![]() |
| Am I in love with you? Or am I in love with the feeling? |
“Orang yang memendam perasaan seringkali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta.” ― Tere Liye, Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
Masih ingat buku itu? Kau pernah mengutip kata yang lain dalam buku yang sama, dan aku masih mengingat dengan jelas apa yang kukatakan, "Kok sedih, ya ***?" Suatu hari aku memutuskan untuk membeli buku itu, membacanya lembar demi lembar, putus-putus, lama sekali. Aku baru saja menamatkannya tempo hari, benar-benar kisah yang sedih. Dan setiap kata selalu mengingatkanku padamu, selalu saja seperti itu. Entahlah apa yang sebenarnya terjadi, tapi aku tak yakin kamu pernah membaca keseluruhan isi buku itu. Aku tak yakin kamu mengerti tentang kisah yang tak pernah usai itu.
Kau tahu aku seperti apa. Ketika menghadapinya yang pandai berkata-kata. Ingat, hanya sebatas kata! Dan biarkan kedua mata menunduk memandang tanah, atau menengadah ke langit lepas. Tapi tak pernah melihat lurus ke matanya. Karena apa yang keluar dari mulutnya berasal dari hati. Dan cukuplah telingaku yang mendengar, itu sudah sampai ke hati. Lalu bagaimana jika mata-bertemu mata? H, 3/3/'18
Kau tahu aku sudah lama menghindar. Seperti dulu, masih sama. Ini masih diriku yang sama. Tapi apa yang kau lakukan? Ketika aku melakukan kesalahan yang sama, kau pun menyikapiku dengan cara yang sama. Aku tau kau melakukannya dengan sengaja. Aku tahu, kamu mengerti bahwa hanya kaulah yang mampu meluluhkan sikap-sikapku yang memuakkan. Hanya dirimu, dirimu seorang. Bukan yang lain. Dan dengan sengaja kau membawa binar mata itu tepat dihadapanku, menghadapkan raut yang sama, senyum yang sama, sikap yang sama, dan mengharap hasil yang sama.
Haruskah aku berlama-lama memandangnya? Menikmati raut wajah itu untuk diriku sendiri. Lalu apa yang akan terjadi?
Dengan begitu kau kira akan melihat air mata? Dengan bersikap demikian kau kira akan bisa melihat yang di hati dan di kepala? Tidak, sama sekali tidak. Bukankah hanya Tuhan dan aku yang mengerti isi hati? Apa yang kurasakan, apa yang kupikirkan, segalanya tak mampu kau tebak lagi. Ini aku, masih aku. Tapi tahukah kamu, tak sepenuhnya gadis yang kau tatap matanya tepat diwajahmu ini sama seperti gadis yang dulu memalingkan wajahnya dari hadapanmu, yang memalingkan tatapannya dari kata-kata yang terangkai apik olehmu, yang menyembunyikan derai-derai air mata, menyembunyikan apa yang terlalu jelas untuk disembunyikan. Mereka seorang yang sama, tapi segalanya sekarang sudah berbeda.
Seandainya aku berlama-lama memandangnya, menikmati raut wajah itu untuk diriku sendiri. Lalu apa yang akan terjadi? Akankah debar itu masih ada? Akankah aku masih menyebutnya "rasa"?
Tentang rasa, sedikit sesal kenapa aku tidak melakukannya lebih lama. Bisa jadi dengan begitu aku bisa memastikan segalanya. Tentang rasa, kuharap apa yang kusebut "cinta" hanyalah salah sangka. Cinta itu apa bahkan aku tak bisa mendefinisikannya. Tentang perasaan bodoh yang mengaburkan batas-batas nyata dan ilusi, tentang pikiran yang selalu mencari pembenaran, membuai hati dengan harapan. Bagaimana mungkin itu kau sebut cinta ketika kau pun tahu bahwa memiliki rasa itu adalah salah, membiarkan perasaan itu tumbuh dan mekar adalah salah. Aku tak mengharapkan apa-apa, bahkan pikiran untuk memiliki apa yang tak akan pernah menjadi milikku. Aku tak pernah mengharapkan kau berhenti memperjuangkan seseorang yang selama ini kau perjuangkan, apalagi demi diriku. Tak pernah sedikitpun terlintas pikiran semacam itu. Tapi bagaimana menyebutnya jika aku pun tak mampu menghentikan rasa ini tumbuh begitu saja? Jika terus begini, bukankah hanya akan berbuah luka?
Ini salah, dan aku tahu! Tapi lebih baik kugenggam seorang diri, toh ketika harus ada yang terluka, rasa ini hanya akan melukai diriku sendiri, setidaknya hingga aku berhasil melepasnya, membuangnya jauh-jauh..
Kenapa begini? Bukankah kita keluarga?
Tidak ada keluarga yang ingin memiliki keluarganya hanya untuk dirinya sendiri. Ketika pikiran itu ada, berarti kamu masih menganggapnya orang asing. Orang asing yang tak ada masalah jika kau menginginkannya untuk dirimu sendiri. Orang asing yang tak masalah jika diam-diam kau menyimpan rasa yang berbeda, yang tak kau berikan kepada keluargamu yang lain. Itu orang asing, bukan keluarga, bukan saudara.
Dan pada akhirnya, gadis ini akan berhenti menitikkan air mata. Bukan karena mengabaikan kata-kata dan nasihat berharga, melainkan karena ia sudah bisa mengendalikan dirinya, mengendalian pikiran-pikiran liarnya. Ada saatnya yang kau katakan tak lagi berarti segalanya, bukan karena sudah mati rasa, melainkan karena aku sudah mempercayai diriku sendiri, lebih dari rasa percayaku padamu. Akan tiba saatnya rasa ini akan menjadi biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa. Ketika aku sudah benar-benar percaya: kita adalah dua dari sekian orang dalam lingkaran kecil bernama keluarga.
Ketika kau mengatakan kau tak percaya, bukankah itu berarti kau tidak benar-benar tak percaya? Tapi kau ingin aku membuktikan diri. Kau ingin aku mempercayai diriku sendiri lebih dari rasa percayaku padamu. Kau ingin aku berhenti bergantung padamu, karena pada saatnya nanti kau pasti akan pergi, tak lagi bisa mendampingi. Kau ingin aku berhenti menjadi adik yang manja, keras kepala, dan banyak maunya.
Aku pamit!
Kau ingin aku siap ketika tiba saatnya kau mengatakannya. Kau yang akan mengatakannya lebih dahulu, bukan aku. Maaf ketika beberapa kali aku ingin mendahului. Kau tahu aku seperti apa. Aku yang tak pernah benar-benar bisa pergi. Tapi aku juga masih aku yang begitu mudahnya melupakan janji. Perlahan semoga usahamu menyadarkanku mampu membuatku benar-benar mengerti: bahwa terkadang kita harus mengorbankan kesempurnaan demi mendapatkan kebersamaan.
Perlahan, aku akan mempercayai diriku sendiri, lebih dari rasa percayaku padamu. Meluruskan pikiran-pikiranku yang meliar selama ini, mengorbankan ambisi kesempurnaan diri. Ketika hari itu datang, dengan sendirinya aku tak perlu lagi meragukan rasa ini. Hari ketika aku benar-benar menganggapmu keluarga sendiri, menghilangkan batas-batas seperti halnya yang ada diantara dua orang asing. Batas-batas seperti halnya yang ada diantara kita saat ini.
~hk~


Tidak ada komentar:
Posting Komentar