30 Days Writing Challenge: Tema 9 (Menjemput Lailatul Qadar)

Part 9 



Kakiku melangkah perlahan di atas pasir pantai yang lembut. Malam ini terlihat begitu terang. Masih sama seperti dahulu. Suara khas deburan ombak yang menghantam batu karang. Atau cahaya rembulan yang memancarkan kehangatan. Semuanya sama.

Dulu, entah di usiaku yang keberapa, aku datang ke tempat ini dengan dua orang yang menggenggam kedua tangan kecilku di kanan dan kiri. Seperti keluarga yang lainnya, aku juga pernah mengalami kebahagiaan itu. Hingga suatu saat semua perlahan mulai berubah. Ayah mulai sering bersikap kasar pada ibu bahkan saat di depanku. Aku masih terlalu kecil saat itu. Saat aku mulai sadar semesta tak lagi berpihak padaku. Dia mengambil segalanya dariku. Ayah tiada, ibu hilang entah dimana, menyisakan aku yang harus hidup seorang diri.

Aku hampir saja tak lagi mempercayai Tuhan andai saja Dia tidak mempertemukanku dengan Dinar waktu itu. Dia datang di saat yang tepat, seperti malaikat. Tanpa memandang penampilanku yang menyedihkan, ia mampu mengembalikan senyumku hanya dengan berbagi kembang api dan sepotong roti, juga dengan janji-janjinya. Ia berkata akan melindungiku selamanya. Ia berjanji akan membersamaiku seumur hidupnya. Sesempurna apapun aku memandangnya, ia tetaplah manusia, bukan malaikat. Dan bodohnya aku yang baru menyadari hal itu. Dia tetaplah manusia yang mampu ingkar janji, seperti semua lelaki pada umumnya. Dia tak berbeda, sama saja.

Kilas-kilas masa lalu silih berganti hadir membayangi langkahku. Saat kami tertawa berdua tanpa beban diantara percikan-percikan kembang api. Saat diam-diam dia menemaniku tidur diluar diantara tampias air hujan. Saat kami berlari berdua diantara puluhan orang dan kendaraan yang berlalulalang, melarikan diri. Saat dia melambai padaku yang akan pergi menebar mimpi. Hingga saat itu ia tak pernah ingkar janji. Betapa beruntungnya aku bisa memilikinya. Dia adalah sosok yang dapat diandalkan sebagai seorang lelaki, pun bisa diajak membangun mimpi yang sama. Dia.. milikku.

Hingga akhirnya aku harus bangun dari mimpiku. Hari ini seorang gadis datang padaku. Ia meminta sesuatu yang begitu berharga. Dia menginginkan Dinar-ku.

“Bagaimana mungkin kamu akan tega membiarkan anak ini lahir tanpa ayah?”

Jlegg. Sekali lagi semesta menunjukkan kekejamannya padaku.

***

Aku terbangun dari mimpiku. Udara dan suasana malam ini begitu tenang. Bagaimana mungkin aku bisa tertidur diatas hamparan pasir? Entahlah. Aku mulai sadar atas apa yang kuhadapi kini. Ya, ini nyata. Aku tak bisa lari darinya sekeras apapun aku mencoba. Tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang. Sontak saja aku menoleh. Tapi, sungguhkah apa yang kulihat? Dia..

“Ibu?”

“Iya. Ini Ibu! Kenapa kamu bersedih?” tanyanya sambil merapikan anak rambutku yang berantakan tertiup angin laut.

Aku berdiri dan berucap lantang, “Kemana saja Ibu selama ini? Kenapa Ibu pergi begitu saja? Bagaimana Ibu tega meninggalkanku sendirian?”

“Ibu minta maaf! Maafkan Ibu, nak!”

“Apa Ibu tahu bagaimana aku hidup selama 18 tahun ini? Apa Ibu tahu setiap hari aku kesepian dan merindukan Ibu? Apa Ibu tahu bagaimana bingungnya aku saat melewati fase-fase kehidupanku sebagai seorang gadis sendirian? Kenapa Ibu harus pergi? Apa Ibu tak tahu kalau Ibu lah satu-satunya harta yang kupunya? Aku harus hidup sendiri tanpa orang tua. Apa Ibu paham betapa menderitanya aku?”

Wanita itu bangkit dan memelukku. Aku menepisnya dan kemudian berjalan meninggalkannya.

“Ibu tak khawatir karena Ibu tahu putri Ibu adalah gadis yang kuat. Dia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri bakan tanpa bantuan ibunya. Dia bahkan bisa menemukan seseorang yang mampu menjaganya lebih dari ibunya. Seseorang yang bisa berperan menjadi pelindung sekaligus menjadi ayah ibunya. Kalau hanya dengannya saja kamu bisa hidup, kenapa Ibu harus khawatir karena tak bisa di sisimu selamanya? Kenapa Ibu harus khawatir pada putri Ibu yang mampu melakukan segalanya?”

Langkahku terhenti. Aku tahu siapa yang dia maksud.

“Ada satu malam dimana langit terang benderang, hangat merasuk jiwa. Saat itu Tuhan akan mendengar setiap do’a hamba-Nya, memaafkan dosa dan kesalahannya. Kalau kamu merasa sudah pergi terlalu jauh dan merasa segalanya hampa, pulanglah, nak! Selagi pintu masih terbuka, pulanglah! Bersihkan segalanya. Yang ada di hati, yang di jiwa, yang di pikiran. Semuanya. Kamu pasti akan merasa lebih baik di hari-harimu yang baru. Dengan atau tanpa orang-orang di kehidupanmu yang sebelumnya. Kamu akan merasa lebih baik!”

Aku membalikkan badan. Tak ada siapapun. Tiba-tiba saja aku mendengar sayup-sayup suara adzan. Mataku mengerjap-ngerjap memastikan aku tak salah lihat. Tak ada siapapun di sini. Hanya aku seorang diri.

“Dengan atau tanpa orang-orang di kehidupanmu yang sebelumnya. Kamu akan merasa lebih baik!”

Ya, mungkin ini pertanda aku harus segera bangun dan pulang. Entah siapa yang akan kutemui nanti, yang jelas aku tak bisa berdiam diri disini. Ibu, dimanapun engkau berada, jangan khawatirkan aku. Putrimu ini kuat dan bisa diandalkan. Meskipun aku harus berjalan seorang diri, dengan atau tanpa orang-orang di kehidupanku sebelumnya.


Ya Rabb, aku pulang!! (@hikmatul.khs)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pages