30 Days Writing Challenge: Tema 4 (Kebiasaan Yang Ingin Aku Rubah Dari Diriku)

Part 4 



Teng teng teng  

Suara lonceng yang menandakan jam pelajaran telah habis disambut teriakan gembira dari murid-muridku. Satu persatu dari mereka mulai keluar setelah bersalaman denganku. Ketika murid terakhirku akan mencium tanganku, aku menahannya sejenak.  

“Dewi, kamu bisa antar Ibu ke rumah Muni?”  

“Bisa. Sekarang, Bu?”  

Aku mengangguk. “Ibu bereskan buku-buku Ibu dulu, ya? Kamu tunggu diluar saja!”  

Aku segera memasukkan buku-bukuku yang masih berada di atas meja ke dalam tas dan segera menyusul Dewi keluar. Untuk sejenak aku memandangi bangunan sekolah ini, juga suasana riuh anak-anak yang baru pulang sekolah. 
  
Sebuah bangunan kecil nan sederhana yang mengingatkanku pada suatu tempat yang dulu pernah kutinggali.  

“Bu Diya!”, teriak Dewi yang ternyata sudah berlari-lari hingga seberang lapangan menyadarkanku dari lamunan.

“Eh, iya!”  
***  

“Mulai sekarang kita akan tinggal disini!”, ucap lelaki kecil disampingku.  

Kupandang bangunan kecil dihadapanku. Sebuah rumah sederhana dengan halaman yang luasnya tak seberapa. Seorang wanita yang sepertinya seumuran dengan ibuku membawaku kesini setelah cukup lama membujukku untuk beranjak dari hadapan ibu. Aku mungkin masih ada disana jika saja wanita ini tidak mendatangkan Dinar untuk membantu membujukku.  

Di rumah kecil itu aku menghabiskan sekian tahun masa kecilku bersama Dinar dan kawan-kawanku yang lain. Sebuah rumah kecil bernama Panti Asuhan. Disana aku memulai kehidupan yang baru. Kehidupan yang memaksaku benarbenar harus berjuang. Kehidupan yang mengubahku menjadi Diyandra yang berbeda.  
***  

Ini sudah seminggu sejak Muni dan ibunya tidak masuk sekolah. Akhirnya kuputuskan untuk mendatangi rumahnya.   

“Saya menghargai Ibu yang sudah jauh-jauh datang dari kota ke desa kami hanya untuk mengajar. Jarang ada guru yang betah lama-lama disini karena kondisi yang saya yakin Ibu sudah tahu bagaimana. Saya sebenarnya juga ingin belajar, biar bisa baca, bisa nulis. Tapi setelah saya pikir-pikir, sepertinya tak ada gunanya saya sekolah. Toh tanpa sekolah saya bisa bekerja!”  

“Tapi bu, bagaimanapun juga sekolah itu penting. Apalagi untuk masa depan Muni kedepannya. Dia masih terlalu kecil untuk bekerja.”  

“Buat apa sekolah kalau toh akhirnya dia juga akan jadi seperti saya? Lebih baik saya ajari dia bekerja sejak kecil daripada harus buang-buang waktu untuk sekolah?”  

Aku menghela nafas. Berat.  
***  
Dear Dinar  

Kamu tahu Muni, kan? Muridku yang sering aku ceritakan padamu akhir-akhir ini? Sekarang aku tahu kenapa dia tidak lagi masuk sekolah, begitu pun dengan ibunya. Awalnya aku bahagia memiliki murid seperti mereka. Yang semangat belajar diantara keterbatasan. Aku mengagumi mereka. Yang tetap berani bermimpi dan bercita-cita diantara kondisi yang bisa dibilang memprihatinkan. Tapi itu dulu, sekarang semua sudah berubah. 

Mereka sudah memutuskan untuk berhenti sekolah. Aku bisa apa? Apa yang bisa kulakukan sebagai gurunya? Tidak ada! Aku merasa gagal.  

Baiklah jika ibunya tetap berpikir seperti itu, tapi bagaimana dengan Muni? Aku tahu dai masih ingin sekolah, sangat ingin malah. Tapi aku rasa dia tertekan. Entah karena keinginannya sendiri atau yang lain, dia juga mengatakan tak lagi ingin sekolah. Tapi aku tahu dia bohong. Aku tahu!  

Dinar, jujur aku seperti melihat diriku sendiri saat melihat Muni. Aku tahu dia banyak menyimpan kegelisahannya seorang diri. Aku takut dia akan mengambil jalan yang sama seperti jalan yang kuambil dulu. Aku sudah berubah, sudah sejauh ini. Aku tak mau itu terjadi lagi. Cukup aku saja.   
Dinar, aku takut masa laluku akan terulang lagi padanya. Aku takut.  

***  
Kulipat surat kecil yang kutulis dengan remang-remang lampu minyak. Sebuah surat untuk Dinar yang akan kutitipkan pada Ibu pedagang sayur yang akan ke kota kabupaten esok pagi. Ini satu-satunya aksesku untuk berhubungan dengannya selama disini.  

Hidup itu begitu keras, bahkan pada anak kecil seperti kami, Muni dan Diyandra kecil. Mungkin aku terlalu bodoh karena telah mengambil jalan yang salah hanya untuk bertahan hidup. Aku tak ingin Muni melakukan yang sama. Aku akan menjaganya. Ini Janjiku. (@hikmatul.khs)  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages