Puisi Ala Putih Biru (Part 1)




Masih ingat nggak dulu waktu SMP sering dikasih tugas sama guru bahasa Indonesia disuruh bikin pantun lah, puisi lah, cerpen, bahkan juga mini novel. Kayaknya hampir semua guru Bahasa Indonesia pernah nyuruh bikin begituan yaa. Nah, beberapa hari yang lalu aku buka-buka lagi catatanku dan akhirnya kutemukan karya-karya lamaku.

Dibawah ini kumpulan coret-coretan yang aku buat waktu SMP. Kalau dulu sih aku menyebutnya puisi. Tapi nggak ada judulnya, ya! Maklum lah aku selalu kebingungan kalau harus nentuin judul. Dan kebanyakan puisi dibawah ini aku buat bukan karena tugas sih, tapi karena aku rajin menggalau dan sok-sokan curhat via puisi (soalnya aku bukan tipe orang yang bisa konsisten nulis diary). Waktu sekarang kubaca ulang rasanya pengin ketawa. Kok bisa ya dulu nulis kayak beginian. Kalian yang baca mungkin juga bakalan cekikikan deh. Ah, abaikan masalah EYD, pemilihan diksi, atau apapun itu. Aku hanya ingin bernostalgia. Ahhayyy...

^o^


Saat ku membencinya
Saat itu jiwaku hampa
Muak kutatap deretan angka
Penuhi memori hingga sesaknya
                Saat kau hadir bagai bunda kedua
Dalam arti tak sebenarnya
Saat itu kau ubah semuanya
Kau ubah menjadi cinta
Dengan sejuta cinta yang ada
Kau gelorakan cinta di dada
Sekian lama terpendam sia-sia
Kau ubah muak menjadi damba
Kau kenalkan daku pada dirinya
Yang sungguh-sungguh sesungguhnya
                Untaian angka bak laut permata
                Lebih indah dari seluruh kata
                Sebelum mataku tak lagi terbuka
                Entah kapan waktunya
                Ku ingin sukses dapat kurasa
                Cita-cita terlaksana pula
                Seperti nasihat dan do’a bunda
Terima kasih bunda
Tlah mengubahnya jadi permata
Tak kan hilang kilau indah manfaatnya
Hingga waktu itu tiba
Jemput ananda dari dunia

Puisi ini aku buat karena dulu sewaktu SD aku benci banget sama yang namanya metematika. Tiap ujian semesteran nilaiku cuma berkisar angka tiga sampai empat. Bahkan nilaiku ulangan akhir semester ganjil kelas 6 cuma tiga koma sekian. Walaupun semakin mendekati ujian nasional aku semakin paham dan nilaiku semakin layak, tapi bukan berarti aku jadi suka sama matematika. Hingga akhirnya waktu SMP aku ketemu sama guru matematikaku, Bu Titik,  yang berhasil membuatku cinta mati sama mata pelajaran ini. Walaupun akhirnya waktu SMA matematika jadi nggak seindah dulu lagi. Aku memang jadi nggak suka, tapi aku juga nggak bisa benci.

^o^
Si kecil di lampu merah
Berjuang ia bersusah payah
Tetap kukuh tak tergoyah
Deras alir hidup tak mau kalah
Hantam si kecil yang tak bersalah
                Ulur tangan tuan dermawan
                Amat diharap dan dibutuhkan
                Agar masih ia bertahan
                Songsong mimpi di masa depan
                Yang kini hanya dalam khayalan
Entah...
Kapan derita terusai sudah
Tetaplah tabah jangan menyerah
Yakinlah esok ‘kan lebih cerah

Sampai sini jadi ingat lagunya D’Masiv yang judulnya kalau nggak salah Jangan Menyerah. Ini lagu populer banget di kelasku waktu kelas 5 SD kalau nggak salah, gara-gara guruku PKn, Pak Puji, suka banget sama lagu ini. Pernah waktu itu pelajaran kesenian kosong dan guruku ini yang mengisi. Beliau menyuruh temanku maju ke depan untuk menyanyi. Karena malu-malu, waktu itu tiga (atau empat ya?) temanku maju dan bukannya nyanyi lagu nasional malah nyanyi lagu ini. Hadeew...

^o^


Biar sejenak aku sendiri
Menangisi dan meratapi
Diam merenung merajut mimpi
                Putus asa-ku cari jalan keluar
                Dari lingkaran sandiwara sukar
                Membelenggu dari hayat nan berbinar
Andai bisa terbang melayang
Tinggi bebas meraih bintang
Tembus halang rintang melintang
                Namun belum tiba saatnya
                Sabar dahulu wajib kiranya
                Sembari songsong tepat waktunya
Alur hidup mengalun indah
Tepiskan keluh kesah, resah gelisah
Kelak sukses jadi hadiah
                Guna bakti di masyarakat
                Setiap insan menaruh hormat
                Baik budi slalu diingat

Kalau yang ini aku lupa inspirasinya dari mana 😡

^o^
Kala fajar tlah menghampiri
Dengan sinar jingga sejukkan sanubari
Iringi pelita abadi yang datang menanti
Desah angin pagi ikut menemani
                Nyanyian burung merdu di tepi sawah
                Bak alunan syimfoni indah
                Senyum manis setiap insan yang merekah
                Hiasi negeriku yang indah nan megah
Enceng gondok di wajah rawa menjerit memanggil
Mengadu ia dingin menggigil
Lantas disulap tangan terampil
Menjadi mahakarya yang memukau
Decak kagum datang tak terhalau
Putra bangsa trus berkarya seiring nafas menderu
Tentu negeriku ‘kan semakin maju
                Tak sadar jarum jam trus berputar tanpa lelah
                Siang terang terlampau sudah
                Kini remang sang rembulan yang menyinari
                Malam kelam mencekam sepi
                Terlintas di benakku siluet hari tadi
                Kilauan bintang di angkasa terhalang gumpal awan
                Sisakan angan dan kerinduan
Indahnya hari itu...
Tak ‘kan terlupa hingga akhir hayatku
Meski ku tak lagi sanggup bangun dari tidurku
Kenangan itu...
Yang terindah dalam hidupku
Yang slalu hadir di setiap mimpiku
                Sesungguhnya, aku bernostalgia
                Akan kesempurnaan negeriku yang tiada tara
                Negeriku yang maju nan indah ‘kan slalu jaya
                Dan itu bukanlah fatamorgana semata
                Kini, nanti, dan selamanya
Jum’at, 13 April 2012


Nah, ceritanya waktu kelas 8 aku disuruh guru Bahasa Indonesiaku, Bu Dwi Rahayu (Bu Yayuk), mewakili sekolah untuk ikut lomba cipta puisi yang temanya kayaknya tentang negeriku yang indah gitu lah. Jadi waktu itu aku ikut yang lomba cipta puisi, temanku Anang cipta cerpen, dan Nana menyanyi lagu Symfoni. Waktu itu lomba diadakan di SMP N 1 Sewon untuk lomba cipta puisi dan cipta cerpen, kalau yang menyanyi aku lupa dimana. Ya, walaupun nggak menang tapi lumayan, lah. Yang penting dapat pengalaman. Ya, kan?

^o^
Tengah malam, bimbang membisik sanubari
Malam mencekam sepi menanti
Tampak sepintas siluet masa lalu
Saksikan wayang kulit di desa seberang danau
Diterangi pendar sinar pelita
Bahagia yang kurasa
Tak dapat terlukis dengan aksara
Tanpa sadar ku bernostalgia
                Yang dulu serempak saksikan wayang kulit
                Kini semua merasa sulit
                Langkahku berat ‘tuk percaya semua ini
                Kehadiran wayang kulit kini tlah terganti
                Kutanam benih harap di hati
                Sang bulan menjadi saksi
                Mentari datang bawakan bukti
                ‘Kan kurawatnya dengan penuh kasih
                Agar wayang kulit tak lagi tersisih
‘Kan kuajak mereka hargai wayang kulit
Meski itu teramat sulit
Memadukannya dengan keajaiban teknologi
Menjadi mahakarya yang slalu dinanti


Yang ini memang aku buat masih dalam rangka untuk lomba. Tadinya temanya tentang kebudayaan, karena temanya diganti jadi aku buat lagi puisi yang diatas tadi.

^o^
Sampai disini dulu ya, biar nggak kepanjangan postingnya. Kalau kepanjangan bisa-bisa malas bacanya. Lagian siapa juga yang mau baca? Mungkin cuma aku sendiri. Tapi nggak papa lah, ceritanya ‘kan mau nostalgia...
Salam luar biasa dariku. Jangan lupa bahagia dan membahagiakan orang lain. Wassalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages