Yang belum baca Part 1 bisa baca disini. Kalau yang udah baca bisa lanjut baca yang dibawah. Kalau udah eneg baca boleh cari kantong plastik (siapa tahu mau muntah). Tapi ya nggak segitunya juga kali, ya?
Beberapa puisi memang aku tulis untuk mengungkapkan isi hati, tapi nggak semua. Beberapa malah aku tulis sambil ketawa gara-gara pilihan kata yang terkesan kelewat lebbayyy. Yang masih mau lanjut ada baiknya cari kantong plastik dulu, deh
^o^
Kala malam nan kelam merebut
siang
Mencuri sang pelita abadi
Tatapku menerawang kearah
bintang
Yang temani daku, kini dan nanti
Dalam kesepian yang tak
berkesudahan
Dalam kesendirian dan kerinduan
Di
malam minggu kelabu
Kau
beri daku
Cahaya
remang yang membelaiku
Belai
sayang yang slalu kurindu
Kuraba
benih-benih kasihmu
‘Kan
kusemaikan di dasar hatiku
‘Tuk
obati rindu yang membelenggu
Kasih yang tumbuh diantara kita
Tak terhitung tak terkira
Hanya dapat kurangkai dalam
setiap do’a
Kutorehkan dalam lembaran-lembaran
cinta
Ingin ku berteriak pada dunia
Aku menyayangimu duhai Ibunda!
Rabu, 4 April 2012
Yang ini aku tulis ditengah
pelajaran Bahasa Indonesia. Bukannya mendengarkan penjelasan Bu Yayuk, eh malah
bikin beginian... Maaf ya, Bu!
^o^
Senyum mewangi yang dulu kuhirup
Kini selaksa lampu 5 watt yang
redup
Yang dulu menjadi budaya setiap
orang
Kini tlah hilang, melayang di
awang-awang
Dengan
senyum kita bahagia
Damai,
tanpa ada air mata
Senyum
‘kan lumpuhkan perselisihan
Tepiskan
pilu dan kesenduan
Janganlah kita rasakan ragu
Anggap senyum sebagai lagu
Hiasi setiap insan yang bertemu
Dan jangan kita merasa bimbang
Berikan senyum malam dan siang
Karena senyum tak ‘kan dilarang
Marilah
anak bangsa, kita pergi
Meniti
tangga impian di esok hari
Menyulap
senyum menjadi budaya kita lagi
Hingga mentari tak lagi tinggi
Sebenarnya yang ini juga aku buat
buat lomba cipta puisi. Tapi kalau dipikir-pikir kok kayaknya nggak nyambung ya
kalau temanya kebudayaan tapi puisinya kayak gini?
^o^
Ku berlari dengan kaki kecilku
Menyusuri lembutnya pasir kelabu
‘Tuk sejenak ku diam membisu
Saksikan dia yang hampir
tinggalkanku
Kutatap
dirinya dengan pilu
Ku
tak sanggup ditinggalkannya
Dia
ucapkan selamat tinggal padaku
Dengan
isyarat senyum nyala merah jingganya
Seakan
berkata padaku
“Kita
pasti ‘kan bertemu”
Kala dia tlah pergi dariku
Ku rasa hampa sudah kehidupanku
Malam seram laksana hantu
Tlah mencuri dia dariku
Mengapa
kau tega tinggalkan daku
Tak
sisakan sedikitpun senyum manismu
Untuk
diriku
Ku berjanji
Ku akan datang kembali
Esok pagi
‘Tuk sambut dirimu lagi
Datanglah
kembali
Kunantikan
slalu senyum indahmu
Yang
mengiringi langkah
Dan
hari-hari indahku
Tadinya puisi ini tak kasih judul
mentari, tapi terus tak hapus. Pada ngeh nggak kalau yang kumaksud dirimu
itu matahari?
^o^
Di hamparan batuan terjal yang
kering
Hati seakan ingin memeluk
Namun, apa daya takdir berkata
lain
Benteng dusta berdiri kokoh
Tinggi, panjang membentang
Pisahkan hati yang tlah mekar
Letih,
lelah, didapat sudah
Berjalan
di padang tandus
Harapkan
setitik cinta didapatnya
Meski
setitik, namun menyejukkan
‘Tuk
obati hati yang tlah gugur
Badai debu tlah menerjang
Badai rindu kini pun datang
Sesalkan dusta yang tlah berlalu
Kini hanya tinggallah pilu
Walau
rintangan slalu menghadang
Walau
masalah slalu menyertai
Sepasang
insan terus mencari
Setitik
cinta di padang dusta
Berharap
hati semi kembali
Rabu, 2 Maret 2011
Aku nulis ini waktu kelas 7.
Waktu itu aku baru saja dengar kisah kalau Nabi Adam dan Siti Hawa diturunkan
ke bumi di tempat yang berbeda dan butuh bertahun-tahun bagi mereka untuk bisa
berjumpa satu sama lain. Tapi kisah Nabi Adam dan Siti Hawa nggak pakai
dusta-dustaan, ya...
^o^
Telaga di mata harus mengalir
Hanya karena...
Tertutupnya satu pintu
kesuksesan
Padahal...
Masih banyak pintu yang lain
Juga celah sempit untuk kesana
Meski tak seindah pintu ini
Walau tak semulus jalan ini
Mungkin...
Ada
akhir yang lebih baik
Di
ujung jalan lain
Yang
lebih terjal dan berliku
Waktulah yang bersalah
Namun tak pantas dipersalahkan
Waktu pula yang akan menebus
Suatu ketika nanti
Keyakinanku ‘kan terbukti
Di ujung kesabaran
Di ujung jalan yang berliku
Jadi dulu waktu mau masuk SMA,
diakhir kelas 9 aku sempat mencoba mengirim aplikasi beasiswa ke Sampoerna
Foundation yang bekerja sama dengan pemerintah Sumatera Selatan. Aku mendapat
info beasiswa ini dari kakak sepupuku, Sri Lestari, yang juga mendapat beasiswa
itu 4 tahun sebelum aku. Tapi memang rencana Allah nggak teduga, ya. Aku dan
salah seorang temanku, Tika Prameisti, nggak keterima. Dan setelah ditelusuri
ternyata tahun itu mereka tidak menerima siswa dari luar Sumatera Selatan. Tapi
inshaallah kami mendapat ganti yang lebih baik... 😊
^o^
Beribu canda telah tercipta
Bersama dirimu duhai jelita
Getar jantung tak berirama
Pertanda...
Aku jatuh cinta
Berbagai
cara telah kucoba
Tuk
nyatakan getar di dada
Namun
mengapa kau tak paham jua
Tentang
hati yang tak sanggup berkata
Kalaupun akhirnya dapat
terucapkan
Meski dengan penuh perjuangan
Akankah kau ‘kan membalas sesuai
angan?
Anganku yang terbang tinggi
melayang
Diatas padang penantian
Dalam
temaram aku menunggu
Berharap
kau berkata ‘’I Love You’’
Pada
diriku...
Yang
terombang-ambing gelombang ragu
Sabtu, 25 Mei 2013
Yang ini murni dari imajinasi, bukan pengalaman pribadi!
Jadi jangan mikir aku lesbi lho ya!
^o^
Kala ku lihat kau bersamanya
Hati ini terasa lara
Menangis tanpa suara dan air
mata
Kaki
kecilku
Berlari
tinggalkan dirimu
Sungguh
hati merasa ragu
Akankah
engkau mengejarku
Ku palingkan mukaku ke belakang
Namun, sayang
Tak ada tanda dirimu ‘kan datang
Di
tepi jalan
Ku
menangis sendirian
Kesepian
Hingga
datanglah si hujan
Menemaniku
dalam kerinduan
Ku berdo’a agar kau cepat datang
Membawa kasih sayang
Tapi kau telah hilang
Pergi dengan orang yang kau
sayang
Tak
rela kuucapkan selamat jalan
Padamu
kawan
Yang
kuanggap lebih dari kawan
Melainkan
yang tersayang
Di
ujung penantian
Ku
rasakan kehilangan
Dibumbui
dengan kerinduan
Pada
kekasih yang ku harapkan
Aku tak mampu dan tak mau
Menghapus dikau dari memoriku
Sedih rasanya kehilanganmu
Hati bagai tersayat sembilu
Ditambah lagi tertusuk-tusuk
paku
Juga tajamnya peluru
Yang menembus dadaku
Rasanya hancur sudah hatiku
Hanya satu yang ingin kukatakan
padamu
Tanpamu Aku Galau !!!
Selasa, 3 April 2012
Sumpah pas nulis ini aku sambil
cekikikan. Sebenarnya nggak lagi niat nulis puisi, sih. Waktu itu baru hujan
dan tiba-tiba aku ingat iklan salah satu kartu perdana yang masih
anget-angetnya: Kimmy, tanpamu aku galau...
^o^
Nah, segitu aja ya... Aku bukan tipe orang yang serius nulis. Butuh nunggu mood (yang jarang datang, bahkan nggak mau datang kalau nggak dipaksa) buat bisa menelurkan kata-kata yang bahkan bukannya indah dibaca, tapi malah bikin ketawa saking lebaynya. Waktu kelas 8 aku juga pernah dikasih tugas dari Bu Yayuk disuruh buat mini novel dalam waktu 2 bulan. Kalau mau baca bisa disini. Tapi ya itu, kebanyakan nggak nyambung, cerita ala-ala sinetron yang bisa ditebak endingnya, dan yang pasti lebaynya luar biasa. Tapi aku cukup bangga lho bisa menyelesaikan tugas itu tepat waktu. Bayangkan 2 bulan mulai dari nyari ide sampai jadi bacaan dijilid rapi. Senangnya bisa mengalahkan diri sendiri 😊
Salam luar biasa dariku. Jangan
lupa bahagia dan membahagiakan orang lain. Wassalam.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar