![]() |
| Sumber gambar: http://www.shoppingpuntablu.com.br/noticias/wp-content/uploads/2017/03/pocket-watch-1637396_960_720.jpg |
PART 3
Kami masih berjalan
bergandengan tangan. Kehidupan ‘liar’ kampungku sudah nampak. Butuh sekitar
lima belas meter lagi untuk kami bisa mencapai tempat itu. Tiba-tiba Ibu
menghentikan langkahnya dan berlutut di hadapanku.
“Maafkan Ibu, Shifa!”
“Ibu kenapa? Apa yang harus dimaafkan? Kalaupun diantara kita terdapat banyak kesalahan, itu pasti kesalahanku, Bu!” ujarku sambil ikut berlutut.
“Beberapa tahun terakhir ini Ibu seperti tidak lagi memperhatikanmu, bahkan ulang tahunmu pun Ibu melupakannya! Ibu minta maaf, nak! Ibu terlalu fokus untuk mengumpulkan uang sebanyak mungkin agar kita bisa keluar dari tempat ini. Ibu minta maaf kalau kamu harus tumbuh di lingkungan seperti ini, tapi Ibu juga tidak menginginkan hal ini terjadi!”
“Sudahlah, Bu! Semua sudah terjadi! Suatu saat nanti kita pasti bisa pergi dari sini!”
“Tapi saat hari itu datang Ibu nggak yakin kalau kamu masih ada di samping Ibu. Ada saat dimana kita harus berpisah, nak! Dan Ibu nggak mau kamu melupakan Ibu!”
“Mana mungkin aku bisa melupakan Ibu? Ibu yang melahirkanku, Ibu yang merawatku, membesarkanku! Aku nggak mungkin bisa melupakan jasa-jasa Ibu!”
Ibu menggigit bibir. Aku tahu Ibu menahan tangis tetapi aku yakin Ibu tak akan mengeluarkan air matanya di hadapanku.
“Sebagai penebus waktu kita yang sudah terbuang, besok Ibu akan mengajak kamu ke tempat yang dulu sering kita datangi, saat kamu masih kecil. Sekarang kamu harus kembali tidur, nanti sekolah, ‘kan?”
Mataku berbinar. Tentu saja aku mau.
~&~
Seseorang membuka jandela kamarku. Sinar mentari pagi langsung mengarah padaku, membuat kelopak mataku tak bisa dipaksa untuk terpejam lebih lama lagi. Kugulingkan tubuhku membelakangi arah datangnya cahaya itu.
“Bangun, sayang! Nggak baik anak cewek bangun siang-siang!” bisik Ibu tepat di telinga kananku, membuatku segera terlonjak kaget. Begitu cara Ibu membangunkanku. Berbisik tepat di telinga lebih efektif daripada berteriak dari jauh.
“Masih ngantuk, Bu!” ujarku sambil mengucek-ucek mata.
“Kamu nggak sadar ini hari apa?”
“Hari minggu ‘kan, Bu? Nggak mungkin lah aku lupa sama tanggal merah!”
Tanggal merah itu hari kebebasan. Ya, walaupun ku tetap tak bisa bebas dari tugas bantu-bantu Ibu, tapi setidaknya aku bisa bebas dari hukuman dan rutinitas sekolah yang menyebalkan. Hari ini hari minggu. Memangnya ada apa di hari minggu?
“Oh iya, Ibu punya janji mau ngajak aku jalan-jalan, ‘kan?” aku baru menyadari sesuatu.
“Kalau nggak mau bangun berarti nggak jadi dong!” ujar Ibu sambil melangkah keluar dari kamarku.
“Iya iya, aku bangun, aku mandi sekarang!”
Tanpa pikir panjang aku segera menyambar handuk dan segera berlari menuju kamar mandi. Jarang-jarang Ibu mengajakku pergi, sekalipun itu hanya ke pasar di dekat kantor kecamatan. Terakhir kali saat ulang tahunku ke sembilan, Ibu mengajakku ke pasar, membelikanku es krim coklat yang kusukai.
“Shifa mau es krim coklat?”
“Tapi ‘kan Shifa sekarang sudah tiga belas tahun, Bu?”
“Siapa bilang usia tiga belas tahun nggak boleh makanes krim?”
Tanpa menunggu reaksiku Ibu langsung menarik tanganku menuju sebuah toko dan membelikanku sebatang es krim coklat yang kelihatannya sangat lezat. Setelah itu kami duduk di balai-balai depan toko itu. Ibu menetapku dalam-dalam seakan ada seuatu yang sebenarnya ingin ia katakan, tetapi tak mampu.
“Ibu mau?” tanyaku sambil menyodorkan es krim itu ke mulut Ibu. Ibu menggeleng.
“Katanya sudah tiga belas tahun? Kok makan es krim saja masih belepotan?” Ibu menggodaku sambil membersihkan ujung bibirku.
Es krim ku mulai meleleh, lalu menetes jatuh membasahi sehelai kertas yang ada di tanah. Ibu mengambilnya. Kertas yang sama banyak berserakan tak jauh dari tempat kami.
“Itu apa, Bu?”
“Brosur. Ada bazaar di halaman kantor kecamatan sejak tadi pagi. Nanti kita mampir kesana sebentar, ya?”
“Sekarang aja. Bu!”
“Kamu nggak pengin beli apa-apa lagi?”
Kupandangi es krim coklat di tanganku yang tinggal separuh. Bagiku sebatang es krim coklat dari Ibu sudah lebih dari cukup untuk mengobati kerinduanku akan masa kecil. Dengan yakin aku menggeleng. “Nanti keburu selesai, Bu!”
Akhirnya kami berjalan menuju kantor kecamatan yang letaknya memang tak jauh dari pasar. Saat kami tiba disana ternyata masih banyak orang-orang yang berkerumun. Ibu mengajakku mendekat. Aku tak bisa melihat dengan jelas apa yang ada di tengah-tengah kerumunan itu, tapi setidaknya aku bisa melihat orang-orang berbaju aneh, seperti pakaian seorang biarawati. Kulihat Ibu meremas brosur yang ada di tangannya. Matanya menatap lurus ke arah pusat kerumunan tanpa berkedip. Siapa sebenarnya yang Ibu lihat?
“Shifa, kita pulang sekarang!”
Ibu terlihat panik dan ketakutan. Wajahnya seperti wajah orang yang baru menyadari sesuatu, juga menyembunyikan sesuatu.
“Ada apa, Bu?” tanyaku penuh selidik.
“Nggak ada apa-apa! Ayo kita pulang!”
Ibu segera menarik tanganku. Orang-orang masih banyak yang datang dan pergi silih berganti. Sesekali aku masih menolehkan kepalaku ke arah kerumunan itu, mencari kalau-kalau ada yang mencurigakan. Ada apa sebenarnya?
~&~
Tirai jendela kamar belum dibuka, pintu depan juga masih tertutup rapat. Padahal, jam dinding sudah menunjukkan pukul delapan lebih. Biasanya, selepas maghrib tirai dan pintu itu sudah terbuka lebar. Kenapa pula Ibu tidak keluar dari kamarnya sejak tadi sore?
Akhirnya kuputuskan untuk mendekati pintu kamar Ibu. Tak ada suara apapun yang kudengar. Jangan-jangan...? Tidak! Ibu tidak akan mungkin melakukan tindakan sebodoh itu! Pintu itu sedikit terbuka. Yang dapat kulihat hanyalah punggung Ibu dan satu kotak besar di sampingnya. Kotak apa itu? Aku menyerah, tak bisa mencuri pandang untuk mengetahui isi kotak itu. Tanganku sudah terangkat, siap untuk mengetuk pintu. Tapi... bagaimana, ya? Akhirnya hal itu kulakukan juga. Ragu-ragu itu tidak baik, ‘kan?
“Bu, Ibu baik-baik saja? Apa Shifa boleh masuk?”
Hening. Untuk beberapa saat aku menunggu, tak ada jawaban. Sebelum aku berpikir untuk langsung masuk ke dalam, Ibu sudah membukakan pintu untukku, padahal aku bisa membukanya sendiri. Tinggal dorong, beres!
“Ibu nggak kenapa-napa, ‘kan?” tanyaku ragu. Kulirik ranjang Ibu, kotak itu sudah tak ada disana. Ah, kenapa tadi aku tidak mengintip saat Ibu menyembunyikan kotak itu?
“Ibu baik-baik saja!” ujar Ibu sambil merengkuhku dalam pelukannya.
“Kamu ingat nggak saat Ibu bilang kita semua hidup dengan segala perbedaan? Setiap orang pasti memiliki perbedaan dengan orang-orang di sekelilingnya, begitupula dengan kita. Tetapi itu tak akan mengurangi rasa cinta Ibu padamu, selamanya!”
“Kenapa tiba-tiba Ibu bilang seperti itu?”
“Ibu merasa kamu akan pergi jauh dari Ibu. Ibu takut kehilangan kamu. Hanya kamu satu-satunya yang Ibu punya. Ibu tidak bisa membayangkan bagaimana Ibu bisa hidup tanpa kamu disamping Ibu!”
“Ibu terlalu banyak berhalusinasi! Mana mungkin aku pergi, Bu? Usiaku masih tiga belas, aku belum bisa apa-apa, dan aku masih butuh Ibu!”
“Jadi kalau kamu sudah tidak butuh Ibu kamu akan pergi?”
“Bukan begitu, Bu! Kenapa ibu jadi sensitif begini, sih?”
“ Suatu saat nanti kamu pasti akan pergi, Shifa! Cepat atau lambat kamu akan merasakan kehidupanmu sendiri!”
“Tapi bukan berarti aku akan melupakan Ibu, ‘kan? Sebenarnya Ibu ini kenapa, sih? Kenapa Ibu jadi aneh begini? Pikirkan yang terjadi saat ini, Bu! Jangan takut akan bayang-bayang masa depan yang belum jelas. Sekarang ya sekarang!” tanpa kusadari nada bicaraku semakin meninggi.
“Ibu cuma nggak mau kehilangan kamu, Shifa! Karena...”
Tiba-tiba saja terdengar suara pintu yang digedor-gedor. Ibu tidak meneruskan kata-katanya dan lebih memilih segera ke depan membukakan pintu daripada harus bersitegang denganku. Aku tidak mengikuti langkah Ibu. Aku hanya bisa duduk memeluk lutut di depan pintu kamar Ibu. Aku menyesal karena telah membentak Ibu. Kuharap Ibu baik-baik saja. Dari sini masih terdengar jelas keributan apa yang terjadi di ruang depan.
“Kamu nggak tahu ini jam berapa? Kenapa belum siap? Kenapa tirai dan pintu depan masih menutup? Kamu nggak ingat utangmu di tempatku masih banyak? Jangan mimpi kamu bisa keluar dari tempat ini sebelum kamu melunasi utang-utangmu!”
Itu suara Tante Renata, mucikari yang menguasai sebagian besar kehidupan di kampung ini. Aku yakin Ibu hanya diam dan mengangguk, sama seperti saat Ibu dimaki-maki orang, saat dihina orang. Ibu tak pernah melawan. Tapi aku yakin Ibu selalu menangis dengan caranya sendiri. Ibu menangis dengan hati, bukan dengan air mata. Itu sebabnya seumur hidupku aku tak pernah melihat air mata ibu.
“Kalau kamu diam saja yang ada utangmu semakin menggungung! Itu berarti selamanya kamu akan tetap berada di tempat ini! Makanya kerja! Cari duit yang banyak!”
Setelah itu terdengar suara botol kaca yang pecah dan suara pintu yang dibanting keras. Cukup! Aku tak bisa lagi mencoba menangis dengan hati. Aku tidak bisa seperti Ibu. Segera kuusap air mataku dan kususul Ibu di ruang depan. Ibu masih membersihkan pecahan botol kaca dengan wajah tanpa ekspresi, datar. Apa Ibu sedang menangis?
“Jangan bantu Ibu, Shifa! Nanti kamu bisa kena!”
Aku tak mengindahkan perkataan Ibu dan terus mengumpulkan pecahan-pecahan itu dan...
“Apa Ibu bilang? Kamu kalau dikasih tahu orang tua harus nurut! Kamu, sih!”
Ibu segera menghisap darah di ujung jari telunjukku, setelah itu langsung berdiri mengambil kotak obat.
“Biar aku saja yang ngobatin, Bu! Nanti Tante Renata kesini lagi dan marah-marah lagi kalau ibu belum siap-siap!”
“Kamu lebih penting, Shifa!”
“Kenapa, Bu?”
“Kenapa apanya?”
“Kenapa Ibu selalu ada saat Shifa membutuhkan Ibu? Kenapa Ibu mau melakukan apapun demi Shifa? Kenapa Ibu rela dimaki-maki orang demi menjaga kehormatan Shifa? Padahal Ibu tahu kalau Shifa nggak pernah bisa memberikan apapun untuk Ibu. Bahkan Shifa tega berkata kasar pada Ibu, Shifa tega membentak Ibu!”
“Karena Shifa anak Ibu. Ibu nggak mau kehilangan anak Ibu satu-satunya. Karena... Ibu sangat mencintai Shifa lebih dari apapun. Apapun yang terjadi kamu akan selalu menjadi yang paling utama bagi Ibu, sekalipun Ibu harus menerima amukan nenek lampir itu. Ibu minta maaf karena Ibu telah membawamu ke tempat jahannam ini. Tapi Ibu janji suatu saat nanti Ibu akan membawamu keluar dari sini! Ibu janji, Shifa!”
Inilah Ibuku. Dia selalu bisa membuatku yakin kalau aku masih punya hari esok dengan janji-janjinya, janji-janji suci seorang Ibu. Apapun yang terjadi, janjimu juga janjiku, Ibu!
~&~
Matahari masih terasa menyengat ubun-ubun sekalipun hari sudah semakin sore. Aku dan Irvana masih duduk menatap lautan setelah selesai belajar bersama. Sekarang kami sudah kelas tiga SMP. Sejak aku dengan Levi dan Sesa resmi mengaku berperang dingin, Irvana selalu sendiri saat bermain ke tempatku, itupun dengan izin yang dibuat-buat. Mana mungkin dia diizinkan ibunya untuk menemuiku lagi?
“Irva, mungkin nggak kalau matahari bisa terbit dari barat?”
“Tentu saja mungkin! Bukankah saat hari kiamat nanti matahari memang benar-benar terbit dari barat? Itu ‘kan memang sudah dijelaskan dalam al-Qur’an, Shif!”
“Ah, jawabanmu terlalu agamis! Aku ingin jawaban yang ilmiah, yang realistis!”
“Ya aku ‘kan nggak tahu. Cuma Allah yang tahu alasannya. Lagian itu nggak mungkin keluar di ujian, Shifa!”
“Kamu bisa bilang kalau matahari mungkin saja terbit dari barat karena kejadian itu memang sudah tertulis dalam al-Qur’an, tapi bagaimana kalau dari selatan atau utara, mungkin nggak?”
“Ya..., bagi Allah nggak ada yang nggak mungkin, Shifa!”
“Kalau aku ingin mencari seseorang, tapi nggak pernah tahu bagaimana wajahnya dan nggak punya informasi apapun tentangnya, mugkin nggak?”
“Memangnya kamu mau mencari siapa?”
Aku diam sejenak, menarik napas, lalu berkata, “Ayahku!” Kali ini Irvana tidak langsung menjawab.
“Aku nggak tahu, Shifa! Yang pasti bukan sekarang. Kamu memikirkan hal ini di waktu yang tidak tepat. Ini saatnya kita harus fokus belajar, bukan memikirkan hal-hal yang tidak penting!”
“Menurutmu mencari keberadaan Ayahku bukan hal yang penting?”
“Bukan begitu, Shifa! Ini tentang keinginanmu untuk membalas dendam pada Ayahmu. Kamu pikir aku tidak tahu kamu selama ini menyimpan dendam yang begitu besar pada Ayahmu? Sebagai seorang yang terabaikan selama lima belas tahun, marah itu wajar. Tapi kamu jangan bodoh, Shifa! Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan Ibumu? Kalau Ibumu tidak meridhoi dan nantinya kamu tidak berhasil mendapatkan apa yang kamu inginkan, kamu akan menyesal karena telah kehilangn dua-duanya, Shifa! Kamu tak akan mendapatkan apapun!”
Aku tak akan mendapat apa-apa, sama seperti kisah Sang Putri. Aku masih ingat betul detail ceritanya meskipaun itu telah tertinggal dua tahun di belakang. Kenapa aku baru menyadarinya? Kenapa harus lewat Irvana yang bahkan belum pernah mendengar kisah itu samasekali? Irvana, dibalik tubuhmu yang semungil itu ternyata kamu memiliki jiwa yang begitu besar!
“Kamu benar, Irva! Seharusnya aku bisa lebih mensyukuri apa yang aku punya, seorang Ibu yang tiada duanya!”
Beberapa bulan kemudian, saat kami sudah benar-benar terbebas dari ujian akhir, kami kembali ke tempat yang sama.
“Irva...”
“Ya?”
“Aku ingin mencari ayahku. Inilah saat yang tepat. Bagaimana menurutmu?”
Sunyi. Untuk beberapa saat tetap begitu.
“Shifa, aku ikut berbahagia kalau kamu bisa berkumpul lagi dengan kedua orangtuamu! Aku akan selalu membantumu kalau kamu butuh bantuanku! Tapi jangan sampai kamu ingin mencari ayahmu hanya karena ingin balas dendam!”
“Kalau soal itu aku nggak bisa menjamin, Irva! Aku nggak yakin bisa memaafkan orang yang sudah menelantarkan aku dan Ibu selama belasan tahun! Aku nggak yakin, Irva!” ujarku dengan suara yang mulai bergetar.
“Dendam tak akan menyelesaikan masalah, Shifa! Rasa sakitmu tak akan hilang hanya dengan balas dendam!”
Dalam beberapa menit kami tak bersuara hingga akhirnya aku berkata, “Akan kupikirkan lagi!”
~&~
Aku punya waktu sekitar dua bulan dari sekarang sebelum kesibukan kembali menyulitkanku. Harus kumulai dari mana pencarian panjangku? Ibu...? Itu tidak mungkin! Ibu tak akan pernah memberitahuku tentang keberadaan Ayah. Lalu siapa? Seseorang yang mengetahui kehidupanku sejak kecil... Aha! Tante Renata pasti tahu sesuatu!
Tanpa berpikir panjang aku segera berlari menuju rumah Tante Renata, tak perduli dengan orang-orang yang terheran-heran memandangku. Aku hanya ingin tahu kebenaran itu!
Wanita paruh baya itu menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dadaku masih naik turun, kelelahan.
“Apa yang kamu bilang tadi?”
“Apa Tante tahu sesuatu tentang ayahku? Bagaimana dia tega meninggalkan aku dan Ibu disini?”
“Hah, ayahmu? Kamu pikir kamu punya ayah?” tanya Tante Renata mengejek.
“Setiap orang pasti punya ayah, Tante! Sekarang aku tanya apa Tante tahu sesuatu tentang ayahku atau tidak?” tanyaku balik, sedikit membentak. Kulupakan segala tatakrama yang selalu Ibu ajarkan padaku tentang etika berbicara dengan orang yang lebih tua.
“Memangnya apa hubungan kita sampai-sampai aku bisa tahu siapa ayahmu? Harusnya kamu tanya sama ibumu dimana dia dulu memungut anak nggak jelas kaya kamu! Kukira tadi kamu kesini mau menyerahkan diri untuk bekerja padaku, membantu ibumu cari uang, karena aku tak pernah berhasil memaksa ibumu untuk membuatmu menjadi seperti dirinya!”
Jleg... Apa aku tak salah dengar?
“Siapa yang Tante maksud anak pungut? Aku?”
“Loh, memangnya kamu belum tahu? Memangnya ibu kamu nggak pernah ngasih tahu kamu kalau kamu bukan anaknya? Duh, kasihan banget, ya? Jadi selama ini kamu sudah ditipu mentah-mentah sama orang yang selalu kamu panggil Ibu itu?”
“Nggak mungkin! Ibu nggak pernah bohongin aku, Tante!”
“Enam belas tahun yang lalu seseorang memberikan ibumu padaku, dan aku sudah membayar mahal untuk itu. Setelah setahun bekerja padaku, dia pergi, dia berusaha kabur dariku. Dia menghilang selama dua bulan sampai akhirnya anak buahku berhasil membawanya kembali. Kamu tahu apa yang dia bawa? Dia membawa bayi mungil yang masih merah bernama Shifa Salfadhia. Sekarang kamu pikir, bagaimana mungkin seorang wanita bisa hamil dan melahirkan hanya dalam waktu dua bulan? Itu mustahil!”
Rasanya seperti nyawa sudah terlepas dari ragaku saat mendengar apa yang Tante Renata katakan. Inikah kebenaran agung itu? Sepedih inikah kebenaran itu? Ataukah ini baru permulaan? Masih adakah kenyataan yang lebih pahit dari ini?
“Kenapa kamu diam? Kaget? Marah? Aduin ke ibu kamu sana! Kalau ibu kamu memang nggak pernah bohongin kamu pasti dia akan membenarkan ucapanku!”
“Ibu nggak akan bohongin aku, Tante! Ibu pasti akan berkata kalau aku adalah anaknya kandungnya! Tante yang bohong! Tante wanita yang keji, Tante jahat! Mana mungkin aku percaya ucapan Tante?”
Aku sudah berlari keluar sebelum nenek lampir itu mengamuk. Takkan ada air mata yang jatuh dari kedua mataku. Aku yakin Ibu tak akan pernah membohongiku. Aku yakin Ibu akan membuktikan janji-janjinya padaku, sama seperti aku yang akan membuktikan janji-janjiku pada Ibu.
“Ibu...” seruku sembari berlari kearah pelukan Ibu.
“Ada apa, Shifa? Kenapa?” tanya Ibu tak mengerti.
“Sebenarnya Shifa anak siapa, Bu?”
“Kenapa kamu menanyakan hal itu lagi, nak? Ibu nggak suka kamu mengungkit-ungkit tentang ayahmu, dia itu masa lalu kita!”
“Bukan tentang Ayah, Bu! Tapi..., sebenarnya siapa ibuku?”
Plakkk... Tangan Ibu mendarat keras di pipi kiriku.
“Apa maksudmu, Shifa? Ibu kamu ya Ibu! Nggak ada yang lain lagi! Selama ini siapa yang kamu panggil Ibu? Selama ini siapa yang selalu mengorbankan diri untuk melindungi kamu? Cuma Ibu ‘kan? Lalu kenapa kamu meragukannya?”
“Aku tidak meragukan cinta Ibu yang begitu besar padaku! Aku hanya ingin mencari tahu kebenaran!”
“Kebenaran apa? Apa pernah Ibu bohong sama kamu? Kebenaran apa yang kamu cari? Kebenaran omongan orang-orang yang jelas-jelas tidak benar? Berapa kali Ibu bilang jangan dengar apa kata orang! Mereka nggak tahu apa-apa tentang kita!”
“Sekalipun orang itu adalah Tante Renata?”
“Ya, siapapun orang itu! Dengarkan Ibu, Shifa! Jangan dengarkan orang lain! Apapun yang terjadi kamu adalah anak Ibu dan Ibu adalah ibumu! Titik!”
Titik itu sempurna membekap mulutku. Ada apa denganku? Mengapa aku membantah Ibu kalau hati kecilku menginginkan apa yang dikatakan Tante Renata adalah salah? Yang manakah kebenaran yang sesungguhnya? Seharusnya aku percaya pada Ibu, tapi kenapa aku ragu?
~&~
Kurebahkan tubuh letihku di atas ranjang. Kupandangi lagi barang-barang yang tergeletak begitu saja di sampingku. Trophy, piagam penghargaan, amplop yang tak terlalu tebal, hingga sebuah tas baru yang penuh buku dan alat tulis baru didalamnya. Masih terbayang bagaimana Wali Kelasku menyalamiku dan bertanya, “Mau meneruskan kemana?”
Aku tak menjawab, tetapi Ibu yang berdiri di belakangku angkat bicara, “Ke SMA di kota, Bu! Mohon do’anya!”
Hah? Bagaimana mungkin Ibu bisa berkata seperti itu? Ibu meyakinkanku hanya dengan tiga kata, pasti ada jalan.
Pyaaarrr. Suara itu menyadarkanku. Itu jelas-jelas bukan suara botol kaca yang pecah karena dibanting. Suara itu datang dari kamar Ibu.
“Ibu...”
Ibu yang sedang berjongkok di lantai menoleh ke arahku. Disekitarnya berserakan pecahan celengan kura-kura dari tanah liat dan lembaran-lembaran serta kepingan-kepingan uang rupiah.
“Shifa, kesini! Bantuin Ibu ngitung!”
“Kenapa celengannya harus dipecah sekarang, Bu?”
“Kamu nggak dengar pidato kepala sekolah kamu tadi? Kalian, murid-muridnya, harus berhasil jadi orang sukses! Menjadi anak yang membanggakan dan bisa mengangkat derajat orang tua! Kesuksesan yang seperti itu dicapai dengan pendidikan, sayang!”
“Tapi Shifa tidak ingin menyusahkan Ibu!”
“Kebahagiaan seorang ibu adalah saat melihat kesuksesan anaknya, Shifa! Kebahagiaan Ibu adalah saat melihat kamu bisa bermanfaat bagi orang lain, diterima dengan baik dalam masyarakat. Ibu tidak ingin kamu menjadi seperti Ibu, yang dihina orang, yang direndahkan orang, yang harus selalu ada di posisi terkalahkan. Kamu harus lebih baik dari orang-orang itu, kamu juga harus lebih baik dari Ibu!”
“Tapi...”
“Kita masih bisa menabung dari awal lagi, Shifa! Kamu mau celengan yang seperti apa? Ayam? Ikan? Atau kura-kura lagi? Yang terpenting adalah pendidikanmu, sekolahmu! Itu modal kamu untuk meraih kehidupan yang lebih baik lagi!”
“Aku tidak mengkhawatirkan celengan itu, Bu! Aku tahu selama ini Ibu mengumpulkan uang agar kita bisa keluar dari tempat ini! Tapi kenapa Ibu mengorbankan itu semua demi pendidikanku?”
“Belum saatnya kita pergi dari tempat ini, sayang! Sebesar apapun keinginan kita akan hal itu, kita juga tetap harus berpikir rasional! Kalau kita pergi sekarang, apa yang akan kita gunakan untuk membiayai sekolahmu? Sedangkan kalau kita tetap berada disini, kita akan mendapatkan keduanya, meskipun itu memakan waktu yang jauh lebih lama!”
“Tapi sampai kapan, Bu? Sampai kapan kita harus seperti ini?” Kutenggelamkan wajahku dalam pelukan Ibu.
“Bersabarlah, nak! Biarkan waktu yang berjanji dan biarkan waktu pula yang akan menjawabnya!” bisik Ibu dengan lembut.
Adalah Ibuku, ibu terbaik sedunia. Ibu yang mengorbankan segalanya demi diriku. Betapa bodohnya aku yeng telah meragukannya, meragukan cinta tulusnya. Betapa bodohnya aku yang telah menyakitinya, melukai hatinya... []


Tidak ada komentar:
Posting Komentar