Little Circle and The Scrawled Stories
Aku bukanlah seorang yang sabar menanti senja. Jadi, mungkin seharusnya sudah sampai disini saja. Selamat tinggal (?)
Bukankah
sejatinya kita belajar hanya untuk menyiapkan perpisahan? Setiap temu pasti
beralu, setiap jumpa pasti menorehkan cerita. Tentang tawa dan luka, cerita apa
saja. Seperti kita, yang bahkan bertemu bukan karena sengaja. Mungkin begitulah
takdir, begitulah hidup.
Sebuah
lingkaran kecil. Kau bilang suatu saat akan menjadi lebih besar karena ikatan-ikatan
ini. Tangan yang saling tertaut, do’a yang dipilin bersama. Tapi ada satu jiwa,
ada satu hati, yang ia ragu dengan rasanya. Rasa yang seperti apa? Haruskah ia
tinggal? Ataukah harus pergi? Karena tak semua rasa bisa diterjemahkan dengan
mudahnya. Ada rasa yang seringkali berubah tiba-tiba. Tanpa bisa ditebak, tanpa
bisa diperkirakan sebelumnya. Rasa yang seperti itu: mematikan logika.
Saat yang
hampir sama. Orang-orang yang hampir sama. Rasa yang hampir sama. Seseorang
yang sepenuhnya sama mengatakan hal-hal yang sama menggetarkannya. Tapi mengapa
seolah itu semua sudah tiada lagi artinya? Datar saja, hampa rasanya. Sungguh,
masihkah ada cinta disana? Cinta yang mana? Cinta yang seperti apa?
Tiada lagi air
mata. Benar-benar tak ada. Getar itu sepenuhnya berbeda. Mungkinkah sudah mati
rasa?
Seorang gadis
yang katanya ingin dewasa, tapi tak kunjung bisa. Entah mengapa. Katanya, “Bagaimana
mungkin seseorang bisa menjadi dewasa hanya karena ia jatuh cinta?”
Ia
menyembunyikan lara dibalik tawanya, ia menyembunyikan tanda tanya dalam
diamnya. Ia menyembunyikan hampa dalam tingkah lakunya. Ia berpura-pura.
Lingkaran
kecil, bagaimanapun tetaplah sebuah lingkaran yang sempurna. Sesuatu tanpa
cela. Hitam atau putih, nol atau seratus. Bagaimana mungkin seseorang akan
mengorbankan kesempurnaan demi kebersamaan? Bagaimana jika sebaliknya,
salahkah? Bagaimana mungkin lingkaran menjadi lingkaran jika tak bulat
sempurna? Bagaimana mungkin putih menjadi putih
jika terdapat noda?
Aku lupa. Bahwa elips juga bentuk, bahwa abu-abu juga warna. Mungkin bukan lupa, tapi tidak tahu. Aku tak mau tahu urusan orang lain. Aku tak pernah benar-benar peduli pada orang lain. Segala yang aku lakukan hanya demi diri sendiri, demi egoku sendiri..
Senjaku,
cahayaku..
Ia berlaku
selayaknya sebuah petunjuk. Dalam wujud seseorang, ya seseorang. Aku tahu
niatnya kenapa berlaku seperti itu, perlakuan yang sebenarnya ia beri pada
semua orang. Bukan aku yang salah mengartikan, bukan. Aku memang mengerti
alasannya. Tapi bagaimana hati bisa dibohongi? Bagaimana rasa bisa ditipu?
Bagaimana rasa ini diam-diam tumbuh hingga tak bisa disembunyikan lagi? Seperti
setitik air yang menetes di padang tandus, ia menjadi ilusi. Ia menjadi
angan-angan tak terjangkau, hanya luka dan lelah yang didapat ketika
mengharapkannya. Seperti ilusi yang menipu mata hati, yang ada hanya kecewa.
Bagaimana mugkin padang pasir yang tandus bisa menumbuhkan taman surgawi?
Dengan berada
di dekatmu aku hanya membiarkan rasa itu semakin mekar. Sebuah rasa yang hanya
menghantuiku sepanjang waktu, bagaimana jika orang lain atau bahkan dirimu
mengetahuinya? Aku hanya ingin menghindar, lari dari dirimu, lari dari kegilaan
yang tak kumengerti ini. Mungkin keputusan terbaik adalah aku takkan pernah
kembali lagi. Ya, itu jawabannya.
Kita berdekatan. Kita saling kenal. Tapi kenapa? Rasanya jauh seperti tak saling mengenal.
Ketika aku
benar-benar pergi, lupakan semuanya. Jangan berharap apapun lagi dariku. Aku
pergi!
~hk~


Tidak ada komentar:
Posting Komentar