Breathing: Dan Aku Memilih Setia

Sumber gambar: https://id.aliexpress.com/item/SUSENSTONE-Bridal-Wedding-Butterfly-Pearl-Hairpin-Hair-Clip-Comb-Jewelry/32799467531.html

PART 11


“Ibu bangun, Bu! Sudah kubilang aku tidak bisa melepas Ibu! Kenapa Ibu diam saja? Aku bahkan belum sempat bilang kalau aku sangat mencintai Ibu. Ibu kenapa diam, Bu?”

Kutatap langit berawan diatasku. Sebenarnya bukan langit yang kutatap, melainkan sesuatu yang mungkin saja sedang bersembunyi di balik awan. “Kalau Engkau benar-benar Penciptaku, tampakkanlah diri-Mu! Kenapa Engkau bersembunyi dariku? Kalau Engkau memang ada disana maka keluarlah! Temui aku disini! Katakan kenapa Engkau mengambil ibuku? Apa kurang penderitaan yang selama ini Engkau berikan padaku?”

Tatapanku beralih pada apapun yang berada di sekitarku. “Wahai ombak dan lautan, wahai karang dan batuan, tunjukkanlah dimana Tuhanmu berada! Katakan pada-Nya untuk menemuiku! Sebenarnya apa yang Dia inginkan dariku? Kenapa Dia mengambil segalanya dariku?”

“Tuhan..., keluarlah! Katakan padaku kenapa Engkau mengambil ibuku?” teriakku untuk ke sekian kalinya.

Tiba-tiba seseorang datang dari arah belakang, bertanya apa yang terjadi. Wanita itu memeriksa pergelangan tangan Ibu, tertegun tak percaya. Setelah itu dia memelukku, putrinya yang hanya mampu terisak.

Aku tahu seseorang telah mengantarkan Bunda ke tempat ini. Namun untuk pertama kalinya aku tahu kalau ternyata dia juga bisa menitikkan air mata. Dia... wanita yang selama ini kusangka tak punya hati, Tante Renata.

                                                              ~&~                 

Aku masih memandangi gundukan tanah basah di hadapanku. Satu demi satu orang-orang mulai pergi. Aku sudah kehabisan stok air mata. Saat ini aku hanya bisa terdiam, juga sesekali berharap kalau semua ini hanyalah mimpi. Dan saat aku terbangun nanti, aku akan menemukan Ibu disisiku. Sesaat kemudian aku akan segera sadar kalau ini semua nyata, bukan sekadar mimpi buruk.

“Kamu harus pulang, nak! Mau sampai kapan kamu disini? Dari kemarin kamu sama sekali belum tidur apalagi makan. Kamu butuh istirahat!” bujuk Bunda. Aku hanya mampu menggeleng.

“Biar saya saja yang menemani Shifa, Tante! Tante pulang saja! Tante ‘kan juga butuh istirahat!”

Setelah berpikir untuk beberapa saat akhirnya Bunda mengiyakan. “Terima kasih, ya! Tolong jaga dia!”

Bunda pergi. Aku yakin dia juga sedih, apalagi saat melihatku seperti ini. Bukan aku saja yang merasa kehilangan, dia juga kehilangan sahabatnya. Bagaimana dengan kisah persahabatanku sendiri? Saat ini dia memang ada disini, tapi apakah setelah ini dia akan selalu ada di sisiku?

“Aku minta maaf, Shifa! Aku tahu aku yang salah. Tidak seharusnya aku membencimu karena dia menyukaimu, toh aku juga tidak menginginkannya, apalagi kamu. Aku hanya tak menyangka kalau sebenarnya sifat aslinya seperti itu. Aku merasa sangat bodoh karena telah menyia-nyiakan sahabatku. Kuharap kamu masih sudi memperbaiki ikatan persahabatan yang sempat terlepas diantara kita. Aku tidak ingin kehilangan kamu, Shifa!”

“Sejak kamu pergi semua terasa gelap, Ir! Aku tidak tahu apakah aku harus terus maju atau malah melangkah mundur, kembali ke persimpangan, dan memilih jalan lain. Apalagi sejak aku tahu semua hal tentang Rama. Dia ternyata bukanlah saudara kandungku. Dia juga berkata kalau dia telah jatuh cinta padaku. Jujur saja dulu aku memang sering memimpikan hal itu, aku sangat mengharapkannya, Ir! Tapi aku yakin kami tidak akan mungkin bisa bersatu semudah itu sekalipun kami sama-sama menginginkannya. Ada perbedaan yang sangat besar di antara kami. Ini tentang keyakinan, Ir! Aku sendiri mulai ragu akan keyakinanku ini. Bundaku, Rama, leluhurku, mereka semua berbeda denganku, Ir! Bahkan sebenarnya ibuku juga sama seperti mereka. Ibu masuk Islam bukan karena keinginannya sendiri, tapi karena diperdaya oleh takdir. Dan aku? Aku harus menerima warisan keyakinan dari ibuku, apakah ini adil? Aku sempat ingin melepas keyakinan ini, Ir! Tapi entah kenapa rasanya begitu berat. Aku sadar selama ini tidak benar-benar menjalankan aturan agama dengan baik, tapi saat mulai ingin memperbaiki diri kenapa Tuhan memberitahuku semua kenyataan ini? Kenapa hanya aku yang berbeda dari mereka? Apakah aku harus berkorban untuk melenyapkan perbedaan ini, Ir? Kenapa aku tidak lagi bisa memercayai apa kata hatiku?”

“Rama dan Shifa, sepasang saudara yang terjebak dalam cinta, tapi terhalang oleh dinding keyakinan. Memang tak mudah untuk meruntuhkan dinding itu, mau tak mau salah satu harus berkorban demi cinta. Tapi apakah kamu benar-benar siap berkorban untuknya? Apakah hingga detik ini kamu sungguh-sungguh masih sangat mencintainya? Apakah kamu tidak memiliki cinta yang lain selain cinta untuknya?”

“Sangat sulit untuk melupakan cinta pertama, Ir! Kamu tahu itu, ‘kan?”

“Ya, aku tahu! Aku sendiri juga mengalaminya. Tapi semua hal yang pertama bukan berarti juga merupakan yang utama ‘kan, Shif?”

Untuk beberapa saat aku mencoba mencerna apa yang dikatakannya Irvana, merangkai semua ingatanku satu demi satu, mencoba menyimpulkan sesuatu. Temukan poin terpenting dari kisah itu dan ukirlah takdirmu sendiri. Kamu hanya harus yakin dan berani, kamu juga harus mampu berkeputusan dan mempertanggungjawabkannya. Jangan biarkan akhir kisah Sang Putri menjadi akhir kisahmu juga, Shifa! Itu kisahnya, kamu punya kisah sendiri yang harus kamu selesaikan. Hanya kamulah yang bisa menentukan bagaimana akhir ceritanya.

Untuk pertama kalinya akhirnya aku sadar apa yang Ibu maksud tentang poin terpenting itu. Aku sudah menemukannya, dan aku tahu apa yang harus kulakukan.

~&~

“Aku pulang, Dhi!”

Kulihat Rama sudah berdiri di ambang pintu. Seharusnya aku yang menyambut kedatangannya, bukan malah sebaliknya.

“Selama setahun tinggal disana aku bisa melihat kalau dunia ini dipenuhi dengan perbedaan. Dan aku tahu kita tidak akan mungkin bisa bersama jika perbedaan itu ada diantara kita! Aku sudah punya keputusan, Dhi! Aku akan melakukan apapun demi cinta sejatiku! Kalau memang ini adalah cara satu-satunya agar kita bisa selalu bersama, aku akan melakukannya! Aku akan menjadi muallaf, Dhi! Demi kamu! Lagipula ‘kan Bunda mengangkatku tanpa mengetahui seperti apa latar belakang keluargaku, bagaimana kalau ternyata aku ini terlahir dalam keluarga muslim?”

“Apapun yang sudah terjadi di masa lalu, tapi kamu tidak perlu melakukan hal itu untuk bisa terus bersama-sama denganku. Aku tidak akan pernah pergi dari kalian, darimu dan dari Bunda. Kalianlah keluargaku, Ram! Aku akan selalu bersama kalian disini. Kamu tidak perlu menukar keyakinanmu untuk menahanku!”

“Tapi kalau aku tidak melakukannya kamu hanya akan tinggal disini sebagai adikku, Dhi! Nggak lebih!”

“Buat apa aku mengharapkan yang lebih? Tuhanku sudah memberiku terlalu banyak kebaikan dan keberuntungan. Cintamu padaku tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan cinta-Nya terhadapku. Kalau Dia tidak menakdirkan kita untuk bisa berbagi hati, Dia tidak akan mungkin menjadikan kita sebagai saudara, Ram! Dia tidak akan mempertemukan kita sebagai satu keluarga!”

“Kenapa kamu berkata seperti itu, Dhi? Apakah kamu sudah tidak lagi mencintaiku? Apakah kamu sudah punya cinta yang lain?”

“Tentu saja aku punya cinta yang lain, Ram! Tuhan telah menciptakan alam semesta dengan diliputi banyak cinta. Cinta sejati itu adalah cinta seorang ibu dan ayah kepada anak-anaknya, juga cinta seorang anak pada orang tuanya. Cinta yang agung itu adalah cinta Tuhan pada hambanya, juga cinta seorang hamba pada Tuhannya. Sedangkan cinta pada seorang manusia, lelaki pada perempuan, perempuan pada laki-laki, hanyalah cinta yang dianugerahkan Tuhan pada hambanya, yang harus diperjuangkan tanpa memaksa, yang harus dijaga kesuciannya tanpa mengotorinya dengan niat lain. Tapi sebaik-baiknya cinta adalah mencintai dan dicintai karena Tuhan, cinta yang tulus karena mengharap cinta dari Sang Maha Cinta. Aku hanya ingin dicintai karena Allah, Ram! Cinta yang kamu miliki ini adalah pemberiannya! Sebagai seorang hamba seharusnya kamu tahu apa yang harus kamu lakukan. Kalau kamu ingin menjadi seorang muallaf hanya demi mengharapkan cintaku, itu sama saja kamu tidak mencintaiku karena Allah!”

“Tapi Tuhan kita berbeda, Dhi!”

“Tuhan itu hanya satu dan satu-satunya! Tuhan kita pasti sama, hanya jalan kita yang berbeda. Aku tidak ingin membenarkan atau menyalahkan suatu jalan tertentu, Ram! Tapi kamu harus tahu kalau muallaf tidak bisa menjadi muslim sejati hanya karena cinta pada seorang hamba, tapi ia harus cinta pada Tuhannya terlebih dahulu! Jangan paksa hati kecilmu jika ia memang tidak menginginkannya, Ram! Islam tidak ingin memaksa umatnya, Islam itu hadir dengan jalan yang damai! Kamu tahu apa maksudku, ‘kan?”

“Ya, aku tahu! Tapi apa yang harus kita lakukan sekarang, Dhi? Apakah aku harus melupakanmu? Apakah aku harus membunuh perasaan ini?”

“Kamu pasti tahu kalau seseorang sudah jatuh cinta maka dia akan melakukan apapun demi cintanya itu, ‘kan? Tuhan memberi kita otak agar kita bisa berpikir dan merencanakan ssuatu. Kita bisa berusaha mewujudkan takdir sesuai dengan kehendak kita, tapi yang menentukan berhasil atau tidaknya usaha kita itu hanyalah Tuhan, Ram! Kalau kamu ingin Tuhan memudahkan segala usahamu, kamu hanya perlu melakukan satu hal: buat Tuhanmu jatuh cinta padamu!”

“Bagaimana caranya agar aku bisa membuat-Nya jatuh cinta padaku?”

“Kamu pasti lebih tahu hal itu daripada aku! Aku tidak memintamu melupakanku ataupun mengingatku terus-terusan. Kita lihat saja nanti apakah Tuhan akan membantumu. Kita akan lihat bagaimana kehendak dan rencana Tuhan terhadapmu. Kita akan lihat apakah kamu bisa membuat-Nya jatuh cinta padamu atau tidak. Kita pasti akan melihatnya suatu saat nanti. Sekarang biarkan aku lewat dan masuk ke kamarku. Aku ingin istirahat dan memikirkan langkah untuk mendekati Tuhanku. Aku juga ingin bisa mendapatkan cinta-Nya!”

~&~

Tentang Bunda Marsya...

“Bunda, sebenarnya ada yang ingin kutanyakan. Tapi...”

Sejenak aku ragu harus mengatakannya atau tidak, tapi akhirnya pertanyaanku keluar dari lisanku, “Apa benar kalau Ibuku dulu tidak terlahir sebagai seorang muslimah? Apa benar dia memeluk Islam karena orang lain?”

“Sebelumnya darah Islam memang tidak pernah mengalir dalam tubuhnya. Semua keluarga besarnya adalah seorang nasrani yang taat. Dulu kami selalu pergi ke gereja bersama-sama. Tapi entah kenapa dan sejak kapan dia masuk Islam. Apapun alasannya, entah karena keinginannya sendiri atau karena hal lain, dia tetap mempertahankan keyakinannya hingga akhir hidupnya. Itu menandakan bahwa ibumu bahagia dengan pilihannya. Kalau tidak pasti sejak dulu dia sudah kembali pada keyakinan yang ia dapat dari leluhurnya!”

“Lalu bagaimana dengan ayahku? Apakah dia benar-benar terlahir sebagai muslim ataukah karena hal lain? Apa dia juga seperti Ibu?”

“Ayahmu bukanlah seorang muslim, Van! Dia seiman dengan Bunda! Bunda tahu persis kalau dia tidak pernah memeluk agama Islam!”

“Tapi..., bukankah namanya Harish?”

“Ya, namanya memang Harish! Harish Ravindra Stevanno. Nama tengah dan nama belakangnya Bunda ambil sebagai nama Rama. Tapi bagaimana kamu tahu kalau ayahmu bernama Harish? Bunda tidak pernah mengatakannya padamu, ‘kan?”

Aku tercengang. Kaget. Jadi selama ini Ibu sudah salah paham? Ibu dan Bunda memang pernah mencintai seseorang bernama Harish, tapi ternyata mereka adalah dua orang yang berbeda?

Tentang Irvana...

Dia kembali menjadi guruku. Dia seperti cahaya yang membantuku melihat dalam kegelapan. Sekarang aku sudah bisa berjalan dengan jelas, tidak lagi meraba-raba. Dia mengajariku bagaimana aku bisa dekat dengan Tuhanku, bagaimana aku bisa membuat-Nya jatuh cinta padaku.

Saat ini kami sudah kuliah di luar kota, di universitas yang sama, dan kami juga tinggal di satu kamar kos yang sama. Ibunya –yang saat pemakaman ibuku beliau juga datang bersama Levita- perlahan sikapnya mulai melunak padaku. Bahkan ia percaya kalau aku lebih mampu menjaga Irvana daripada kakaknya sendiri.

Ketika libur akhir tahun seperti ini kami pulang ke kampung halaman. Rumahku yang biasanya sepi –karena aku kuliah di luar kota sedangkan Rama di Melbourne- mendadak ramai oleh canda tawa kami. Kemarin Rama menunjukkan foto seorang gadis blasteran padaku. Dia mengatakan kalau dia sudah menemukan pengganti Shinta, juga pengganti Shifa. Tapi tak ada yang bisa menggantikan Fadhia dari hatinya. Rama takkan lupa kalau dia pernah jatuh cinta pada adiknya sendiri. Dia merasa sangat yakin kalau dia telah membuat Tuhan jatuh cinta sehingga Tuhan berkenan memberikan pengganti yang terbaik untuknya, seorang gadis cantik yang ternyata juga begitu taat, seperti Bunda.

Kembali ke Irvana. Sore ini kami menghabiskan waktu berdua di tepi Pantai Salur, menunggu matahari tenggelam seperti yang selalu kami lakukan saat masih SMP dulu. Ini adalah salah satu langkah paling penting dalam hidupku. Irvana mengeluarkan sehelai kain berwarna hijau tosca dari dalam tasnya. Dia merapikan anak rambutku yang bergerak-gerak tertiup angin. Dia meletakkan kain itu di atas kepalaku, merapikannya hingga rambutku sempurna tertutup oleh kain itu. Kukeluarkan sesuatu dari sakuku: jepit rambut kupu-kupu, benda terakhir yang Ibu pegang sebelum meninggal yang kini kujadikan sebagai bros. Aku memasangkannya di bagian samping jilbab baruku sebagai pemanis. Inilah kami, sepasang sahabat yang sedang tersenyum-senyum menanti hilangnya ujung sinar matahari terakhir hari ini. []

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages