun keluarganya yang menghadiri pernikahan kami, apalagi keluargaku. Namun apa yang diberikannya untukku setelah itu? Bukannya membawaku ke rumahnya tapi dia malah membawaku ke tempat lokalisasi di perkampungan pesisir Pantai Salur. Dia menjualku pada seorang mucikari tak berhati bernama Renata. Dan malam itu, dia pergi dengan tawa lebar menciumi setumpuk uang yang baru saja di dapatkannya, meninggalkanku dalam sarang buaya. Malam itu juga hilang sudah rasa cintaku padanya, berganti dendam yang tak berkesudahan.
Satu tahun aku terpaksa bekerja pada mucikari itu hingga akhirnya aku menemukan celah untuk pergi. Aku tak mungkin kembali pada keluargaku, apalagi pada keyakinanku. Aku merasa tak pantas kembali ke jalan itu. Aku terjebak dalam takdir. Aku hanya ingin pergi sejauh mungkin dari tempat itu, tanpa tahu kemana tujuanku. Saat aku berniat pergi ke luar kota, di terminal bus aku melihat dua orang wanita sedang berjualan kue di bawah terik matahari. Salah satu dari mereka masih sangat muda, dan dia sedang hamil besar. Aku sempat tak menyangka pada apa yang kulihat, tapi aku yakin aku mengenal wanita itu. Dia sahabatku, Marsya.
Dua bulan aku berusaha membuntuti mereka. Aku tahu dimana tempat tinggalnya dan bagaimana kesehariannya sekarang. Hingga akhirnya aku tahu sesuatu. Sesuatu yang membuat luka lamaku kembali terbuka, bahkan lebih parah.
Pada suatu sore wanita paruh baya yang selalu bersama Marsya mengatakan sesuatu, “Seandainya saja kamu dulu tidak mengenal laki-laki tak bertanggungjawab itu, pasti hidup kamu sekarang tak menderita seperti ini!”
“Tidak apa-apa, Bi! Ini sudah takdirku. Aku tak pernah menyesal karena hadirnya anak ini. Aku merasa sangat beruntung bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu dengan adanya anak ini. Meskipun sulit tapi aku akan belajar memaafkan Harish, demi anak kami!”
Jleg... Jadi Harish yang melakukan hal itu pada Marsya? Rasa dendamku pada laki-laki itu kembali berkobar, semakin membara. Hatiku hanya dipenuhi rasa dendam hingga aku tak bisa lagi berpikir dengan sehat. Aku baru saja berniat keluar dari persembunyianku saat tiba-tiba Marsya merasa sangat kesakitan. Setelah itu mereka pergi dan aku mengikutinya.
Malam itu seorang bayi perempuan lahir ke dunia. Aku mendatangi bayi mungil berselimut merah muda itu di ruang bayi. Vannesia Ovy, sungguh nama yang sangat indah. Ketika aku melihat bibirnya, aku teringat senyum licik ayahnya yang berhati busuk itu saat ia berhasil menjual pengantinnya. Aku tidak bisa melupakan seringai jahat itu. Aku sangat dendam padanya. Tiba-tiba saja sebuah ide jahat melintas di pikiranku. Dia sudah mengirimku kesana, dan sekarang aku juga akan melakukan hal yang sama pada putrinya. Aku akan memisahkan putrinya dari keluarganya, seperti ia memisahkanku dari keluargaku. Aku akan membuat putrinya kehilangan keyakinan yang dibawanya sejak lahir, seperti yang ia lakukan padaku. Ya, aku akan melakukannya!
Aku mengambil bayi itu dari tempat tidurnya. Untuk sejenak aku masih merasa dendam pada makhluk kecil yang saat itu berada di gendonganku, tapi setelah aku melihat mata beningnya aku segera teringat akan sahabat baikku, Marsya. Dia sama sekali tak pernah punya salah padaku, aku yakin dia hanya korban. Lalu apakah apa yang kulakukan ini adil untuknya? Dia bahkan sangat berbahagia dengan hadirnya anak ini dalam kehidupannya. Apakah aku harus merenggut kebahagiaan itu? Tidak! Aku tidak bisa melakukannya. Aku segera mengembalikannya ke tempat tidurnya dan segera pergi dari ruangan itu. Namun ketika aku baru mencapai pintu, tiba-tiba terdengar suara alarm peringatan adanya bahaya. Asap segera datang dari ruangan sebelah diikuti api yang bergerak begitu cepat. Tanpa pikir panjang aku segera kembali dan kuambil bayi mungil itu. Aku berpacu dengan waktu, dikejar api yang berkobar hebat di belakangku. Entah bagaimana nasib bayi-bayi yang lain. Sangat mengerikan bila membayangkannya.
Aku berhasil membawa anak perempuan Marsya keluar. Kulihat sahabatku itu meronta dan berusaha lepas dari orang-orang yang menahannya. Dia tidak tahu kalau putrinya berhasil selamat dan ia ada padaku. Saat aku baru saja akan berjalan ke arahnya tiba-tiba seseorang memegangi lenganku. Dua orang laki-laki yang aku tahu persis bahwa mereka adalah anak buah Renata. Mereka berhasil memaksaku pergi bersama mereka dari tempat itu, kembali pada takdirku.
~&~
“Aku dan Bundamu jatuh di lubang yang sama. Kami jatuh cinta pada orang yang sama, orang yang menawarkan cinta palsu penuh tipu muslihat!”
“Dan dia adalah ayahku? Akhirnya setelah sekian lama Ibu memberitahuku sesuatu tentang Ayah, walaupun itu tak lebih dari kenyataan yang menyakitkan. Seharusnya aku tahu kalau aku tak perlu mencari tahu tentang Ayah, seharusnya dari dulu aku tahu kalau itu akan melukai Ibu. Maafkan putrimu, Bu! Maafkan aku!”
“Biarkan masa lalu tertinggal di belakang, Shifa! Tak ada lagi yang harus disesali. Hilangkan semua dendam. Bersihkan hatimu dari rasa ragu. Ikhlaskan apa yang sudah terjadi. Beranilah melepas apa yang kamu miliki saat ini karena sesungguhnya itu bukanlah milikmu. Kehidupanmu adalah anugerah dari-Nya. Setiap nafas yang kau hembuskan adalah pemberian-Nya!”
“Kenapa Tuhan memberikan kehidupan ini padaku, Bu? Kenapa Dia memberiku takdir yang seperti ini?”
“Karena Dia mencintaimu, Shifa! Dia ingin melihat bagaimana usahamu untuk memenangkan cinta-Nya!”
“Bagaimana mungkin Dia bisa mencintaiku kalau aku sendiri tak pernah bisa mendekati-Nya?”
“Kamu bisa membuat-Nya jatuh cinta padamu kalau kamu benar-benar mau berusaha untuk mendekat pada-Nya! Kita memang tidak bisa merubah masa lalu, nak! Tapi setidaknya kita bisa memperbaiki diri, mengubah masa depan. Tulis kisahmu sendiri, tentukan masa depanmu sendiri! Tekad dan keyakinanmulah yang bisa membuat takdirmu berubah. Kamu tidak ingin kisahmu berakhir seperti kisah Sang Putri, ‘kan?”
“Bu, apakah putri yang datang terlambat itu adalah aku?”
“Itu adalah kisahnya, kamu punya kisahmu sendiri. Takdirmu bergantung pada seberapa berani kamu mengambil keputusan. Kamu sudah besar, Shifa! Ibu yakin kamu bisa menyelesaikan kisahmu sendiri! Ibu yakin kamu bisa memahami poin terpenting dari kisah itu! Mungkin bukan sekarang, tapi suatu saat nanti kamu pasti paham! Hanya satu yang kamu butuhkan: sebuah keyakinan!”
“Apa Ibu juga menulis takdir Ibu sendiri?”
“Kita boleh saja punya rencana, Shifa! Tapi hasil akhirnya tetap Tuhan yang menentukan. Sebesar apapun keinginan Ibu untuk tetap berada disisimu, tapi ada saatnya kita harus berpisah. Dan saat itu datang, kamu harus bisa melepaskan Ibu! Biarkan Ibu pulang... dengan tenang!”
“Kenapa Ibu bicara seperti itu? Kenapa seakan-akan Ibu akan meninggalkanku selamanya? Tolong jangan minta aku melepaskan Ibu, aku tidak bisa melakukannya! Mintalah yang lain, apapun itu!”
“Ibu hanya punya satu permintaan, Shifa! Buat Dia jatuh cinta padamu!” ujar Ibu sambil menunjuk ke atas. Langit terlihat sepi diatas sana. Rembulan dan jutaan bintangnya bersembunyi di balik awan. Aku merengkuh Ibu ke dalam pelukanku. Perlahan tangan kanannya membelai rambut panjangku. Gerakannya sempat terhenti saat jemarinya menyangkut jepit rambut kupu-kupuku. Setelah itu aku merasakan tangannya terhempas ke bawah, membawa kupu-kupu itu terlepas dari rambutku.
“Bu? Ibu? Ibu bisa dengar Shifa ‘kan, Bu? Ibu kenapa diam? Ibu jawab Shifa, Bu! Ibu...”
Satu kupu-kupu terjatuh malam itu. Dia tak bisa lagi terbang dan mengepakkan sayap indahnya. Tapi ternyata aku salah. Dia bangkit lagi dengan sayap yang jauh lebih besar dan lebih indah. Sayap itu berkilauan seperti terbuat dari cahaya. Dia membentangkan sayapnya lebar-lebar dan segera terbang ke atas, kembali pulang. Dia datang pada Penciptanya. Dia datang menemui Tuhannya, suatu Dzat yang bersembunyi entah dimana, mungkin di balik awan-awan itu... []


Tidak ada komentar:
Posting Komentar