Part 9
Kakiku melangkah perlahan di atas pasir pantai yang lembut. Malam ini terlihat begitu terang. Masih sama seperti dahulu. Suara khas deburan ombak yang menghantam batu karang. Atau cahaya rembulan yang memancarkan kehangatan. Semuanya sama.
Dulu, entah di usiaku
yang keberapa, aku datang ke tempat ini dengan dua orang yang menggenggam kedua
tangan kecilku di kanan dan kiri. Seperti keluarga yang lainnya, aku juga
pernah mengalami kebahagiaan itu. Hingga suatu saat semua perlahan mulai
berubah. Ayah mulai sering bersikap kasar pada ibu bahkan saat di depanku. Aku
masih terlalu kecil saat itu. Saat aku mulai sadar semesta tak lagi berpihak
padaku. Dia mengambil segalanya dariku. Ayah tiada, ibu hilang entah dimana,
menyisakan aku yang harus hidup seorang diri.
Aku hampir saja tak
lagi mempercayai Tuhan andai saja Dia tidak mempertemukanku dengan Dinar waktu
itu. Dia datang di saat yang tepat, seperti malaikat. Tanpa memandang
penampilanku yang menyedihkan, ia mampu mengembalikan senyumku hanya dengan
berbagi kembang api dan sepotong roti, juga dengan janji-janjinya. Ia berkata
akan melindungiku selamanya. Ia berjanji akan membersamaiku seumur hidupnya.
Sesempurna apapun aku memandangnya, ia tetaplah manusia, bukan malaikat. Dan
bodohnya aku yang baru menyadari hal itu. Dia tetaplah manusia yang mampu ingkar janji,
seperti semua lelaki pada umumnya. Dia tak berbeda, sama saja.
Kilas-kilas masa lalu silih berganti hadir membayangi langkahku. Saat
kami tertawa berdua tanpa beban diantara percikan-percikan kembang api. Saat
diam-diam dia menemaniku tidur diluar diantara tampias air hujan. Saat kami
berlari berdua diantara puluhan orang dan kendaraan yang berlalulalang,
melarikan diri. Saat dia melambai padaku yang akan pergi menebar mimpi. Hingga
saat itu ia tak pernah ingkar janji. Betapa beruntungnya aku bisa memilikinya.
Dia adalah sosok yang dapat diandalkan sebagai seorang lelaki, pun bisa diajak
membangun mimpi yang sama. Dia.. milikku.
Hingga akhirnya aku harus bangun dari mimpiku. Hari ini seorang gadis
datang padaku. Ia meminta sesuatu yang begitu berharga. Dia menginginkan
Dinar-ku.
“Bagaimana mungkin
kamu akan tega membiarkan anak ini lahir tanpa ayah?”
Jlegg. Sekali lagi semesta menunjukkan kekejamannya padaku.
***
Aku terbangun dari mimpiku. Udara dan suasana malam ini begitu tenang.
Bagaimana mungkin aku bisa tertidur diatas hamparan pasir? Entahlah. Aku mulai
sadar atas apa yang kuhadapi kini. Ya, ini nyata. Aku tak bisa lari darinya
sekeras apapun aku mencoba. Tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang. Sontak
saja aku menoleh. Tapi, sungguhkah apa yang kulihat? Dia..
“Ibu?”
“Iya. Ini Ibu! Kenapa kamu bersedih?” tanyanya
sambil merapikan anak rambutku yang berantakan tertiup angin laut.
Aku berdiri dan berucap lantang, “Kemana saja Ibu selama ini? Kenapa Ibu
pergi begitu saja? Bagaimana Ibu tega meninggalkanku sendirian?”
“Ibu minta maaf! Maafkan Ibu, nak!”
“Apa Ibu tahu bagaimana aku hidup selama 18 tahun ini? Apa Ibu tahu setiap hari aku kesepian dan merindukan Ibu? Apa Ibu
tahu bagaimana bingungnya aku saat melewati fase-fase kehidupanku sebagai
seorang gadis sendirian? Kenapa Ibu harus pergi? Apa Ibu tak tahu kalau Ibu lah
satu-satunya harta yang kupunya? Aku harus hidup sendiri tanpa orang tua. Apa Ibu paham betapa
menderitanya aku?”
Wanita itu bangkit dan memelukku. Aku menepisnya dan kemudian berjalan
meninggalkannya.
“Ibu tak khawatir karena Ibu tahu putri Ibu adalah gadis yang kuat. Dia
bisa menyelesaikan masalahnya sendiri bakan tanpa bantuan ibunya. Dia bahkan
bisa menemukan seseorang yang mampu menjaganya lebih dari ibunya. Seseorang
yang bisa berperan menjadi pelindung sekaligus menjadi ayah ibunya. Kalau hanya
dengannya saja kamu bisa hidup, kenapa Ibu harus khawatir karena tak bisa di
sisimu selamanya? Kenapa Ibu harus khawatir pada putri Ibu yang mampu melakukan
segalanya?”
Langkahku terhenti. Aku tahu siapa yang dia maksud.
“Ada satu malam dimana langit terang benderang, hangat merasuk jiwa.
Saat itu Tuhan akan mendengar setiap do’a hamba-Nya, memaafkan dosa dan
kesalahannya. Kalau kamu merasa sudah pergi terlalu jauh dan merasa segalanya
hampa, pulanglah, nak! Selagi pintu masih terbuka, pulanglah! Bersihkan
segalanya. Yang ada di hati, yang di jiwa, yang di pikiran. Semuanya. Kamu
pasti akan merasa lebih baik di hari-harimu yang baru. Dengan atau tanpa
orang-orang di kehidupanmu yang sebelumnya. Kamu akan merasa lebih baik!”
Aku membalikkan badan. Tak ada siapapun. Tiba-tiba saja aku mendengar
sayup-sayup suara adzan. Mataku mengerjap-ngerjap memastikan aku tak salah
lihat. Tak ada siapapun di sini. Hanya aku seorang diri.
“Dengan atau tanpa orang-orang di kehidupanmu yang sebelumnya. Kamu akan
merasa lebih baik!”
Ya, mungkin ini pertanda aku harus segera bangun dan pulang. Entah siapa
yang akan kutemui nanti, yang jelas aku tak bisa berdiam diri disini. Ibu,
dimanapun engkau berada, jangan khawatirkan aku. Putrimu ini kuat dan bisa
diandalkan. Meskipun aku harus berjalan seorang diri, dengan atau tanpa
orang-orang di kehidupanku sebelumnya.
Ya Rabb, aku
pulang!! (@hikmatul.khs)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar