![]() |
| Sumber gambar: https://pxhere.com/id/photo/20004 |
PART 6
Aku terbangun lagi.
Entah sudah berapa kali aku beranjak dari tempat tidurku dan berjalan
kesana-kemari sambil mengibas-ngibaskan selembar kertas bekas kardus untuk
mengusir kegerahan. Peluh telah membasahi dahi, pelipis dan leherku. Baru saja
aku berpikir kalau neraka sudah berpindah ke kamarku saat aku mendengar suara
dentuman yang cukup keras. Suara apa itu? Kulirik jam dinding yang masih
terdiam manis di tempatnya. Baru jam sebelas kurang sepuluh menit. Kurebahkan
lagi tubuhku diatas ranjang, berusaha memejamkan mata.
Keesokan harinya...
Jumat, 14 Februari 2014
Diluar masih tampak gelap. Aku bisa mengintipnya dari jendela kaca yang tirainya sedikit tersingkap. Aku hampir menutup mataku lagi kalau saja mataku itu tidak melirik jam. Hah? Mana mungkin masih gelap begini tapi sudah jam setengah enam? Kali ini tirai jendela benar-benar kubuka lebar, benar-benar seperti jam empat pagi. Saat aku melangkahkan kaki ke luar rumah, aku baru menyadari kalau ada sesuatu yang jatuh menimpa rambutku. Seperti salju, tapi bukan. Sejak kapan salju bisa turun di Indonesia? Kutengadahkan telapak tanganku dan butiran-butiran halus –tapi sebenarnya kasar- itu pun jatuh di atasnya. Ini bukan salju, tapi abu.
~&~
Mungkin orang-orang tak akan menyadari bahwa ini adalah aku, gadis bermasker, berkacamata hitam, berjaket rapat, dan berpayung merah motif bunga-bunga yang sedang berdiri sendirian di pinggir jalan raya yang nampak jauh lebih lengang daripada biasanya. Sudah lebih dari tiga puluh menit aku berdiri disini, namun bus yang kutunggu tak kunjung datang. Sudah dapat dipastikan kalau aku akan terlambat sampai ke sekolah. Mungkin sudah takdirnya namaku harus lagi-lagi tertulis dalam daftar hitam siswa pelanggar aturan.
Aku masih berdiri sendirian disini saat kulihat sebuah bus kecil perlahan mendekat ke arahku. Biasanya, aku tak pernah sendirian saat menunggu bus. Selalu bersama-sama dengan teman-teman dari sekolah lain yang kebetulan arahnya sama. Tapi entah kenapa mereka seakan menghilang pagi ini. Sebenarnya Ibu sudah melarangku berangkat sekolah, namun aku bersikeras ingin berangkat karena ada hal penting yang harus kulakukan.
Bus yang kutumpangi berjalan dengan lambat, bahkan sangat lambat. Tak ada seorangpun yang bisa disalahkan dalam kondisi seperti ini. Jarak pandang yang terbatas memang berbahaya jika tetap memaksa untuk berkendara dalam kecepatan tinggi. Apalagi ditambah Pak Sopir yang harus berulang kali berhenti untuk sekadar mengguyur kaca depan dengan air. Perjalanan yang biasanya hanya memakan waktu setengah jam kini mencapai dua kalinya.
Sekolah tampak sepi. Hanya ada beberapa siswa, guru, dan karyawan –yang kelewat rajin- sesekali terlihat. Seseorang perlahan mendekat ke arahku. Aku masih bisa mengenali sosok di balik masker itu. Dia adalah Pak Rasyid, guru BK yang hampir setiap pagi selalu memulai harinya dengan memarahi dan menasihati murid-murid yang hobi terlambat sepertiku.
“Kamu sekarang pulang saja! Sekolah diliburkan sampai hari selasa!” tuturnya. Setelah itu ia berlalu menuju papan pengumuman untuk menempelkan kertas berisi pemberitahuan penghentian kegiatan belajar mengajar untuk sementara waktu.
“Jadi saya nggak dihukum, Pak?”
“Kamu mau minta hukuman apa? Memangnya kamu mau kalau saya suruh membersihkan semua abu ini?”
“Ya nggak lah, Pak! Kapan selesainya? Sekarang saja abunya masih terus turun, entah sampai kapan!”
Akhirnya kutinggalkan Pak Rasyid seorang diri. Sejujurnya aku belum ingin pulang saat ini. Jadi kuputuskan untuk melangkahkan kakiku ke salah satu taman di sudut sekolah. Entah kekuatan apa yang mendorongku ke tempat itu. Dan setelah aku melihat dia ada disana, aku tahu kalau kekuatan itu bernama cinta.
Aku memang tak salah lihat. Itu benar-benar dirinya. Dia yang duduk di bangku taman dengan seikat mawar merah di tangannya. Mawar merah yang tak lagi merah, tapi kelabu. Senada dengan warna rambut dan seragamnya yang terlapisi butiran-butiran abu. Aku heran kengapa dirinya tidak menganakan masker, kacamata, atau pelindung yang lainnya. Bukankah abu vulkanik akan sangat berbahaya bila terhirup atau mengenai mata?
Dia tampak terkejut dan kebingungan saat aku tiba-tiba duduk di sampingnya dan berbagi payung dengannya.
“Shinta?”
“Bukan! Ini bukan Shinta, tapi Shifa! Shifa Salfadhia!”
“Oh, maaf Dhi! Aku pikir kamu...”
“Siapa Shinta?”
“Dia orang yang sedang kutunggu!”
“Maksudku statusnya! Apa dia... temanmu?”
“Lebih dari itu, Dhi! Dia segalanya bagiku. Kamu lihat ini? Mawar dan coklat di hari valentine, menurutmu untuk apa semua ini?”
“Jadi... dia pacarmu?” tanyaku tertahan.
“Dia teman sekelasku. Dia cantik, lemah lembut, dan sebenarya pendiam. Memang tak ada seorang pun yang tahu hubungan kami selain aku, dia, dan Bunda. Kami tak pernah mengumbar kedekatan kami di sekolah maupun di media sosial, tak pernah. Pagi ini seharusnya dia ada disini, dia sudah berjanji padaku. Sudah berkali-kali aku mencoba menghubunginya, tapi tak ada jawaban. Entah apa yang terjadi dengannya, tapi kuharap dia baik-baik saja. Kamu mungkin bingung kenapa aku tak memakai masker atau kacamata. Itu karena aku takut kalau dia tidak mengenaliku. Aku takut dia pergi karena menganggapku tak ada disini,” jelasnya panjang lebar.
“Apa kamu juga takut kalau seandainya dia tidak datang karena dia tidak mencintaimu lagi?”
“Jangan sembarangan bicara, Dhi! Kamu tidak tahu apa-apa tentang kami! Kami bahkan sudah dekat sejak kelas satu SMP, dan itu akan terus berlanjut karena tak ada seorangpun yang mampu menghentikannya!”. Nada bicaranya sedikit meninggi.
“Kenapa kamu marah? Aku ‘kan cuma bilang seandainya! Kalau Shinta-mu itu meninggalkanmu demi orang lain dan ada seorang gadis yang mengharapkan cintamu, apakah kamu akan melupakan Shinta dan berpaling kepada gadis itu?”
“Itu tidak mungkin!”
“Bagaimana kalau gadis itu adalah aku?”
“Ini hanya seandainya, ‘kan?”
Aku tercekat. Bagaimana mungkin dia belum menyadari bahwa aku menaruh rasa padanya?
“Ya, hanya seandainya!” ujarku membohongi hatiku sendiri.
Tak jauh dari kami terdapat dua rumpun bunga yang berlainan warna, kuning dan merah. Dia memetik bunga yang berwarna kuning dan mengulurkannya padaku. Dengan sekuat tenaga aku berusaha agar tanganku tidak bergetar saat menerimanya.
“Sejak kedekatanmu dengan Bunda satu setengah tahun belakangan, aku mulai sadar bahwa aku harus belajar untuk menerima keadaan bila suatu hari nanti Vannes benar-benar akan kembali. Aku akan belajar berbagi Bunda denganmu. Kuning memang tanda persahabatan, tapi aku ingin kita bisa menjadi lebih dari sekadar sahabat. Aku ingin kita menjadi saudara!” pintanya dengan tulus.
Apakah hanya saudara? Pantaskah bila aku mengharap lebih dari itu? Mungkin aku hanyalah seorang adik yang tak tahu diri. Atau bahkan lebih buruk dari itu.
“Ya, mulai sekarang aku adalah adikmu. Dan sebagai kakak, kamu harus berjanji kalau kamu akan selalu melindungiku!” ucapku getir.
“Aku akan jadi kakak yang baik untukmu!” ujarnya sambil menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingkingku. Aku bisa merasakan kantung air mataku yang hampir penuh. Aku tak akan membiarkan air mataku meleleh di hadapannya.
“Kamu masih mau disini, ‘kan? Aku pulang duluan, ya!”
Aku langsung berdiri dan beranjak meninggalkannya. Ucapan hati-hati darinya hanya kubalas dengan lambaian tangan. Aku tak mampu berkata-kata lagi. Rama, jika kamu bisa berbagi Bunda denganku, kenapa kamu tidak bisa berbagi hati juga?
Hingga dua hari setelah itu abu tebal akibat letusan Gunung Kelud masih menyelimuti kotaku yang padahal letaknya ribuan kilometer dari gunung itu. Hal itu membuat perekonomian, pendidikan, dan kegiatan lainnya lumpuh seketika. Kotaku tak ubahnya seperti kota mati. Begitu pula dengan hatiku yang retak, pecah, dan akhirnya perlahan mati.
~&~
Rabu, 19 Februari 2014, hari pertama masuk sekolah pasca hujan abu vulkanik.
Warna kelabu masih menghampar dimana-mana. Pohon dan rerumputan tak lagi hijau. Taman bunga tak lagi ceria dengan warna-warninya. Semua ada di antara hitam dan putih, antara benar dan salah. Hanya terpisahkan oleh lapisan yang begitu tipis, setipis waktu antara nafas dengan nafas.
Para gadis saling bergerombol di sepanjang koridor yang harus kulewati untuk sampai ke kelas. Beberapa di antara mereka membicarakan tentang kemungkinan ditiadakannya kegiatan belajar mengajar hari ini karena kami harus bekerja bakti membersihkan kelas. Sebagian yang lain membicarakan berita dan kabar yang masih berkaitan dengan hujan abu tempo hari. Gosip memang cepat menyebar. Tapi sayangnya ini bukan gosip, ini kenyataan. Entah apa yang harus kurasakan, entah senang ataukah sedih. Namun jika aku merasa senang itu berarti kadar keegoisanku sudah melebihi batas wajar. Dan setelah itu, aku akan di cap sebagai gadis tak punya hati, tak berperi kemanusiaan.
Suara-suara dalam kerumunan itu belum juga berhenti saat aku lewat didekat mereka. Tak ada sapaan atau bahkan hanya sekadar senyuman di antara kami. Semua larut dalam pembicaraan masing-masing. Aku sudah mendengar tentang semua itu. Tentang apa yang terjadi pada Rama dan Shinta.
Rama adalah sosok yang populer, begitu pula dengan Shinta. Dia anak dance. Hanya saja aku yang terlalu kuper sehingga aku kurang mengenalnya. Mereka memang pasangan yang sangat serasi, bahkan sempurna. Akan tetapi tak ada yang mengetahui bahwa mereka telah memiliki ikatan khusus sejak mereka masih berseragam putih biru. Kalau dihitung mungkin hampir enam tahun. Semua baru terungkap saat Shinta sudah tak ada lagi disini, saat Shinta benar-benar sudah pergi.
“Kasihan, ya? Padahal ‘kan mereka cocok banget. Namanya aja Rama dan Shinta!” ujar salah seorang gadis pada temannya.
“Aku juga mau kok kalau seandainya diminta nggantiin posisinya!” sambung gadis lainnya diikuti sorakan dari teman-temannya.
Aku tak bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan Rama, saat takdir memaksanya berpisah dengan Shinta tanpa ada kata selamat tinggal yang terucap. Shinta yang sudah dianggapnya sebagai bagian dari takdir hidupnya. Bukankah itu menyakitkan?
~&~
Rama menggenggam erat tanganku dan mengajakku berjalan di sela-sela gundukan tanah. Kami berhenti di sisi sebuah gundukan tanah yang masih cukup basah. Seikat mawar penuh abu yang sudah layu terletak di atasnya bersama bunga-bunga lainnya. Aku tahu itu adalah mawar yang ada di genggaman Rama jumat lalu.
Sinar matahari memang tidak terlalu terik, tapi pohon kamboja yang menaungi kami membuat tempat ini menjadi semakin teduh. Rama meletakkan setangkai mawar merah segar di atas gundukan tanah itu. Ia meraba nisan yang ada di atasnya dengan perlahan. Nama Liliana Adera Prashinta terukir indah dalam batu nisan itu.
“Shinta, kau tahu siapa yang kuajak kesini? Namanya Fadhia. Dia adikku, yang harusnya akan menjadi adikmu juga. Tapi kamu mungkin terlalu lelah untuk menunggu mimpi bahagia itu menjadi kenyataan, jadi kamu meninggalkanku untuk menemui kebahagiaan yang baru?”
Butiran kristal bening menggenangi sudut matanya. Aku benar-benar sangat terkejut melihat seorang Rama bisa menitikkan air mata.
“Kenapa kamu tidak datang hari itu? Apa kamu tahu kalau aku sudah menunggumu berjam-jam? Kenapa kamu malah pergi meninggalkanku sendirian disini, Shinta? Kenapa?”
Butiran-butiran itu mulai menyatu dan mengalir. Aku memberanikan diri mengusapnya sesaat sebelum dua tetes air mata cinta itu menetes ke permukaan tanah.
“Sebelumnya aku mau minta maaf kalau aku lancang! Tapi air mata kesedihan tidak boleh sampai jatuh menetesi makam Shinta. Nanti dia bisa kesakitan!”
“Kamu percaya hal seperti itu?”
“Tentu saja. Setiap makhluk yang bernyawa pasti akan menemui kematiannya. Dan saat hari itu datang, aku yakin satu-satunya hal yang mereka inginkan hanyalah bisa pergi dengan tenang. Tangisanmu hanya akan memberatkan langkahnya!”
“Kamu benar. Aku hanya bisa menyusahkannya. Bahkan saat dia telah tiada pun aku masih tetap menyusahkannya. Aku tak bisa melindunginya saat kecelakaan itu terjadi. Aku juga tak bisa menemaninya di detik-detik terakhir sebelum malaikat datang menjemputnya. Aku ingin menebus waktu-waktu itu dengan selalu berada di sisinya. Kemanapun dia pergi, aku akan mengikutinya. Kalaupun ia pergi lebih dahulu, aku akan menyusulnya.”
“Kalau begitu bongkar saja makam Shinta, kamu masuk dan temui dia! Dengan senang hati aku akan membantumu menimbun kalian dari sini, jadi kalian bisa bersama selamanya di dalam sana. Dan kupastikan aku akan melakukannya dengan tanganku sendiri!”
“Kamu ingin membunuhku?” tanyanya tak percaya.
“Kenapa tidak? Bukankah kamu yang menginginkan hal itu? Bukankah kamu ingin menyusulnya?”
“Kalau begitu, ayo lakukan hal itu!” ucapnya sambil mengais-ngais gundukan tanah basah di depannya dengan kedua tangannya.
Plakkk. Dia tidak berhenti mengais meskipun pipinya memerah akibat telapak tanganku yang mendarat terlalu keras disana.
“Kamu sudah gila, Rama! Kamu gila!”
“Aku memang sudah gila, lalu kenapa?”
“Aku tidak akan membantu orang gila untuk mendekat pada ajalnya. Gali saja lubang kuburmu sendiri dan tutup lubang itu sendiri! Jangan sekalipun kamu memintaku untuk melakukannya! Aku pergi!” ujarku sambil berdiri dan beranjak meninggalkannya.
“Pergilah daripada kamu bisa jadi gila sepertiku kalau kamu tetap disini!” teriaknya keras.
“Dan sebaiknya kamu diam! Teriakanmu itu bisa membuat seluruh penghuni makam ini bangun dan beramai-ramai memukulimu!” teriakku tak kalah keras.
Aku mencintai Rama tanpa mengharap balas bahwa ia juga mencintaiku. Kalau bersama Shinta adalah kebahagiaan baginya, aku rela melepaskannya. Tapi mana mungkin aku membiarkannya mati? Bukannya aku cemburu kalau Rama bersedia mengorbankan nyawanya demi Shinta, tapi menurutku itu tidak realistis. Aku yakin meskipun tubuh mereka melebur bersama di dalam tanah sana, tapi jiwa mereka belum tentu bisa bersatu. Aku memang bodoh, tak tahu agama. Tapi aku percaya bahwa ada kehidupan lain setelah mati. Aku hanya tak ingin kematian Rama sia-sia belaka kerena dia tidak mendapatkan apa yang diinginkannya. Hanya itu, tak lebih.
~&~
Rama...
Sudah tiga jam lebih aku menunggunya. Aku bukan lagi seorang Rama yang menunggu Shinta. Aku lebih mirip Snow Man yang sedang menanti Snow White-nya. Tapi ini bukan salju, melainkan abu. Dia tidak pernah benar-benar datang. Yang datang kepadaku hanyalah berita kematiannya.
Kini aku hanyalah boneka salju yang mencair karena tidak bisa membangunkan Putri Salju yang tertidur dengan begitu pulas. Dan Putri Salju tidak akan pernah bangun lagi karena menurut versi dongeng yang kudengar selama ini, Putri Salju hanya akan bangun dengan ciuman dari Sang Pangeran, bukan dengan air es dari bola-bola salju yang meleleh sepertiku. Aku sungguh telah leleh, mencair.
Aku bukannya tidak tahu bahwa seseorang berusaha mengembalikan bulir-bulir air es menjadi bola salju, lalu menjadi boneka salju, hingga Snow Man bisa kembali hidup. Tapi kurasa dia takkan berhasil karena Snow Man tak ingin hidup tanpa Snow White. Dialah Dhia. Bukannya aku tidak tahu kalau ia telah menyukaiku selama lebih dari satu setengah tahun, sejak ia masih awal-awal kelas satu. Maeskipun begitu tetap saja aku tak bisa dan tak akan pernah bisa membagi hatiku dengannya. Mungkin karena dalam dongeng yang pernah kudengar hanya ada Rama-Shinta bukan Rama-Shifa. []


Tidak ada komentar:
Posting Komentar