Masih ingat nggak dulu waktu SMP sering dikasih tugas sama guru bahasa Indonesia disuruh bikin pantun lah, puisi lah, cerpen, bahkan juga mini novel. Kayaknya hampir semua guru Bahasa Indonesia pernah nyuruh bikin begituan yaa. Nah, beberapa hari yang lalu aku buka-buka lagi catatanku dan akhirnya kutemukan karya-karya lamaku.
Dibawah ini kumpulan coret-coretan yang aku buat waktu SMP. Kalau dulu sih aku menyebutnya puisi. Tapi nggak ada judulnya, ya! Maklum lah aku selalu kebingungan kalau harus nentuin judul. Dan kebanyakan puisi dibawah ini aku buat bukan karena tugas sih, tapi karena aku rajin menggalau dan sok-sokan curhat via puisi (soalnya aku bukan tipe orang yang bisa konsisten nulis diary). Waktu sekarang kubaca ulang rasanya pengin ketawa. Kok bisa ya dulu nulis kayak beginian. Kalian yang baca mungkin juga bakalan cekikikan deh. Ah, abaikan masalah EYD, pemilihan diksi, atau apapun itu. Aku hanya ingin bernostalgia. Ahhayyy...
^o^
Saat itu jiwaku hampa
Muak kutatap deretan angka
Penuhi memori hingga sesaknya
Saat
kau hadir bagai bunda kedua
Dalam
arti tak sebenarnya
Saat
itu kau ubah semuanya
Kau
ubah menjadi cinta
Dengan
sejuta cinta yang ada
Kau gelorakan cinta di dada
Sekian lama terpendam sia-sia
Kau ubah muak menjadi damba
Kau kenalkan daku pada dirinya
Yang sungguh-sungguh
sesungguhnya
Untaian
angka bak laut permata
Lebih
indah dari seluruh kata
Sebelum
mataku tak lagi terbuka
Entah
kapan waktunya
Ku
ingin sukses dapat kurasa
Cita-cita
terlaksana pula
Seperti
nasihat dan do’a bunda
Terima kasih bunda
Tlah mengubahnya jadi permata
Tak kan hilang kilau indah
manfaatnya
Hingga waktu itu tiba
Jemput ananda dari dunia
Puisi ini aku buat karena dulu
sewaktu SD aku benci banget sama yang namanya metematika. Tiap ujian semesteran
nilaiku cuma berkisar angka tiga sampai empat. Bahkan nilaiku ulangan akhir
semester ganjil kelas 6 cuma tiga koma sekian. Walaupun semakin mendekati ujian
nasional aku semakin paham dan nilaiku semakin layak, tapi bukan berarti
aku jadi suka sama matematika. Hingga akhirnya waktu SMP aku ketemu sama guru
matematikaku, Bu Titik, yang berhasil
membuatku cinta mati sama mata pelajaran ini. Walaupun akhirnya waktu SMA
matematika jadi nggak seindah dulu lagi. Aku memang jadi nggak suka, tapi aku
juga nggak bisa benci.
^o^
Si kecil di lampu merah
Berjuang ia bersusah payah
Tetap kukuh tak tergoyah
Deras alir hidup tak mau kalah
Hantam si kecil yang tak bersalah
Ulur
tangan tuan dermawan
Amat
diharap dan dibutuhkan
Agar
masih ia bertahan
Songsong
mimpi di masa depan
Yang
kini hanya dalam khayalan
Entah...
Kapan derita terusai sudah
Tetaplah tabah jangan menyerah
Yakinlah esok ‘kan lebih cerah
Sampai sini jadi ingat lagunya
D’Masiv yang judulnya kalau nggak salah Jangan Menyerah. Ini lagu
populer banget di kelasku waktu kelas 5 SD kalau nggak salah, gara-gara guruku
PKn, Pak Puji, suka banget sama lagu ini. Pernah waktu itu pelajaran kesenian
kosong dan guruku ini yang mengisi. Beliau menyuruh temanku maju ke depan untuk
menyanyi. Karena malu-malu, waktu itu tiga (atau empat ya?) temanku maju dan
bukannya nyanyi lagu nasional malah nyanyi lagu ini. Hadeew...
^o^
Menangisi
dan meratapi
Diam
merenung merajut mimpi
Putus asa-ku cari jalan keluar
Dari lingkaran sandiwara sukar
Membelenggu dari hayat nan
berbinar
Andai
bisa terbang melayang
Tinggi
bebas meraih bintang
Tembus
halang rintang melintang
Namun belum tiba saatnya
Sabar dahulu wajib kiranya
Sembari songsong tepat waktunya
Alur
hidup mengalun indah
Tepiskan
keluh kesah, resah gelisah
Kelak
sukses jadi hadiah
Guna bakti di masyarakat
Setiap insan menaruh hormat
Baik budi slalu diingat
Kalau yang ini aku lupa
inspirasinya dari mana 😡
^o^
Kala fajar tlah menghampiri
Dengan sinar jingga sejukkan
sanubari
Iringi pelita abadi yang datang
menanti
Desah angin pagi ikut menemani
Nyanyian
burung merdu di tepi sawah
Bak
alunan syimfoni indah
Senyum
manis setiap insan yang merekah
Hiasi
negeriku yang indah nan megah
Enceng gondok di wajah rawa
menjerit memanggil
Mengadu ia dingin menggigil
Lantas disulap tangan terampil
Menjadi mahakarya yang memukau
Decak kagum datang tak terhalau
Putra bangsa trus berkarya
seiring nafas menderu
Tentu negeriku ‘kan semakin maju
Tak
sadar jarum jam trus berputar tanpa lelah
Siang
terang terlampau sudah
Kini
remang sang rembulan yang menyinari
Malam
kelam mencekam sepi
Terlintas
di benakku siluet hari tadi
Kilauan
bintang di angkasa terhalang gumpal awan
Sisakan
angan dan kerinduan
Indahnya hari itu...
Tak ‘kan terlupa hingga akhir
hayatku
Meski ku tak lagi sanggup bangun
dari tidurku
Kenangan itu...
Yang terindah dalam hidupku
Yang slalu hadir di setiap
mimpiku
Sesungguhnya,
aku bernostalgia
Akan
kesempurnaan negeriku yang tiada tara
Negeriku
yang maju nan indah ‘kan slalu jaya
Dan
itu bukanlah fatamorgana semata
Kini,
nanti, dan selamanya
Jum’at, 13 April 2012
^o^
Tengah malam, bimbang membisik
sanubari
Malam mencekam sepi menanti
Tampak sepintas siluet masa lalu
Saksikan wayang kulit di desa
seberang danau
Diterangi pendar sinar pelita
Bahagia yang kurasa
Tak dapat terlukis dengan aksara
Tanpa sadar ku bernostalgia
Yang
dulu serempak saksikan wayang kulit
Kini
semua merasa sulit
Langkahku
berat ‘tuk percaya semua ini
Kehadiran
wayang kulit kini tlah terganti
Kutanam
benih harap di hati
Sang
bulan menjadi saksi
Mentari
datang bawakan bukti
‘Kan
kurawatnya dengan penuh kasih
Agar
wayang kulit tak lagi tersisih
‘Kan kuajak mereka hargai wayang
kulit
Meski itu teramat sulit
Memadukannya dengan keajaiban
teknologi
Menjadi mahakarya yang slalu
dinanti
^o^
Sampai disini dulu ya, biar nggak
kepanjangan postingnya. Kalau kepanjangan bisa-bisa malas bacanya. Lagian siapa
juga yang mau baca? Mungkin cuma aku sendiri. Tapi nggak papa lah, ceritanya
‘kan mau nostalgia...
Salam luar biasa dariku. Jangan
lupa bahagia dan membahagiakan orang lain. Wassalam.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar