Breathing: Ajari Aku Jatuh Cinta

Sumber gambar: https://pxhere.com/id/photo/640817

PART 9


“Darimana kalian semalam?” tanya Bunda segera setelah kami memasuki rumah.

“Bunda, apa Bunda tidak menemukan suratku?”

“Bunda tahu kamu kemana, Van! Tapi Rama tidak bilang apapun pada Bunda!”

“Ponselnya ketinggalan di kamar, Bun! Dia menemaniku semalaman. Dia menjagaku!”

“Kalian semalam tidur dimana?”

“Aku nggak sengaja ketiduran di pinggir pantai!”

“Apa? Lalu bagaimana dengan Rama?”

“Dia...”

“Tolong diam sebentar, Van! Dari tadi kamu yang bicara. Biarkan Bunda nanya sama Rama!”

“Bunda nggak perlu khawatir! Aku masih ingat kalau dia itu adikku!” ujar Rama begitu saja sambil berlalu. Dia naik ke kamarnya.

“Rama!”

“Sudahlah, Bun! Dia mungkin kecapekan. Semalaman dia nggak tidur karena menjagaku. Aku permisi ke kamar ya, Bun!”

“Tunggu dulu, Van! Bagaimana dengan keadaan ibumu?”

Aku terdiam. Sebenarnya aku bingung mau menjawab apa.

“Aku tidak tahu, Bun! Ibu tidak ada disana. Sepertinya dia benar-benar membiarkanku hidup dengan Bunda dan dia pergi entah kemana. Itu sebabnya aku membawa semua barang-barangku kesini. Aku tidak akan pernah kembali kesana lagi. Ibuku tidak mungkin ada disana.”

Aku menyeret sebuah tas besar yang penuh berisi pakaian dan bukuku. Tangan kiriku menenteng sepasang sepatu usang yang dulu kutinggal disana. Tanganku yang tempo hari terkilir sekarang sudah terasa lebih baik setelah Bibi Rania mengurutnya. Sesampainya aku di kamar aku masih bisa melihat surat dari Ibu yang kini sudah kering. Kuambil penaku dan kutebalkan tulisan tangan Ibu yang memudar. Sebenarnya kamu pergi kemana, Bu?

Lamat-lamat aku mendengar suara Bunda yang memanggil-manggil Rama. Kubuka sedikit pintu kamarku. Aku bisa melihat Bunda mengetuk pintu kamar Rama.

“Ram, Bunda perlu bicara hal penting sama kamu! Biarkan Bunda masuk!”

Tak lama kemudian Rama keluar. “Ada apa, Bun?”

“Jangan disini! Di kamar kamu saja!”

Mereka berdua lalu masuk ke kamar Rama. Wajah Bunda terlihat seperti merahasiakan sesuatu. Aku keluar dari kamarku. Diam-diam aku berdiri di depan pintu kamar Rama dan menguping pembicaraan mereka.

“Apa yang kamu lakukan pada Vannes semalam?”

“Bunda jangan mikir yang enggak-enggak, dong! Aku cuma nemenin dia. Memangnya salah kalau seorang kakak ingin melindungi adiknya?”

“Mata kamu mengatakan hal lain, Rama! Kamu nggak akan pernah bisa bohong sama Bunda!”

“Tapi memang semalam kami cuma mencari ibunya. Aku masih tahu batas, Bun! Walaupun kami pergi ke tempat seperti itu bukan berarti kami melakukan hal yang sama!”

“Kalau untuk hal itu Bunda percaya sama kamu! Tapi kamu harus ingat satu hal, Rama! Dia itu menganggapmu sebagai saudaranya. Kamu itu anak yang cerdas. Kamu pasti tahu kalau dari dulu Vannes menyimpan perasaan yang lain sama kamu!”

“Aku tahu, Bun! Setelah dia tahu kalau dia itu sebenarnya adalah anak kandung Bunda, perlahan dia akan membunuh perasaan itu. Dia tidak mungkin jatuh cinta pada kakaknya sendiri!”

Jleg... Jadi Rama sudah tahu kalau selama ini aku diam-diam aku mencintainya?

“Mata kamu pagi ini berbeda dari biasanya, Rama! Bunda belum pernah melihat binar mata kamu yang seperti tadi sejak kematian Shinta minggu lalu.”

“Bunda kenapa bawa-bawa nama Shinta, sih?”

“Karena Bunda bisa melihat saat ini kamu sudah bisa merasakan perasaan seperti saat Shinta masih ada! Kamu jujur sama Bunda! Kamu suka sama Vannes, ‘kan? Sejak kapan? Sejak tadi malam?”

“Cukup, Bun! Mana mungkin aku jatuh cinta pada adikku sendiri?”

“Mata kamu nggak bisa bohong, Rama! Kamu sebenarnya sadar ‘kan kalau Vannes itu bukan adikmu? Makanya perasaan itu bisa tumbuh!”

Hah? Kenapa Bunda bilang kalau aku bukan adiknya Rama? Apa maksudnya?

“Vannes, Vannes, Vannes terus! Kenapa Bunda selalu menyebut nama itu? Kenapa bukan Fadhia? Bukankah sejak dulu kita memanggilnya dengan nama Fadhia? Apa karena untuk menegaskan kalau anak kandung Bunda sudah kembali dan Bunda akan melupakanku, anak yang Bunda pungut tujuh belas tahun yang lalu?”

“Kenapa kamu mengungkit-ungkit statusmu? Kamu sudah Bunda anggap sebagai putra Bunda sendiri. Oleh karena itu kamu nggak bisa semudah itu jatuh cinta sama Vannes! Itu bukan hal yang pantas, Rama!”

“Dhia. Namanya Fadhia, bukan Vannes! Lalu  kenapa kalau aku benar-benar jatuh cinta padanya? Bukankah diantara kami tidak ada ikatan darah setetespun? Apa Bunda akan mengusirku karena aku jatuh cinta pada putri kandung Bunda?”

Plakkk... Bunda menampar pipi Rama dengan keras.

“Dia itu Vannes, dan dia adalah adikmu! Titik!”

Setelah mengatakan hal itu Bunda segera keluar. Untung saja aku sempat bersembunyi dibalik pintu. Bersamaan dengan Bunda masuk ke kamarnya, Rama menutup pintunya. Baik Rama maupun Bunda, keduanya tidak melihatku ada disini. Apa benar Rama bukanlah anak kandung Bunda? Apa benar kalau Rama jatuh cinta padaku?

Hari ini hari sabtu. Sekolahku menetapkan hari sabtu dan minggu sebagai hari libur dari kegiatan belajar mengajar. Setelah kejadian beruntun yang menguras emosi sejak beberapa hari terakhir hingga tadi pagi, seharian ini aku bersikap seolah tak ada apa-apa. Tetap menjadi seorang Vannes –atau Fadhia, atau bisa juga Shifa- yang baru bertemu keluarga barunya dan pura-pura tidak mengetahui kalau Bundanya mencurigai ‘putranya’ jatuh cinta pada adiknya sendiri. Bunda dan Rama juga tidak mengungkit kejadian tadi pagi. Mereka merahasiakan hal itu dariku.

Senin pagi, di meja makan...

“Mulai pagi ini dan seterusnya mendingan kamu barengan sama Rama aja berangkat sekolahnya!” usul Bunda padaku.

“Ya nggak bisa lah, Bun! Rama ‘kan fans-nya di sekolah banyak. Apa kata mereka kalau seandainya meraka lihat aku boncengan motor sama Rama? Bisa-bisa mereka ngira aku pacaran sama Rama. Kalau udah gitu aku bisa di-bully sama mereka!” ujarku berseloroh, tapi cukup untuk membuat mereka bungkam beberapa saat.

“Kalau begitu biar Rama nemenin kamu naik bus! Bunda nggak mau kamu sendirian di tempat umum!”

“Nggak bisa gitu dong, Bun!” protes Rama.

“Aku bukan anak kecil lagi, Bunda! Lagian dari dulu aku sudah terbiasa berangkat sekolah sendiri. Aku nggak butuh bodyguard!”

“Siapa juga yang mau jadi bodyguard kamu?” timpal Rama sewot.

“Ya sudahlah, terserah kalian! Sebagai sepasang saudara kalian pasti tahu tugas kalian masing-masing!”

Bunda menekankan nada bicaranya saat mengucap kata saudara, mungkin ia sengaja memperingatkan Rama secara tidak langsung. Dan akhirnya kami tetap berangkat sendiri-sendiri, tapi sepeda motor Rama selalu tak berada jauh dari bus yang kutumpangi. Sebenarnya agak berlebihan, tapi aku tahu itu cara dia bertanggungjawab dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang ‘kakak’.

~&~

Sudah satu minggu lebih sejak Shinta meninggal, tapi kisah cinta tersembunyi Rama-Shinta masih menjadi trendinng topic diantara kebanyakan temanku. Tak jarang beberapa dari mereka bahkan rela memata-matai Rama, mengikutinya kemanapun dia pergi. Bukannya aku cemburu, tapi hal itu juga berkaitan denganku. Bagaimana kalau mereka tahu kedekatanku dengan Rama dan menyebarkan gossip yang tidak-tidak? Maka dari itu aku berusaha menjauhi Rama.

Seperti sore itu, setelah bel pulang sekolah dibunyikan. Saat itu aku baru berjalan berdua dengan Irvana menuju ‘markas besar’ kami, salah satu titik di pojok taman belakang sekolah. Tiba-tiba Rama datang dan meyejajari langkahku.

“Dhi, aku mau ngomong sesuatu sama kamu! Penting!”

“Maaf ya, aku nggak bisa, aku harus pergi! Kamu nggak ada niat mau ngikutian aku, ‘kan?”

“Dhi, dengarkan aku dulu! Kenapa kamu tiba-tiba menjauh dariku, sih? Ada apa?”

Aku menyeretnya menjauh dari Irvana. Setelah kurasa cukup jauh aku membisikkan sesuatu padanya.

“Ingat, Ram! Ini di sekolah! Kamu nggak tahu kalau ada banyak paparazzy yang setiap saat ngikutin kamu? Kamu mau mereka tahu hubungan kita?”

“Tapi aku harus jagain kamu,  Dhi! Aku sudah terikat dengan janjiku!”

“Janji kamu itu berlebihan, nggak masuk akal! Dulu sebelum kamu tahu kalau kita bersaudara, apa pernah kamu seperhatian ini sama aku? Nggak, ‘kan? Dan apa yang terjadi padaku? Aku baik-baik saja, ‘kan? Aku bukan anak kecil lagi, aku bisa jaga diri! Mendingan kamu pulang duluan, aku ada urusan!”

“Nggak bisa gitu dong, Dhi! Apa kata Bunda kalau aku pulang tanpa kamu?”

“Bunda pasti mengerti kalau aku nggak bisa setiap saat kamu awasi! Aku punya kehidupan pribadi yang kamu nggak berhak tahu, Ram! Kamu kenapa jadi over protective begini, sih? Sebenarnya kamu itu ingin melindungiku karena aku adalah adikmu, atau kamu ingin mendekatiku karena kamu mulai suka sama aku?”

“Kamu ngomong apaan, sih? Mana mungkin aku suka sama adikku sendiri?”

Aku semakin mendekatkan tubuhku padanya. Saking dekatnya hingga aku bisa merasakan deru nafasnya.

“Sebenarnya kamu anggap aku apa? Adikmu? Atau orang lain?” bisikku tajam.

Tanpa menunggu jawabannya aku segera berbalik badan, menghampiri Irvana yang sempat tertegun tak menyangka, dan segera pergi meninggalkan Rama. Sesampainya di ‘markas’ kami Irvana langsung memburuku dengan banyak pertanyaan.

“Shifa, kamu harus jujur sama aku! Sebenarnya ada hubungan apa diantara kalian berdua? Dan apa yang tadi ingin kamu lakukan padanya?”

“Yang jelas aku nggak ada niat ingin menciumnya, Irva! Aku masih ingat batasan-batasan yang sering kamu katakan, ya meskipun beberapa sudah aku langgar! Nggak boleh pegangan tangan, nggak boleh  berduaan, nggak boleh pandang-pandangan, nggak boleh pacaran, aku masih ingat itu semua, Irva! Kalau tentang hubungan kami, sebenarnya aku ingin menceritakan banyak hal sama kamu. Tapi ini rahasia, ya! Jangan bilang siapa-siapa, termasuk saudara kembarmu itu!”

“Kamu bisa mempercayaiku!”

Setelah menghela napas sebentar aku mulai berkata, “Sebenarnya kami itu... saudara!”

“Maksud kamu, dia sudah menganggapmu sebagai saudaranya?”

“Bukan, tapi kami memang benar-benar bersaudara! Ibuku ternyata bukan Ibuku, Ir! Ibu kandungku ternyata Bunda Marya, Bundanya Rama! Dan aku sudah tidak tinggal di rumahku yang dulu, aku sekarang tinggal bersama Rama dan Bundanya.”

“Bagaimana mungkin?” tanya Irvana tak percaya.

“Ceritanya panjang, Ir! Awalnya aku juga nggak percaya, pikiranku jadi kacau sampai-sampai aku bilang sama Ibu kalau aku sangat membencinya. Tapi saat aku sadar dan ingin minta maaf sama Ibu, dia udah nggak ada disana. Ibuku pergi dari rumah itu dan aku nggak tahu harus mencarinya kemana. Aku bingung, Ir!”

Irva tertegun mendengar apa yang baru saja kukatakan. Dia mengambil kedua tanganku, menggenggamnya erat. “Aku tahu itu pasti hal yang sangat sulit buat kamu! Aku sendiri juga nggak nyangka kalau hidupmu serumit itu, Shifa! Kamu yang sabar, ya! Kamu harus yakin kalau kamu nggak sendiri! Tuhan pasti akan menolongmu! Dia tidak pernah tidur, Shifa!”

“Justru itu masalahnya, Ir! Kamu pernah bilang kalau percaya pada Tuhan bisa membuat kita tegar dalam menghadapi masalah. Kamu juga pernah bilang kalau kita dekat dengan-Nya kita akan bisa melampaui masalah walau seberat apapun. Tapi bagaimana aku bisa mendekat pada-Nya kalau aku punya dua jalan yang berbeda? Aku terlahir sebagai seorang muslim, tumbuh dengan menjadikan Islam hanya sebagai status, dan sekarang aku harus tinggal dalam keluarga nasrani yang taat. Aku harus bagaimana, Irva? Aku butuh Tuhan, aku nggak bisa menyelesaikan masalahku tanpa Dia, tapi aku nggak tahu bagaimana caranya agar aku bisa sampai pada-Nya!”

“Ini sulit, Shifa! Jujur, kalau aku ada di posisi kamu aku pasti juga akan bingung. Sejatinya Tuhan itu hanya ada satu, tapi entah kenapa manusia memperrumit segalanya dengan menciptakan banyak cara untuk bisa berhubungan dengan-Nya. Aku tidak menyarankan ini atau itu, tapi kamu harus memutuskan salah satu, Shifa! Ikutilah apa kata hatimu, karena hati tidak akan bisa berbohong!”

Untuk beberapa saat aku terdiam, berpikir dan menimbang. “Aku sudah mengambil keputusan. Aku akan mengikuti apa yang datang padaku lebih dulu, Irva! Aku tidak akan melepas kata Islam dari statusku. Tapi sejak kecil aku hanya tahu kalau Islam adalah agamaku tanpa pernah mengamalkan ajarannya. Aku tidak tahu bagaimana caranya sholat, puasa, dan yang lainnya. Kalau saja kamu tahu bahwa setiap kali aku mendapat masalah aku sering berpikir kalau Tuhan itu tidak ada, itu karena aku tidak bisa dekat dengan-Nya, Ir! Aku tidak bisa merasakan bagaimana rasanya bisa dekat dengan Tuhan! Aku tidak bisa sepertimu yang bahkan bisa mengabaikan perasaanmu demi cintamu pada-Nya! Aku tidak tahu bagaimana caranya mengenal Tuhanku, Irva!”

Gadis mungil itu merengkuhku dalam pelukannya. Dia membelai rambutku perlahan lalu berkata, “Kalau kamu mau aku bisa membantumu mengenal-Nya! Aku bisa membantumu belajar bagaimana cara untuk mendekati-Nya! Bahkan aku bisa membantumu agar kamu bisa jatuh cinta pada-Nya! Tapi itu kalau kamu mau, Shifa! Hanya kamu yang mengerti dirimu sendiri. Kalau kamu sendiri nggak mau, maka siapapun nggak akan bisa membantumu sampai pada cinta-Nya!”

Aku menatap matanya dalam-dalam. “Kamu mau mengajariku sholat, mengaji, berdo’a, dan yang lainnya? Tapi aku sama sekali belum pernah melakukannya, Irva! Aku belum pernah mencobanya!”

“Kalau begitu kita akan belajar dari nol, mulai dari rukun islam yang pertama! Bagaimana?”

“Ya, aku mau! Ajari aku jatuh cinta, Irvana! Ajari aku jatuh cinta pada-Nya!”

Sore itu, malaikatku menuntunku mengucap dua kalimat sakral yang bahkan sudah kuhafal sejak SD. Tapi sore itu rasanya berbeda, seakan aku memulai langkah baru untuk menemui apa yang dia bilang ‘kekasih abadi’.

~&~

Jam tangan Irvana sudah menunjukkan pukul empat. Irva yang sudah mengendarai motor sendiri memberiku tumpangan sampai ke depan pintu gerbang. Aku sempat kaget dan tidak habis pikir saat melihat Rama ada disana. Apa dia menungguku?

“Ir, kamu duluan aja! Hati-hati, ya”

“Ya udah, Assalamu’alaimum!”

“Wa’alaikumsalam!”

Aku diam berdiri seolah-olah tak melihat kalau Rama ada disana.

“Dhi! Kenapa kamu hari ini jadi aneh, sih?”

Akhirnya dia yang mengajakku berbicara terlebih dahulu. Tak kusangka dia berani-beraninya mendekat ke arahku, berdiri tepat di hadapanku. Dia semakin mendekat dan membuat kakiku spontan selangkah mundur hingga tubuhku sempurna menempel pagar sekolah yang begitu tinggi. Dia semakin mendekat, sangat dekat, seperti yang tadi kulakukan padanya. Dia membuat tangan kanannya sebagai tumpuan, meletakkannya di pagar, tepat di samping kepalaku. Sementara itu tangan kirinya menyentuh daguku, membuat kepalaku mendongak hingga aku bisa menatap wajahnya dengan sangat jelas.

“Kamu mau apa?”

“Aku harus mengatakan sesuatu padamu, Dhi!”

“Dengar, Rama! Apapun yang ingin kamu katakan, tolong jangan katakan sekarang! Ingat, Ram! Kurang dari dua bulan lagi kamu harus mengikuti ujian nasional. Aku nggak mau konsentrasimu pecah karena aku. Kamu harus fokus belajar, demi Bunda! Lupakan apa yang terjadi beberapa hari terakhir ini!”

“Jadi, setelah aku selesai ujian kamu akan mendengarkanku?”

“Dan setelah aku selesai ujian kenaikan kelas juga! Aku akan mendengarkan apapun yang ingin kamu katakan, apapun itu. Sekarang, kamu mau pergi dari hadapanku atau aku akan teriak?”

“Tapi kamu pulang bareng aku, ya! Ini untuk yang terakhir kalinya. Besok aku nggak akan terus-terusan ngawasin kamu lagi! Aku janji!”

Aku tak menjawab. Aku hanya mengambil helm yang sudah sejak tadi pagi dia siapkan untukku dan memakainya.

~&~

Seorang Rama tidak akan pernah ingkar janji, dan aku percaya hal itu. Sekarang sikap Rama sudah kembali normal, sama seperti saat dia belum tahu kalau aku adalah adiknya. Suasana di rumah juga sudah kembali seperti semula. Bunda sudah tidak lagi menyinggung ataupun mencurigai Rama. Kemarin sore saat perjalanan pulang Rama juga tidak mengatakan apa-apa. Pagi ini aku dan Rama berangkat sendiri-sendiri, dan dia sudah tidak lagi mengikutiku. Aku sempat bernafas lega karena mengira kalau semua akan baik-baik saja, tapi ternyata aku salah.

Aku berjalan ke kelas melewati koridor yang biasanya kulalui. Teman-temanku juga sedang asyik bergerombol seperti biasanya, hanya saja ada yang berbeda dengan pagi ini. Entah ini benar ataukah hanya perasaanku saja, aku merasa mereka memperhatikanku dengan tatapan aneh, tapi aku mencoba bersikap biasa saja. Bisik-bisik mereka berubah menjadi pekikan saat seseorang tiba-tiba datang lalu mencengkeram dan menarik paksa tanganku, menyudutkanku di dinding. Dia mengacungkan jari telunjuknya tepat di depan wajahku. Dia saudara kembar sahabatku, Levita. Dan di belakangnya ada teman yang selalu setia bersamanya, Sesa.

Aku balik mencengkeram tangannya yang teracung padaku dan membuangnya ke samping. “Apa-apaan ini? Apa mau kalian?”

“Kamu pura-pura nggak tahu apa pura-pura bodoh?” bentak Levita.

“Aku emang nggak tahu apa mau kalian! Kenapa kalian pagi-pagi udah ngajakin aku ribut? Aku merasa nggak ada urusan apapun sama kalian berdua!”

“Nggak ada urusan? Lalu ini apa?”

Dia menunjukkanku sebuah foto dari layar ponselnya. Di foto itu terlihat jelas Rama menyentuh daguku sementara tubuh kami begitu dekat. Levita pasti salah paham. Bagaimana juga dia bisa mendapatkan foto seperti itu?

“Apa yang sudah kalian lakukan? Kamu nggak tahu kalau semua murid di sekolah sudah tahu foto ini? Apa kamu nggak malu?”

“Dia nggak akan mungkin malu lah, Lev! Dia ‘kan menuruni bakat dari Ibunya yang...!”

“Diam kamu, Sesa! Nggak usah ikut campur! Aku sama Rama nggak ngapa-ngapain, Lev! Kalian sudah salah paham!”

“Salah paham apanya? Jelas-jelas kalian mau ciuman di tempat umum, di depan gerbang sekolah, dan itu di pinggir jalan raya, Shifa! Kamu udah gila?”

“Kamu yang gila! Kalaupun seandainya kami melakukannya, memangnya apa urusannya sama kamu! Ngapain kamu harus marah sama aku!”

“Dasar kamu kurang ajar! Wanita penggoda, nggak jauh sama Ibu kamu!”

“Cukup, Lev! Nggak usah bawa-bawa nama Ibuku! Foto itu tidak cukup membuktikan kalau aku menggoda dia. Lagian dia juga bukan siapa-siapa kamu, ‘kan? Memangnya kamu pacarnya? Nggak juga, ‘kan?”

Tangan Levita sudah terangkat, bersiap akan menamparku. Gerakannya yang begitu cepat membuatku tak sempat menangkap tangannya, tapi ada tangan lain yang menyelamatkanku. Aku sangat terkejut saat mengetahui tangan itu milik siapa.

“Lepasin tanganku!” seru Levita. Setelah tangannya terlepas ia kembali mencercaku. “Oh, jadi begini kelakuanmu? Setelah Rama sekarang si ketua Rohis yang belain kamu? Kamu melet mereka pakai apaan sih sampai mereka segitu tunduknya sama kamu?”

“Jaga mulut kamu, Lev! Shifa nggak seperti apa yang kamu katakan! Kamu nggak boleh menuduh orang sembarangan karena...”

“Karena dosa dan aku akan masuk neraka, begitu? Pak Ustadz, kalau mau ceramah di masjid, jangan disini! Atau ceramahin saja pelacur ini, aku nggak perlu ceramah dari kamu!”

“Aku bukan pelacur!” tegasku sambil mengayunkan tanganku ke arah pipinya, tapi Khrisna berhasil mencegahnya.

“Kamu juga nggak usah mbales, Shifa! Nggak ada gunanya!”

“Tapi dia...”

Bunyi bel masuk mencegah kemarahanku lebih membara. Aku segera meninggalkan mereka tanpa mengucap sepatah kata pun. Masih kudengar suara Levita yang berteriak padaku, “Urusan kita belum selesai, Shifa!”

Aku masih sekelas dengan Irvana. Aku juga masih duduk semeja dengannya. Aku yakin dia pasti tahu apa yang baru saja terjadi. Keributan tadi memang memancing perhatian semua orang. Bahkan yang berada di kelas pun ikut keluar, ikut berkerumun seperti menonton pertunjukan gratis. Sekarang semua teman sekelasku menatapku aneh, bahkan terkesan jijik.

“Shifa, aku... minta maaf atas kelakuan kakakku, ya! Aku sudah sering memintanya agar mau berdamai sama kamu, tapi dia nggak pernah mau dengerin aku!” ucap Irvana pelan.

“Aku tahu, Irva! Dia begitu pasti karena dia malu memiliki teman sepertiku. Dan sekarang semua orang menganggapku sebagai gadis murahan!” balasku nyaris berbisik.

“Kamu jangan bicara seperti itu! Mereka pasti tahu kalau kakakkulah yang terlalu berlebihan. Mereka tidak akan berpikiran seperti itu sama kamu!”

“Buka mata kamu, Ir! Lihatlah sekelilingmu! Mereka berbisik dan menatapku aneh. Seakan-akan aku ini nggak pernah pantas ada disini!”

Irva melirik ke semua arah. Beberapa dari mereka yang mengetahui segera berpura-pura melakukan sesuatu yang bahkan sama sekali tidak penting. Irva akan tahu siapa mereka sebenarnya. Seperti kata Aristoteles: Ketika kamu berhasil teman-temanmu akhirnya tahu siapa kamu, tapi ketika kamu gagal kamu akhirnya tahu sesungguhnya siapa teman-temanmu. Selama ini aku hanya diam. Saat pertama kali menerima hasil raport, mereka memujiku karena nilai-nilaiku, mengelu-elukan namaku, dan mengharap contekan dariku saat ujian selanjutnya. Tapi saat mereka tahu bagaimana keluargaku, siapa ibuku, mereka memandangku serendah bumi. Semua kecanggungan ini akhirnya mulai mencair saat guru matematikaku masuk ke kelas. Aku berusaha terlihat senormal mungkin sampai akhirnya saat istirahat semuanya kembali tak normal.

Irva sedang ke masjid, sholat dhuha katanya. Sebenarnya dia mengajakku tapi aku masih merasa belum pantas. Sholat wajib saja aku belum bisa apalagi kalau disuruh ibadah yang lain dengan segala tetek bengeknya, jadi aku memutuskan untuk pergi ke kantin. Masih sekitar sepuluh meter lagi dari kantin saat seseorang datang ke arahku. Aku terpaksa menghentikan langkah.

“Bagaimana keadaan kamu, Shifa?”

“Kamu bisa lihat sendiri? Aku baik-baik saja, Khris! Aku sangat berterimakasih untuk yang tadi, tapi aku rasa kamu nggak perlu melakukan itu. Aku sudah sering bertengkar dengan Levita dan Sesa sejak SMP. Tidak ada yang pernah membelaku, tapi aku baik-baik saja. Sekarang biarkan aku lewat!”

Aku berusaha melaluinya lewat samping tapi dia berhasil memegang lenganku.

“Lepaskan aku, Khrisna! Ingat, kamu itu ketua Rohis, kamu nggak pantes pegang-pegang lengan cewek sembarangan apalagi di tempat seramai ini! Kamu tahu batas-batas antara muhrim dan tidak, ‘kan?”

 “Maafkan aku. Aku hanya terlalu mengkhawatirkanmu, Shifa!”

“Apanya yang harus dikhawatirkan? Aku baik-baik saja! Kenapa juga kamu harus sepeduli itu sama aku?” ujarku sambil berlalu.

“Karena aku mencintaimu, Shifa!”

Kuhentikan langkahku seketika. Apa aku tak salah dengar? Segera kuputar badanku seratus delapan puluh derajad.

“Kamu bilang apa?”

“Aku mencintaimu, Shifa! Sudah lama aku ingin mengatakannya tapi aku nggak pernah berani!”

“Nggak! Kamu nggak boleh punya perasaan seperti itu, Khrisna!”

“Kenapa nggak boleh?”

“Karena kamu ketua Rohis! Kamu harus bisa jadi panutan! Apa yang kamu lakukan ini nggak pantes, Khris!”

“Apa seorang ketua Rohis nggak boleh jatuh cinta? Memangnya untuk apa Allah memberi kita hati dan pikiran kalau bukan agar kita bisa tahu bagaimana rasanya mencintai dan dicintai? Cinta itu fitrah manusia, Shifa!”

“Tapi caramu mengungkapkannya itu salah, Khrisna! Kamu bisa menodai arti cinta yang suci!”

“Lalu bagaimana cara yang benar, Shifa? Apa aku harus meniru Rama? Apa aku juga harus menyudutkanmu di pagar depan agar semua orang tahu? Itu bahkan lebih salah lagi, Shif!”

“Kenapa kamu bawa-bawa nama Rama?”

“Karena kamu nggak pernah bisa melihatku seperti kamu melihat Rama! Aku berusaha menjadi orang sebaik mungkin agar kamu melihatku, Shif! Tapi apa yang aku dapat? Kamu ternyata lebih memilih orang seperti Rama. Apa kamu akan menggadaikan agamamu demi bisa dekat dengan dengan orang itu?”

“Jaga mulut kamu, Khris! Ternyata apa yang selalu Irvana bilang tentang kamu semuanya salah. Kamu nggak lebih dari seorang munafik yang pura-pura mencintai Tuhan karena mengharapkan cinta dari makhluk-Nya yang nggak sempurna! Kamu bahkan lebih buruk dari seseorang yang menukar keyakinannya!”

“Sekarang kenapa kamu bawa-bawa nama Irvana? Kenapa setiap aku ngomong sama kamu yang kamu katakan hanya Irvana dan Irvana? Apa kamu sama sekali nggak bisa lihat betapa besar aku mencintaimu? Aku rela mempermalukan diri di depan umum demi kamu, Shif!”

“Aku tidak pernah memintamu melakukannya! Sekarang semua orang tahu kemunafikanmu, itu karena dirimu sendiri. Kamu sudah dibutakan oleh cinta yang seharusnya nggak boleh kamu miliki!”

“Kenapa aku nggak boleh jatuh cinta sama kamu, Shifa?”

“Karena akan ada hati yang terluka! Seseorang akan terluka karena kelakuanmu ini, Khrisna!”

“Siapa? Rama? Katakan, Shifa!”. Dia memaksaku bicara. Mana mungkin aku akan mengatakan kalau Irvana sejak dulu mencintainya? Meskipun sekarang dia mencengkeram tanganku dan tidak membiarkanku pergi, aku tak akan mengatakannya.

“Berani-beraninya kamu pegang-pegang tangannya?”. Seseorang tiba-tiba datang dan memukul wajah Khrisna.

“Berani-beraninya kamu ngomong kasar sama dia?”. Dia memukulnya lagi, lebih keras.

“Berani-beraninya kamu mempermalukan adikku di depan semua orang?”. Untuk yang ketiga kalinya Rama memukul Khrisna.

“Memangnya siapa yang mempermalukan dia? Aku atau kamu? Kalau kamu nggak mulai duluan aku juga nggak akan melakukan hal ini!”. Khrisna balas memukul.

“Kalau aku nggak mulai duluan kamu nggak akan melakukan ini? Jadi kamu sekarang mengakui kalau kamu itu pengecut? Selama satu setengah tahun kamu memendam perasaan padanya tapi kamu nggak pernah berani bilang, bukankah itu pengecut? Apa kamu pikir aku nggak tahu kalau kamu diam-diam sering memandangnya? Aku nggak akan pernah tinggal diam kalau melihat adikku jatuh ke tangan seorang munafik sepertimu! Aku nggak akan rela!”. Rama memukulnya lagi. Aku tak berdaya memisahkan mereka. Sementara itu semua orang sekarang sedang menonton kami.

“Adikmu? Sejak kapan dia jadi adikmu? Bilang aja kalau kamu juga suka sama dia, dan kamu juga sama pengeecutnya sepertiku!”

Setelah itu mereka saling balas memukul. Orang-orang semakin ramai menonton kami tanpa ada yang mau memisah sampai akhirnya Pak Rasyid datang.

“Apa-apaan ini? Kenapa ribut-ribut? Mashaallah, kalian sudah sebesar ini masih juga berantem? Sekarang ikut saya ke ruang BK!”

Saat Rama berjalan mengikuti  Pak Rasyid tepat di depanku aku hanya bisa mengelus dada. Kenapa Rama mengatakan hal itu pada semua orang? Apa yang akan mereka pikir tentang kami setelah ini? Bagaimana dengan Irvana? Cepat atau lambat dia pasti akan tahu hal ini karena gossip jauh lebih cepat menyebar daripada api.

Dugaanku benar. Dia sekarang sedang duduk terdiam seorang diri di kursinya. Kuatkan hatimu, Shifa! Kamu hanya perlu mendekat padanya, menjelaskan padanya dengan hati-hati! Jangan ragu, jangan takut!

“Irvana! Mungkin kamu sudah tahu keributan tadi, tapi aku bisa menjelaskan semuanya!”

“Kamu akan menjelaskan apa lagi, Shifa? Bukankah sudah jelas? Dia sudah mengatakan semuanya padamu, ‘kan?”

“Apa yang terjadi sebenarnya bukan seperti apa yang kamu dengar, Irva! Aku bisa...”

“Aku tidak hanya mendengarnya, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, Shifa! Kamu tega mempermalukannya di depan umum?”

“Aku tidak mempermalukannya! Dia yang mempermalukan dirinya sendiri! Dia sendiri yang menunjukkan kalau dia itu...”

“Munafik? Kamu mau bilang dia itu munafik? Kamu yang munafik, Shifa! Aku tahu dia selama ini selalu mendekatimu, tapi kenapa kamu bilang kalau kamu mencintai orang lain? Kenapa kamu pura-pura, Shifa?”

“Aku nggak pernah pura-pura, Ir! Aku memang benar-benar menyukainya!”

“Oh, jadi sekarang kamu ngaku kalau kamu suka sama Rama? Lihatlah gadis murahan ini, Lev! Sebaiknya kita apakan dia?”, Sesa menyela begitu saja.

“Kalian lagi, kalian lagi! Kenapa sih kalian nggak pernah bosan ikut campur urusanku?”

“Ini bukan hanya urusan kamu, Shifa! Kamu nggak sadar berapa banyak orang yang mau menggantikan posisi Shinta? Kalau kamu  juga merupakan salah satu dari mereka berarti kamu harus siap dengan semua persaingan ini!” timpal Levita.

“Persaingan? Jadi kamu menganggapku sebagai sainganmu? Kamu bersaing dengan seorang yang selama ini kamu rendahkan, apa kamu nggak malu?”

“Tutup mulut kamu! Lihat dia, Irvana! Orang yang selama ini kamu jadikan sahabat ternyata hatinya begitu busuk! Bagaimana mungkin dia tega jadi pagar makan tanaman?”

“Cukup, kak! Kakak nggak usah memperkeruh suasana! Dan Shifa, aku minta maaf karena sebaiknya kita nggak usah berhubungan dulu! Aku akan mencoba membangun kepercayaanku terhadapmu lagi, namun itu hanya jika aku bisa. Ini terlalu sulit buat aku, Shifa!”. Irvana memasukkan semua bukunya ke dalam tas dan berpindah tempat ke meja di sudut belakang kelas.

“Tapi, Ir! Aku masih harus belajar banyak hal dari kamu! Kamu udah janji nggak akan membiarkanku kebingungan di persimpangan jalan, ‘kan?”

“Memangnya enak sendirian? Kesepian? Duh, kasihan!”

“Aku nggak butuh belas kasihan dari kalian! Aku akan menempuh jalanku sendiri tanpa Irvana. Aku pasti bisa!”

~&~

“Kenapa kamu mengatakan semuanya pada mereka, Rama? Kamu sengaja ingin menghancurkan hidupku? Lihat akibat dari apa yang sudah kamu perbuat! Kalau saja kamu nggak sok-sokan peduli sama aku dari kemarin pasti semua nggak akan jadi seperti ini! Nggak perlu ada pertengkaran apapun dan aku nggak harus kehilangan sahabat sekaligus guruku! Semua ini gara-gara kamu, Ram!”

“Aku bukannya sok-sokan peduli sama kamu, Shifa! Tapi aku memang benar-benar peduli!”

“Kepedulian kamu itu berlebihan, Ram! Mana ada kakak yang peduli pada adiknya sampai kemana-mana mengikutinya setiap saat? Kenapa kamu membuatku ragu kalau kamu adalah kakakku? Kenapa kamu membuatku merasa kalau kamu memiliki perasaan padaku selain perasaan seorang kakak pada adiknya?”

“Kamu sudah berjanji akan menjawab semua pertanyaanku setelah ujian, dan sekarang aku juga berjanji akan menjawab pertanyaanmu setelah ujian! Aku akan mengatakan segalanya tanpa terkecuali! Aku akan mengatakan semua yang telah terjadi di masa lalu, apa yang terjadi saat ini, dan apapun yang kuharap terjadi di masa depan! Aku tidak akan menutupi segalanya darimu, Shifa! Kamu tahu ‘kan kalau...”

“Seorang Rama tidak akan pernah ingkar janji! Aku pegang perkataanmu! Dan aku akan menunggu sampai kita selesai ujian!”

~&~

Empat atau lima bulan kemudian...

Rama menutup mataku dari belakang, menuntunku berjalan di sebuah tempat yang aku sendiri tidak tahu dimana. Perlahan ia melepaskan tangannya. Bersamaan dengan itu aku mulai melihat titik-titik cahaya kecil. Kami sudah mengatakan pada Bunda kalau kami akan pergi ke suatu tempat untuk merayakan keberhasilan kami, keberhasilanku karena nilai-nilaiku yang semakin baik dan keberhasilan Rama meraih beasiswa kuliah di Melbourne. Tapi aku tak menyangka kalau Rama akan membawaku ke tempat ini, ke sebuah restoran apung di tengah danau yang dihiasi lilin-lilin kecil dan lampion warna-warni, juga bunga-bungaan yang menawan.

“Kenapa kamu membawaku kesini, Rama?”

“Sebagai hadiah atas keberhasilan kita melewati masa-masa sulit beberapa bulan terakhir ini!”

“Iya, aku tahu! Tapi kenapa harus ke tempat seperti ini? Bunga, lilin, untuk apa semua ini?”

“Kamu tenang dulu, Dhi! Duduk dulu!”

Dengan sangat terpaksa aku duduk di kursi yang ditariknya untukku. Setelah dia juga sudah duduk di kursi tepat dihadapanku dia mengeluarkan sesuatu dari balik punggungnya dan memberikannya padaku, setangkai mawar merah segar.

“Untukku? Tapi untuk apa?” tanyaku tanpa menggerakkan tangan untuk menerimanya.

“Empat belas februari tahun ini aku memberimu bunga warna kuning, padahal aku tahu kalau waktu itu kamu mengharapkan yang merah. Sekarang aku memberimu bunga yang warnanya merah, tapi kamu tidak mau menerimanya?”

“Saat itu yang merah hanya untuk Shinta, Ram! Aku tidak berhak menerimanya!”

“Tapi itu ‘kan dulu, Dhi! Sekarang dia tidak ada disini!”

“Lalu kenapa kalau dia sudah tidak ada disini? Apa kamu ingin mencari seseorang untuk menggantikan tempatnya? Apa kamu berpikir kalau aku sama dengan Shinta?”

“Kalian tidak akan pernah sama, Dhi! Dan aku tidak akan pernah mencoba untuk menyamakan kalian! Kamu sudah punya tempat sendiri di hatiku! Dan semua ini bukanlah tempat Shinta yang kuberikan padamu!”

“Apa maksud kamu, Ram?”

“Aku yakin kamu sudah tahu maksudku! Aku jatuh cinta padamu, Dhi! Aku mencintaimu sama seperti kamu mencintaiku!”

“Kamu sudah gila, Ram! Aku ini adikmu! Mungkin saja kamu salah memahami perasaanmu! Mungkin saja sebenarnya kamu tidak benar-benar mencintaiku, kamu hanya masih terbayang-bayang dengan Shinta! Apa yang nanti akan Bunda rasakan jika tahu kegilaanmu ini?”

“Kamu bukan adikku, Dhi! Bukan karena aku tidak mengakuimu, tapi karena memang kamu benar-benar bukan adikku. Aku tidak memikiki hubungan darah setetespun denganmu, juga dengan Bunda. Itu karena aku bukanlah anak kandung Bunda. Aku hanya anak angkat, Dhi!”

“Bagaimana mungkin?”

“Terserah kamu mau percaya atau tidak, yang jelas aku mengatakan hal yang sebenarya sama kamu. Bunda tidak pernah merahasiakan apapun dariku. Aku bahkan sudah tahu kalau aku bukan anak kandung Bunda sejak usiaku baru tujuh tahun. Di usia itu aku juga sudah tahu kalau Bunda memiliki seorang putri yang hilang bernama Vannesia Ovy. Di usia itu aku sudah tahu kalau sewaktu-waktu dia bisa saja kembali dan aku harus menerimanya sebagai seorang adik. Dan aku benar, kamu benar-benar pulang, Dhi!

Saat kebakaran itu terjadi aku juga ada disana. Nenekku meninggal karena tidak sempat keluar dari bangunan itu, tapi dia masih sempat menyerahkanku kepada Bibi Rania sebelum akhirnya dia terjebak dalam kobaran api. Ia hanya mengatakan kalau usiaku saat itu lima bulan, ibuku baru saja meninggal beberapa menit sebelumnya, dan aku tidak memiliki siapapun lagi selain dia. Bunda yang baru saja kehilangan seorang putri merasa kesedihannya sedikit berkurang saat melihat Bibi Rania selamat, dan dia datang membawa seorang bayi laki-laki dalam gendongannya. Karena Bunda dan Bibi Rania tidak tahu apapun tentang keluargaku, mereka memberiku nama baru: Rama Ravindra Stevanno, dan Bunda menjadikanku sebagai putranya.

Itu berarti tidak ada lagi alasan kenapa aku tidak boleh mendekatimu, Dhi! Aku tahu kamu sudah jatuh cinta padaku sejak pertama kali kita bertemu, dan aku juga tahu kalau perasaan itu semakin besar setiap harinya! Kita bisa memulainya dari awal lagi, ‘kan?”

“Apa semudah itu kamu melupakan Shinta? Bukankah saking cintanya kamu padanya sampai-sampai kamu ingin menyusulnya ke alam baka? Aku tahu kamu sudah ingin mengatakan hal ini sejak beberapa bulan yang lalu, sejak kamu menghadangku di depan gerbang sekolah. Dan waktu itu belum genap dua minggu Shinta pergi dari kehidupanmu, Ram! Apa kalau aku juga meninggal kamu juga akan melupakanku secepat itu?”

“Kenapa kamu bicara seperti itu? Apa kamu tidak mempercayaiku? Aku benar-benar mencintaimu, Dhi! Bukan sekadar cinta seorang kakak pada adiknya, tapi lebih dari itu. Mungkin memang aku terlambat menyadarinya, aku juga sadar kalau aku membiarkanmu terlalu lama menungguku. Tapi aku tahu cintaku tidak bertepuk sebelah tangan, Dhi!”

“Sebesar apapun cintamu padaku, Bunda pasti tidak akan pernah setuju. Aku pernah mendengar dengan telingaku sendiri kalau Bunda hanya mau kamu menganggapku sebagai adikmu, tak lebih!”

“Sebenarnya Bunda tidak setuju bukan karena kita terikat sebagai saudara secara hukum, tapi karena... kita berbeda. Jadi, kalau ada salah satu diantara kita yang mau mengalah Bunda bisa saja menyetujui hubungan kita.”

“Apa maksudmu dengan berbeda?”

“Tentang... keyakinan kita!”

“Apa? Jangan bilang kamu mau menyuruhku menukar keyakinanku, mengubah... agamaku?”

“Nggak gitu, Dhi! Aku nggak bermaksud begitu!”

“Lalu apa? Sudah jelas di rumah itu hanya aku sendiri yang ‘berbeda’, mana mungkin Bunda akan mengizinkan kamu melepas keyakinanmu, Ram? Aku sadar kalau selama ini aku hanya menjadikan agamaku sebagai status, tidak seperti kalian yang begitu taat menjalankan ibadah ini itu! Tapi aku nggak akan semudah itu menggadaikan agamaku demi cinta! Aku juga ingin bisa dekat dengan Tuhan, dan aku sedang belajar, Ram! Hanya saja aku kehilangan guruku satu-satunya sehingga aku harus melanjutkan perjalananku seorang diri. Aku juga ingin mendapatkan cinta-Nya, Ram! Dan bagaimana mungkin Dia akan jatuh cinta padaku kalau aku menjauh dari-Nya?”

“Tuhan kita sebenarnya sama, Dhi! Kamu nggak perlu khawatir kalau...”

“Aku percaya kalau Tuhan itu satu, tapi kenapa ada banyak jalan yang katanya bisa membawa kita sampai pada-Nya? Semua orang menganggap jalannya yang paling benar, tapi aku nggak bisa melalui banyak jalan, Ram! Aku harus memilih salah satu! Dan pilihan paling bijak adalah dengan mengikuti apa yang datang padaku lebih dulu, tidak meniggalkan apa yang kupunya dan menukarnya dengan yang lain. Aku nggak tahu ini benar atau salah, tapi yang jelas aku nggak mau kehilangan cinta-Nya, Ram! Lebih baik aku kehilangan cinta seorang manusia daripada aku harus kehilangan cinta Sang Pencipta manusia. Tolong, Ram! Jangan tarik aku dari jalanku saat ini. Aku tahu aku seakan menjadi buta tanpa adanya guru yang mengajariku, tapi setidaknya aku masih bisa meraba, Ram! Aku yakin Tuhanku akan menuntunku ke arah-Nya! Aku yakin Dia akan menolongku!”

Rama diam seribu bahasa. Aku yakin sebenarnya dia juga tidak menginginkan ‘tukar-menukar’ ini, hanya saja dia tidak tahu harus berbuat apa.

“Kenapa kamu bisa jatuh cinta pada adikmu sendiri, Ram? Dan sejak kapan kamu menyadarinya?”

“Entahlah, Dhi! Mungkin kamu benar, waktu itu aku masih merasa terbayang-bayang oleh Shinta. Malam itu, saat kamu tertidur dalam pelukanku, aku belum merasakan apa-apa. Tapi setelah aku membaringkanmu dan meletakkan kepalamu di pangkuanku, aku mulai merasakan yang lain. Shinta juga pernah tertidur di pangkuanku. Mungkin itulah sebabnya aku bisa jatuh cinta padamu, Dhi! Aku jatuh cinta pada adikku sendiri!”

“Sebenarnya apa yang sudah kamu lakukan padaku malam itu? Apa benar kamu bisa jatuh cinta padaku hanya dengan memandangi wajahku di bawah sinar bulan purnama? Maksudku, apa kamu yakin kalau kamu tidak melakukan hal lain padaku? Aku berharap kamu tidak melakukan hal bodoh yang mungkin bisa membuatku membencimu seumur hidup! Kuharap kamu masih ingat kalau aku ini adikmu, Ram!” ujarku cemas.

“Aku minta maaf, Dhi! Tapi aku sudah melakukan hal lain padamu, lebih dari sekadar memandangi wajahmu! Aku sempat... mencium keningmu!”

“Apa ada yang lain?” tanyaku dengan bibir yang mulai bergetar.

“Juga... bibirmu! Aku minta maaf, Dhi! Aku sungguh minta maaf! Tapi hanya itu. Aku sungguh tidak melakukan hal yang lebih jauh lagi!”

Tanganku mendarat keras di pipinya. Aku tahu dia kesakitan. Pipinya memerah.

“Kamu bilang hanya itu? Kamu tahu bagaimana aku menjaga bibirku selama ini? Bahkan ibuku yang dulu setiap hari menciumiku tidak pernah melakukannya pada bibirku. Tapi kamu? Dengan mudahnya kamu merenggutnya dariku? Kamu keterlaluan, Ram! Kamu...!”

Aku sudah tidak mampu berkata apa-apa lagi. Segera aku pergi dari tempat itu. Kebetulan begitu keluar aku langsung mendapat sebuah taksi yang bisa mengantarku pulang. Aku merasa bersalah pada Ibu. Aku sudah pernah berjanji padanya kalau aku akan menjaga diriku sendiri, termasuk menjaga kehormatanku.

Keesokan harinya...

Aku dan Bunda mengantarkan Rama sampai bandara. Kalau saja aku tidak menghormati Bunda aku pasti tidak akan mau ikut. Kami tidak akan melihatnya lagi hingga setahun kedepan.

“Aku minta maaf untuk semua yang sudah kulakukan padamu, Dhi! Aku menyesal! Aku pasti pulang, Dhi! Tunggu aku, ya!” bisik Rama padaku.

“Aku sudah tidak menginginkanmu lagi, Ram! Kamu sudah menghabisi rasa cintaku saat kamu merenggut bibirku malam itu. Aku sudah tidak mengharapkan cintamu lagi. Semoga disana kamu bertemu seseorang yang bisa membuatmu melupakanku!”ujarku pelan, takut Bunda mendengarnya.

“Terserah apa kata kamu, Dhi! Pokoknya tunggu aku! Aku akan berubah, demi cinta sejatiku!”

“Kamu pikir aku tidak tahu kalau cinta sejati itu tidak ada? Kisah Rama dan Shinta yang kukenal bahkan tidak lagi mencerminkan arti cinta sejati! Itu semua hanya palsu! Cinta sejati hanyalah rekayasa bodoh yang diciptakan manusia! Dan hanya orang-orang bodoh yang percaya kalau cinta sejati itu ada!” []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages