Part 6
Anak-anak itu seperti gelas kaca. Bening, bebinar, tampak kuat tapi sesungguhnya rapuh. Seperti gelas kaca yang jika tak dijaga hati-hati akan retak dan pecah. Seperti gelas kaca yang sejatinya bening, namun akan tampak seperti apa yang dituangkan ke dalamnya. Akan putih jika diisi susu, akan hitam jika diisi kopi, dan akan merah jika diisi wine. Seperti gelas kaca yang masih kosong. Anak-anak itu berpikir seperti apa yang diketahuinya, tanpa tahu dunia luar dengan berjuta warnanya. Ini tugasku bagaimana aku akan mewarnainya, bagaimana aku akan merubah pandangan mereka. Ini tanggungjawabku.
Kutuliskan beberapa
huruf di papan tulis lalu murid-muridku mulai mengejanya.
“C-I-Ci T-A-Ta C-I-Ci T-A-Ta,” eja mereka hampir bersamaan. Mereka sudah
mulai pandai mengeja. Ya, tema pelajaran hari ini adalah cita-cita. Sebuah kata
yang bisa juga disamaartikan dengan impian atau harapan. Kupandangi binar-binar
mata bening itu satu-persatu.
“Nah, hari ini Ibu mau tanya apa cita-cita kalian. Ada yang mau angkat tangan!”
“Nelayan, Bu!”
“Petani, Bu!”
“Artis, Bu!”
Hah.. anak-anak ini. Mereka tidak menyebutkan cita-cita, tapi profesi
orangtuanya masing-masing. Apa lagi ini, artis? Bagaimana mereka tahu hal
semacam ini?
“Apa kalian tidak
ada yang mau jadi dokter? Insinyur? Atau jadi seperti Ibu Guru?”
“Jadi artis lebih
enak, Bu! Bisa punya
mobil mewah, bisa masuk televisi juga. Besok kalau saya
jadi artis satu kampung saya belikan televisi yang bagus. Biar kalau nonton
nggak perlu ke rumah Pak Kepala Desa lagi, Bu!” celoteh salah satu muridku.
Perkataannya mengingatkanku saat jadwal menonton televisi. Seluruh desa
berkumpul di halaman Kepala Desa menyaksikan siaran TV walaupun isinya lebih
banyak gambar tak jelas. Itupun harus selalu ada yang standby memegangi
antena.
Salah seorang
muridku yang lain tiba-tiba bertanya, “Kalau cita-cita Ibu apa?”
“Heh? Cita-cita?”
***
Bagiku cita-cita hanyalah mimpi seorang anak kecil. Hanya sekadar obat
kekecewaan atas kehidupan yang begitu kejam. Lihatlah aku 15 tahun yang lalu.
Seorang gadis kecil yang harus hidup di jalan meminta belas kasihan orang lain.
Jangankan sekolah, bisa makan saja aku sudah bersyukur. Meski begitu, aku yang
sebelumnya sempat duduk di bangku sekolah dasar juga mengerti tentang
cita-cita. Aku pernah diajari tentang mimpi-mimpi itu. Hingga saat itu aku
masih percaya kalau kehidupan akan berbaik hati memberi keberuntungan pada
gadis malang sepertiku. Aku masih percaya keajaiban itu ada.
Di sela-sela perjuanganku hidup di jalanan aku masih sering mengunjungi
ibu. Hingga tiga bulan keadaan ibu masih sama, masih belum ingat padaku. Ia
masih terus menyalahkan dirinya atas kejadian malam itu. Mungkin aku sempat
marah, tapi bagaimanapun juga dia tetap ibuku, keluargaku satu-satunya.
Suatu hari aku tak lagi menemukan ibu di selnya. Ia tak lagi ada disana.
Penghuni lain di sel itu, seorang wanita berambut kumal dengan tato di lengannya
memberitahuku sesuatu, “Dia sudah pergi! Awalnya aku selalu ingin menghajarnya
karena sikap sombongnya itu, tapi seburuk apapun aku tetap saja masih punya
rasa kasihan pada ibumu yang tampak menyedihkan itu. Dia seperti mayat hidup.
Pantas saja mereka memindahkannya.”
“Kemana mereka bawa ibuku pergi?” tanyaku kalut.
“Ya mana kutahu? Tanya saja mereka! Dia pembunuh gila! Kalau dibiarkan
disini bisa saja dia membunuh semua orang!”
Aku meradang. “Jaga mulutmu! Ibuku bukan pembunuh! Dan dia tidak gila!”
Siang itu lapas tahanan khusus wanita di kotaku diwarnai keributan.
Seorang anak dipisahkan secara paksa dari ibunya. Diam-diam mereka membawa
pergi seorang tahanan, tanpa pemberitahuan apapun pada anaknya. Hanya berbekal
surat persetujuan dari waliku –ibu pantiku- mereka membawa pergi ibuku ke
tempat yang aku pun tak boleh tahu. Tapi kenapa?
***
Pagi itu aku bertanya pada anak-anak. Apa citanya. Ada yang tanya apa
citaku. Ibu dipenjara. Lihat di sel ibu tidak ada.
Ibu dipindah. Tidak tahu. Bagaimanapun juga dia ibuku. Meskipun benci
tidak tahu keadaannya khawatir. Melarikan diri ke kota. Diajak dinar. Numpang
mobil sayur.
“Kemana kau bawa pergi ibuku?” tanyaku setengah membentak pada monster
itu.
Ia menghela nafas sejenak, “Dasar anak bodoh! Mana
mungkin aku menyimpan barang tak berguna? Kalau masih bisa dimanfaatkan kenapa
tidak? Masih untung ada yang mau nawar, yah walaupun harganya jauh dibawah
harga anak-anak gadis, setidaknya dia masih bisa menghasilkan uang!”
Saat itu aku hanya
anak kecil yang tak bisa apa-apa. Kenapa bisa ada manusia sekejam itu? Entahlah. Yang pasti malam itu
sebuah drama kembali terjadi. Aku akan mencari ibuku tanpa tahu tempat apa yang
kutuju. Yang pasti aku akan pergi dari monster keji itu. Tak ada lagi yang bisa
aku harapkan darinya.
Jangan bayangkan usahaku melarikan diri semudah membalikkan telapak
tangan. Tidak! Tidak sama sekali! Aku takkan mungkin bisa berhasil tanpa
bantuannya, malaikatku satu-satunya, Dinar.
“Aku sudah janji akan menjagamu, Diy! Dan aku
tak akan mengingkari janjiku!”
Malam itu ia membuatku percaya kalau keajaiban itu nyata. Ia membuatku
percaya pada mimpi-mimpi yang ia janjikan. Ia meyakinkanku kalau suatu hari
nanti takdir akan memihak padaku. Aku percaya pada harapan dan cita-cita. Aku
percaya pada takdir. Aku percaya padanya, seorang yang kuanggap sebagai garis
takdirku, Dinar.
Malam itu kami meringkuk berdua diantara tumpukan sayur. Mobil pick
up itu terus melaju pasti menuju takdir kami selanjutnya.
***
Setelah semakin lama aku mulai mengerti permainan itu. Mungkin memang
seperti yang mereka katakan, ibuku mengalami gangguan kejiwaan. Mereka berniat
memindahkan ibu ke tahanan dengan layanan psikiatri. Tetapi dengan kuasa
yang dimilikinya entah bagaimana ibu bisa ada di tangan monster itu. Ia membawa
ibu pergi entah kemana. Yang pasti ke suatu tempat yang tak kuketahui
keberadaannya hingga kini. 15 tahun telah berlalu dan aku belum bertemu dengan
ibu lagi. Ia menghilang.
“Dulu Ibu bercita-cita menjadi seorang pengacara! Kalian tahu apa tugas
pengacara? Pengacara adalah seseorang yang menegakkan keadilan. Diluar sana
hukum itu dipermainkan seenaknya oleh para penguasa. Kalau keadilan tidak
ditegakkan, rakyat kecil akan tertindas. Harapan akan musnah dan cita-cita tak
lagi ada. Mengerikan, bukan?”
Murid-muridku bergidik ketakutan. Aku tahu aku adalah salah satu korban
ketidakadilan itu. Tapi setidaknya aku masih punya seseorang yang membantuku
memelihara mimpi-mimpiku, Dinar. Ah, Dinar! Meskipun kamu jauh diseberang sana,
do’akan aku bisa mempertahankan mimpi-mimpi kita. Mimpi-mimpi 10 tahun kedepan,
50 tahun kedepan, atau seumur hidupku.
Seperti gelas kaca yang retak. Itu aku. Tapi kuyakin kau mampu
menjaganya agar tidak semakin hancur.. (@hikmatul.khs)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar