[AFTER MOVIE] DIRGAHAYU RI KE 73 Kunden, Watu Rt. 05
Semenjak kuliah, libur panjang tak lagi terasa seperti libur panjang. Setiap libur semester adalah waktu yang paling pas untuk memaksimalkan diri menyiapkan kepanitiaan besar. Desember-Januari adalah waktu sibuk-sibuknya akhir periode dan menyambut kepengurusan baru. Oh iya, juga event peringatan hari lahir organisasi dimana kami akan sibuk menyiapkan rumah kami untuk menyambut tamu dari berbagai kota, mulai dari alumni dari generasi awal hingga yang terakhir (diksar tigapuluhan sekian) hingga Mapala lain dari berbagai daerah.
Libur semester ganjil (Juli-Agustus) pasti akan ada event besar. Entah lomba orienteering tingkat nasional atau seperti tahun ini: tingkat DIY-Jateng dengan konsep baru. Karena berbagai alasan (hassh, kebanyakan alasan memang) aku memutuskan untuk tinggal di rumah lebih lama dari biasanya. Menepi dari hiruk pikuk Kota Solo dan kehidupan berorganisasi sebelum harus berkutat dengan urusan kuliah (lagi).
Liburan biasanya paling hanya di rumah sekitar satu atau dua minggu, lalu harus kembali lagi ke Solo karena tanggung jawab yang harus segera diselesaikan. Tapi liburan kali ini aku mengambil kesempatan untuk memaksimalkan waktu dua bulan untuk benar-benar bisa dekat dengan lingkunganku. Untung saja Agustus, banyak hal yang bisa dilakukan di rumah jadi tidak ada alasan untuk mati kebosanan karena susah sinyal, hahaha.
Berkumpul dengan teman-teman lama setelah dua tahun kulalui dengan sok sibuk di tanah perantauan rasanya menjadi sangat berbeda, dan berharga. Bagaimana merencanakan kegiatan kecil tanpa rapat formal dan kebanyakan haha hihi rasanya menjadi menjengkelkan, tapi lebih santai. Di titik ini aku teringat dengan teman-temanku disana yang sedang menyiapkan kegiatan besar, tapi aku mencoba tak peduli dan pura-pura tidak mau tahu. Ada rasa bersalah? Tentu saja :')
Untung saja ada adik-adik yang menjadi penghiburku dengan kekonyolan tingkah mereka. Bagaimana susahnya aku mengajak dan mengumpulkan mereka untuk bermain bersama tanpa distraksi teknologi yang saat itu sudah mulai mengambil hidup mereka. Mengajak dan menumbuhkan keberanian mereka agar mau tampil di malam puncak peringatan hari kemerdekaan. Belum lagi ketika mereka harus iri-irian satu sama lain hanya karena posisi mereka dalam pola lantai yang kubuat, atau ribut-ributnya mereka karena tidak setuju dengan lagu pengiring tarian yang aku pilih. Dan lagi, mamak-mamak mereka yang seakan ikut campur dengan cara kami (aku dan salah satu temanku anak PG PAUD UAD) mengatur anak-anak itu agar lebih disiplin.
Hahaha, mengurus anak-anak memang perlu latihan kesabaran tingkat tinggi. Tapi ada rasa yang tidak bisa dijelaskan ketika mereka lebih antusias dari kakak-kakaknya yang mengajar. Aku menjanjikan jam sekian, tapi sebelum itu mereka sudah berkumpul di depan rumah dan memanggil-manggil namaku mengajak untuk segera latihan, padahal aku sudah meniatkan untuk rebahan beberapa saat lagi :)
Oh iya, rumahku memang sangat strategis. Tepat di seberang mushola dimana anak-anak sering berkumpul di halamannya ketika ingin bermain bersama. Itu menjadikan rumahku sering menjadi basecamp saat ada acara-acara tertentu semisal persiapan pentas seperti ini atau ketika ada pengajian akbar.
Dua bulan terasa cepat berlalu, sangat cepat. Ya, walaupun hasilnya saat pentas agak kacau karena kesalahan teknis yang menjadikan anak-anak itu terlihat konyol diatas panggung (terutama regu anak laki-laki yang memang sejak latihan sulit diatur). Tapi aku merasa puas dengan apa yang aku lakukan. Aku merasa bahagia karena melakukan apa yang ingin aku lakukan. Hal ini juga menyadarkanku bahwa segala yang ada dalam hidup sama berharganya. Kita tidak akan bisa selalu ada untuk orang lain, karena itu kita harus bisa memilih. Jika kita bertemu dengan pilihan yang sulit, coba pikirkan pilihan mana yang bisa membuat kita lebih bisa berkembang? Atau pilihan mana yang bisa membuat kita lebih bahagia? Karena pada akhirnya, apapun pilihan kita, kita harus bisa mengambil pelajaran dari pilihan itu. Terlepas dari apapun pilihan kita, pilihlah karena memang kita yang menginginkan pilihan itu, bukan orang lain. Toh yang akan menjalani adalah kita, dan yang bertanggung jawab adalah kita, bukan orang lain.
---
Edit (2020)
Selalu Berusaha Menjaga Kebersamaan adalah tagline di account instagram @kunden1983, account muda-mudi Kunden yang sekarang hiatus karena pengurusnya lebih sibuk ngurus bayi hahaha

Tidak ada komentar:
Posting Komentar